NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keenam

Sejak tanggal pernikahan itu ditetapkan, setiap hari yang dijalani Anya terasa bagai siksaan. Ia pernah mencoba melarikan diri, namun usahanya berujung tragis. Awalnya, ia merasa lega karena berhasil menyelinap keluar saat rumah sedang sepi. Namun, tak lama kemudian, ayahnya berhasil melacak keberadaannya.

Akibatnya, Anya dikurung di kamarnya selama dua hari tanpa diberi makan. Ibunya memohon-mohon agar hukumannya dihentikan, namun ayahnya yang dibutakan oleh amarah tak menggubrisnya.

Setelah dua hari mendekam dalam kurungan, ayahnya akhirnya melepaskannya. Ibunya langsung memeluk tubuh Anya yang terasa begitu lemas dan wajahnya pucat pasi.

Anya kembali dimarahi habis-habisan. Ayahnya mengancam akan menghukumnya lebih kejam lagi jika ia berani kabur lagi.

Sejak saat itu, bayangan hukuman mengerikan itu menghantuinya. Anya tidak lagi berani memikirkan untuk kabur atau melakukan tindakan nekat lainnya.

Ia hanya bisa pasrah, menunggu hari pernikahannya tiba dengan perasaan hancur.

.

.

.

.

.

Hari pernikahan itu pun tiba. Anya berdiri di depan cermin, mengenakan gaun pengantin putih yang indah. Namun, hatinya terasa hancur dan kosong. Ia merasa seperti boneka yang dipajang untuk dilihat orang.

Ibunya datang dan memeluknya dengan erat. "Anya, Ibu sangat sedih melihatmu seperti ini," ucapnya dengan air mata yang mengalir di pipinya. "Ibu berharap, kamu bisa bahagia suatu hari nanti."

Anya tidak menjawab. Ia hanya membalas pelukan ibunya dengan erat. Ia tahu, ibunya sangat menyayanginya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah takdirnya.

Ayahnya datang dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Anya, Ayah tahu ini berat untukmu," ucapnya dengan suara yang pelan. "Tapi, Ayah mohon, lakukanlah ini untuk keluarga kita."

Anya mengangguk lemah. Ia tahu, ayahnya juga sedang menderita. Namun, ia tidak bisa mengerti mengapa ayahnya begitu tega mengorbankan kebahagiaannya.

Setelah menatap cermin untuk waktu yang terasa abadi, seorang wedding organizer memanggil Anya untuk segera keluar dari ruang rias.

Dengan langkah berat, Anya meninggalkan ruang rias, diapit oleh kedua orang tuanya.

"Mengapa takdir begitu kejam mempermainkanku?" bisik Anya dalam hati, hatinya hancur berkeping-keping.

Langkah Anya terasa berat saat menyusuri lorong gereja yang panjang. Di setiap sisi, ia melihat orang-orang yang tersenyum dan melambai padanya. Namun, ia tidak merasakan kebahagiaan sedikit pun. Ia merasa seperti sedang berjalan menuju altar untuk disembelih.

Di ujung lorong, Arga berdiri di depan altar dengan wajah polos dan senyum tipis, kacamata bulatnya tak pernah lepas dari hidungnya. Jas putih yang dikenakannya tampak kebesaran di tubuhnya yang kurus.

Mungkin bagi Arga, ini hanyalah permainan, pikir Anya getir. Ia bertanya-tanya, mampukah Arga mengucapkan janji suci nanti? Jika tidak, itu akan menjadi berkah terselubung, dan ia tak perlu lagi bersusah payah membatalkan pernikahan ini.

Saat Anya berdiri di samping Arga, seorang pendeta mulai membacakan janji pernikahan. Anya mengabaikan kata-kata itu, pikirannya sibuk mencari jalan keluar.

"Apakah kamu, Arga Angkasa, bersedia menerima Anya sebagai istrimu?" tanya pendeta.

Arga terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara lirih, "Saya bersedia."

Anya merasakan jantungnya berdebar semakin kencang. Mendengar jawaban Arga, ia merasa semua harapan yang tadinya sempat tumbuh kembali hancur berkeping-keping. Ia merasa semakin terjebak dan tidak memiliki jalan keluar.

"Apakah kamu, Anya, bersedia menerima Arga Angkasa sebagai suamimu?" tanya pendeta dengan nada yang lembut.

Anya terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan. Jika ia mengatakan "ya", maka hidupnya akan hancur. Jika ia mengatakan "tidak", maka ia akan membuat ayahnya malu dan mungkin akan membuat keluarganya bangkrut.

Anya terdiam. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia merasa seperti sedang berada di ujung jurang.

Dengan napas tertahan, Anya memberanikan diri bersuara. "Saya..." ucapnya dengan suara bergetar, "...bersedia." Kata itu terasa seperti racun yang merenggut nyawanya perlahan.

Air mata mengalir deras, membasahi wajah cantiknya yang pucat pasi. Di sampingnya, Arga justru tersenyum tanpa makna, lalu tiba-tiba berseru "Hore!" dengan suara lantang yang memekakkan telinga.

Suara riang Arga bagai pisau yang menghunus jantung Anya. Ia merasa seluruh energinya terkuras habis. Ia bahkan tidak sanggup lagi untuk sekadar berdiri tegak. Tubuhnya terasa lemas dan ia nyaris ambruk jika tidak ditopang oleh Arga.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arga dengan nada polos, tidak menyadari betapa hancurnya Anya saat ini.

Anya tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap Arga dengan tatapan kosong. Ia merasa seperti sedang berada di dalam neraka yang abadi.

"Baiklah, mari kita lanjutkan," ucap pendeta dengan nada yang sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Anya akan mengatakan "bersedia" setelah semua yang terjadi.

Pendeta melanjutkan prosesi pernikahan. Anya hanya bisa pasrah mengikuti setiap langkahnya. Ia merasa seperti boneka yang dikendalikan oleh orang lain.

Saat pendeta meminta mereka untuk bertukar cincin, Anya menerima cincin itu dengan tangan yang gemetar. Ia memasukkan cincin itu ke jari Arga dengan perasaan yang hancur.

Arga menerima cincin dari Anya dengan senyum lebar. Ia memasukkan cincin itu ke jari Anya dengan semangat.

"Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai suami dan istri," ucap pendeta dengan nada yang tegas. "Kalian boleh berciuman."

Anya terkejut mendengar ucapan pendeta. Ia tidak menyangka akan ada adegan ciuman dalam pernikahan ini. Ia merasa jijik dan tidak sanggup untuk melakukannya.

Arga menatap Anya dengan tatapan yang polos. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Anya.

Anya menutup matanya dengan erat. Ia merasa mual dan ingin muntah.

Saat bibir Arga menyentuh bibirnya, Anya merasa seperti dicium oleh monster yang menjijikkan. Ia ingin berteriak, memberontak, namun tubuhnya membeku. Air mata terus mengalir, menjadi saksi bisu atas kehancurannya.

Setelah ciuman itu berakhir, Anya membuka mata perlahan. Ia melihat wajah-wajah yang bersorak gembira, namun di matanya, mereka semua tampak seperti iblis yang merayakan kekalahannya.

Anya merasa terjebak dalam mimpi buruk abadi. Ia tahu, ada bagian dari dirinya yang telah mati hari ini.

Setelah prosesi pernikahan selesai, Anya dan Arga keluar dari gereja, disambut riuh rendah sorak sorai para tamu. Anya memaksakan senyum, menyembunyikan kehancuran hatinya di balik topeng kepalsuan.

Arga, dengan tingkah kekanak-kanakannya, terus menggandeng tangannya dan melambai seolah sedang berada di acara peragaan busana. Senyumnya yang polos justru membuat hati Anya mendidih.

Anya dan Arga memasuki mobil pengantin mewah dan diantar menuju hotel. Di dalam mobil, Anya membisu, menatap kosong ke luar jendela. Ia jijik dan tak sanggup berdekatan dengan Arga.

"Kita mau ke mana?" tanya Arga polos, suaranya terdengar seperti anak kecil.

Anya menoleh ke arah Arga dengan tatapan dingin. "Entahlah. Aku tidak peduli," jawabnya dengan nada ketus.

Arga terdiam sejenak. Ia tampak bingung dengan jawaban Anya. Namun, ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya tersenyum dan kembali menatap ke depan.

Anya memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela. Ia merasa semakin muak dan jijik dengan Arga. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya begitu tega menjodohkannya dengan pria seperti ini.

Mobil pengantin itu terus melaju menuju hotel mewah. Anya merasa seperti sedang dibawa menuju neraka. Ia berharap, ia bisa segera melarikan diri dari semua ini.

Sesampainya di hotel, Anya dan Arga turun dari mobil dan berjalan menuju lobi hotel. Anya merasa risih karena banyak orang yang menatap mereka dengan tatapan kagum dan iri. Ia merasa seperti sedang menjadi tontonan.

Anya dan Arga memasuki kamar pengantin yang mewah. Anya merasa mual melihat dekorasi kamar yang serba romantis. Ia merasa seperti sedang berada di dalam penjara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!