Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Yang Mengukir Kekuatan
Sinar matahari pagi menerangi halaman belakang rumah Kakek Sembilan dengan cahaya yang hangat dan menyegarkan. Udara hutan terasa sangat segar, diisi dengan aroma daun segar dan tanah yang masih lembap dari embun pagi. Di tengah halaman yang ditumbuhi rumput rapi dan ditandai dengan batu-batu yang disusun membentuk pola tertentu, Ridwan berdiri dengan tubuh yang tegak dan siap—wajahnya penuh dengan fokus dan tekad yang sudah mulai terasah dengan baik selama delapan tahun tinggal bersama Kakek Sembilan.
Ia mengenakan baju latihan yang sederhana dari kain katun putih, dengan celana pendek yang sudah sobek di beberapa bagian akibat sering digunakan untuk berlatih. Rambut hitam pekatnya diikat rapi di belakang kepala menggunakan tali rotan, tidak menyembunyikan alis yang tegas dan mata yang fokus pada setiap gerakan yang akan ia lakukan.
“Posisi awal!” suara Kakek Sembilan terdengar dengan jelas dari sisi halaman, di mana ia sedang duduk di atas batu besar sambil menyaksikan latihan Ridwan. Usianya yang sudah menginjak tujuh puluhan tahun tidak menyurutkan kesigapannya—badan nya masih tegap, dan matanya melihat setiap gerakan Ridwan dengan sangat cermat. “Ingat, kekuatan bukan hanya berasal dari ototmu, tapi juga dari pikiran dan hati yang tenang.”
Ridwan segera mengambil posisi awal yang telah ia pelajari selama bertahun-tahun—kaki sedikit membuka selebar bahu, tubuh sedikit membungkuk ke depan, kedua tangan siap untuk menyerang atau bertahan. Ia menghirup udara dalam-dalam, menenangkan pikirannya dari segala gangguan dan fokus pada setiap napas yang ia hembuskan.
“Gerakan pertama—serangan tangan!” perintah Kakek Sembilan dengan suara yang kuat namun tidak meninggikan. “Gunakan kekuatan dari pinggulmu, bukan hanya dari lenganmu!”
Ridwan mengikuti instruksi dengan lancar. Tubuhnya bergerak dengan sangat gesit—pinggulnya memutar dengan cepat, membawa lengan kanannya untuk menyerang ke depan dengan kekuatan yang besar namun terkontrol. Udara berdesir di sekitar tinjunya yang cepat, menunjukkan kecepatan dan kekuatan yang telah ia asah dengan sangat keras selama bertahun-tahun.
“Bagus! Sekarang gerakan kedua—pertahanan kaki!” lanjut Kakek Sembilan, sambil menunjukkan gerakan dengan tangan nya yang masih lincah. “Hindari serangan dengan menggeser berat badanmu, bukan hanya dengan mengangkat kaki!”
Ridwan menanggapi dengan segera. Ketika Kakek Sembilan menunjukkan serangan dengan tongkat bambu yang ia pegang, Ridwan dengan cepat menggeser berat badan nya ke belakang, kaki kirinya meluncur ke samping untuk menghindari serangan tersebut. Ia kemudian dengan cepat memberikan kontra serangan menggunakan tumit kakinya, tepat pada titik yang telah ditunjukkan oleh Kakek Sembilan.
Latihan berlangsung selama hampir dua jam penuh. Ridwan melakukan serangkaian gerakan beladiri yang telah ia pelajari dari Kakek Sembilan—serangan tangan dan kaki, teknik pertahanan, serta gerakan untuk menghindari serangan dari berbagai arah. Keringat mengalir deras di tubuhnya, membasahi baju latihannya hingga menjadi lebih gelap warnanya, tapi ia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali. Setiap gerakan yang ia lakukan semakin lancar dan penuh dengan kekuatan yang terkontrol, menunjukkan hasil dari latihan yang ia lakukan setiap hari tanpa pernah melewatkannya.
“Cukup untuk saat ini, nak,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan kagum setelah Ridwan menyelesaikan serangkaian gerakan terakhirnya. Ia berdiri dengan perlahan, kemudian mendekati Ridwan yang sedang menenangkan napasnya setelah latihan yang intens. “Kamu telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dalam beberapa bulan terakhir. Gerakanmu sudah semakin presisi, dan kamu sudah mulai memahami makna dari setiap gerakan yang kamu lakukan.”
Ridwan mengangguk dengan senyum yang sedikit muncul di wajahnya yang penuh dengan keringat. Ia mengambil kain kecil yang ia bawa di pinggangnya untuk menyeka keringat dari wajahnya, kemudian berdiri dengan tegak menghadapi Kakek Sembilan. “Terima kasih, Kakek. Tanpa bimbinganmu, aku tidak akan pernah bisa mencapai ini.”
Kakek Sembilan hanya tersenyum perlahan, kemudian menepuk bahu Ridwan dengan lembut. “Kamu memiliki bakat alami, nak,” katanya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Aku hanya membimbingmu untuk mengembangkannya dengan benar. Tapi sekarang, sudah saatnya kita berbicara tentang sesuatu yang lebih penting dari latihan beladiri.”
Mereka berjalan bersama ke arah rumah, duduk di atas teras kayu yang memberikan tempat duduk yang nyaman dan teduh di bawah naungan pohon pepaya yang tumbuh di dekat rumah. Kakek Sembilan mengambil dua gelas air kelapa yang sudah ia sediakan sebelumnya, memberikannya kepada Ridwan sebelum mengambil salah satu gelas untuk dirinya sendiri.
“Kamu sudah dewasa sekarang, Ridwan,” mulai Kakek Sembilan dengan suara yang menjadi lebih serius. Ia melihat ke arah Ridwan dengan mata yang penuh dengan makna, seolah sedang mempertimbangkan kata-kata yang akan ia ucapkan. “Selama delapan tahun yang lalu, aku telah menyembunyikan beberapa hal darimu—hal-hal yang aku rasa belum kamu siap untuk mengetahuinya. Tapi sekarang, setelah melihat bagaimana kamu tumbuh menjadi orang yang kuat dan bertanggung jawab, aku merasa bahwa sudah saatnya kamu mengetahui kebenaran tentang keluargamu.”
Ridwan merasa hati nya mulai berdebar kencang mendengar kata-kata itu. Ia telah lama merasa bahwa ada sesuatu yang Kakek Sembilan tidak katakan padanya tentang keluarganya—tentang mengapa ibunya harus meninggal begitu cepat, tentang keluarga besar ibunya yang pernah disebutkan oleh ibunya sebelum dia tiada, dan tentang mengapa Kakek Sembilan mengenal ibunya dengan sangat baik.
“Ibumu tidak hanya seorang wanita biasa, nak,” lanjut Kakek Sembilan dengan suara yang pelan namun jelas. Ia menurunkan pandangannya ke gelas air kelapa yang ia pegang, seolah sedang melihat masa lalu yang jauh. “Dia berasal dari keluarga yang sangat terkenal dan kaya raya di luar kota—Keluarga Wijaya. Keluarga yang telah dikenal selama bertahun-tahun sebagai pengusaha sukses dan juga sebagai pelopor dalam pengembangan ilmu pengobatan tradisional di Indonesia.”
Ridwan merasa seperti terkena kejutan yang sangat besar. Keluarga Wijaya? Ia pernah mendengar nama tersebut beberapa kali dari ibunya sebelum dia tiada, tapi ibunya tidak pernah menjelaskan dengan jelas tentang keluarga nya tersebut. Ia hanya tahu bahwa ibunya telah meninggalkan keluarga nya untuk menikahi ayahnya, karena dia percaya pada cinta yang mereka miliki bersama.
“Keluarga Wijaya memiliki perusahaan besar yang bergerak di bidang obat-obatan dan kesehatan,” lanjut Kakek Sembilan, akhirnya menoleh untuk melihat ke arah Ridwan. “Ibumu adalah ahli pengobatan tradisional yang sangat berbakat yang belajar langsung dari neneknya—orang yang juga pernah menjadi guruku dalam ilmu pengobatan. Ketika dia memutuskan untuk menikahi ayahmu, keluarganya sangat tidak menyetujuinya. Mereka merasa bahwa ayahmu tidak layak untuknya, bahwa dia hanya ingin mengambil keuntungan dari keluarga nya.”
Ridwan merasa darahnya mulai mengalir lebih cepat. Ia tidak pernah menyangka bahwa ibunya berasal dari keluarga yang begitu besar dan terkenal. Mengapa ibunya tidak pernah memberitahukan hal ini padanya? Mengapa dia harus meninggalkan keluarga nya untuk hidup dengan ayahnya yang kemudian mengirimnya ke hutan dengan niat jahat?
“Ketika ibumu mengetahui bahwa dia sedang dalam bahaya,” lanjut Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Dia datang ke hutan ini untuk bertemu denganku. Dia memberitahuku tentang rencana yang mungkin akan dilakukan oleh Ratna dan ayahmu untuk mengambil alih perusahaan yang telah mereka dirikan bersama. Dia juga memberitahuku bahwa jika sesuatu terjadi padanya, aku harus menjaga kamu dengan sebaik-baiknya dan memberitahukan kebenaran padamu pada saat yang tepat.”
Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Ibumu mencurigai bahwa kematiannya tidak terjadi secara alami. Dia merasa bahwa Ratna dan ayahmu telah melakukan sesuatu untuk mempercepatnya, agar mereka bisa mengambil alih kendali perusahaan dan menghilangkan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarganya. Dia ingin kamu mengetahui kebenaran ini ketika kamu sudah cukup kuat untuk menghadapinya.”
Ridwan merasa kemarahan yang besar mulai muncul di dalam dirinya—kemarahan terhadap ayahnya dan Ratna yang telah melakukan hal yang kejam kepada ibunya, kemarahan terhadap dirinya sendiri yang selama ini tidak tahu tentang kebenaran ini, dan kemarahan terhadap dunia yang telah menyakiti orang yang paling dicintainya. Tapi di tengah kemarahan itu, ia juga merasakan rasa tekad yang semakin kuat—tekad untuk mengetahui semua kebenaran tentang kematian ibunya, tekad untuk mengambil kembali haknya yang telah dirampas, dan tekad untuk memberikan keadilan yang pantas bagi ibunya yang telah menderita karena keinginan akan kekuasaan dan harta.
“Kamu tidak perlu membuat keputusan sekarang, nak,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan pengertian, melihat ekspresi wajah Ridwan yang penuh dengan emosi yang saling bertabrakan. “Aku akan memberimu waktu untuk memproses semua informasi ini. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa ketika kamu merasa siap untuk pergi dan menghadapi semua ini, aku akan selalu ada untukmu dan akan membantumu dengan sebaik-baiknya.”
Ridwan mengangguk dengan perlahan, masih belum bisa berkata-kata akibat beratnya informasi yang baru saja ia terima. Ia melihat ke arah cincin warisan keluarga yang dikenakan di jari nya—ukiran bunga melati yang indah seolah sedang mengingatkannya tentang siapa dia dan dari mana dia berasal. Ia tahu bahwa saatnya telah tiba untuk menghadapi masa lalunya yang menyakitkan, untuk mencari kebenaran yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun, dan untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Cahaya matahari sudah mulai berpindah ke sisi lain halaman, menunjukkan bahwa siang hari sudah mulai bergeser ke sore hari. Di hatinya, Ridwan merencanakan langkah-langkah yang akan ia tempuh ke depan—perjalanan ke Bandung yang akan mengubah hidupnya selamanya, perjalanan untuk menemukan kebenaran dan mendapatkan keadilan bagi ibunya yang telah dicurangi oleh orang-orang yang seharusnya mencintainya.