"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Rahasia di Balik Tembok Asrama
Hujan turun deras membasahi kaca jendela perpustakaan, menciptakan irama yang monoton dan menenangkan. Achell, Sophie, dan Julian duduk melingkar di sudut paling tersembunyi, di balik rak buku filsafat yang jarang dikunjungi siswa lain. Di tengah mereka, ada setoples kecil biskuit selundupan milik Sophie.
"Achell, letakkan buku itu. Kau sudah membaca halaman yang sama selama lima belas menit," tegur Sophie sambil menyikut lengan Achell.
Achell tersentak, lalu menutup bukunya dengan pelan. "Aku hanya sedang berpikir, Sophie."
"Berpikir atau melamunkan 'Tuan Besar' itu lagi?" sahut Julian dengan nada yang tidak menghakimi, namun cukup tajam untuk membuat Achell menunduk. Julian membetulkan letak kacamatanya. "Kau tahu, Rachel? Aku sudah menghabiskan tiga tahun di sini, dan aku belum pernah melihat orang sesibuk dirimu hanya untuk menyenangkan seseorang yang jaraknya ratusan mil."
Achell memainkan ujung rok seragamnya. "Aku hanya ingin dia melihatku, Julian. Bukan sebagai anak kecil yang dititipkan, tapi sebagai seseorang yang... setara."
"Setara?" Sophie mendengus kecil, lalu mengambil sekeping biskuit. "Bagaimana kau bisa setara kalau kau terus memposisikan dirimu seperti peminta-minta perhatian? Kau cantik, kau pintar, dan kau punya kami. Kenapa harus dia?"
"Karena dia adalah duniaku sejak aku kecil, Soph," bisik Achell lirih. "Kalian tidak mengerti. Saat orang tuaku pergi bertugas, hanya Uncle Victor yang ada. Dia yang menjagaku, meski dengan caranya yang kaku."
Julian menghela napas, ia menutup buku catatannya. "Rachel, ada perbedaan besar antara menjaga karena kewajiban dan menjaga karena peduli. Pria itu memberikanmu segalanya—uang, fasilitas, asrama terbaik—tapi dia menahan bagian yang paling kau butuhkan."
"Apa?" tanya Achell polos.
"Pengakuan," jawab Julian singkat.
Suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara rintik hujan yang kian menderu. Achell merasakan sesak itu kembali lagi. Ia tahu Julian benar, tapi hatinya yang keras kepala masih menolak untuk menyerah.
"Tadi pagi aku melihatnya di koran bisnis milik kepala sekolah," ucap Sophie tiba-tiba, menatap Achell dengan ragu.
Mata Achell langsung berbinar. "Uncle Victor? Apa yang dikatakannya? Apa dia berhasil dengan proyek di New York?"
Sophie ragu sejenak, ia melirik Julian sebelum kembali menatap Achell. "Dia difoto saat sedang menghadiri gala premier di Manhattan. Dia tidak sendirian, Rachel. Ada seorang wanita... seorang model atau aktris, aku tidak yakin. Mereka terlihat sangat... serasi."
Senyum di wajah Achell memudar seketika. Tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal. "Dia... dia sedang urusan bisnis, Sophie. Wajar kalau dia menghadiri acara seperti itu dengan kolega."
"Kolega tidak saling menggandeng tangan dengan cara seperti itu, Achell," potong Sophie gemas.
"Bangunlah! Dia hidup di dunianya yang mewah dan penuh warna, sementara kau di sini mengurung diri seperti biarawati hanya untuk menunggu surat yang diketik sekretaris!"
"Cukup, Sophie," tegur Julian lembut saat melihat mata Achell mulai berkaca-kaca. Ia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Achell. "Rachel, dengarkan aku. Kami adalah sahabatmu. Kami mengatakan ini bukan karena ingin menyakitimu, tapi karena kami tidak ingin kau hancur saat kenyataan itu menghantammu lebih keras nanti."
Achell menggelengkan kepalanya pelan, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. "Aku hanya ingin tahu kenapa aku tidak cukup baginya. Kenapa aku selalu menjadi 'lelucon'?"
Sophie langsung memeluk bahu Achell dengan erat. "Kau bukan lelucon, Achell. Dia saja yang terlalu tua dan membosankan untuk menyadari betapa berharganya dirimu. Julian, katakan sesuatu!"
Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman persaudaraan yang tulus. "Aku akan mengatakan ini: Mulai besok, jangan lagi menulis surat di malam hari. Gunakan waktumu untuk bermain piano bersamaku, atau membantu Sophie menyelundupkan makanan dari dapur. Hiduplah untuk dirimu sendiri, Rachel. Bukan untuk bayangan pria yang bahkan tidak tahu apa warna kesukaanmu."
Achell menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia menatap dua sahabatnya itu. Di tengah dinginnya asrama dan dinginnya sikap Victor, hangatnya persahabatan mereka adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa tetap hidup.
"Terima kasih," bisik Achell tulus. "Terima kasih karena tetap di sini, meskipun aku sangat bodoh."
"Memang bodoh," sahut Sophie sambil tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Tapi kau adalah si bodoh kesayangan kami. Sekarang, habiskan biskuit ini sebelum pengawas datang dan menyita 'cinta' kita ini."
Achell tertawa kecil—sebuah tawa yang sudah lama tidak terdengar. Di London, di dalam laci meja kerjanya, Victor Louis Edward baru saja meletakkan foto wanita yang ada di koran itu. Wajahnya datar, tidak ada kebahagiaan di sana. Ia hanya melakukan apa yang dunia harapkan darinya. Namun, saat ia melihat kalender dan menyadari ini adalah hari Sabtu—hari di mana surat Achell biasanya datang—ia merasa ada sesuatu yang hilang saat mejanya tetap kosong.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, tidak ada surat beraroma melati yang sampai ke tangannya. Dan anehnya, hal itu membuat Victor merasa gelisah tanpa alasan.