Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Setelah obrolannya dengan Pappi selesai, Kenzo melangkah ke lantai atas dengan langkah pelan.
Pintu kamar Naya didorong perlahan—tanpa suara, tanpa lampu dinyalakan.
Naya sedang duduk di kursi kecil di depan cermin.
Rambutnya tergerai, wajahnya masih lembut habis mandi.
Ia nggak sadar ada seseorang di belakangnya… sampai sepasang lengan mengurungnya hangat.
“My princess,” bisik Kenzo.
Kecupan ringan mendarat di puncak kepala Naya.
Naya terkejut kecil, tapi tubuhnya langsung melemas—terbiasa dengan pelukan itu.
“Ken…” gumamnya pelan.
Kenzo memutar kursi, membuat Naya menghadapnya.
Tangannya naik, memegang pipi Naya dengan hati-hati, seolah takut kalau terlalu kuat bisa membuatnya pergi.
Tatapan mereka bertemu.
Hening. Tapi penuh.
Ciuman itu datang pelan.
Hangat. Lembut. Tanpa terburu-buru.
Bibir mereka saling tertaut, seolah saling menenangkan.
Naya memejamkan mata, jemarinya mencengkeram ujung baju Kenzo tanpa sadar.
Jantungnya berdetak cepat—bukan karena takut.
Tapi karena nyaman.
Kenzo menariknya ke dalam pelukan setelahnya, menempelkan kening mereka sebentar.
“Aku di sini,” bisiknya.
“Nggak ke mana-mana.”
Dan di pelukan itu, Naya tahu—
malam ini, hatinya benar-benar jatuh lebih dalam.
“Ayo tidur. Aku temani.”
Kenzo menuntun tangan Naya.
Naya berdiri, mengikuti langkahnya. Baru beberapa langkah, Naya berhenti.
Kenzo berbalik.
Belum sempat bertanya, Naya sudah berjinjit sedikit dan mengecup bibirnya sekilas—cepat, spontan, penuh keberanian yang bahkan membuat dirinya sendiri kaget.
Kenzo terdiam sepersekian detik.
Lalu tersenyum kecil.
Tangannya naik memeluk Naya, menjaga jarak yang hangat dan aman.
Naya menyelipkan lengannya di leher Kenzo, menyandarkan dahi di dadanya.
Degup jantung mereka terasa—tenang, bukan tergesa.
“Ken…” suara Naya pelan.
“Iya,” jawab Kenzo lembut.
“Nggak ke mana-mana.”
Kenzo menuntunnya ke tempat tidur.
Lampu diredupkan. Dunia dikecilkan.
Malam itu, Naya tidur dengan perasaan aman—
dan Kenzo menepati janjinya: menemani, bukan melangkahi.
Naya melangkah lebih dekat.
Kenzo sudah duduk di sisi kasur.
Tanpa banyak kata, Naya duduk di pangkuannya.
Jarak mereka tinggal napas.
Tatapan saling mengunci—lama, intens.
“Nay…” suara Kenzo rendah.
Tangannya reflek menahan pinggang Naya, bukan menarik, tapi menahan diri.
Naya tersenyum kecil. Nakal.
“Kenapa?” tanyanya polos, padahal matanya menggoda.
Kenzo menghela napas, lalu mengangkat wajah Naya pelan dengan dua jarinya.
“Aku nggak mau rusak kamu.”
Naya menatapnya, kali ini lebih serius.
“Aku nggak rapuh,” jawabnya pelan.
“Aku tau,” Kenzo mendekatkan kening mereka.
“Tapi aku mau kamu aman… sama aku.”
Hening.
Jantung Naya berdetak kencang.
“Kamu sering gini sama cewek lain?”
Nada Naya setengah cemburu, setengah penasaran.
Kenzo menggeleng tegas.
“Nggak, Nay.”
“Bohong,” Naya mendengus kecil.
“Serius,” Kenzo menatapnya lurus.
“Sama kamu doang aku ngerasa gak bisa nahan diri.”
Naya terdiam.
Tangannya mencengkeram kaos Kenzo pelan.
Dan di momen itu, tanpa sentuhan lebih,
Naya luluh sepenuhnya.
Lampu kamar diredupkan. Hujan rintik di luar jendela bikin suasana makin sunyi.
Kenzo memeluk Naya dari belakang, dagunya bertumpu ringan di bahu Naya.
“Terus kamu ngapain aja… kan ganti-ganti cewek?” suara Naya pelan, hampir seperti gumaman.
Kenzo menghela napas kecil. Tangannya mengerat di pinggang Naya, bukan menahan—lebih ke menenangkan.
“Nggak ngapa-ngapain, Nay.”
“Tapi cewek kamu banyak,” Naya menoleh sedikit, nadanya datar tapi jelas ada yang ditahan.
“Sekarang kan nggak,” jawab Kenzo cepat, jujur. “Sekarang cuma kamu yang gue pikirin.”
Naya diam beberapa detik, lalu beringsut bangun. Ia memutar tubuhnya dan merebahkan diri membelakangi Kenzo, menarik selimut sampai bahu.
“Besok-besok juga banyak lagi,” gumamnya kesal.
“Ah, tau deh,” sambungnya, lebih ke dirinya sendiri.
Kenzo tersenyum kecil. Ia mendekat lagi, merangkul Naya dari belakang, lebih lembut dari sebelumnya.
“Sayangku… my princess.”
"Seneng banget sih ganti ganti pacar"
"Siapa yang pacaran sayang?" kenzo bertanya sangat
Dada Naya langsung berdegup keras.
Seperti ada petasan kecil meledak satu-satu di dalam dadanya.
Ia benci mengakuinya.
Benci karena cuma dua kata itu doang—sayangku dan my princess—
udah cukup bikin pertahanannya runtuh.
Naya menutup mata, pura-pura tidur.
Tapi bibirnya tanpa sadar melengkung tipis.
Dan Kenzo tahu.
Kenzo melangkah pelan ke arah pintu, sengaja dibikin berisik dikit.
Pegangan pintu sudah di tangannya.
“Tuh kan… main pergi per—” Naya beringsut bangun, setengah duduk, melirik ke arah Kenzo sambil ngomel kecil. Nada kesalnya keluar refleks, jujur.
Baru mau lanjut ngomel.
Kenzo ternyata nggak pergi.
Masih berdiri di sana, bersandar di kusen pintu, senyumnya kecil tapi penuh arti.
“Nggak rela kan gue pergi?” kata Kenzo pelan.
Naya langsung membuang muka.
“Tau ah, sebel,” jawabnya cepat, sok ketus.
Kenzo ketawa lirih, lalu melangkah mendekat.
“Sini,” katanya sambil membuka tangan, “gue peluk.”
Naya ragu setengah detik.
Tapi tubuhnya lebih jujur dari pikirannya.
Ia mendekat, dan Kenzo langsung merangkulnya erat—bukan posesif, tapi hangat. Kayak tempat pulang.
Dagu Kenzo bersandar di puncak kepala Naya, tangannya mengusap punggungnya pelan.
“Kenapa sih kamu gampang banget cemburu tapi juga gampang luluh?” bisik Kenzo.
“Kamu nyebelin,” gumam Naya di dadanya.
Kenzo tersenyum.
“Tapi kamu suka.”
Naya nggak jawab.
Ia cuma memeluk Kenzo lebih erat—dan itu sudah cukup jadi jawaban.
Pukul 22.21, Kenzo pelan-pelan membuka pintu kamar Naya.
Menutupnya lagi tanpa suara.
Begitu berbalik, langkahnya terhenti.
Reno berdiri di ujung lorong, tangan menyilang di dada, tatapan curiga khas kakak protektif.
“Ngapain lo?” tanya Reno datar.
Kenzo santai, tapi refleks berhenti jalan.
“Biasa.”
“Jangan apa-apain adek gue,” suara Reno sedikit ditekan.
“Nggak,” jawab Kenzo cepat.
Reno mengangkat alis. “Terus?”
“Minjem charger. Dia udah tidur,” Kenzo menjawab sekenanya, lalu langsung melengos masuk ke kamar Reno sebelum interogasi berlanjut.
Reno menghela napas, ikut masuk.
“Nganterin Citra lama amat,” kata Kenzo sambil duduk di kasur.
“Ah, lo kayak nggak ngerti aja. Charger dulu bentaran doang,” balas Reno sambil colok kabel.
“Sialan lo,” Kenzo nyengir.
Dalam hati, Kenzo terkekeh kecil.
Kalau tau adeknya sering gue kelonin, sering gue bikin deg-degan, sering gue bikin candu…
udah ngamuk ni anak.
Kenzo merebahkan badan, menatap langit-langit kamar.
Di kepalanya, wajah Naya masih jelas.
Cara dia kesel. Cara dia luluh.
Dan Kenzo tahu satu hal pasti—
dia makin susah buat pura-pura biasa aja.
Kenzo bangkit setengah duduk, meraih ponselnya di samping bantal.
“Besok gue nggak masuk,” katanya santai.
Reno menoleh. “Lo?”
“Lo sama Naya pake aja mobil gue,” lanjut Kenzo.
Reno mengernyit. “Terus lo?”
“Gue dijemput supir. Ke bandara,” jawab Kenzo ringan, seolah itu hal sepele.
Reno mengangguk pelan. “Oke.”
Kenzo kembali rebahan, menatap kosong ke atas.
Pikirannya sudah ke mana-mana—ke jadwal, ke urusan kerjaan,
dan… ke kamar sebelah.
Ke seseorang yang bikin dia susah tidur walau capek.
Jam 03.12.
Kenzo menyelinap masuk ke kamar Naya, menutup pintu perlahan lalu menguncinya. Ia merebahkan diri di samping Naya yang masih terlelap.
“My princess,” bisiknya.
“Mmm…” Naya bergumam setengah sadar.
Kenzo mengusap pipi Naya pelan, lalu mengecup keningnya. Lengannya mendekap tubuh itu lebih erat, seolah takut kehilangan.
“Sayang,” panggilnya lembut.
“Hm… kenapa?” suara Naya masih berat oleh kantuk.
“Aku mau berangkat bentar lagi.”
Mata Naya langsung terbuka lebar.
“Hah? Ke mana?”
“Aku ada urusan. Seminggu… mungkin lebih.”
“Kenapa nggak bilang dari kemarin?” nada Naya mulai berubah, ada ngambek yang tertahan.
“Nanti aku telepon tiap hari,” Kenzo buru-buru menenangkan. “Maaf.”
“Lo abis ngapa-ngapain gue, main pergi aja,” Naya mendecak. “Emang playboy ya… playboy aja.”
“Nay…” Kenzo menahan senyum pahit.
“Udah sono pergi. Malesin,” Naya memalingkan wajah.
“Mana bisa pergi kalo kamu marah,” Kenzo menghela napas kecil.
Ia mendekat lagi.
“My princess, sini… liat aku dulu.”
Kenzo memeluk Naya dari belakang, lalu perlahan membalikkan tubuhnya menghadap dirinya. Ia mengecup pipinya, lalu keningnya, dan terakhir bibirnya—singkat tapi penuh rasa. Tangannya kembali mengusap pipi Naya, menenangkan.
“Kamu jangan nakal ya… aku pergi,” bisiknya.
Kenzo merapatkan pelukan, usap punggung Naya pelan. “Gue ninggalin jaket gue di sini. Biar bau gue nempel. Biar lo inget, gue pulang.”
Naya akhirnya melunak. Tangannya mencengkeram kaus Kenzo.
“Jangan lama-lama.”
“Janji.” Kenzo mengecup keningnya sekali, lama. “Gue balik, lo masih jadi my princess gue.”
Naya menutup mata, mengangguk kecil.
“Telepon ya. Jangan ilang.”
“Setiap hari,” jawab Kenzo mantap. “Sekarang tidur lagi.”
Ia merangkul Naya sampai napasnya pelan dan teratur—
sebelum fajar benar-benar datang.
Naya menatap Kenzo lama, emosi di dadanya campur aduk—kesal, takut, tapi juga candu.
“Aku berangkat, my princess,” kata Kenzo pelan.
Naya tidak menjawab. Ia hanya memeluk Kenzo lebih erat, seolah berkata: cepet pulang.