Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Sahabat
Pagi di kediaman Gemilar tidak pernah dimulai dengan kicau burung, melainkan dengan suara mesin gerbang baja yang bergeser pelan dan langkah-langkah sepatu bot para penjaga yang berpatroli di atas kerikil halus. Di dalam kamar utama yang luas, Shabiya duduk di depan jendela, menatap dunia luar yang terasa jutaan mil jauhnya. Sejak pernikahan itu, dunianya telah menyusut menjadi koridor-koridor marmer dan taman-taman yang dipangkas terlalu rapi.
Di luar gerbang raksasa itu, sebuah mobil city car berwarna kuning terang tampak kontras dengan estetika monokrom mansion Galen. Di dalamnya, Misha Tarasari dan Chana Maheswari saling bertukar pandang dengan cemas. Kedua wanita itu adalah sahabat dekat Shabiya.
Sudah dua minggu sejak Shabiya menghilang dari grup percakapan mereka. Teleponnya tidak aktif, dan pesan-pesan yang mereka kirimkan hanya berakhir dengan satu centang abu-abu yang membeku. Bukannya tak ingin memberi tahu, tapi Shabiya tidak memiliki kesempatan untuk itu. Tapi, mereka mendapatkan informasi dari ayah Shabiya, sehingga disinilah mereka sekarang.
"Aku tidak suka ini, Chan. Ini bukan Shabiya," gumam Misha, jemarinya mengetuk-ngetuk setir mobil dengan tidak sabar. "Dia tidak mungkin mengabaikan kita selama ini, bahkan jika dia sedang bulan madu paling romantis sedunia sekalipun."
Chana, yang lebih tenang namun memiliki ketajaman analitis, mengangguk pelan. "Apalagi dengan pria seperti Galen Gemilar. Kau lihat berita kemarin? Foto mereka di acara Sky Garden? Shabiya terlihat... cantik, tapi matanya kosong. Dia seperti boneka porselen yang takut pecah."
Misha menghela napas panjang, lalu mematikan mesin mobil. "Persetan dengan protokol. Kita masuk sekarang."
Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju pos penjagaan yang dijaga oleh dua pria bertubuh tegap dengan earpiece yang menempel di telinga. Sebelum Misha sempat membuka mulut, salah satu penjaga sudah mengangkat tangan, memberikan gestur berhenti yang mutlak.
"Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?" tanya penjaga itu, suaranya sedatar dinding beton di belakangnya.
"Kami ingin bertemu Shabiya. Kami sahabatnya," jawab Misha dengan nada menantang.
"Mohon maaf, Nyonya Gemilar tidak menerima tamu tanpa janji temu yang sudah dikonfirmasi sebelumnya. Silakan tinggalkan kartu nama Anda jika ingin membuat jadwal."
"Jadwal? Kami sahabatnya sejak SMA, bukan klien bisnis suaminya!" Misha mulai meninggikan suara. "Buka gerbangnya sekarang, atau aku akan mulai berteriak sampai Shabiya mendengar kami dari dalam sana."
Keadaan mulai menegang hingga sebuah sosok muncul dari balik pos penjagaan. Arsen Mahawira berjalan perlahan, tangannya terselip di saku jas hitamnya yang tanpa cela. Kehadirannya memberikan aura otoritas yang jauh lebih menindas daripada para penjaga gerbang.
"Ada masalah di sini?" tanya Arsen dingin.
Chana melangkah maju, mencoba menggunakan diplomasi. "Tuan, saya Chana dan ini Misha. Kami hanya ingin memastikan Shabiya baik-baik saja. Kami khawatir karena dia tidak bisa dihubungi sama sekali."
Arsen menatap kedua wanita itu secara bergantian. Matanya yang tajam seolah-olah sedang memindai setiap niat tersembunyi yang mereka miliki. "Nona Shabiya ... M-mm, maksud saya, Nyonya Gemilar sedang dalam masa adaptasi. Tuan Galen sangat menjaga privasi istrinya, terutama di awal pernikahan ini. Beliau baik-baik saja, namun beliau sedang tidak ingin diganggu."
"Dia yang tidak ingin diganggu, atau suaminya yang melarang dia diganggu?" Misha menyalak. "Katakan pada bosmu, menyekap seseorang adalah tindak kriminal, sekaya apa pun dia."
Arsen tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang lebih mirip ancaman daripada keramahan. "Saya sarankan Anda berhati-hati dengan pemilihan kata-kata Anda, Nona Tarasari. Di properti ini, hanya ada satu hukum, dan itu adalah kehendak Tuan Galen. Sekarang, silakan kembali ke kendaraan Anda sebelum saya meminta petugas untuk mengawal Anda keluar secara paksa."
Di lantai dua, Shabiya yang mendengar keributan samar dari arah gerbang, segera menempelkan wajahnya ke kaca jendela. Jantungnya berdegup kencang saat melihat mobil kuning milik Misha. Ia mencoba membuka jendela, namun seperti biasa, sistem pengunci ganda itu tidak bisa dibuka.
"Misha! Chana!" Shabiya memukul-mukul kaca dengan telapak tangannya, namun kaca anti-peluru itu terlalu tebal untuk merambatkan suara.
Ia melihat Arsen berdiri tegak di depan sahabatnya, tampak seperti tembok raksasa yang tak tertembus. Rasa putus asa menyergap Shabiya. Ia berlari ke meja rias, mengambil lipstik berwarna merah tua, dan dengan tangan gemetar, ia menuliskan satu kata besar di kaca jendela yang luas itu, "HELP."
Ia berharap Misha atau Chana mendongak. Namun, tepat saat Chana baru saja akan menatap ke arah bangunan utama, sebuah tangan besar menarik bahu Shabiya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan?" suara Galen menggelegar di dalam kamar.
Pria itu baru saja masuk dan menyaksikan aksi istrinya. Wajah Galen memerah karena amarah yang tertahan. Ia melihat tulisan merah di jendela, lalu melihat ke bawah, ke arah tamu yang tak diundang di gerbangnya.
"Hapus itu sekarang!" perintah Galen.
"Tidak! Biarkan mereka masuk, Galen! Mereka sahabatku!" teriak Shabiya, air mata mulai mengalir.
Galen mengabaikan teriakan Shabiya. Ia mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan. "Arsen, usir mereka sekarang. Gunakan cara apa pun. Dan pastikan mereka tidak kembali lagi."
Melalui jendela, Shabiya melihat Arsen memberikan isyarat pada para penjaga. Mobil Misha dipaksa mundur, dan gerbang ditutup dengan dentuman yang terasa seperti palu yang memukul hati Shabiya. Shabiya merosot ke lantai, menatap tulisan "HELP" yang kini tampak seperti ejekan terhadap kondisinya sendiri.
Galen berlutut di depan Shabiya, mencengkeram kedua lengan gadis itu hingga Shabiya meringis kesakitan. "Kau pikir mereka bisa menolongmu? Kau pikir ada tempat di dunia ini yang tidak bisa aku jangkau?"
"Kau sakit, Galen! Kau memperlakukanku seperti tawanan!"
"Aku melindungimu!" bentak Galen. "Dunia di luar sana berbahaya. Musuh-musuhku sedang menungguku lengah, dan kau adalah titik lemahku. Jika mereka tahu kau adalah nyawaku, mereka akan menghancurkanmu hanya untuk melihatku berlutut."
Shabiya tertawa miris di tengah tangisnya. "Nyawamu? Bukan, Galen. Aku bukan nyawamu. Aku hanya topeng untuk seseorang yang kau cintai. Kau takut mereka melihat topeng ini retak, bukan?"
Rahang Galen mengeras. Ia melepaskan cengkeramannya dan berdiri, menatap Shabiya dengan pandangan yang penuh kebencian sekaligus kerinduan yang menyiksa. Ia mengambil kain pembersih dari meja rias dan mulai menghapus tulisan lipstik di jendela dengan gerakan mekanis yang menakutkan.
"Mulai hari ini, pengamanan di sekitar kamar ini akan digandakan. Kau tidak akan keluar ke taman tanpa pengawalan dua orang sekaligus," ucap Galen tanpa menoleh. "Dan mengenai sahabat-sahabatmu itu... jika mereka muncul lagi, aku akan memastikan perusahaan tempat Misha bekerja bangkrut dalam semalam, dan beasiswa Chana dicabut."
Shabiya terkesiap. "Jangan berani-berani menyentuh mereka..."
"Maka jadilah istri yang penurut," Galen berbalik, menatap Shabiya dengan mata yang dingin. "Tetaplah di dalam sangkar ini, pakai parfummu, panjangkan rambutmu, dan jangan pernah mencoba memanggil bantuan lagi. Kau adalah milikku, Shabiya. Dan apa yang menjadi milik Galen Gemilar, tidak akan pernah dilepaskan."
Galen melangkah keluar dan mengunci pintu dari luar. Shabiya hanya bisa mendekap lututnya di lantai yang dingin. Di kejauhan, ia masih bisa melihat debu yang ditinggalkan oleh mobil Misha yang menjauh.
Di dalam mobil kuning yang kini melaju cepat, Misha memukul setir dengan geram. "Arsen itu... dia menyembunyikan sesuatu. Dan Shabiya... aku melihatnya tadi di jendela, Chan. Hanya sekilas sebelum dia ditarik paksa."
Chana mengangguk, wajahnya pucat. "Aku juga melihatnya. Tapi bukan itu yang paling menakutkan, Mish."
"Lalu apa?"
"Tulisan di kaca. Sebelum gerbang tertutup, aku melihat warna merah. Shabiya menulis sesuatu." Chana menelan ludah. "Dia dalam bahaya besar. Kita tidak bisa melawan Galen sendirian. Kita butuh bantuan orang dalam."
Warna langit berganti gelap, saat mansion Gemilar kembali tenggelam dalam kesunyian yang mencekam, sebuah rencana mulai disusun di luar sana. Sahabat-sahabat Shabiya baru saja menyadari bahwa pernikahan ini bukanlah dongeng, melainkan sebuah tragedi yang sedang menunggu waktu untuk meledak. Dan Shabiya, di dalam kamarnya yang terkunci, menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah orang-orang yang mengincar Galen, melainkan pria yang memeluknya setiap malam dengan memanggil nama wanita lain.
💪ya thor, karyamu bagus, smoga byk yg mampir
👊nggo galen🤭
baru mulai... ky'a seru