Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETELAH BADAI
Aku terbangun dengan tubuh terasa remuk.
Setiap otot sakit. Setiap sendi protes kalau digerakkan sedikit saja. Lengan kanan yang kena slash Daiki diperban rapat—masih terasa perih meski sudah diobati.
"Akhirnya bangun juga."
Aku menoleh. Dadan duduk di samping kasur dengan wajah lelah—lingkaran hitam di bawah mata menunjukkan dia tidak tidur.
"Berapa lama aku pingsan?"
"Dua hari penuh. Yamamoto bilang kau kelelahan ekstrim—energi spiritual terkuras sampai hampir habis total. Kalau dipaksa lagi, bisa mati."
Dua hari? Lama juga.
"Luffy dan Sabo?"
"Luffy menangis dua hari nonstop. Baru tadi pagi akhirnya tertidur karena kelelahan. Sabo juga tidak mau makan—duduk di depan kamarmu terus sampai aku paksa istirahat."
Dadaku sesak mendengar itu. Aku bikin mereka khawatir.
"Maaf..."
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaf pada mereka berdua," Dadan berdiri. "Aku panggilkan mereka. Dan Yamamoto juga mau bicara denganmu."
Dia keluar. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka lebar—Luffy berlari masuk dengan mata berkaca-kaca.
"ACE-NII!" dia langsung loncat ke kasur dan peluk aku erat sekali—hampir bikin luka di lengan sakit lagi.
"Pelan-pelan, Luffy... kakak masih sakit..."
"Luffy pikir Ace-nii tidak bangun lagi! Luffy pikir Ace-nii pergi kayak mama!" dia menangis keras di dadaku.
Mama. Portgas D. Rouge. Ibu Ace yang meninggal setelah melahirkan.
Meski aku Arya yang reinkarnasi, tubuh ini punya ingatan emosional tentang Rouge—kehangatan yang singkat sebelum hilang selamanya.
"Kakak tidak akan pergi. Kakak janji, kan? Kakak selalu tepati janji."
"Janji lagi! Janji tidak akan bikin Luffy khawatir lagi!"
"Oke oke, kakak janji tidak akan bikin Luffy khawatir lagi. Sekarang berhenti nangis. Kakak tidak suka lihat Luffy nangis."
Luffy mengusap air mata dengan tangan kecilnya—tapi masih sesegukan.
"Luffy... senang Ace-nii baik-baik saja..."
"Iya. Kakak baik-baik saja. Lihat? Masih bisa gerak kan?"
Aku menggerakkan tangan kiri—meski sakit tapi bisa. Luffy tersenyum lega—senyum lebar khas yang selalu bikin suasana jadi lebih baik.
Sabo masuk dengan wajah serius—tidak seperti biasanya yang ceria.
"Ace. Kau tahu kau hampir mati?"
Langsung to the point tanpa basa-basi.
"Aku tahu. Tapi tidak ada pilihan lain—"
"Selalu ada pilihan lain! Kami bisa lari ke hutan! Kami bisa minta bantuan Garp! Kami bisa—"
"Dan membiarkan Dadan serta semua orang disini jadi sandera? Membiarkan mereka terluka atau lebih buruk?" aku memotong dengan nada setenang mungkin. "Aku tidak bisa lakukan itu, Sabo. Mereka keluarga kita."
Sabo terdiam. Tangannya terkepal erat.
"Tapi... tapi kau hampir mati... kalau kau mati, apa yang harus kami lakukan? Apa yang harus Luffy lakukan?!"
Suaranya bergetar. Dia menahan emosi keras-keras.
"Makanya aku tidak mati. Aku bertahan. Dan aku akan terus bertahan sampai tidak ada yang bisa bunuh aku. Itu janji."
"Janji bodoh! Kau bahkan tidak yakin bisa tepati!"
"Maka aku akan jadi lebih kuat. Cukup kuat sampai tidak ada yang bisa bunuh aku bahkan kalau mereka coba."
Sabo menatapku lama. Lalu tiba-tiba—dia duduk dan kepala menunduk.
"Aku... aku merasa tidak berguna. Kau bertarung sendirian melawan bajak laut sekuat itu. Aku cuma bisa nonton dari jauh. Tidak bisa bantu apapun."
Oh. Jadi ini yang mengganggu dia.
"Sabo. Dengar. Kau tidak tidak berguna. Kau menjaga Luffy dan Dadan saat aku pergi. Itu sama pentingnya dengan bertarung."
"Tapi—"
"Dan lagi, kau masih tujuh tahun. Aku sudah latihan dua tahun penuh dengan brutal. Wajar kalau aku lebih kuat sekarang. Tapi suatu hari, kau akan jadi sekuat atau bahkan lebih kuat dari aku. Aku yakin itu."
Sabo mengangkat kepala—mata sedikit berkaca-kaca tapi ada tekad baru disana.
"Aku akan latihan lebih keras. Jauh lebih keras. Sampai bisa bertarung sejajar denganmu. Sampai bisa melindungi keluarga kita juga."
"Bagus. Itu semangat yang benar."
Kami berpelukan—pelukan saudara yang lebih dari sekedar kata.
"Luffy juga mau kuat!" Luffy tiba-tiba berteriak sambil ikut peluk kami. "Luffy akan latihan keras! Jadi kuat kayak Ace-nii dan Sabo-nii!"
Kami tertawa—suasana jadi lebih ringan.
Pintu terbuka lagi. Yamamoto masuk dengan ekspresi serius.
"Ace. Kita perlu bicara. Serius."
Luffy dan Sabo keluar—memberi kami privasi.
Yamamoto duduk di samping kasur.
"Pertarunganmu dengan Kurohige no Daiki... aku menonton dari awal sampai akhir. Dan aku harus bilang—kau bodoh tapi juga luar biasa."
"Terima kasih... kurasa?"
"Tapi ada masalah besar. Kau menggunakan Hiken White Flame. Api putih kebiruan yang jauh lebih panas dari api normal. Kau tahu apa artinya?"
"Api yang lebih kuat?"
"Bukan. Itu tanda kau hampir mencapai Awakening."
Aku membeku. Awakening. Tahap tertinggi penguasaan Devil Fruit dimana pengguna bisa mempengaruhi lingkungan sekitar, bukan hanya tubuh sendiri.
"Tapi aku baru empat tahun. Masa bisa awakening secepat ini?"
"Normalnya tidak mungkin. Bahkan user berbakat butuh puluhan tahun. Tapi kau berbeda. Entah karena latihan brutal, atau karena bakat alam, atau karena sesuatu yang lain—tubuhmu berkembang jauh lebih cepat dari normal."
Dia menatapku tajam.
"Ini berkah sekaligus kutukan. Berkah karena kau bisa jadi sangat kuat di usia muda. Kutukan karena tubuhmu mungkin tidak siap menampung kekuatan sebesar itu."
"Maksudnya?"
"Awakening Devil Fruit membebani tubuh dan jiwa. Kalau dipaksa saat belum siap, bisa rusak permanen—atau lebih buruk, mati. Kau harus sangat hati-hati menggunakan kekuatan. Jangan pernah paksa melewati batas."
Peringatan serius.
"Aku mengerti."
"Bagus. Dan satu lagi—api putih tadi terlihat oleh anak buah Daiki. Cerita pasti akan menyebar. Sebentar lagi, banyak bajak laut atau bahkan Marine akan dengar tentang 'bocah empat tahun dengan api putih'. Kalian harus lebih waspada."
Sial. Aku tidak mikir sampai situ.
"Berapa lama sampai cerita menyebar?"
"Beberapa minggu. Mungkin sebulan. Tergantung seberapa cepat Daiki dan krunya bicara."
Beberapa minggu. Waktu singkat untuk persiapan.
"Maka kami harus jadi lebih kuat dalam waktu itu."
"Ya. Dan aku akan bantu. Mulai besok—setelah kau sembuh total—kita akan mulai latihan level baru. Lebih keras dari sebelumnya. Siap?"
"Selalu siap."
Yamamoto tersenyum tipis. "Kau benar-benar monster kecil. Daiki tidak salah sebut begitu."
Dia berdiri dan berjalan ke pintu. Tapi berhenti sejenak.
"Oh ya. Garp mengirim surat kemarin. Dia dengar soal Daiki dan sangat marah. Bilang akan datang bulan depan untuk 'latihan khusus lagi'. Bersiaplah."
Lalu dia pergi meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk—senang karena akan dilatih Garp lagi, tapi juga takut karena pasti akan lebih brutal dari terakhir kali.
Aku berbaring sambil menatap langit-langit kayu.
Empat tahun. Usiaku baru empat tahun tapi sudah bertarung dengan bajak laut bounty delapan puluh juta. Sudah hampir mencapai awakening Devil Fruit. Sudah menguasai Haki dasar.
Ini tidak normal. Bahkan untuk standar One Piece.
Tapi aku tidak punya waktu untuk normal. Marineford menunggu di masa depan. Perang besar yang akan tentukan banyak hal.
Aku harus jadi cukup kuat untuk ubah hasil perang itu. Untuk pastikan tidak ada yang mati—terutama aku sendiri dan Whitebeard.
Masih panjang jalannya. Masih banyak yang harus dipelajari.
Tapi aku akan sampai disana.
Tidak peduli seberapa keras. Tidak peduli seberapa menyakitkan.
Api takdir sudah menyala.
Dan tidak ada yang bisa padamkan.
Seminggu kemudian, luka sudah sembuh cukup untuk mulai latihan ringan.
Yamamoto memang tidak main-main soal 'latihan level baru'.
Sekarang kami harus lari dengan beban batu dua kali lebih berat. Sparring dengan senjata tajam sungguhan—tidak boleh kena sama sekali atau hukuman push up seratus kali. Dan latihan Haki yang lebih intens—harus maintain Armament selama lima menit atau Observation dengan radius dua puluh meter.
Brutal. Tapi efektif.
Sebulan berlalu dengan cepat. Tubuh semakin kuat. Kontrol Devil Fruit semakin baik. Haki semakin stabil.
Dan seperti janji—Garp datang.
Dengan senyum lebar yang sangat menakutkan.
"ACE! SABO! KAKEK DATANG! SIAP UNTUK LATIHAN NERAKA VERSI DUA?!"
Kami menelan ludah bersamaan.
Ini akan jadi bulan yang panjang.
Sangat panjang.
Tapi kami tidak akan mundur.
Karena setiap hari yang berlalu, setiap latihan yang diselesaikan, setiap luka yang sembuh—kami jadi lebih dekat ke tujuan.
Jadi cukup kuat untuk melindungi yang kami sayang.
Jadi cukup kuat untuk ubah takdir.
Jadi cukup kuat untuk bebas.
Api takdir berkobar lebih terang dari sebelumnya.
Dan dunia akan segera tahu nama kami.
Portgas D. Ace.
Outlook Sabo.
Monkey D. Luffy.
Tiga saudara yang akan guncangkan dunia.
Cerita baru saja dimulai.
BERSAMBUNG