Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Gadis itu yang tak lain adalah Aisyah, sedang menikmati mangkuk ramen panas di depannya tiba-tiba terdiam sejenak, tangannya yang sedang menyodok mie berhenti di tengah jalan. Matanya tidak sengaja menatap arah pintu di mana Rain dan Bobby baru saja masuk.
" Ada apa, Syah...Ramen nya mau dingin lho," ujar sahabatnya, Mayang, yang baru saja menyelesaikan panggilan telepon dari Eropa dan melihat Aisyah menatap ke arah pintu masuk.
Aisyah menggeleng perlahan, masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Rain. "Aku... sepertinya aku pernah melihat orang itu, May," ucapnya dengan suara pelan.
Maya mengikuti pandangan Aisyah, melihat dua pria muda yang sedang diantar ke meja VIP oleh pelayan. "Yang tinggi dengan jas biru itu, seperti nya mereka orang penting , mungkin kamu salah orang,Syah."
" Aku tidak salah orang,May.." ucap Aisyah sambil menurunkan pandangannya ke mangkuk ramen yang sudah mulai mengeluarkan uap tipis. Dia masih ingat betul pertemuan mereka di taman kota beberapa waktu lalu . Meski mereka tak ada obrolan waktu itu dan mereka tidak saling mengenal tapi ingatan Aisyah sangatlah kuat.
" Mungkin saja, kamu mengenalnya? Maksudku kalian saling mengenal?"
Aisyah menggeleng pelan." Sudahlah,jangan di pikirkan ,lagian waktu itu tidak sengaja kami bertemu di taman kota,hanya sebatas itu saja." Aisya lalu kembali menikmati ramen nya yang sudah hampir dingin dan tak lagi mempedulikan sekitarnya.
Rain yang sedang memberikan instruksi kepada Bobby tentang dokumen yang akan dibahas dengan klien, pandangannya secara tak sengaja melintas ke arah pojok di mana Aisyah duduk. Hatinya berdebar kencang sejenak, dia hampir tidak percaya mata nya.
" Tuan?" panggil Bobby dengan sedikit khawatir saat melihat wajah Rain yang tiba-tiba berubah.
"Maaf, Bobby. kamu siapkan dokumen nya, aku akan segera menyusul," kata Rain dengan suara yang sedikit terengah. Dia menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum bergerak perlahan ke arah meja Aisyah.
Aisyah merasakan ada suara langkah orang yang mendekat, dia menoleh dan langsung bertemu pandangan dengan Rain yang sudah berdiri tepat di depan meja mereka.
"Hai..." ucap Rain dengan senyum yang lembut, meskipun hatinya masih berdebar kencang. "Aku tidak menyangka bertemu kamu di sini ."
Mayang berdiri perlahan, sedikit terkejut tapi tidak bisa menyembunyikan senyum kecil di bibirnya. "Hai juga.." Mayang yang membalas sapaan Rain karena Aisyah hanya diam menatap Rain.
" Auuhh." Ringis Aisyah saat Mayang menyenggol pundaknya dengan sengaja.
" Apa kau mengganggu?" Tanya Rain merasa tak enak hati karena ia datang begitu saja di meja seseorang yang tidak begitu ia kenal dan begitu pun sebaliknya.
" Tidak...tidak menggangu kok," Ucap Mayang lembut dengan senyum sumringah melihat pria tampan yang dari postur dan cara berpakaian nya sudah pasti bukanlah pria sembarangan.Wajah perpaduan timur tengah dan Indonesia itu membuat Mayang seketika lupa akan tujuan pria asing itu ke meja mereka .
Aisyah mengangguk dengan ramah, melihat dengan cermat kedua orang yang sedang berbicara di depannya itu.
"Perkenalkan, aku Rain. Senang bertemu denganmu, waktu itu kita belum sempat berkenalan," ucap Rain dengan sopan sembari menatap,Aisyah.
Rain menjulurkan tangan nya ke arah Aisyah dan dengan sedikit gugup Aisyah membalas ukuran tangan Rain. "Aisyah." Lirih Aisyah lalu dengan cepat melepaskan tangannya yang masih berada di genggaman Rain.
" Dan.."
" Aku Mayang." Potong Mayang cepat ,ia mengulurkan tangannya ke arah Rain dan Rain dengan senang hati membalasnya.
"Senang bertemu denganmu, Mayang," ucap Rain dengan senyum ramah sebelum kembali fokus pada Aisyah. "Bolehkah aku duduk sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
Aisyah terdiam sejenak, kemudian mengangguk perlahan dan menggeser kursi di sebelahnya. "Tentu saja, silakan."
"Aku ke toilet sebentar ya, Syah. Kalian bicara saja tenang-tenang," ujarnya dengan senyum mengerti sebelum berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah Mayang pergi, suasana di sekitar meja menjadi lebih sunyi. Rain duduk dengan tenang, melihat mangkuk ramen yang sudah sebagian habis di depan Aisyah.
"Ramen di sini enak kan? Aku juga sering mampir ke restoran ini saat ada jadwal bertemu klien di sekitar sini," ucap Rain mencoba membuka pembicaraan agar tidak terlalu tegang.
Aisyah mengangguk, tangannya secara tidak sengaja bermain dengan sendok di mangkuknya. "Ya... ini adalah restoran favoritku. Aku sering datang ke tempat ini sejak masih kuliah ."
Bobby yang melihat dari kejauhan hanya mengangguk dan melanjutkan ke meja VIP untuk menunggu klien yang akan datang.
"Aku sudah lama tidak melihatmu setelah pertemuan kita di taman kota waktu itu. Bagaimana kabarmu? tanyanya dengan penuh perhatian.
" Seperti yang terlihat ." Jawab Aisyah sedikit judes. Sejak David meninggalkan nya Aisyah seolah menutup diri dan tak suka berbicara apalagi dengan orang asing yang tiba-tiba mendekati nya seolah mereka adalah teman lama yang sudah lama tak bertemu.
" Waktu itu aku tidak sengaja menemukan ini di taman." Rain mengambil sesuatu dari saku jasnya dan memberikan benda kecil itu ke pada Aisyah.
Mata Aisyah membola saat melihat sebuah gelang dengan rantai yang kecil berada di tangan Rain. Gelang itu hilang saat ia baru kembali dari taman itu .
"Aku sebenarnya sudah beberapa kali ingin menghubungi kamu untuk mengembalikan gelang ini. Tapi aku tidak memiliki akses untuk menghubungi untunglah kita bertemu di sini tanpa sengaja dan untung saja benda aku bawa kemana-mana sebagai bentuk jaga-jaga kalau kita bertemu lagi dan ya kita bertemu lagi untuk kedua kalinya dengan tanpa sengaja.."
" Terimakasih." Ucap Aisyah tulus,kali ini ia terlihat berbinar mengobrol dengan orang asing . Aisyah lalu mengambil gelang perak itu dan menyimpannya di tas miliknya. Gelang itu sangat berharga baginya.
Saat itu pula, pelayan datang membawa pesanan baru yang sudah Mayang pesan sebelumnya. Pada saat yang sama, suara suara klien Rain yang sedang mencari dia terdengar dari arah meja VIP.
"Aku harus pergi sekarang, klien ku sudah datang," ucap Rain dengan sedikit kecewa, namun segera menambahkan dengan senyum hangat. "Tetapi jangan khawatir, kita akan melanjutkan pembicaraan ini nanti. Bolehkah aku meminta nomormu?"
Aisyah mengangguk dengan senyum yang lebih tulus dari sebelumnya. "Tentu saja, Pak Rain."
Setelah bertukar nomor dan berjabat tangan singkat, Rain kembali ke meja klien nya dengan hati yang terasa lebih ringan. Sementara Aisyah duduk kembali, menatap arah Rain yang sudah mulai berbincang dengan klien nya.
Mayang kembali ke meja beberapa saat kemudian, melihat wajah Aisyah yang sedang tersenyum sendiri sambil memegang teleponnya. "Kelihatannya ada sesuatu yang menarik nih?" ujar Maya dengan nada bercanda. Ia begitu bahagia melihat senyum indah di bibir tipis sahabatnya itu. Senyum yang baru ia lihat lagi setelah setahun lebih Aisyah tak pernah tersenyum seperti saat ini .