Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan di Paviiliun Misi
Matahari pagi baru saja menyinari gerbang utama Sekte Pedang Langit ketika sosok Li Tian muncul dari balik kabut hutan. Jubahnya sedikit kotor oleh tanah dan getah pohon, namun langkah kakinya ringan dan bertenaga. Di punggungnya, ia memanggul sebuah bungkusan kain besar yang terlihat berat.
Dua penjaga gerbang yang sedang menguap terkejut melihatnya.
"Hei, bukankah itu Li Tian? Si 'Sarung Tangan Perunggu'?" bisik salah satu penjaga. "Dia baru keluar kemarin siang, kan? Kenapa sudah kembali?"
"Mungkin dia menyerah," jawab temannya sambil terkekeh. "Hutan Kabut Ungu terlalu berbahaya untuk murid Tingkat 7. Dia pasti lari begitu melihat kelinci bertanduk."
Li Tian mengabaikan bisikan mereka. Dia tersenyum tipis, menyapa para penjaga dengan anggukan sopan, lalu berjalan lurus menuju Paviliun Misi.
Suasana di dalam Paviliun Misi pagi itu sudah cukup ramai. Murid-murid sedang sibuk memilih tugas harian atau menukarkan herbal yang mereka kumpulkan.
Li Tian berjalan menuju meja pendaftaran yang sama dengan kemarin. Di sana, Kakak Senior wanita yang kemarin melayaninya—Kakak Senior Lin—sedang sibuk merapikan tumpukan gulungan.
"Permisi, Kakak Senior," sapa Li Tian.
Kakak Senior Lin mendongak. Dia mengenali wajah Li Tian. Alisnya terangkat sedikit, lalu dia menghela napas panjang.
"Li Tian," katanya dengan nada sedikit kecewa namun tidak kaget. "Sudah kubilang, kan? Misi Babi Hutan Besi itu terlalu berat. Tidak apa-apa, menyerah itu wajar demi keselamatan nyawa. Kembalikan token misinya, aku akan mencatat pembatalan..."
"Saya tidak datang untuk membatalkan misi," potong Li Tian sopan.
Dia menurunkan bungkusan kain dari punggungnya dan meletakkannya di atas meja kayu yang kokoh itu.
BRAK!
Suara hantaman berat benda keras membuat meja itu bergetar dan menarik perhatian murid-murid di sekitar.
"Saya datang untuk melapor penyelesaian."
Kakak Senior Lin terdiam. Dia menatap bungkusan itu dengan ragu. "Penyelesaian? Kau... kau membunuhnya? Sendirian? Dalam waktu kurang dari 24 jam?"
"Silakan diperiksa."
Kakak Senior Lin membuka ikatan kain itu.
Clang.
Dua buah taring melengkung berwarna perak metalik menggelinding keluar. Taring itu panjangnya seukuran lengan orang dewasa, masih memiliki sisa darah kering di pangkalnya. Aura dingin dan tajam menguar darinya, membuktikan bahwa ini bukan taring palsu.
"Astaga..." Kakak Senior Lin menutup mulutnya dengan tangan. "I-ini... Taring Besi Asli. Dan ukurannya... ini berasal dari Babi Hutan dewasa setidaknya berumur sepuluh tahun!"
Kerumunan di sekitar meja mulai berbisik-bisik heboh.
"Lihat itu! Taring Babi Hutan Besi!" "Dia benar-benar membunuhnya?" "Siapa bilang pusakanya sampah? Sampah tidak bisa menembus kulit besi babi itu!"
Kakak Senior Lin memeriksa pangkal taring itu dengan teliti menggunakan kaca pembesar spirit. Matanya membelalak saat melihat bekas potongannya.
"Potongannya bersih..." gumamnya tak percaya. "Kau tidak menggunakan gergaji atau kapak. Kau... mencabutnya paksa?"
"Sesuatu seperti itu," jawab Li Tian ambigu. Dia tidak mungkin bilang dia memotongnya dengan Cakar Penghancur.
Kakak Senior Lin menatap Li Tian dengan pandangan yang benar-benar baru. Tidak ada lagi rasa kasihan atau keraguan di matanya, digantikan oleh rasa hormat. Di dunia kultivasi, hasil adalah segalanya.
"Luar biasa," kata Lin, tersenyum ramah—senyum yang jarang dia berikan pada murid luar. "Kerja bagus, Adik Junior Li. Ini hadiahmu."
Dia mengambil kantong kain dari laci dan sebuah botol giok kecil.
"20 Batu Roh dan satu botol Pil Pemulih Qi. Karena kualitas taringnya sangat bagus dan utuh, aku tambahkan bonus 5 Batu Roh dari saku paviliun."
"Terima kasih banyak, Kakak Senior," Li Tian menerima hadiah itu dengan mata berbinar. 25 Batu Roh! Itu jumlah yang sangat besar baginya.
"Satu lagi," tambah Lin sambil menyerahkan lencana misi yang sudah dicap. "Dengan ini, kau telah memenuhi syarat partisipasi untuk misi tingkat lanjut. Jangan ragu untuk datang padaku jika kau butuh misi bagus lainnya."
Li Tian mengangguk dan berbalik pergi, meninggalkan kerumunan yang menatap punggungnya dengan kagum dan iri.
"25 Batu Roh..." Li Tian menimang kantong itu saat berjalan keluar. "Guru, apa yang harus kubeli dengan ini?"
"Jangan senang dulu," cemooh Zu-Long di kepalanya. "Bagi Kaisar Naga, itu hanya uang receh. Tapi untuk sekarang... pergilah ke Paviliun Alkimia. Beli Cairan Tempa Tulang. Tubuhmu sudah kuat di luar, tapi tulangmu butuh kepadatan lebih untuk menahan beban Gandakan."
Li Tian menurut. Dia menghabiskan 20 Batu Roh—hampir seluruh pendapatannya—untuk membeli tiga botol kecil cairan berwarna merah pekat itu.
"Mahal sekali," keluh Li Tian saat berjalan pulang ke gubuknya. "Satu nyawa Babi Hutan hanya setara tiga botol obat?"
"Kultivasi adalah lubang tanpa dasar yang memakan uang," kata Zu-Long bijak. "Tapi setiap keping yang kau habiskan untuk tubuhmu adalah investasi yang tidak akan pernah mengkhianatimu."
Sesampainya di gubuk, Li Tian tidak beristirahat. Dia langsung meminum cairan itu dan memulai latihan Sutra Kaisar Naga Matahari di bawah terik matahari siang.
Tiga minggu berlalu dengan cepat.
Selama waktu itu, Li Tian menjalani rutinitas gila. Pagi hari dia berlatih teknik fisik. Siang hari dia mengerjakan misi berburu di Hutan Kabut Ungu (membunuh kelinci angin, ular batu, dan serigala kayu) untuk mengumpulkan uang dan memakan dagingnya. Malam hari dia menyerap energi bintang.
Reputasinya di kalangan murid luar terus menanjak. Dia dikenal sebagai "Si Gila Li" yang selalu pulang dengan baju berdarah dan hasil buruan melimpah.
Namun, Li Feng tidak terlihat. Kabarnya, sepupunya itu sedang melakukan kultivasi tertutup dengan bantuan obat-obatan mahal dari keluarganya, bersiap untuk menghancurkan Li Tian di arena.
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba.
Matahari terbit di atas Arena Naga Tersembunyi, sebuah stadion batu raksasa di tengah sekte. Ribuan murid telah berkumpul, sorak-sorai mereka mengguncang langit. Bendera warna-warni berkibar.
Di panggung utama, para Tetua Sekte Luar duduk berderet, mengawasi lautan manusia di bawah.
GONG!
Suara gong raksasa dipukul, menandakan dimulainya Kompetisi Peringkat Murid Luar Tahunan.
Li Tian berdiri di antara kerumunan peserta. Dia mengenakan jubah tempur biru tua yang baru dia beli. Sarung tangan perunggunya terpasang kokoh di tangan kanan.
Auranya kini telah stabil di Tempa Tubuh Tingkat 8. Kulitnya tampak sedikit lebih gelap dan berkilau seperti tembaga, tanda keberhasilan tahap awal Sutra Kaisar Naga.
"Li Tian!"
Sebuah suara familiar memanggil. Han Gemuk berlari mendekat, napasnya tersengal. "Kau datang! Astaga, kau terlihat... berbeda. Lebih... padat?"
Li Tian tertawa. "Kau juga terlihat sehat, Han. Siap bertarung?"
"Aku? Ah, aku hanya berharap masuk 500 besar supaya uang saku bulananku naik," Han menyengir. "Tapi kau... semua orang membicarakanmu. Dan Li Feng..."
Han menunjuk ke arah seberang arena.
Di sana, dikelilingi oleh puluhan pengikut, Li Feng berdiri dengan angkuh. Dia mengenakan baju zirah merah menyala yang serasi dengan pedangnya. Auranya kuat dan menekan—dia telah menembus ke Tempa Tubuh Tingkat 9 Puncak, selangkah lagi menuju Bangkit Jiwa.
Li Feng menoleh, tatapannya bertemu dengan Li Tian. Dia membuat gerakan menggorok leher dengan ibu jarinya.
Li Tian hanya membalas dengan senyum tipis dan tenang.
"Dia pikir dia pemburu," bisik Li Tian.
"Biarkan dia bermimpi," sahut Zu-Long. "Hari ini, kita akan tunjukkan pada mereka siapa Naga yang sebenarnya di kolam kecil ini."
Seorang wasit naik ke atas panggung.
"Babak Penyisihan dimulai! Aturannya sederhana: Battle Royale! 50 murid naik ke satu panggung, hanya 5 yang boleh tersisa! Bertarunglah!"
Li Tian melangkah naik ke Panggung Nomor 7. Di sekelilingnya, 49 murid lain menatapnya dengan waspada. Beberapa dari mereka saling berbisik, membentuk aliansi sementara.
"Serang Li Tian dulu!" teriak salah satu pengikut Li Feng yang kebetulan satu panggung. "Tuan Muda menjanjikan 10 Batu Roh bagi siapa saja yang melemparnya keluar!"
Seketika, sepuluh orang murid menerjang ke arah Li Tian bersamaan.
Li Tian tidak memasang kuda-kuda bertahan. Dia malah merenggangkan lehernya.
"Sepuluh orang? Lumayan untuk pemanasan."
Mata Li Tian berkilat hijau. Dia tidak perlu menggunakan Gandakan. Kekuatan fisik murninya saat ini sudah cukup untuk menghancurkan batu.
"Maju!"
Kompetisi dimulai, dan Li Tian siap mengguncang panggung.