Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Gue dulu pernah nikah sama Pak Rasta. Kami udah nikah setahun tapi belum diberi kepercayaan anak. Tepat setelah setahun pernikahan kami, gue hamil. Gue siapin kejutan kehamilan gue buat dia begitu dia pulang dari luar kota, tapi dia malah nuduh gue selingkuh. Gue juga gak tau siapa yang ngirim dan bagaimana dia bisa dapetin foto gue tidur sama cowok lain, tapi sumpah demi Allah, demi apa pun di dunia ini gue gak pernah selingkuh apalagi sampai tidur sama cowok lain," tutur Viola, perlahan air matanya mengalir.
Widia mendengarkan dengan seksama, sesekali ia mengusap bahu Viola seolah ingin menguatkannya.
"Pak Rasta nggak percaya kalau gue hamil anak dia. Waktu tau gue hamil, dia malah semakin marah. Dan gue diusir. Dia sama sekali nggak mau dengerin penjelasan gue."
Widia ikut prihatin mendengar kisah sedih sahabatnya itu. "Dan lo pergi gitu aja?"
Viola mengangguk. "Gue kecewa karena dia gak percaya sama gue. Gue pergi dan gue pernah berdoa buat nggak ketemu lagi sama dia. Tapi kenapa doa gue gak dikabulkan?"
Widia berpikir keras bagaimana caranya supaya Viola mendapatkan keadilan atas kesalahpahaman ini. Kendati ia baru mengenal Viola, namun ia sungguh percaya cerita itu seratus persen benar. Viola perempuan yang kalem, tutur katanya selalu lembut, dan dia bukan type perempuan yang ganjen atau centil. tidak mungkin Viola selingkuh.
Widia yakin, pasti ada seseorang yang sengaja memfitnah Viola dan akhirnya mengikis kepercayaan Rasta.
"Gue kayaknya mau resign aja deh," gumam Viola tiba-tiba.
"Kenapa resign? Lo nggak betah karena ditindas terus sama Pak Rasta?"
Viola menggeleng pelan. "Bukan... bukan karena gue gak betah ditindas, tapi gue gak tahan sama tatapan Pak Rasta yang penuh kebencian dan tuduhan. Kenapa dia selalu mencari-cari kesalahan gue selama ini tuh ya karena dia masih marah sama gue. Masih nganggep gue ini pengkhianat."
Widia diam sesaat sambil menatap Viola yang lelah. "It's not fair for you. Lo gak boleh nyerah, Vi, lo harus dapetin keadilan dan kepercayaan Pak Rasta lagi—"
"Gue nggak bermimpi buat balikan sama dia lagi," potong Viola.
Dan Widia juga cepat-cepat menyela ucapannya, "No ... Ini bukan soal kalian harus balikan atau enggak, Vi. Tapi ini demi kebaikan lo dan juga anak lo. Mau sampai kapan lo menghindar terus? Kalau Pak Rasta nggak pernah tau tentang kebenarannya, dia akan selalu benci sama lo, dan selama itu juga lo akan terus menghindar?"
Viola diam, tubuhnya kaku, seolah tak bisa digerakkan lagi.
"Suatu saat kalau anak lo udah gede, dia pasti akan tanya di mana bapaknya. Dan lo mau jawab apa?"
"Gue jawab aja kalau bapaknya udah mati."
"Itu bohong. Dan lo mau selamanya hidup dalam kebohongan?"
Perlahan, kepala Viola menoleh ke arah Widia. Tatapannya seolah sedang bertanya. Dia tak punya pilihan lain, kan?
"Lo harus bisa bikin Pak Rasta percaya kalau dia beneran anak kandungnya," ujar Widia penuh keyakinan.
Viola mendesah berat, tidak yakin dengan saran yang diberikan Widia. "Gue harus paksa dia tes DNA gitu? Atau melakukan tes DNA secara diem-diem terus ditunjukkan ke dia gitu?"
"Gak usah. Lo nggak perlu repot-repot ngelakuin itu. Biar nanti Pak Rasta yang cari tahu sendiri kebenarannya." Widia tersenyum misterius, namun terdapat kepuasan di wajahnya.
Viola semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan mereka. "Jadi gue harus gimana?"
"Ada kemiripan nggak antara anak lo sama Pak Rasta?" tanya Widia.
"Ada. Lo bisa liat sendiri." Viola mengeluarkan ponselnya, kemudian menunjukkan salah satu foto Vita kepada Widia. Dan reaksi Widia tepat sesuai dengan perkiraannya.
"Mirip banget sama Pak Rasta. Ini sih kayak pinang dibelah dua. Gue kayak ngeliat Pak Rasta versi cewek deh," takjub Widia.
Viola terdiam cukup lama, keningnya mengernyit. Ia sekarang paham, apa yang direncanakan Widia.
Mereka saling tatap, berkomunikasi lewat mata.
Benar. Viola tidak boleh menghindar lagi, jika ia ingin mendapatkan kembali kepercayaan Rasta dan menunjukkan kebenaran, cara pertama yang harus ia lakukan adalah justru mempertemukan Rasta dengan Vita.
*
Beruntung, hari ini adalah hari terakhir Viola masuk shift pagi. Meskipun ia harus lembur lagi akibat dihukum oleh Rasta, setidaknya besok ia akan berangkat siang sehingga ada waktu lebih banyak untuk istirahat.
Hujan sedang mengguyur deras ketika ia keluar dari resto. Memecah keheningan malam dengan suara gemuruhnya.
"Vi, bawa mantel gak?" tanya Haris.
"Aman kok, gue bawa."
"Oke kalau gitu."
"Yuk, Vi, udah malem banget ini."
"Duluan aja kalian."
Satu per satu teman-temannya meninggalkan restoran dengan mengendarai motornya. Tinggal Viola yang sedang memeriksa isi tasnya. Rasanya ia selalu memasukkan jas hujannya ke dalam tas setiap kali akan berangkat kerja.
Tapi kenapa kali ini tidak ada?
Viola memejam serta mengutuk dalam hati. Baru ia ingat jika jas hujannya tertinggal di rumah, karena kemarin isi tasnya ia bongkar.
"Aduh, kok bisa lupa sih."
Viola menggigit bibir. Sekarang ia harus bagaimana? Harus menunggu hujan reda dengan risiko pulang semakin larut, atau menerjang hujan deras dengan risiko kedinginan? Apalagi ia hanya memakai jaket sebagai pelindung.
"Nunggu hujan reda aja kali ya?" gumamnya.
Tapi sebelum itu, ia mengirim pesan kepada ibunya. Bilang, jika hari ini ia akan pulang terlambat dan menyuruh Vita untuk tidur lebih dulu. Biasanya Vita belum mau tidur jika Viola belum ikut berbaring di sampingnya.
Bunyi suara pintu kaca yang terkunci, membuat Viola menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Rasta yang sedang menguncinya, dan kemudian menarik rolling door.
Mereka sempat saling melirik, lalu Viola memilih untuk mengabaikan. Tidak akan mau dia mengeluarkan basa-basi apalagi menaruh sikap hormat seperti biasanya, toh sekarang sudah bukan jam kerja lagi.
Pun begitu dengan Rasta yang menganggap kehadiran Viola di sana tidak nyata. Kedua orang yang dulu pernah saling mencintai, kini saling bersikap asing. Rasta juga tidak bisa bersikap semena-mena seperti biasanya, karena ini sudah bukan jam kerja lagi.
Setelah selesai memastikan pintu masuk restonya aman, ia langsung menerjang hujan ke arah mobilnya.
Namun ketika sudah berada di dalam mobil, bukannya menghidupkan mesin, ia malah memperhatikan Viola begitu lekat. memperhatikan wanita itu dalam diam.
Bayangan Viola yang masih berdiri di depan restoran, tersamarkan oleh hujan di kaca mobilnya.
Viola masih sama seperti yang dulu. Cantik, menarik, mempesona, lembut, dan ... Membuat Rasta ingin selalu berada di dekatnya.
Sikap Rasta yang menyebalkan, itu semua dilakukan karena ia ingin selalu melihat Viola dan inginkan wanita itu berada di dekatnya lebih lama. Namun, rasa benci dan sakit atas pengkhianatan membuat Rasta tak bisa menunjukkan perasaannya dengan lebih baik.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu