Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebetulan yang aneh
kau serius
ya, aku yakin ini cinta segitiga
ya Isabella memang sangat manis
dia lucu seperti boneka
kau pernah melihatnya
aku pernah bertemu di toko perhiasan
andai putriku semanis itu
pantas saja dia di perebutkan laki-laki
Elena hanya bisa diam-diam mencibir, bisa-bisanya manusia seperti Isabella memiliki banyak penggemar. Apa para bangsawan mengesampingkan tentang status sosial Isabella karena dia cantik? memang beauty privilage semenakutkan itu.
"Ternyata kau juga mendengarkan gosip?."
Deg.
"Uhuk...uhuk..ukh."
Elena terkejut sampai tersedak, tiba-tiba ada suara di depannya padahal bangku itu tadinya kosong. Elena minum dengan cepat, dia melihat Theor sedang duduk di sana dengan santai.
Theor memakai jubah hitam menutupi wajahnya, terlihat sangat misterius. Elena celingukan, bisa-bisanya pria se dingin Theor masuk ke toko Kue khas wanita.
"Apa yang kau lakukan disini?." Sungut Elena.
"Mendengarkan gosip... mungkin." Sindirnya.
"Berisik, jadi kau berkencan dengan kekasih Tuanmu? aku terkejut sekali." Sindir Elena balik.
"Aku juga terkejut, karena aku sendiri tidak tau." Jujur Theor.
"Pftt Hahahahahahha, jadi pertengkaran yang di lihat orang-orang itu apa?." Elena tergelak.
"Kenapa aku harus memberitahu mu?." Ucap Theor datar.
"Pergi sana." Usir Elena kesal.
"Aku datang untuk bertanya, apa kau memiliki waktu." Ucap Theor to the point.
"Tidak ada waktu untukmu." Tolak Elena mentah-mentah.
"Aku akan memberikanmu hadiah jika kau mau meluangkan waktu sebentar." Bujuk Theor.
"Kalau begitu, berikan aku itu." Tunjuk Elena pada kalung di leher Theor.
Kalung berbentuk bintang dengan berlian hitam di tengahnya. Entah kenapa Elena merasa terpukau dengan kalung itu, andai saja dia bisa memiliki itu kenapa tidak.
glutak
"Ambilah." Theor melemparnya dengan enteng.
"Hei, kau memberikanku semudah itu? ini bukan jimat sakti atau semacamnya?." Elena menyentuh kalung itu dengan hati-hati.
"Tidak ada, jadi apa kau punya waktu sekarang?." Desak Theor, dia yang tidak punya banyak waktu.
"Ya." Jawab Elena, matanya fokus pada kalung.
"Apa kau adalah gadis yang menolongku di hutan dulu? gadis kecil yang tinggal di panti asuhan perbatasan utara." Bisik Theor.
Deg.
Elena tersentak kaget, dia menatap Theor tekejut. Tidak menyangka Theor akan terang-terangan begini, Elena jadi kelabakan sendiri karena respon Theor yang terlalu cepat.
"Ha-ha-ha, apa yang kau katakan. Aku tidak pernah tinggal disana." Elek Elana, matanya mencari Merida kesana kemari.
"Jangan mengelak, pelayanmu sudah aku amankan." Ucap Theor.
"Hei apa kau melukainya? aku akan membencimu jika kau melakukannya." Elena menggeram.
"Tidak, jadi jawablah." Desak Theor.
"Aku tidak mengenalmu, jangan bicara omong kosong." Elak Elena.
"Lalu, luka di punggung atasmu. Kenapa kau memiliki luka yang sama dengan gadis itu." Theor mendekat, berbisik langsung di telinga Elena.
plakkkkkk
"D-dasar mesum, akan ku hancurkan kau lain kali. Fuck you!!." Elena bangkit berdiri dan kabur, dia mengacungkan jari tengah sebelum benar-benar keluar dari toko kue.
Theor hanya bisa mendesah kesal, dia gagal mengorek informasi. Tapi dia tidak akan mengelak, apalagi respon Elena yang panik dan terkesan menghindar.
Padahal alasan Elena melakukan itu karena dia salting dan canggung, dia tidak mau dekat-dekat dengan Theor karena tidak baik untuk jantungnya.
"Permisi Tuan, tagihan meja ini 10 koin emas." Ucap waiters laki-laki datang.
Theor tersenyum kesal di balik jubahnya, bisa-bisa nya gadis itu pergi padahal belum membayar makanan yang dia makan. Theor tetap membayar walaupun kesal, dia bahkan membungkus kue yang belum di makan.
Theor kembali ke Istana, dia membawa kue untuk alasan dia terlambat kembali pada Daniel. Meskipun dia gagal mencari informasi, setidaknya dia sudah yakin dengan instingnya.
"Kau terlambat." Ucap Daniel.
"Aku dipaksa membeli kue." Ucap Theor, wajahnya datar.
"Hah? siapa yang berani memaksamu?." Daniel heran.
"Wow bukankah itu kue yang sangat terkenal di Ibu kota?." Isabella berbinar cerah.
"Aku terpaksa masuk antrian karena ada yang mengikuti, siapa sangka makanan seperti ini sangat mahal." Theor jujur, karena dia awalnya tidak sengaja masuk ke toko kue.
"Berikan pada Isabella, aku akan mengganti uangnya." Ucap Daniel.
"Tidak mau, aku akan memakannya karena aku kesal." Tolak Theor.
"Akhirnya kau mau bicara santai ya." Ucap Daniel senang.
"Maafkan kelancangan saya yang mulia." Theor baru teringat, langsung kembali ke stelan awal.
"Dasar menyebalkan, aku akan membeli kue itu. Berapa harganya? kau bisa menaikan harga sebagai upah tenagamu." Ucap Daniel, karena Isabella merengek.
Theor terlihat melirik ke samping, dia tidak rela memberikan kue nya. Dia ingin memakan kue lucu yang sangat mahal ini, dia ingin tau rasanya tapi dia tidak mungkin menolak permintaan putra mahkota.
"Ah astaga lihat wajahmu yang keberatan itu, baiklah aku tidak akan mengambilnya. Bawa pergi sana, kerjakan pekerjaan mu yang tertunda." Daniel mengalah.
Theor langsung melesat pergi ke mejanya, dia membaca berkas sambil mengunyah macaron berwarna pink. Rasanya tidak buruk, dia menyukainya dan merasa senang.
"Yang mulia.. saya juga menginginkan kue itu." Isabella merengek sedih.
"Tenanglah, aku akan meminta pelayan membelikannya untukmu." Daniel membujuk.
"Hmm baiklah." Isabella mengangguk, dia kesal karena ingin memakan yang di beli Theor.
Di tempat Elena saat ini, dia akhirnya menemukan Merida yang menunggu di bangku taman kota. Elena mengomel karena kesal, tapi dia juga senang karena bertemu sang pujaan hati.
"Apa anda sempat membeli kalung nona?." Tanya Merida, salfok pada kalung di leher Elena.
"Oh Ekhem.. ya, aku merasa sangat suka dengan kalung ini. Mulai sekarang, aku tidak akan pernah melepaskan kalung ini." Ucap Elena tersenyum manis.
"Nona... apa anda tadi baru saja berkencan?." Ucap Merida curiga.
"A-apa yang kau katakan Merida, kau lah yang meninggal ku sendirian di sana. Dasar jahat, aku akan menghukummu nanti." Kesal Elena salting.
"Saya juga bingung, tiba-tiba saya sudah duduk di kursi ini sampai anda datang baru saya tersadar. Sepertinya itu sihir, apa anda baik-baik saja?." Merida khawatir.
"Ya, orang yang menemuiku memang menyebalkan. Untunglah kau baik-baik saja Merida, ayo kembali hari sudah hampir sore." Ajak Elena pulang.
Sampai rumah Elena harus membayar denda taruhan karena terlambat, dia harus merelakan 10 koin emas miliknya untuk sang Ayah. Ini semua karena Theor yang sudah membuatnya terlambat pulang, dia akan meminta perhitungan nanti.
"Merida, apa kau sudah memiliki gaun untuk pesta nanti?." Tanya Elena.
"Saya hanya pelayan, untuk apa memikirkan gaun." Heran Merida.
"Memangnya tidak boleh?." Heran Elena.
"Mungkin beberapa pelayan senior akan memakai gaun sederhana, tapi bukan gaun pelayan." Ujar Merida.
"Kalau begitu, aku akan memberikan satu gaun untukmu. Gaun ini tidak mencolok, tapi dia terlihat rapih dan bagus." Ucap Elena, tentu saja dia tidak akan mempermalukan Merida.
"Nona, jangan melakukan hal ini. Saya tidak pantas mendapatkan nya." Tolak Merida sungkan.
"Haish sudahlah, kau harus tampil rapih dan bersih sebagai pelayanku. Kau tau kan bagaimana rumor tentangku? jadi kau harus terlihat baik untuk citraku." Ucap Elena berkacak pinggang.
Merida dengan berat hati akhirnya mengangguk, Elena memilihkan beberapa gaun yang cocok dengan Merida. Gaun dengan bahan dasar halus, tapi warnanya tidak mencolok dan modelnya tidak terlalu ramai.
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘