Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Dekat dan Akrab
Saga tertawa mendengar reaksi Bian. “Kamu mikir apa? Kafe langganan aku ada hotel itu. Aku mau ajakin kamu ke sana. Di sana suasananya enak, terus kita bisa lihat pemandangan malam yang bagus banget.”
Seketika Bian malu bukan kepalang. Ia sudah salah sangka. Saga masih tertawa seraya melirik ke arah sang calon adik tiri.
“Udah nyampe. Yuk sekarang kita turun.” Saga turun dari mobil dan kemudian membukakan pintu untuk Bian.
Bian pun keluar dari mobil dan tak lama keduanya sudah berada di sebuah kafe yang terletak di lantai sepuluh gedung hotel berbintang tersebut. Setelah memesan minuman dan cemilan untuk teman ngobrol, mereka menikmati pemandangan dari ketinggian.
Bian merasa risih karena Saga menatap ke arahnya terus semenjak pramusaji pergi membawa pesanan mereka.
“Kenapa Kak Saga ngelihatin aku terus?” tegur Bian.
“Emang gak boleh ya?” tanya Saga balik.
“Ya gak boleh. Mending lihatin pemandangan. Lihat lampu-lampunya cantik banget,” saran Bian.
“Pemandangan dari sini emang cantik, tapi di pinggir Kakak ada yang lebih cantik. Sampai-sampai Kakak gak bisa ngalihin tatapan Kakak.” Saga menyebut dirinya ‘kakak’ karena ia ingin lebih akrab dengan Bian. Juga, Bian duluan yang memanggilnya dengan sebutan itu, jadi ia merasa mendapat lampu hijau dari Bian.
Bian reflek memutar bola matanya. Bagaimana bisa Saga malah menggodanya di saat mereka adalah calon saudara tiri?
“Kakak serius, Bian.” Saga menanggapi reaksi Bian yang terkesan tak mempercayainya.
“Kakak itu calon kakak tiri aku. Kok bisa sih ngomong gitu sama aku?”
“Emang kenapa? Gak boleh Kakak bilang kalau adiknya itu cantik?”
Ia tak menyangka ternyata calon kakak tirinya ini adalah seorang pria penggoda. Ia pandai bicara dan Bian tidak suka itu. Padahal Saga sangat tahu bahwa interaksi seperti ini tidak semestinya dilakukan oleh Saga terhadap Bian.
“Aku kayaknya pengen pulang aja. Udah malem juga. Bisa tolong anterin?” pinta Bian ketus.
“Pulang? Pesenan kita bahkan belum dateng, Bi. Tunggu minumannya dateng, terus kita minum sambil ngobrol-ngobrol sebentar, baru kita pulang. Ya?” bujuk Saga.
"Aku mau ngobrol, tapi Kak Saga harus tahu batasan. Kita ngobrol seputar keluarga kita, gak ada kayak tadi. Kalau Kak Saga bisa janji, aku mau lanjutin obrolan kita. Kalau enggak, aku bakal pulang sendiri," tegas Bian.
"Okay, fine, Kakak janji, kita bakal ngobrol tentang keluarga kita. Gimana?"
Bian menghembuskan nafasnya tegas. "Okay. Janji ya?"
"Iya, beneran. Kakak 'kan udah bilang janji."
Kemudian seorang pramusaji membawakan minuman untuk mereka. Keduanya menyesap minuman masing-masing. "Nah, sekarang kita mau bahas apa?" tanya Saga ingin terlihat bahwa ia serius ingin menepati janjinya untuk sekedar mengobrol dengan Bian.
"Tentang orang tua Kakak, aku pengen nanya sesuatu. Boleh?"
"Boleh. Mau nanya apa?"
"Apa bener kedua orang tua Kakak itu cuma menikah demi bisnis?"
"Iya. Itu bener. Yang Kakak lihat dan rasain selama ini, ayah dan ibu gak pernah kelihatan mesra. Pernikahan mereka murni cuma buat jaga hubungan bisnis. Ayah Kakak adalah seorang pria yang suka sekali dengan perempuan. Ayah sering dikabarkan dekat sama beberapa perempuan. Itu udah jadi rahasia umum."
"Terus ibunya Kakak?"
"Kelihatan biasa aja. Awalnya Kakak juga mikir kalau ibu hebat banget karena tegar ngelihat suaminya main serong di belakangnya. Tapi setelah mereka bilang kalau mereka akan tukar pasangan dengan temen lama mereka, Kakak baru sadar saat itu kalau ternyata gak pernah ada cinta di antara ayah dan ibu. Malah Kakak sekarang penasaran akan seperti apa ayah kakak dengan mommy kamu. Apa benar ayah Kakak akan berhenti ketemu cewek lain? Juga ibu Kakak yang selalu kelihatan tenang dan elegan, apa bisa berubah jadi lebih apa adanya saat bareng daddy kamu? Kakak pengen lihat itu. Kalau orang tua kamu gimana?"
"Sebenernya sama sih, mommy sama daddy itu beda banget. Mommy orangnya ekstrovert dan cenderung self center, sedangkan daddy justru yang selalu mikirin tentang keluarganya lebih dari dirinya sendiri. Tapi walaupun kayak gitu, mereka kelihatan akur-akur aja. Tapi aku pun baru sadar saat tadi lihat Mommy yang bahagia banget bareng sama ayahnya Kakak. Ayah juga selalu senyum sambil ngelihat ke arah ibunya Kakak. Semoga aja pernikahan mereka yang aneh ini emang jalan terbaik buat semuanya."
"Kakak setuju. Makanya kita juga harus akur ya."
"Iya aku setuju. Semoga kita bisa akrab kayak kakak adik beneran ya, Kak."
Saat mengatakannya, Bian tersenyum dengan begitu manisnya. Jiwa cassanova dalam diri Saga langsung saja meronta-ronta, menginginkan Saga beraksi untuk segera menaklukan Bian dan mengabaikan janji yang baru saja ia ucapkan.
"Semoga," sahut Saga.
"Oh iya, Kakak pernah ke SMA Seni Manohara? Aku rasanya pernah lihat Kakak di sekolah?" Bian mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya. Kamu emang belum tahu kalau Kakak ngajar Bahasa Inggris di sana?"
"Jadi itu beneran Kakak? Aku pernah denger sih, tapi gak nyangka ternyata Kakak itu guru aku di sekolah."
"Kakak emang belum pernah masuk ke kelas kamu. Mungkin minggu depan kita ketemu di kelas."
"Rasanya aneh ya, di luar kita saudara tiri, di sekolah kita jadi guru dan murid. Kita bakal ketemu terus deh kayaknya ya, Kak?"
"Iya, Kakak sendiri seneng banget bakal terus-terusan ketemu sama kamu." Saat mengatakan itu, Saga mengedipkan sebelah matanya. Ia sedang menggoda sang adik ipar lagi.
Wajah Bian yang tadinya ramah, seketika kembali berubah dingin dan jengkel. "Kakak kok ngomongnya mulai kayak gitu lagi? Katanya janji gak akan ngomong 'aneh' lagi."
Saga malah tak menggubris teguran Bian kali ini. Ia terus menatap wajah sang adik tiri.
"Kakak gak asyik. Aku pulang aja," ujar Bian kesal.
Namun baru saja Bian melangkah tiga langkah, Saga menariknya masuk ke dalam gedung, meninggalkan kafe yang bergaya outdoor itu. Ia berjalan ke arah lorong dan mengakses satu kamar dengan kartu akses yang ia simpan di sakunya.
"Kakak! Ngapain kita ke kamar?!" Bian panik.
Saga segera mendorong Bian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Ia menyandra Bian di antara tangannya yang menempel ke balik pintu. "Kakak akan bikin kita tambah deket dan akrab, kayak yang tadi kamu bilang."
Bian tahu 'dekat dan akrab' yang Saga katakan bukan dalam konteks saudara. Seketika ia kesal luar biasa. "Lepasin! Aku mau keluar dari sini," desis Bian marah.
"Silahkan kamu pergi kalau kamu mau Kakak kasih tahu pihak sekolah tentang apa yang kamu lakuin sama pacar kamu di belakang sekolah."