Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 03
Masih di rumah sakit yang sama, nyonya Emalia mengunjungi Ivana. Namun kunjungan itu tak sesuai dengan harapan dari Bibi Agnes, karena wanita itu datang bukan untuk mengirimkan doa melainkan sebaliknya.
“Ivana, di mana kamu?” Emalia membuka pintu kamar rawat inap Ivana dengan keras. Wanita itu menggebrakkan pintu ruangan dengan keras.
“O, jadi sekarang kamu malah enak-enakkan tidur di sini? sementara kakakmu hampir mati karenamu.” Emalia benar-benar tak dapat menahan emosinya, padahal saat ini putri bungsunya juga tengah sakit parah.
“Nyonya, tolong jangan seperti ini pada Nona Ivana!, dia sedang sakit nyonya,” ujar bibi Agnes sebari menahan majikannya. Emalia yang sudah sangat marah itu menarik infus Ivana, wanita itu seketika langsung kejang seketika.
“Matilah dasar benalu, matilah,”
Bibi Agnes mencoba menyadarkan majikannya, ia mencoba memisahkan Emalia saat itu. Namun wanita itu malah semakin menjadi dan mendorong Bibi Agnes hingga terjatuh ke lantai.
Aretha datang bersama Saga, mereka baru saja tiba, Bibi Agnes yang panik pun langsung menarik Nyonya Aretha dan meminta pertolongannya. “Nyonya Aretha, tolong saya Nyonya. Jika terus seperti ini maka nona Ivana akan mati nyonya, aku mohon padamu. Tolong bawa Nyonya besar pergi dari sini!” isakan tangis dari Agnes benar-benar pecah saat itu juga.
“Tenanglah Bibi, aku akan membawanya pergi,”
“Saga, panggilkan dokter kemari!. Lakukan dengan cepat agar Ivana dapat tertolong!” Saga pun mengangguk, ia menuruti perintah sang ibu dan dengan cepat langsung memanggil dokter. Sedangkan kini, Emalia yang sudah benar-benar tak bisa di hentikan mencoba mencekik Ivana.
Ivana bahkan kini sudah dalam kondisi kritis, badannya bahkan sudah kejang-kejang. “Matilah kau, dasar benalu sialan.”
“Ema, sadarlah. Dia itu putrimu, dia adalah putri kandungmu. Kau ingat?” ucapan Aretha membuat Emalia berhenti, ia menatap wajah Ivana dan menangis.
“Ema, ayo kita pergi dari sini.” Aretha mencoba membawa Emalia pergi, Setelahnya Saga pun masuk bersama dengan dokter yang menangani Ivana dengan beberapa suster.
“Kondisinya parah dok, pasien terus kejang sejak tadi” ucap Bibi Agnes dengan penuh kecemasan.
Ivana kini sudah tak kejang, namun ia hanya diam. Detak jantungnya semakin lemah. Hal itu membuat suster yang tengah memasangkan infus kepada Ivana menjadi takut.
“Dokter, kondisi pasien semakin menurun. Bagaimana ini?”
“Suster, siapkan Defibrillator(alat kejut jantung).”
“Baik dokter”
Dokter itu pun mencoba sebisa mungkin menyelamatkan Ivana, hingga pada akhirnya detak jantung wanita itu kembali normal.
Kini Emalia duduk di kursi tunggu bersama Aretha, wanita itu mencoba menenangkan sahabatnya. Saga pun keluar dari ruangan Ivana, pria itu menghampiri ibunya yang tengah menenangkan sahabatnya.
“Bagaimana kondisinya, apakah dia baik-baik saja?” tanya Aretha dan hanya di balas anggukan oleh Saga.
“Ma, aku akan kembali ke tempat Olivia, dia pasti membutuhkan ku sekarang.”
“Hem, pergilah, mama akan berjaga Ivana di sini,” ucap Aretha.
Saga pun melangkah kakinya untuk pergi dari sana, namun sebelum itu. “Saga, maafkan Bibi soal yang tadi, bibi benar-benar menyesal karena hampir memukulmu.” Saga yang mendengar permintaan maaf itu pun tersenyum menanggapi Emalia.
“Tenang saja Bibi, aku tidak apa-apa. Aku pergi dulu, Oliv pasti kini sedang menungguku” Emalia pun mengangguk, menanggapi ucapan Saga.
*****
Olivia kini telah di pindahkan setelah pasca operasinya berhasil, ia di pindahkan ke ruangan VIP. Di samping wanita itu ada Saga, pria yang dengan setia menanti wanitanya untuk bangun. Pria itu menggenggam tangan kiri Olivia, menempelkannya ke pipinya dan terus berdoa untuk Olivia.
“Sayang, bangunlah. Apakah kamu lupa soal janji kita? Oliv, kamu harus segera bangun. Aku sudah sangat merindukanmu sayang,”
Saga mengelus puncak kepala Olivia, pria itu mencium kening wanita itu dan tersenyum dalam diam. Tatapannya tak bisa terhenti, ia terus memandangi kaki Olivia yang telah lumpuh bahkan harus di amputasi.
“Oliv, kamu tahu. Meski ini berat untuk kita, selama kita bersama. Maka kita melewatinya, kamu akan mulai terbiasa. Aku janji sama kamu, aku akan terus di sisimu meski itu berat. Jangan pernah menyerah untuk itu Oliv, meski mungkin saat kamu bangun seluruh duniamu tak akan pernah sama lagi. Namun percayalah, aku akan selalu di sisimu. Bahkan jika dunia yang kau pijak sudah tak ada, maka aku akan menjadi jalan itu,”
“Jadi sekarang Oliv, berjanjilah satu hal. Kau akan bangun dan kita akan segera melangsungkan pernikahan. Aku tak akan pernah meninggalkanmu sayang,”
“Jadiku mohon, bangunlah, Olivia.”
Saga benar-benar pilu, ia tak kuasa menahan semua tangisan. Isakan tangisan juga datang dari beberapa orang yang berada di luar Ruangan. Ada beberapa 2 sahabat Olivia yang bernama Teresa dan Rosie. Tak hanya mereka, Emalia pun masih tak kunjung mereda, isakan tangisnya bahkan semakin pilu saat dokter memberitahukan kondisi Olivia.
Tak ada yang baik di sini, semua penuh tangis dan pilu yang tak kunjung sembuh. Hingga 3 hari kemudian......
“AAAAAAAGGGGGHHHHHHH, BAGAIMANA INI BISA TERJADI PADAKU. KEMBALIKAN KAKIKUUUUU!!!!” Isakan tangisan itu terdengar dari ruangan Olivia. Wanita itu sudah bangun sejak 10 menit yang lalu.
“Oliv, dengarkan mama sayang. Kamu masih bisa sembuh, mama akan pesan kaki buatan terbaik agar kamu bisa berdiri lagi, kamu masih bisa berjalan Oliv. Kamu masih bisa berlari, gaun impian kamu itu masih tetap bisa kamu pakai sayang. Mama akan selalu support kamu. Jadi jangan pernah, jangan pernah sekalipun untuk menyerah ya sayang.” Emalia memeluk putrinya, ia terus memeluk Olivia yang benar-benar hancur.
“BAGAIMANA AKU BISA TENANG, JIKA SEKARANG LUMPUH, KAKI KU DI AMPUTASI BAHKAN AKU TAK BISA MELIHAT APAPUN. DUNIA APA YANG BISA AKU LIHAT JIKA SEPERTI INI, SEMUA GELAP, SEMUANYA SURAM BAHKAN JIKA AKU HIDUP PUN AKU TAK AKAN LAGI BERGUNA,”
“AKU SUDAH TAK BERGUNA, AKU TAK BERGUNA”
Saga yang mendapat telepon dari calon mertuanya pun datang, ia berlari secepat kilat dan langsung masuk menghampiri mereka.
“Oliv,” Saga langsung memeluk kekasihnya. Ia memeluknya dengan erat untuk menenangkan gadis itu. Olivia terus meronta, namun Saga tak akan melepaskannya.
“Olivia, ini aku. Saga, Kekasihmu”
Mendengar itu Olivia pun langsung terdiam, ia tak lagi meronta atau bahkan menjerit seperti tadi. “Apakah kamu sudah lumayan tenang sekarang?” pertanyaan dari Saga di jawab anggukkan oleh Olivia.
“Ada apa, jangan menangis. Kita akan hadapi ini bersama sayang, aku tak akan pernah meninggalkanmu. Aku janji,”
“Aku cacat seumur hidup Saga, aku sudah tidak berguna. Aku hanya akan menyusahkanmu. Bahkan mungkin aku hanya akan menjadi penghalang.”
“Olivia, jangan pernah berkata seperti itu!, kau mengerti.”
Saga menangkup wajah wanitanya, menatapnya dalam-dalam. Namun setelah beberapa saat Saga pun akhirnya sadar, bahwa ada yang aneh dengan Olivia. Wanita tak pernah sekalipun mengacuhkannya atau bahkan memalingkan muka saat Saga menatapnya. Namun kini Olivia benar-benar berbeda. Wajahnya menatap lurus, tak berkedip dan bahkan tampak seperti orang yang melamun.
“Oliv, ada apa denganmu?”
“Jangan-jangan kamu?”
Olivia mengangguk, “Ya, aku buta. Aku tak lagi bisa melihat. Sekarang kamu tahu kan, betapa payahnya aku sekarang. Aku tak lagi bisa menatap wajahmu, aku benar-benar seperti orang bodoh sekarang.”
Emalia yang menatap mereka sedari tadi benar-benar sudah tak kuat menahan tangisannya, ia bahkan terus mengusap air mata yang membasahi pipinya.
“Aku akan carikan kamu donor mata itu, di mana pun itu akan aku cari, kamu percaya padaku kan sayang, kamu sekarang tidur dulu. Aku akan segera cari pendonor itu.”
Saga membaringkan Olivia, “Bibi, aku pergi dulu ya. Aku titip Olivia,”
“Terima kasih ya Saga”
“Sama-sama bibi, aku akan usahakan yang terbaik untuk Olivia”
Saga pun keluar dari ruangan itu, ia dengan cekatan langsung menghubungi para kenalannya dengan harapan mendapatkan sesuatu yang berguna, baik rumah sakit atau dokter. Ia harus menemukannya segera untuk Oliv.
Di sisi lain......
Ivana masih tetap di ruangannya, ia masih belum sadarkan diri, hingga saat ini.
“Nyonya Agnes, Anda di panggil oleh salah satu pasien kami. Dia bilang Anda adalah asisten rumah tangga di rumahnya.”
Mendengar hal itu Bibi Agnes pun langsung membulatkan matanya. Ia lalu menatap suster itu, “Siapa yang mencari saya sus?”
“Wanita itu bernama Olivia, beliau menyuruh saya untuk memanggil Anda ke ruangan segera.”
“Nona Oliv, apakah dia sudah sadar?” tanya bibi Agnes dan di jawab anggukan kepala oleh suster itu.
Dengan cepat bibi Agnes pun langsung berlari menuju ruangan Oliv, ia bahkan sampai lupa memakai alas kaki, lantaran terburu-buru.
Bibi Agnes menatap kanan kiri, ia tak menemukan siapa pun di sana, bahkan Emalia tak ada di ruangan itu.
“Bibi Agnes, apakah itu kamu?” tanya Olivia tanpa menoleh sedikit pun.
Bibi Agnes pun menghampirinya, “Nona Olivia,”
“Bibi Agnes, apa itu kamu?”
“Ya, ini saya nona”
“Nona, bagaimana Anda bisa berakhir seperti ini?”
Olivia hanya tersenyum, ia tak menjawab ucapan dari bibi Agnes, ia lalu menyerahkan sebuah lembaran kertas kepada Bibi Agnes tanpa melihatnya.
Ia mencoba meraba-raba hingga akhirnya Bibi Agnes maju dan menggenggam tangan Olivia.
“Bibi, jadi Anda di sini ya”
“Nona, sebenarnya Anda kenapa?’
“Seperti yang kamu lihat bibi, aku buta. Kaki kananku di amputasi dan aku lumpuh seumur hidup,” ucapan itu terdengar sangat memilukan. Olivia pun memberikan lembaran kertas itu kepada bibi Agnes.
“Jangan di buka ya bi, berikan ini pada Ivana saat ia sudah sadar nanti. Dan tolong beritahu padanya bahwa jangan pernah merasa bersalah atas apa pun. Aku tahu, bibi adalah orang yang paling sayang pada Ivana, meski mungkin mama membencinya bahkan semua orang di rumah itu tak menganggapnya, aku selalu berusaha membuat Ivana tak sendiri. Dan saat aku pergi, mungkin sekarang adalah bibi. Tolong jaga Ivana untukku ya bibi, dia adalah anak yang manis sebelum menjadi pemurung. Dia juga adik yang paling aku sayang, terima kasih bibi Agnes, terima kasih karena tak pernah meninggalkan Ivana.”
“Sekarang Anda boleh pergi bibi, Anda boleh kembali ke ruangan Ivana”
Mendengarkan hal itu, benar-benar meninggalkan banyak pertanyaan di benar bibi Agnes. “Nona sebentarnya ada apa ini, mengapa Anda tiba-tiba berucap seperti itu?”
Olivia tak mau menjawab, ia bahkan kini tertidur pulas dan meninggalkan banyak pertanyaan itu tanpa adanya sebuah jawaban.
“Ivana, kamu pasti akan sembuh. Percayalah pada kakak, dan aku mohon padamu. Tolong jangan membenciku saat kamu tahu kenyataan itu nanti” ujar Olivia dari dalam hati.
*****
JANGAN LUPA, LIKE, COMEN DAN JUGA IKUTI KARYAKU, SEE YOU GUYS
Thor