Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: LIFE, LIBERTY, AND THE PURSUIT OF A GOOD DICE ROLL
Disclaimer: Bab ini mengandung deskripsi tentang keputusan hidup yang absurd, makan sambal matah dengan takdir, dan satu adegan yang akan membuatmu bertanya-tanya tentang pilihan hidupmu sendiri.
---
Pukul 07.55. Kosan Ardi.
Ardi berdiri di depan cermin kecil yang retak, memandangi tiga pilihan baju yang dia sebar di kasur.
Kaos abu-abu polos (aman, membosankan)
Kaos bergambar burung hantu (persona
online, sedikit nyinyir)
Kaos hijau tua pemberian nenek dengan tulisan "BALI - Surga Tropis" (berani, tapi berisiko ditertawakan)
Di tangannya, dadu emas Pak Suryo terasa semakin berat. "Ini dadu," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin, "putusin baju apa yang gue pakai hari ini."
Dia melemparkan dadu ke lantai. Berputar-putar dengan gemerlap palsunya yang murahan. Berhenti di angka 3.
"Tidak," protes Ardi. "Lagi. Itu kesalahan teknis." Dia mengambil dadu, mengocoknya lebih keras di telapak tangan, lalu melemparkan lagi. 3.
Satu kali lagi. 3.
Dadu itu seperti terprogram untuk menghancurkannya. Dengan pasrah, dia mengenakan kaos Bali, merasa seperti turis yang tersesat di tubuhnya sendiri.
HP berdering. Grup WhatsApp baru: "DADU CHAMP TASK FORCE". Anggota: Pak Suryo, Ardi, Kinan, Rendra, Bima, Farel.
Pak Suryo: Team! Hari H! Shooting dimulai pukul 08.30 di titik kumpul: WARTEG "MAKNYUS" depan kampus. Prepare for spontaneity!
Ardi: Pak, kenapa warteg?
Pak Suryo: Karena keputusan sehari-hari dimulai dari yang paling dasar: MAKAN! Authenticity, team!
Kinan: Siap, Pak. Ardi, jangan lupa bawa mental yang flexible.
Ardi menarik napas dalam-dalam. Flexible. Kata itu terasa seperti tantangan fisik.
---
Warteg "Maknyus" pagi itu bukan lagi sekadar tempat makan. Itu adalah lokasi syuting dengan produksi dadakan. Bima memegang smartphone di tripod, Farel memegang ring light portabel, Rendra berperan sebagai "director" dengan gayanya yang berlebihan, sambil memegang papan storyboard dari kardus bekas. Pak Suryo, dengan kaus "ROLL THE DICE" yang sama, berdiri di samping kompor, terlibat diskusi serius dengan Bu Warteg tentang pricing strategy nasi campur.
Dan Kinan. Dia sudah di sana, dengan penampilan casual namun tetap terlihat sengaja disusun: topi bucket, kaus oversized, celana cargo. Tapi yang mengejutkan Ardi: dia membawa sebuah clapperboard kecil dari kayu, lengkap dengan tulisan "DADU CHAMP - TAKE 1".
"Lo bawa clapperboard beneran?" tanya Ardi, kagum.
"Beli online semalam. Supaya keliatan profesional," jawab Kinan sambil mengatur angle HP di tripod. "Dan supaya kita punya cut yang jelas antara blunder dan blunder."
Ardi tersenyum. Kinan dalam mode work ternyata... asik.
"PERHATIAN SEMUA!" teriak Rendra. "Kita mulai dengan scene pembukaan! Ardi, posisi di depan gerobak nasi! Kamera... rolling!"
Bima memberi isyarat jempol. Kinan menepuk clapperboard. "DADU CHAMP - Scene 1, Take 1. ACTION!"
Ardi, dengan dadu di tangan, berbicara pada kamera dengan suara yang agak kaku. "H-hai guys. Jadi hari ini, gue Ardi, akan menyerahkan semua keputusan gue... ke dadu ini." Dia menunjukkan dadu emas. "Dari bangun tidur sampe tidur lagi. Pertama: sarapan."
Pak Suryo mendekat dengan dadu biasa di tangan. "Untuk keputusan makanan, gunakan dadu warna-warni! Setiap angka mewakili lauk!" Dia menunjukkan kertas kecil:
1\=Ikan Asin,
2\=Ayam Goreng,
3\=Tempe Orek,
4\=Telur Dadar,
5\=Sambal Terasi Level 10,
6\=ROLL AGAIN.
"Gue harap dapat 2 atau 4," bisik Ardi pada kamera, dengan ekspresi please don't kill me.
Dia melempar dadu ke atas nampan plastik. Dadu berputar, berdetak di atas permukaan. Semua menahan napas. Berhenti di... 5.
Sambal Terasi Level 10.
"YES! CONFLICT!" seru Rendra, seolah sedang menyutradarai drama Korea.
Ardi memandang dadu dengan rasa pengkhianatan yang mendalam. "Itu... level 10, Bu Warteg?"
Bu Warteg mengangguk sambil tersenyum sinis. "Nggak kuat, Dek?"
Tantangan telah diterima. Ardi memesan nasi putih dengan sambal level 10. Saat Bu Warteg mengaduk sambal merah membara itu, kamera mengambil close up wajah Ardi yang mulai berkeringat dingin.
Dia makan. Satu suap. Matanya langsung berair, hidungnya meler, wajahnya memerah. Tapi dia tersenyum getir ke kamera, memberi jempol. "D-decisions... b-bring f-flavor... to l-life."
Kinan, yang sedang memantau dari belakang layar, tidak bisa menahan tawa kecil. "Cut! Bagus! Natural banget reaksinya!"
Syuting berlanjut. Dadu memutuskan Ardi harus:
· Naik angkot ke kampus, bukan motor. (Adegan di mana Ardi terpaksa menyanyikan lagu dangdut bersama nenek-nenek penjual kacang karena sang nenek meminta "bayaran" atas keramaian.)
· Mengirim pesan "good morning" ke 5 kontak acak di HP nya. (Satu di antaranya adalah tukang service AC yang belum dia hubungi sejak 2 tahun lalu, dan membalas dengan: "Mau isi freon lagi, Bang?")
· Mengikuti satu kelas dengan duduk di barisan paling depan dan mengacungkan tangan setiap 5 menit. (Adegan di mana dosen lain, Bu Sari, terlihat begitu tersanjung sampai memberi Ardi nilai bonus untuk "semangat yang luar biasa".)
Sepanjang hari, Kinan tidak hanya menjadi sutradara. Dia juga menjadi pengawal realita. Saat Ardi hampir menyerah setelah keputusan dadu ke-7 (memakai topi propeller di tempat umum), Kinan lah yang membisikkan, "Lanjutin. Ini konten emas, dan lo lagi ngebangun karakter 'everyman' yang sempurna."
Ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Bukan lagi DM yang canggung atau kesalahpahaman digital. Tapi sebuah kemitraan dalam kekacauan. Kinan mengatur angle, Ardi menjalani absurditas. Kinan memberi ide, Ardi mengeksekusi dengan keluguan yang justru menggemaskan.
Puncaknya adalah sore hari. Keputusan dadu terakhir sebelum wrap.
"Putusin: habis ini kamu langsung pulang, atau kamu ngajak seseorang yang kamu temui hari ini buat minum kopi."
Ardi melihat pilihan itu. Dadu di tangannya terasa seperti benda hidup yang sedang menguji.
"Yang kedua lebih berisiko," komentar Pak Suryo sambil mengunyah gorengan. "Tapi high risk, high reward!"
Ardi melemparkan dadu. Semua kamera (kini ada 3 HP dari sudut berbeda) mengikuti gerakannya.
Dadu mendarat dengan lembut di atas kardus bekas. Angka 2. Ngajak seseorang.
Sekarang pertanyaannya: siapa? Hari sudah sore. Satu-satunya orang yang dia "temui" dengan intens seharian adalah... tim syuting.
Bima? Farel? Rendra? Pak Suryo? Atau...
Matanya bertemu dengan Kinan, yang sedang memeriksa rekaman di HP. Dia adalah "seseorang". Dan dia jelas-jelas "ditemui hari ini".
Tapi mengajak Kinan minum kopi? Itu melampaui keputusan dadu. Itu melampaui konten. Itu masuk ke wilayah... pribadi.
"Kalau mau mundur, gak apa-apa," bisik Kinan tiba-tiba, tanpa mengangkat kepala dari layar. "Kita bisa akalin dengan ngajak Bu Warteg."
Tapi kata-kata itu justru memantapkan Ardi. Jika dia mundur sekarang, setelah seharian mengikuti aturan dadu, semuanya akan terasa palsu.
"Gue pilih orangnya," kata Ardi pada kamera, lalu berjalan mendekati Kinan. "Kinan. Mau minum kopi? Nggak buat konten. Beneran."
Kinan mengangkat kepala. Ekspresinya sulit dibaca kejutan, pertimbangan, lalu... penerimaan. "Oke. Tapi gue pilih tempatnya."
---
Tempat yang dipilih Kinan bukan coffee shop aesthetic dengan latte art dan interior Scandinavian. Tapi sebuah warung kopi tua di belakang stasiun, dengan bangku plastik, meja kayu lapuk, dan aroma kopi robusta yang kuat. Tidak ada lampu neon, tidak ada background musik lo-fi. Hanya gemercik tetes air dari AC dan suara radio tua yang memutar lagu-lawas.
"Ini... jauh dari feed mu," komentar Ardi saat mereka duduk.
"Justru karena itu," jawab Kinan, memesan dua kopi hitam. "Kadang, yang nggak layak dipajang di feed, adalah yang paling enak dinikmati."
Kopi datang. Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman untuk pertama kalinya. Tidak ada paksaan untuk berbicara.
"Lo tahan bener tadi," ujar Kinan akhirnya. "Sambal level 10 itu... gue aja nggak berani."
"Gue juga nggak berani. Tapi dadu yang milih," Ardi tertawa. "Jadi, gimana? Kontennya oke?"
"Lebih dari oke. Lo natural di depan kamera. Nggak kayak orang yang maksa jadi interesting. Lo... interesting karena nggak mencoba jadi interesting."
Itu adalah pujian terbaik yang pernah Ardi terima. Lebih baik daripada like dari selebgram manapun.
"Lo juga," balas Ardi. "Lo nggak cuma jago ngatur angle. Lo jago ngatur... orang. Gue jadi nggak nervous."
Kinan tersenyum, menyeruput kopinya. "Gue terbiasa ngatur semuanya. Jadwal, feed, kata-kata. Hari ini... nggak ada yang bisa diatur selain dadu. Itu... melelahkan, tapi juga melegakan."
Mereka bicara. Bukan tentang konten, bukan tentang strategi. Tentang hal kecil. Kinan bercerita betapa dia benci harus selalu pakai filter yang sama di setiap foto. Ardi bercerita tentang mimpinya jadi penyanyi yang selalu ditertawakan teman-temannya. Mereka tertawa. Sungguh-sungguh tertawa, bukan tawa untuk kamera.
Di tengah obrolan, HP Kinan berdering. Dari Rara.
"Lagi dimana? Konten hari ini udah siap di edit belum? Kita bisa push sebelum prime time!" suara Rara terdengar bersemangat dari speaker.
Kinan memandang Ardi, lalu berkata pada telepon, "Rara, santai. Kontennya masih raw. Besok aja kita upload."
"BESOK? Tapi momentum"
"Besok," potong Kinan, tegas. "Gue lagi istirahat."
Dia tutup telepon. Ardi terkejut. Kinan menunda konten untuk... minum kopi dengannya?
"Lo nggak harus..." kata Ardi.
"Gue tahu," sahut Kinan. "Tapi gue mau."
Lama mereka duduk di warung kopi itu, sampai langit berubah warna menjadi jingga tua. Saat akan berpisah, Kinan tiba-tiba berkata, "Besok kita edit bareng. Di kosan lo aja. WiFi di tempat gue lagi lemot."
"Kosan gue... berantakan," protes Ardi.
"Bagus. Lebih authentic untuk behind the scene." Kinan tersenyum. "Jam 10. Jangan telat."
Ardi mengangguk, perasaan aneh menggelayut di dadanya. Bukan panik, bukan canggung. Tapi... hangat. Seperti kopi robusta murah tadi.
---
Malam itu, Ardi tidak bisa tidur. Dia membuka folder "Keluarga Dadu" di HP nya. Menambah screenshot baru: foto gelas kopi di warung tua, yang diam-diam dia ambil sebelum mereka pergi.
Di akun @kinanstudies, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, tidak ada story sebelum tidur tentang gratitude journal atau night routine. Hanya satu gambar gelap: siluet dua gelas kopi di meja kayu. Caption: "Sometimes, the best content is the one you don't post."
Dan di akun @suryo_daduchamp, Pak Suryo mengunggah teaser kedua: potongan adegan Ardi memakan sambal dengan wajah merah padam. Caption: "Our talent survived the ultimate test. Tomorrow, the full roll out. Get ready to let the dice decide! 🎲🔥 #DaduChallenge"
Komentar sudah ramai. Banyak yang penasaran. Banyak yang ngeh bahwa "talent" itu adalah mahasiswa di kampus mereka.
Sementara itu, di sebuah grup chat kecil para dosen, Bu Sari mengirim pesan: "Suryo, muridmu itu, Ardi, hari ini sangat antusias di kelas. Apa kamu kasih extra credit?"
Pak Suryo membalas: "Itu bukan extra credit, Bu. Itu namanya 'method acting' untuk konten digital. 😎"
Ardi memutar-mutar dadu emas di tangannya. Hari ini, dadu mengontrol hidupnya. Tapi anehnya, keputusan terbaik hari ini duduk di warung kopi dengan Kinan bukan berasal dari dadu. Itu berasal dari keberaniannya sendiri untuk mengajaknya, setelah dadu hanya memberi izin.
Mungkin artinya, pikir Ardi, dadu hanya alat. Keputusan akhir, tetaplah milik mereka yang berani melemparkannya.
Dia melemparkan dadu untuk terakhir kalinya hari itu, di atas kasurnya.
1: Tomorrow will be awkward.
2: Tomorrow will be fun.
3: Tomorrow will change everything.
4: You will mess up the editing.
5: Kinan will see the real mess that is your kost.
6: Roll again.
Dadu berputar, mendarat di tepi bantal, lalu jatuh ke lantai. Ardi tidak melihat angkanya. Dia memutuskan untuk tidak melihat. Biarlah misteri.
Dia mematikan lampu, tersenyum dalam gelap.
Esok akan datang. Dengan editornya yang aesthetic, kosannya yang berantakan, dan sebuah video yang siap mengacak-acak linimasa mereka.
#ToBeContinued
(Besok: Editing Chaos, WiFi yang Berkhianat, dan Sebuah Pengakuan yang Terungkap di Antara Render Bar.)