“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 18
Pagi hari hujan mengguyur Jakarta. Langit kelabu menumpahkan air tanpa jeda, tetapi motor dan mobil tetap memenuhi jalanan ibu kota. Klakson bersahutan, lampu rem menyala bergantian, dan manusia bergerak seperti arus tak terbendung.
“Selamat berjuang para pencari nafkah,” ujar Miranda lirih. Ia duduk di pojokan ruko yang tutup, memeluk lutut, memperhatikan hilir mudik manusia yang bergegas menantang hujan dan waktu.
“Tidak masalah tanganku lecet, kulitku hitam, punggungku sakit, kakiku pegal. Aku akan terus melangkah,” gumam Miranda. Ia menatap telapak tangannya yang kasar, lalu melihat cerminan wajahnya di kaca cekung dekat ruko. Wajah itu tampak lelah, tetapi sorot matanya masih menyimpan tekad.
Hujan mulai reda. Tetes air menyisakan genangan kecil di aspal. Miranda berdiri, mengangkat karung di punggungnya, lalu berjalan lagi menuju lapak Cak Roni.
“Sebenarnya berapa kilo yang aku bawa,” ucap Miranda dalam hati. Setiap langkah terasa berat, punggungnya seperti hendak lepas, napasnya terengah, namun ia terus maju.
“Akhirnya aku sampai juga,” gumam Miranda setelah melalui perjuangan panjang memikul rongsokan yang ia kumpulkan semalaman. Ia teringat bagaimana dirinya tidak diperkenankan tidur di musala dan harus terus berjalan hingga pagi.
“Apa aku beli gerobak saja?” Ide itu terlintas ketika Miranda mengantre. Ia melihat betapa banyak orang menjual rongsokan dengan gerobak, berjalan lebih ringan, wajah mereka tidak setegang dirinya.
“Sepertinya nanti saja. Yang penting aku harus terus berusaha. Kalau bisa pakai kaki, ya pakai kaki. Kalau suatu saat bisa membeli gerobak, ya pakai gerobak,” pikir Miranda. Perlahan, rencana usaha mulai tersusun di kepalanya.
“Tumben pagi-pagi,” sapa Cak Roni sambil mengambil karung Miranda dan mengeluarkan isinya.
“Iya, Cak. Semalam saya mulung,” jawab Miranda jujur.
“Wah, bukan plastik saja, ya,” ucap Cak Roni setelah melihat isi karung. Tangannya cekatan menimbang rongsokan sesuai jenisnya.
“Kertas lima kilo, per kilo seribu, jadi lima ribu. Gelas dan botol plastik dua puluh kilo, jadi tiga puluh ribu. Besi sepuluh kilo, per kilo empat ribu lima ratus, jadi empat puluh lima ribu. Total jadi delapan puluh ribu,” jelas Cak Roni sambil menyerahkan secarik kertas berisi rincian.
Tangan Miranda bergetar. Matanya berbinar menerima uang itu.
“Semalam saja aku sudah dapat delapan puluh ribu. Uang yang aku pegang enam puluh lima ribu, jadi sekarang aku punya seratus tiga puluh lima ribu,” pikir Miranda, menghitung dengan cermat.
“Banyak juga hasilnya sekarang,” kata Cak Roni membuyarkan lamunan Miranda.
Miranda sedikit kaget, lalu tersenyum. “Makasih, Cak,” ucapnya sambil memasukkan uang ke saku baju.
“Tapi namanya usaha rongsok itu naik turun. Botol bekas selalu ada, tapi besi jarang. Kardus sekarang juga jarang dibuang,” lanjut Cak Roni.
Hati Miranda sedikit ciut mendengarnya.
“Tenang saja. Asal kita kerja keras dan jujur, kita bisa sukses. Banyak jalan menghasilkan uang,” tambah Cak Roni.
Cak Roni kembali menimbang rongsokan orang lain.
“Banyak cara menghasilkan uang,” gumam Miranda. Kalimat itu terasa seperti mantra yang harus ia resapi lebih dalam.
“Menghasilkan uang,” ulangnya pelan.
“Ya, kepalaku harus berpikir menghasilkan uang,” bisiknya mantap.
Miranda melangkah pergi sambil terus berpikir. Di kepalanya, satu tujuan mulai menguat, mencari cara, apa saja, selama bisa menghasilkan uang dan mengubah hidupnya.
Sementara itu, Raka akhirnya sampai di kantor. Begitu turun dari mobil, ia langsung menyadari ada yang tidak beres. Mesin pemindai mata di pintu masuk sedang diperbaiki. Beberapa teknisi berdiri di sampingnya dengan panel terbuka dan kabel menjuntai. Untuk absen, karyawan diwajibkan menggunakan barcode di ponsel. Masalahnya, ponsel Raka mati total.
“Pak Raka lewat sini,” ucap Yudi sambil menahan palang pintu masuk. Wajahnya tampak tidak sedap dipandang, tegang dan cemas.
Raka menghampiri, lalu masuk bersama Yudi.
“Pak Raka, kenapa HP-nya mati? Pak Riko marah terus sama saya,” keluh Yudi sambil melangkah di samping Raka.
“Ponsel saya mati,” jawab Raka singkat, suaranya datar, tapi pikirannya sudah kacau.
Tanpa menunda, Raka langsung menuju lantai tiga. Begitu pintu lift terbuka, Andi sudah berdiri menunggunya.
“Astaga, Ka. Kenapa nggak aktif sih HP lu? Pak Riko nelepon gue terus,” ujar Andi kesal.
Sebelum Raka sempat menjawab, Yudi menimpali dengan nada setengah bercanda, setengah serius, “Pak Raka, saya jualan HP, loh, Pak. Kalau butuh HP dengan daya baterai tahan lama.”
Raka tidak bisa menjawab. Pintu lift sudah tertutup, meninggalkan Yudi di luar. Jantung Raka berdegup kencang. Ia tahu, sebentar lagi ia akan menjadi sasaran kemarahan Pak Riko.
Pintu ruang rapat terbuka. Semua manajer dan direktur sudah berkumpul. Suasana ruangan terasa tegang, udara seolah menekan dada.
“Pak Raka, sebenarnya Anda niat bekerja atau tidak?” suara Pak Riko memecah keheningan. “Anda itu General Manager. Ponsel Anda wajib hidup sepanjang waktu. Kalau mau bekerja seperti karyawan biasa, silakan kembali jadi karyawan biasa. Jangan masuk jajaran manajer.”
Ucapan itu dilontarkan bahkan sebelum Raka sempat duduk.
“Maaf, Pak. Semalam saya pulang jam satu malam dari Subang. Saya lupa mengisi daya ponsel,” jawab Raka dengan nada tertahan.
Mendengar penjelasan itu, emosi Pak Riko sedikit mereda.
“Baik. Kali ini saya maafkan. Silakan duduk,” ucapnya.
Raka menarik napas lega, tetapi ketegangan belum berakhir.
“Pak Raka, masalah mesin di Subang harus segera diatasi. Pak Agus hanya menjamin seminggu saja mesin bisa berjalan. Filter harus segera diganti,” ujar Pak Riko tegas.
“Ke depan, Pak Raka harus lebih selektif mencari mitra, apalagi yang berkaitan dengan mesin produksi,” sambung Pak Ridwan, Direktur Keuangan. “Mesin mati, tapi gaji karyawan tetap kita bayar. Menggaji orang tanpa produksi itu kerugian.”
“Vendor pengadaan filter harus ditegur, Pak. Kalau tidak mau mengganti dengan barang baru, lebih baik diblacklist,” tambah salah satu direktur.
“Vendor seperti itu merugikan perusahaan. Sehari produksi berhenti, kita rugi ratusan juta. Jangan sepelekan masalah ini, Pak Raka.”
Raka terus dicecar. Untuk pertama kalinya, ia tidak sepenuhnya menguasai masalah. Ia juga menyembunyikan satu fakta penting. Vendor pengadaan filter itu adalah Maryono, kakak Lina, calon istrinya.
“Sialan. Kalau tahu begini, nggak akan aku izinkan dia memasok barang,” gerutu Raka dalam hati.
Rapat berakhir saat jam menunjukkan pukul lima sore.
“Kenapa muka lu pucat, Ka?” tanya Andi setelah mereka duduk di meja kerja Raka.
“Mungkin sakit maag,” jawab Raka sambil membereskan peralatan ke dalam tas.
“Akhir-akhir ini lu kelihatan kacau, Bro,” ujar Andi sambil memperhatikan wajah Raka.
Raka tidak menjawab.
“Lu ribut sama istri lu?” tebak Andi.
Raka menghentikan gerakannya.
“Akhir-akhir ini lu beda, Ka,” lanjut Andi.
“Beda gimana?” tanya Raka pelan.
“Lu sering nggak fokus. Biasanya muka lu dingin kayak kulkas, tapi urusan kerjaan selalu cepat dan penuh perhitungan,” kata Andi.
Raka menatap Andi. “Benarkah?” tanyanya.
“Iya,” jawab Andi. “Menurut gue, sumber ketenangan lu itu istri lu. Dari lu masih karyawan kontrak sampai jadi General Manager, istri lu nggak pernah nuntut apa-apa, kan?”
Raka terdiam. Ingatannya melayang. Miranda memang tak pernah meminta apa pun.
“Jangan sia-siakan perempuan yang nemenin lu dari nol, Bro,” ucap Andi pelan.
Raka menoleh. “Terima kasih, Bro,” katanya tulus.
Ia lalu keluar dari ruangan.
Raka baru mengenal Lina selama tiga bulan. Lina adalah staf HO sebagai asisten direktur. Gajinya seimbang, jabatannya strategis. Namun selama berkenalan dengannya, tabungan Raka hampir terkuras. Anehnya, ibunya tidak pernah mempersoalkan hal itu. Bahkan, sang ibu justru mendukung.
gemes bgt baca ceeitanya