NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Interogasi Manis Di Ruangan Osis

Pintu ganda dari kayu jati yang kokoh itu terbuka perlahan.

Begitu Kak Raka mendorongnya, semburan udara dingin dari AC sentral langsung menerpa wajah kami, membawa aroma pengharum ruangan berbau citrus yang segar dan mahal.

Ini pertama kalinya aku melihat Zea menahan napas.

Bagi siswa biasa, Ruang OSIS adalah "Sarang Elang". Tempat di mana elit sekolah berkumpul, tempat keputusan-keputusan penting dibuat, dan tempat yang memancarkan aura otoritas yang mengintimidasi. Berbeda denganku yang sudah terbiasa keluar masuk sini karena urusan Fazi, bagi Zea, ini adalah wilayah terlarang yang penuh dengan kakak kelas "menyeramkan".

"Masuk saja, santai," ujar Kak Disa sambil tersenyum ramah, menyadari ketegangan di bahu Zea.

Kami melangkah masuk.

Ruangan itu luas, jauh lebih luas dari ruang kelas biasa. Di tengah ruangan, terdapat meja rapat panjang dari kayu mahoni yang mengkilap. Di sudut lain, ada area santai dengan sofa kulit empuk berbentuk L, lemari kaca berisi deretan piala kebanggaan sekolah, dan papan tulis putih besar yang penuh dengan bagan strategi dan jadwal Festival Olahraga.

Fazi belum terlihat. Kursi kebesarannya di ujung meja rapat masih kosong.

"Fazi masih dipanggil Kepala Sekolah sebentar, paling lima menit lagi sampai," kata Kak Raka sambil melonggarkan dasinya sedikit. Dia menunjuk ke arah sofa. "Duduk dulu aja di sana."

Selain Kak Raka dan Kak Disa yang membawa kami masuk, ada tiga orang lagi di dalam ruangan itu.

Dua orang siswa laki-laki sedang duduk santai di sofa sambil memegang tablet, sepertinya sedang mendata logistik. Mereka menoleh saat kami masuk, memberikan anggukan singkat namun ramah.

"Wih, tamu spesialnya Fazi udah dateng," sapa salah satu dari mereka yang berkacamata tebal—Kak Bayu, Sekretaris Umum.

Namun, yang paling menarik perhatian adalah satu orang lagi. Seorang siswi perempuan bertubuh mungil dengan rambut dipotong bob pendek yang membuatnya terlihat sangat imut, seperti boneka. Dia sedang berdiri di dekat jendela, menata tumpukan proposal.

"Silakan duduk, Callen, Zea," Kak Disa mempersilakan kami.

Aku duduk di ujung sofa. Zea, yang masih terlihat gugup, duduk rapat di sebelahku. Lututnya hampir bersentuhan dengan lututku, mencari rasa aman.

Tiba-tiba, siswi berambut bob itu berbalik. Matanya yang bulat berbinar saat melihat Zea. Tanpa peringatan, dia berjalan mendekat dengan langkah-langkah kecil yang ringan, bahkan sedikit melompat-lompat kecil seperti kelinci yang antusias.

Hop.

Dia mendarat dan duduk tepat di seberang Zea, mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagu dengan kedua tangan.

"Halo!" sapanya ceria. "Nama kamu Zea, kan?"

Zea terkejut dengan kedekatan yang tiba-tiba itu. "I-iya, Kak."

"Aku Nana. Bendahara OSIS," kenalnya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Aku sudah sering melirikmu lho, sejak pertama kali kamu masuk sekolah ini pas MOS (Masa Orientasi Siswa)."

Zea tersenyum canggung. "Oh... benarkah, Kak?"

Senyum Kak Nana perlahan berubah menjadi seringai penuh arti. Dia memiringkan kepalanya, menatap Zea lekat-lekat seolah sedang menelanjangi jiwanya.

"Jujur saja ya, Zea," ucap Nana dengan nada yang tiba-tiba serius namun tetap lembut. "beberapa waktu lalu... rasanya kamu itu agak sensitif, ya? Auramu itu loh, fire banget. Pemarah, sedikit arogan, dan kayaknya susah banget dideketin. Tipe-tipe putri kerajaan yang nggak mau kesentuh debu."

Suasana ruangan mendadak hening.

Dua anggota OSIS laki-laki yang tadi sibuk dengan tablet berhenti scrolling. Kak Disa yang sedang menuangkan air mineral berhenti bergerak. Kak Raka bersandar di dinding, melipat tangan sambil tersenyum tipis.

Semua orang menatap Zea. Lalu, secara halus, lirikan mereka bergeser ke arahku.

Aku tetap diam, bersandar santai di sofa. Tapi dalam hati, aku membenarkan ucapan Nana.

Ingatanku melayang ke beberapa Minggu lalu. Saat proyek kelompok mata pelajaran Geografi tentang mitigasi bencana. Itu pertama kalinya aku satu kelompok dengan Zea. Saat itu, dia benar-benar menyebalkan. Dia menolak menyentuh tanah liat untuk membuat maket, protes soal panasnya ruangan, dan menyuruh anggota kelompok lain seenaknya.

Zea yang dulu adalah definisi "Primadona Sombong".

"Tapi..." suara Nana kembali terdengar, memecah keheningan. "Kenapa sekarang kok berbeda banget, ya? Rasanya kayak liat orang lain. Kamu jadi lebih... hangat? Lebih lunak?"

Zea menunduk, memainkan ujung roknya dengan jari-jarinya yang lentik. Wajahnya perlahan memerah. Pertanyaan itu menohok tepat di sasaran.

Zea mengangkat wajahnya sedikit, menoleh ke arahku sebentar. Aku menatapnya datar, tidak memberikan ekspresi apa pun, membiarkan dia menjawab dengan caranya sendiri.

Zea menarik napas panjang, lalu memberanikan diri menatap mata Nana. Dia tersenyum tipis, kali ini senyum yang tulus, bukan senyum sopan santun belaka.

"Kak Nana benar," jawab Zea pelan tapi tegas. "Aku mengakui... dulu sifatku memang begitu. Buruk banget, ya?"

Dia terkekeh kecil, menertawakan dirinya sendiri di masa lalu.

"Tapi... ada hal yang membuatku sadar. Ada seseorang..." Zea berhenti sejenak, suaranya melembut. "Ada seseorang yang membuatku ingin berubah. Aku merasa, kalau aku terus-terusan bersikap kayak dulu, orang itu nggak akan pernah bisa menerimaku. Aku ingin menjadi pantas di matanya."

Mendengar pengakuan polos itu, atmosfer di ruangan berubah menjadi hangat.

Anak-anak OSIS saling pandang. Mereka adalah kumpulan siswa paling peka di sekolah. Kode sejelas itu tidak mungkin mereka lewatkan. Senyum-senyum penuh arti mulai bermunculan di wajah mereka.

Nana tertawa kecil, suara tawanya renyah seperti lonceng.

"Owh... manisnyaaa!" seru Nana gemas. "Jadi makin penasaran... siapa sih orang itu? Jarang banget lho ada cewek, apalagi primadona kayak kamu, yang rela nurunin ego dan berubah demi satu cowok."

Zea hendak membuka mulut, tapi Kak Disa segera menyela sambil meletakkan gelas air di meja.

"Sudahlah, Na. Jangan dipojokkin terus, kasihan Dek Zea," kata Disa, meski matanya sendiri memancarkan kejahilan. "Dia mungkin malu mau nyebut nama. Hmm, tapi kayaknya nggak perlu diberitahu juga kita semua di sini pasti tahu siapa orangnya... Benar kan, teman-teman?"

"Jelas banget," sahut Kak Bayu dari sofa seberang sambil terkekeh.

"Transparan," tambah Kak Dion singkat.

Wajah Zea makin merah, tapi anehnya, dia tidak membantah. Dia justru mengangkat dagunya sedikit, ada kebanggaan di matanya.

"Aku tidak masalah kalau Kakak-kakak tahu," kata Zea, suaranya terdengar mantap. "Pokoknya... di mataku dia orang yang sangat hebat. Sangat cerdas, walau nggak banyak yang tahu. Dia baik hati dengan caranya sendiri... dan bagiku, dia sempurna."

Saat mengucapkan kata 'sempurna', Zea menoleh sepenuhnya padaku. Tatapannya lembut, penuh pemujaan yang tidak ditutup-tutupi.

Aku, yang menjadi objek pembicaraan terselubung ini, hanya bisa menghela napas dalam diam. Tidak berkata-kata. Meminum air mineral yang disuguhkan seolah-olah aku tidak tahu apa-apa.

Kak Raka, yang sedari tadi mengamati interaksi kami, akhirnya buka suara. Dia berjalan mendekat dan duduk di lengan sofa di sebelahku.

"Ya tentu saja..." ujar Raka sambil menepuk bahuku pelan. "Orang yang bisa diakui oleh Fazi sebagai rival catur, tidak mungkin orang yang biasa-biasa saja."

Raka menatapku serius.

"Callen, kami tahun ini akan lulus. Jika suatu saat kamu naik ke kelas 11... pernah terpikir untuk masuk OSIS? Atau bahkan mencalonkan diri? Posisi strategi atau konseptor sangat cocok untukmu. Kamu bisa menggantikan kami."

Tawaran itu berat. Masuk OSIS di sekolah ini bukan sekadar ekskul, itu adalah tiket emas untuk koneksi masa depan, tapi juga beban kerja yang gila.

Aku menggelengkan kepala pelan.

"Terima kasih tawarannya, Kak Raka. Tapi itu tanggung jawab yang terlalu besar," tolakku sopan. "Aku bukan orang yang bisa mengemban amanah publik seperti itu. Aku lebih suka... berada di belakang layar."

"Owh, benarkah?" Kak Disa menimpali, nadanya terdengar skeptis namun antusias. "Sayang sekali... padahal kita semua penasaran lho."

Nana kembali melompat dalam percakapan, matanya berbinar-binar menatap kami berdua bergantian.

"Sepertinya Festival Olahraga yang tinggal empat hari lagi ini bakal makin seru, ya!" seru Nana. "Bukankah begitu, Zea?"

Nana mencondongkan wajahnya ke arah Zea lagi.

"Apalagi di kelasmu ada 'orang yang kamu sukai' dan 'hebat' seperti itu... Aku punya feeling kuat. Kelas X-A bakal jadi Kuda Hitam terbesar tahun ini. Iya kan?"

Nana tersenyum lebar, matanya melirik tajam ke arahku, seolah menantangku untuk membuktikan ucapannya.

Zea terdiam mendengar itu. Dia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Wajahnya sudah semerah apel matang, uap panas seakan keluar dari telinganya. Dia malu, tapi juga senang karena kakak kelasnya secara tidak langsung memuji Callen.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat situasi ini.

Mereka semua salah paham. Aku tidak berniat menjadi pahlawan atau kuda hitam. Aku hanya ingin memenangkan hadiah uang tunainya, memastikan kelasku tidak hancur lebur, dan kembali menjadi siswa biasa yang tidak terlihat.

Tapi melihat tatapan penuh harap dari Zea dan senyum misterius para senior OSIS ini... sepertinya rencanaku untuk tetap low profile akan jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!