"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Mimpi
"Ada apa kau datang kemari?"
Perempuan yang semula menundukan wajahnya itu, menegakkan wajah. Jemarinya memilin baju yang dipakainya gelisah.
"Kalendra....aku--- aku membutuhkan bantuanmu."
Laki-laki bernama Kalendra itu menyunggingkan senyum miring. Menatap sang lawan bicaranya arogan.
"Serius, Kanaya? Setelah apa yang kau perbuat padaku, kau tidak punya malu untuk datang di hadapanku dan meminta bantuanku?"
Perempuan itu mengigit bibirnya gugup. Ragu, dia meraih tangan Kalendra dengan tatapan penuh permohonan.
"Ak---aku mohon Kalendra. Hanya kau satu-satunya harapanku. Aku----
Kalimat Kanaya terpotong saat Kalendra menyentak lengannya. Lalu, "Kau hanya membuang waktu dengan memohon padaku. Seperti diriku yang memohon kepadamu tujuh tahun silam." ujar Kalendra dingin.
Kanaya tak menyerah, dia meluruhkan tumbuhnya. Menjadikan lutut sebagai tumpuan, kemudian perempuan itu menyentuh kaki Kalendra mengiba.
"Aku mohon Kalendra. Aku akan melakukan apapun yang kau minta. Apapun."
Kalendra menunduk. Membalas tatapan putus asa Kanaya dengan seringainya.
"Termasuk... menjadi budakku?"
.
.
"Shhhh...." Figuran itu meringis tertahan, kala merasakan salah satu jarinya tergores benda tajam yang ia gunakan untuk memotong buah.
Memasukkan jarinya ke mulut, Kanaya beralih menuju wastafel. Memutar kran hingga airnya menyala, sebelum kemudian beralih membasuh lukanya. Rasa perih lansung melingkupi jari telunjuknya. Lagi-lagi istri Kalendra itu meringis tertahan.
"Ck, kenapa tidak ada yang berjalan dengan benar sejak aku terjebak di dunia ini." gumam Kanaya terdengar kesal.
Menutup kran air, perempuan itu menggeser bangku yang biasa digunakan untuk mengambil barang yang terletak di ketinggian. Menaiki benda tersebut, Kanaya membuka salah satu lemari. Mencari kotak p3k berada.
"Seakan, dunia dan seisinya tidak mau memihakku." dia terdengar menggerutu.
"Memangnya apa salahku?"
"Bangun-bangun dan sudah terjebak di dunia novel. Ck, sial sekali."
Mendapatkan apa yang diinginkan, Kanaya menghela nafas panjang. Figuran itu ingin turun, namun sialnya kakinya kehilangan keseimbangan dan Kanaya merasa tubuhnya akan menghantam lantai saat kotak p3k incarannya terjatuh begitu saja.
Seakan sudah siap, perempuan itu memejamkan matanya erat-erat. Namun, sekian detik dia menunggu, rasa sakit tak kunjung ia dapatkan. Pelan, Kanaya membuka matanya. Dan hal pertama kali yang dilihatnya adalah netra kelam Kalendra yang menatapnya tajam.
Sejenak waktu terasa terhenti. Kanaya sibuk dengan dadanya yang berdebar lebih kencang dari biasanya. menikmati aroma musk yang menguar dari tubuh sang suami.
"Ceroboh!"
Kanaya tersentak. Mengedipkan mata, perempuan itu seketika memberontak menyadari jika dirinya sedang berada di pelukan Kalendra. Lebih tepatnya, laki-laki itu tengah menggendongnya.
"Lepaskan aku! Kau suka sekali mencari kesempatan ya?!"
Kalendra enggan menyahut. Dia tetap pada tujuannya. Membawa sang istri yang terus memberontak memasuki ruangan pribadinya.
"Hei, kenapa kau membawaku ke kamarmu?! Lepaskan aku!!"
"Diam atau ku jatuhkan kau dari tangga."
"Kalau kau berani melakukannya, aku akan melaporkanmu atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga!"
Kalendra berhenti sejenak. Menundukkan kepala guna melihat wajah Kanaya yang memerah marah.
"Kekerasan dalam rumah tangga?" beo protagonis itu, seolah bingung maksud perkataan sang perempuan.
"Ya! Nanti akan muncul di berita, seorang suami dengan tega melempar istrinya dari tangga."
Hati Kalendra tergelitik mendengar kata suami istri dari bibir Kanaya. Sudut bibirnya berkedut menahan sesuatu yang ingin muncul.
"Dan setelah hal itu terjadi, aku akan meminta cerai dan menuntut harta gono-gini!"
Kalendra mendatarkan wajahnya. Samar, rahangnya mengeras dengan dekapan pada sang istri yang semakin erat.
"Ck, kau mau membunuhku ya? Kalendra, aku tidak bisa bernafas!"
Brakk.
Kanaya terdiam. Kalendra menendang pintu dengan sangat keras. Keberanian figuran itu lenyap begitu saja. Dia tak lagi melawan saat sang suami membawanya memasuki kamar laki-laki itu. Mendudukkannya di tepian ranjang kebesarannya.
Kalendra bersimpuh. Menjadikan lutut sebagai tumpuan. Protagonis itu kemudian membuka laci nakas. Mengambil plester luka dari sana. Membuka wadahnya, lantas mengaplikasikannya pada luka di jari telunjuk Kanaya.
Pertanyaannya, bagaimana Kalendra tahu jika jari Kanaya terluka.
Mengelus jari istrinyai yang terlilit plester, laki-laki itu mendongak. Menatap sang perempuan yang ternyata juga tengah memandanginya.
Keheningan di antara mereka terpecah, kala Kalendra menekan luka Kanaya kuat. Membuat sang empunya mendesis lirih.
"Kau tahu Kanaya?" tatapan Kalendra semakin dalam. Penuh kerumitan yang Kanaya tidak tahu artinya.
"Kau tidak boleh terluka. Tidak jika bukan aku pelakunya."
Kalendra membawa tangan Kanaya ke bibirnya. Mengecup luka itu lamat. Darah Kanaya seketika berdesir. Tubuhnya meremang disertai perasaan aneh yang lagi-lagi mengganggu hatinya.
Bangkit dari posisinya, Kalendra melirik arloji yang tersemat di tangan kirinya. Samar, Kanaya dapat mendengar laki-laki itu berdecak.
"Dengar, sebelum aku kembali jangan keluar dari kamar ini. Jika kau berani melanggar---
Kalendra meraih dagu Kanaya. Memaksa agar perempuan itu mau menatapnya.
"Jika kau berani melanggar, bersiaplah untuk menerima hukuman." suara itu terdengar rendah. Lebih dingin. Dan sarat akan ancaman. Seakan Kalendra tidak main-main dengan peringatannya.
"Paham sayang?"
Mata Kanaya membesar, disertai raut terkejut yang begitu ketara. Membuat Kalendra menyeringai puas melihatnya.
Selepas kepergian Kalendra, Kanaya meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Tangannya menyentuh dadanya yang masih berdetak tak normal. Memejamkan mata, perempuan itu berusaha untuk mengontrol kegugupannya.
"Kenapa aku selalu tak berkutik di hadapannya." gumam Kanaya lirih.
Selalu saja seperti itu. Ketika Kalendra mengancam atau melakukan sesuatu pada dirinya, Kanaya selalu saja dibuat tak berdaya. Tidak--- maksudnya, perempuan itu selalu tidak bisa melakukan perlawanan. Tubuhnya mendadak membeku layaknya es.
"Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya aku melawan. Jika perlu, seharusnya aku menendang masa depannya saat dia macam-macam padaku."
"Bukan malah diam layaknya boneka."
Tapi tidak. Tubuhnya tidak mau bekerja sama. Bukan hanya itu. Bahkan hati dan otaknya pun mengkhianatinya.
Saat Kalendra menci-umnya. Saat laki-laki itu bertindak kurang ajar kepadanya. Hati Kanaya selalu berdesir aneh. Otaknya melarang untuk melawan, seakan mewajarkan tindakan lancang dari Kalendra.
Saat protagonis itu melontarkan hinaan dan kata-kata pedasnya, hati Kanaya selalu merasa tak nyaman. Seperti benda tajam tak kasat mata telah menggoresnya.
"Seharusnya aku tidak terpengaruh oleh protagonis itu. Tidak tindakan kurang ajarnya ataupun mulut pedasnya, karena aku bukanlah Kanaya yang asli."
Menatap plester di jarinya lamat, perempuan itu menipiskan bibirnya. Ingatannya terjun pada mimpi yang dialaminya semalam.
Kanaya yang memohon pada Kalendra, bahkan sampai bersimpuh dengan tatapan keputusasaan.
Sekelebat bayangan muncul di ingatannya.
"Termasuk, menjadi budakku?"
"Apa ini...adalah kilasan masalalu antara Kalendra dan Kanaya?"
"Jika iya, bantuan apa yang Kanaya maksud di mimpiku semalam?"
Dan apakah adegan itu terjadi saat Kanaya dan Kalendra sudah berstatus sebagai suami istri atau sebelumnya.
Aneh. Semakin waktu bertambah, Kanaya semakin dibuat tak mengerti dengan novel yang dia masuki ini.
Banyak yang tidak sesuai dengan yang tertulis di buku. Contohnya sikap Kalendra yang katanya dingin bahkan tak peduli pada Kanaya.
Nyatanya--- sekali lagi, Kanaya menatap jarinya yang terlilit plester.
Nyatanya, walaupun kerap berbicara pedas, Kalendra peduli kepada istrinya. Tindakan laki-laki itu seakan--- dia menginginkan istrinya.
"Kira-kira...kapan protagonis wanita akan muncul?"
Karena Kanaya tidak yakin, dia akan tahan dengan segala tingkah Kalendra lebih lama lagi.