Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Pergi Tak Berniat Kembali
Zizi berdiri lama di depan cermin kamar apartemen itu.
Zizi memandangi perban di tangannya lama-lama. Perihnya bukan hanya di kulit tetapi juga di hati yang sudah terlalu lama dipaksa kuat.
Ponselnya berdering.
Nama Danu muncul di layar.
“Zi, kamu sudah makan? Tadi kamu bilang mau ke dokter lagi,” suara Danu dalam panggilan terdengar hangat, stabil, tidak menghakimi, sesuatu yang sudah lama tidak ia dengar.
“Aku sudah. Lebih baik sekarang,” jawab Zizi pelan.
“Baik. Pelan-pelan saja. Jangan dipaksa kuat, kamu sudah terlalu lama melakukannya,” kata Danu.
Setelah telepon terputus, Zizi menutup mata. Di kepalanya, wajah Anggun muncul dengan tatapan dingin, tajam, meremehkan.
Suara Arman menyusul, datang dan pergi sesuka hati, membawa pulang senyum yang bukan untuknya.
Aku sudah berusaha… tapi mereka tidak pernah melihatku.
Air mata jatuh perlahan.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Tangisnya tidak selemah dulu. Ada bara kecil yang menyala di baliknya.
Dua hari terakhir wajahnya seolah bukan miliknya sendiri—ada sembab yang tak sempat disembunyikan, ada letih yang menolak pergi. Untuk pertama kalinya dalam pernikahannya, ia benar-benar merasakan hening tanpa teriakan, tanpa perintah, tanpa tatapan merendahkan. Hening itu tidak nyaman, namun juga terasa seperti pintu yang terbuka.
Teleponnya bergetar. Nama Arman berkedip sebentar, lalu berhenti. Ia tidak mengangkatnya. Dulu, satu dering saja sudah cukup membuatnya bergegas pulang. Kini, ia hanya menatap layar datar itu, lalu menaruhnya terbalik di meja.
“Aku tidak kembali,” bisiknya pada bayangan sendiri. “Bukan ke rumah itu. Bukan ke versi diriku yang lama.”
Di kantor, Arman menatap jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Gugatan cerai itu masih terlipat rapi di laci, tetapi kalimat-kalimatnya seperti terus berdengung di telinganya. Susan masuk, membawa dua cangkir kopi.
“Masih mikirin Zizi?” tanyanya pelan.
Arman tidak menjawab. Untuk pertama kalinya ia menyadari—rumahnya sunyi bukan karena tidak ada suara, tetapi karena seseorang yang biasanya bergerak diam-diam, tak lagi di sana. Tidak ada teh panas di meja ibunya. Tidak ada suara langkah kecil Anggi yang mencari-cari kaus kaki.
Susan mencoba tersenyum. “Kalau kamu butuh cerita, aku dengerin.”
Arman hanya menutup mata sebentar. Ia ingin mengatakan ini hanya lelah kerja. Ia ingin menganggap Zizi hanya mengada-ada. Namun bayangan perempuan itu saat pergi tanpa membantah, tanpa menangis, tanpa menoleh terus muncul seperti duri kecil di kesadarannya.
Mereka sudah enam tahun menikah, tapi kebahagiaan hanya mampir di awal, selebihnya Zizi hidup sebagai bayangan di rumah sendiri.
Sementara itu, Zizi melangkah keluar. Udara sore menyentuh kulitnya, dan untuk pertama kalinya ia merasa tidak sedang melarikan diri, ia sedang memilih dirinya sendiri. Jalan di depannya masih panjang, tetapi hatinya sudah berhenti ragu.
Ia tidak lagi ingin dimengerti. Ia hanya ingin merdeka.
Wanita yang lahir 27 tahun lalu itu berjalan menyusuri deretan butik di pusat perbelanjaan, langkahnya pelan namun pasti. Dua hari terakhir hidupnya seperti diterpa badai, tetapi kini wajahnya tampak tenang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dijatuhkan begitu dalam.
Di depan cermin besar toko, ia menatap pantulan dirinya. Perempuan dengan mata sembab dan kulit pucat menatap balik.
Ini aku? batinnya getir.
Perempuan yang selalu mengalah. Yang selalu disalahkan. Yang selalu dianggap tak berarti.
“Coba gaun ini, Mbak. Cocok sekali,” pelayan butik menyodorkan dress sederhana berpotongan elegan.
Zizi menyentuh kain halus itu. Bukan tentang gaunnya, tetapi tentang perasaan baru yang tiba-tiba tumbuh dalam dadanya: dingin, rapuh, tapi tajam. Ia belum tertarik untuk memiliki gaun baru. Ia hanya ingin memastikan satu hal, bahwa dirinya yang lama benar-benar tertinggal di belakang.
Cermin di hadapannya memantulkan sosok perempuan yang nyaris tak ia kenali. Mata yang dulu mudah basah kini tampak lebih teduh, namun di kedalamannya ada sesuatu yang mengeras pelan-pelan. Luka memang belum sembuh, tetapi rasa takutnya sudah tidak sebesar dulu.
“Kalau semua orang bisa memperlakukan aku sesuka hati,” gumamnya lirih, “maka aku juga berhak menentukan ke mana hidupku berjalan.”
Tangannya mengepal di sisi tubuh. Bukan dalam kemarahan yang meledak, melainkan dalam ketenangan yang berbahaya. Perasaan itu tidak berisik, ia justru sunyi, seperti permukaan danau yang menyimpan badai di bawahnya.
Ia menoleh dari cermin dan melangkah ke jendela apartemen. Lampu-lampu kota berkelip jauh di bawah sana, seolah mengejek sekaligus menyemangatinya. Untuk pertama kalinya, Zizi tidak merasa kecil di hadapan dunia. Ia merasa… sedang bangun.
Yang hilang bukan hanya cintanya pada Arman, melainkan keinginannya untuk dimaklumi oleh siapa pun.
Dan di balik dada yang masih perih itu, sebuah janji terbentuk pelan-pelan: bukan lagi janji setia, melainkan janji untuk tidak lagi biarkan dirinya diinjak siapa pun.
Ponselnya bergetar. Nama Arman muncul. Ia diam. Getaran berhenti. Menyala lagi kali ini dari Anggun. Zizi memejam, lalu menekan tombol silent.
Untuk pertama kalinya, ia memilih tidak berlari pulang.
Ia masuk ke kafe kecil di pojok lantai atas mall. Aroma kopi menghangatkan udara. Dari jendela kaca besar, kota tampak asing sekaligus menjanjikan. Dunia ternyata luas… lebih luas dari dinding rumah mertua yang selalu menahannya.
Jika mereka bisa membuatku hancur, maka aku juga bisa bangkit. Dan kali ini, aku tidak akan kembali sebagai Zizi yang sama.
Ia menoleh ke jendela. Kota berkelip. Malam seolah bersekongkol dengan niatnya.
Perlahan, bibirnya melengkung. Bukan senyum manis seperti dulu.
Ini… senyum yang dingin.
Senyum seorang perempuan yang bersiap menagih semua yang pernah dirampas darinya.
.
Arman pulang larut malam.
Rumah gelap. Tidak ada Zizi menunggu di ruang makan. Tidak ada suara lembut bertanya apakah ia sudah makan atau belum. Tidak ada piring yang disediakan dengan rapi di meja.
Ia berjalan menuju kamar.
Langkahnya berhenti di pintu dapur. Lampu padam. Ruang kosong. Seperti dadanya.
Ia bersandar pada kusen pintu, menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu dimulai, ia merasa kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar ia hargai.
Nama itu muncul di benaknya.
Zizi.
Dan di suatu tempat di tengah malam itu, tanpa suara...sesuatu di dalam Arman retak.
Selama ini Zizi selalu menjadi orang yang menunggu, berharap dipilih, berharap dianggap cukup. Kini, untuk pertama kalinya, ia membayangkan hidup tanpa menoleh ke belakang. Bukan karena tidak sakit, tapi karena rasa sakit itu telah berubah bentuk.
Ia pulang ketika hari mulai senja.
Angin malam menyelinap lewat jendela, membawa bau hujan yang tertahan. Zizi menarik napas panjang, membiarkan rasa takut dan ragu berlalu seperti kabut. Di matanya ada kilau tekad yang belum pernah ia akui sebelumnya. Ia melangkah pelan, namun pasti menuju hidup yang ia pilih sendiri, tanpa permisi siapa pun, malam ini juga.