NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:39
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUARA YANG TIDAK BISA DITOLAK

Mentari pagi menyinari kota Bandung dengan kehangatan yang menenangkan. Qinara berdiri di teras penginapan, memandang pemandangan pegunungan yang indah. Hari ini, jaksa penuntut umum Pak Adi akan mengajukan tuntutan pidana resmi terhadap Arman dan Laras. Ini adalah langkah besar yang akan membuka jalan untuk pengadilan—jalan yang dia tunggu dengan penuh harapan dan ketegangan.

Pak Rio dan Pak Santoso keluar dari kamar mereka, membawa sarapan yang mereka beli dari warung di dekat sana. "Qinara, mari makan. Kita perlu kuat untuk hari ini," kata Pak Rio dengan senyum ramah.

Qinara mengangguk dan duduk di meja teras. Dia memakan nasi goreng yang panas, tapi hatinya terlalu ramai untuk merasa lapar. Dia memikirkan apa yang akan terjadi hari ini—apakah polisi akan berhasil menangkap Arman dan Laras? Apakah mereka akan bersedia hadir di pengadilan?

Setelah sarapan, mereka berjalan ke kantor pengadilan Bandung. Jalanan ramai dengan orang yang sibuk bekerja, dan suasana kota terasa penuh harapan. Qinara merasa sedikit lega—di Bandung, dia tidak merasa seperti orang yang dicari. Dia bisa berjalan dengan bebas, tanpa takut melihat wajah Arman di setiap sudut.

Ketika tiba di kantor pengadilan, mereka langsung pergi ke ruang kerja Pak Adi. Pak Adi sedang menulis berkas tuntutan, dan dia melihat mereka dengan senyum puas. "Berkas tuntutan sudah siap, Qinara. Kita akan mengajukannya ke pengadilan sekarang. Setelah itu, polisi akan segera melakukan penangkapan terhadap Arman dan Laras."

Qinara merasa jantungnya berdebar kencang. Akhirnya, saatnya telah tiba. Orang yang membunuh ayahnya akan ditahan.

Mereka pergi ke ruang sidang, yang sedang menunggu pengadilan dimulai. Di sana, mereka melihat beberapa wartawan yang telah mendengar tentang kasus ini. Kasus pembunuhan pengusaha pertambangan yang dicurigakan dilakukan oleh istri dan kekasihnya telah menjadi berita utama di media, bahkan di Bandung.

Hakim masuk ke ruang sidang, dan semua orang berdiri untuk menghormatinya. Hakim adalah seorang wanita tua dengan wajah serius tapi adil. Dia membaca berkas tuntutan yang diajukan Pak Adi, kemudian mengeluarkan putusan. "Tuntutan diterima. Polisi diizinkan untuk melakukan penangkapan terhadap Laras dan Arman segera. Pengadilan akan dimulai dalam seminggu."

Suara kegembiraan terdengar dari sebagian orang di ruang sidang. Qinara menangis sejadi-jadinya—semua perjuangan yang dia lakukan akhirnya mendapatkan hasil. Ayahnya akan mendapatkan keadilan.

Setelah sidang selesai, mereka keluar dari pengadilan dan bertemu dengan polisi. Kepala kepolisian yang menangani kasus ini, Komisaris Polisi (Kompol) Surya, menyambut mereka dengan senyum. "Kita akan segera pergi ke Jakarta untuk menangkap mereka. Kamu tidak perlu khawatir—mereka tidak akan lolos."

Qinara mengucapkan terima kasih dengan suara lirih. Dia merasa bersyukur bahwa ada orang yang bersedia membantunya.

Mereka kembali ke penginapan dan menunggu kabar dari polisi. Selama beberapa jam, mereka tidak mendengar apa-apa. Qinara merasa cemas—apakah Arman dan Laras telah melarikan diri?

Akhirnya, pada sore hari, telepon di kamar penginapan berdering. Pak Rio mengangkatnya, dan wajahnya semakin cerah. "Baiklah! Terima kasih, Kompol Surya. Kita akan datang ke Jakarta secepat mungkin," katanya.

Dia menutup telepon dan melihat Qinara dengan senyum lebar. "Mereka ditangkap! Polisi menangkap mereka di rumahmu, ketika mereka sedang berusaha melarikan diri dengan uang dan barang berharga yang dicuri dari ayahmu."

Qinara merasa lega. Semua kekhawatirannya hilang. Orang yang jahat itu sudah tertangkap.

Mereka berangkat ke Jakarta dengan mobil Pak Rio. Perjalanan terasa cepat, karena mereka semua penuh kegembiraan. Ketika tiba di Jakarta, mereka langsung pergi ke kantor polisi di mana Arman dan Laras ditahan.

Di kantor polisi, mereka bertemu Kompol Surya. "Mereka sedang diinterogasi. Mereka masih menolak semua tuduhan, tapi kita punya bukti yang kuat. Dengan kesaksian Pak Slamet dan surat wasiat, kita pasti akan menang di pengadilan," kata Kompol Surya.

Qinara ingin melihat Arman dan Laras, tapi Pak Rio menolak. "Jangan, Nak. Kamu tidak perlu melihat mereka. Itu akan membuatmu sedih lagi. Biarkan hukum yang menangani mereka."

Qinara mengangguk. Dia tahu bahwa Pak Rio benar. Dia tidak ingin melihat wajah orang yang membunuh ayahnya—itu hanya akan membuatnya semakin marah.

Mereka kembali ke rumah ayahnya, yang sekarang kosong dan sunyi. Semua barang-barang Arman dan Laras telah diambil polisi sebagai bukti. Qinara berjalan ke kamar ayahnya, yang masih terlihat seperti sebelumnya. Bau wangi parfum ayahnya masih terasa jelas, membuatnya merindukan ayahnya semakin dalam.

Dia membuka lemari ayahnya dan menemukan buku catatan yang dia tinggalkan. Di dalamnya, ada catatan tentang bisnisnya dan harapannya untuk Qinara. "Aku berharap Qinara akan menjadi orang yang baik dan cerdas. Aku berharap dia akan membantu orang lain yang menderita. Aku berharap dia akan selalu ingat bahwa aku mencintainya," tulis ayahnya.

Qinara menangis. Dia berjanji pada ayahnya bahwa dia akan memenuhi harapannya. Dia akan menjadi orang yang baik dan cerdas, dan dia akan membantu orang lain yang menderita.

Malam itu, mereka tinggal di rumah ayahnya. Pak Santoso membersihkan rumah, sedangkan Pak Rio menyiapkan berkas untuk pengadilan. Qinara duduk di kamar kamarnya yang lama, memandang foto keluarga yang masih tergantung di dinding. Dia melihat wajah ayahnya yang tersenyum, dan merasa bahwa ayahnya sedang menyertainya.

Keesokan harinya, mereka pergi ke pengadilan Jakarta untuk melihat proses penahanan Arman dan Laras. Di ruang sidang, Arman dan Laras duduk di kursi terdakwa, wajah mereka pucat dan penuh kebencian. Laras menangis, sedangkan Arman hanya berdiri dengan wajah kosong.

Hakim mengeluarkan putusan bahwa Arman dan Laras akan ditahan selama masa penyelidikan. Pengadilan akan dimulai dalam seminggu di Bandung, seperti yang telah ditetapkan sebelumnya.

Setelah sidang selesai, Qinara mendengar suara Laras memanggil namanya. "Qinara! Maafkan aku! Aku tidak ingin membunuh ayahmu! Itu semua Arman yang menyuruhku!" teriak Laras dengan suara menangis.

Qinara melihat ibunya dengan mata yang dingin. Dia tidak bisa memaafkannya—ibunya telah mengkhianati ayahnya dan mengizinkan Arman membunuhnya. Dia telah mengusirkannya dari rumah dan mengambil hartanya ayahnya. "Aku tidak bisa memaafkanmu, Ibu. Kamu telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dibatalkan," kata Qinara dengan suara tegas.

Dia berjalan keluar dari ruang sidang, tidak mau melihat ibunya lagi. Dia tahu bahwa perjuangannya belum selesai—pengadilan masih akan datang, dan dia harus bersaksi. Tapi dia merasa yakin bahwa dia akan menang. Dia memiliki bukti yang kuat, dan dia memiliki orang-orang yang mencintainya dan membantunya.

Mereka kembali ke Bandung untuk menyiapkan diri untuk pengadilan. Qinara menghabiskan hari-harinya mempelajari apa yang dia akan katakan di pengadilan, dengan bimbingan Pak Rio. Dia ingin berbicara dengan jujur dan jelas, sehingga semua orang tahu kebenaran tentang kematian ayahnya.

Malam sebelum pengadilan, Qinara tidak bisa tidur. Dia membaca surat ayahnya yang ada di kotak pemberiannya, dan berdoa. "Ayah, besok aku akan bersaksi. Aku akan memberitahu semua orang kebenaran. Kamu akan mendapatkan keadilan. Aku mencintaimu, ayah."

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, hari yang paling penting dalam hidupnya. Qinara siap. Suaranya akan terdengar, dan kebenaran akan menang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!