Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 6.
Semalam, Milea sudah bertekad untuk tidak lagi terbawa perasaan oleh sikap Rangga yang sekarang. Ia memilih bersikap waspada dan menjaga jarak, karena tidak ingin kembali jatuh cinta pada suaminya sendiri.
Ya... sebenarnya, Milea telah menyukai Rangga sejak lama, bahkan sebelum perjodohan itu terjadi. Perasaan itu tumbuh dari beberapa pertemuan di acara keluarga. Saat itu Rangga masih memiliki kekasih, meski hubungan tersebut tidak bertahan lama karena sikap Rangga yang dingin pada kekasihnya.
Pagi itu Milea terbangun di kursi samping ranjang, lehernya pegal karena tertidur dalam posisi duduk. Begitu membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah Rangga. Suaminya itu sedang menatapnya dengan ekspresi… penasaran.
“Kamu ngiler dikit,” ucap Rangga tiba-tiba.
Milea tersentak, langsung mengusap sudut bibirnya. “Apa?”
Rangga tertawa kecil. Tawanya ringan, lepas, dan sangat asing bagi Milea.
“Bercanda,” katanya santai. “Tapi kamu tidur di situ dari kapan?”
Milea menelan ludah. “Semalaman.”
Rangga terdiam, tatapannya berubah. Kali ini lebih serius, namun tetap hangat.
“Kamu nggak capek?”
Milea mengangkat bahu pelan. “Nggak apa-apa.”
Rangga menatap Milea lama, terlalu lama untuk ukuran orang yang katanya belum mengenal wanita itu.
“Kamu baik,” ucapnya akhirnya.
Milea terkejut. “Hah?”
“Kamu kelihatan capek, tapi masih di sini. Kalau aku di posisi kamu, mungkin aku sudah pulang.”
Ada sesuatu yang menyesak di dada Milea.
“Apa kamu… selalu seperti ini?” tanyanya pelan.
Rangga mengernyit. “Seperti apa?”
“Berterus terang.”
Rangga tersenyum. “Aku nggak suka bicara muter-muter.”
Milea menunduk.
Kalau saja kamu tahu… bagaimana sikapmu padaku selama ini.
“Bantu aku ke toilet,” kata Rangga sambil bangkit dari ranjang.
Milea segera mendekat. Dengan hati-hati, ia menopang tubuh suaminya, membantu Rangga melangkah turun dari tempat tidur.
Setelah berdiri, tiba-tiba Rangga mendekat dan mencium bibir Milea.
Milea terkejut. Selama ini Rangga selalu meminta izin sebelum menciumnya. Bagi pria itu, setiap sentuhan fisik dengan Milea hanyalah kewajiban sebagai suami, bukan ungkapan perasaan.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi pria dewasa itu. Ia terhuyung, jelas terkejut.
“Apa-apaan ini? Kenapa kau menamparku?”
“Karena kau berani menciumku!” bentak Milea.
Rangga mengernyit bingung. “Bukankah kau bilang aku ini suamimu? Kalau begitu, apa salahnya aku menciummu?”
Wanita itu menggeleng keras. “Kita akan bercerai, kau sendiri yang menginginkan perceraian itu!”
Rangga terdiam sesaat, lalu menatap Milea seolah baru saja mendengar lelucon paling tidak masuk akal. “Mustahil! Aku benar-benar gila kalau sampai menceraikan wanita secantik kamu.”
Milea baru saja membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu. Namun pintu kamar rawat terbuka, Dokter datang melakukan pemeriksaan rutin. Rangga menjawab semua pertanyaan dengan lancar, meski tetap bingung setiap kali usia dan statusnya disebutkan.
“Nyonya, mohon lebih berhati-hati. Cedera kepala suami Anda cukup parah,” ujar Dokter.
Milea hanya mengangguk singkat. Tak lama kemudian, dokter pergi meninggalkan ruangan. Keheningan pun tercipta.
Rangga melirik Milea, lalu bertanya. “Kita benar-benar sudah menikah? Dan kita… akan bercerai?”
Milea menghela napas panjang. Ia berusaha menenangkan diri, bersiap menghadapi Rangga dengan kesabaran.
“Iya, kita menikah empat tahun.”
“Empat tahun?” Rangga mengulang, lalu tertawa kecil. “Ternyata... aku melewatkan banyak hal, ya?”
Milea tersenyum tipis. “Bisa dibilang begitu.”
Rangga menatapnya lagi, kali ini lebih serius. Mengingat sikap Milea yang tadi menamparnya, dia semakin penasaran. “Terus… kita bahagia?”
Pertanyaan itu membuat udara di antara mereka membeku.
Milea terdiam.
Ia bisa berbohong, ia bisa mengatakan iya. Namun entah kenapa, tatapan Rangga membuatnya tak sanggup. Apalagi mengingat ucapan Dokter barusan, jika kondisi kepala Rangga parah.
“Kita… baik-baik saja,” jawabnya akhirnya.
Rangga mengangguk pelan, namun alisnya sedikit berkerut. “Kamu ragu...”
Milea tersentak. “Aku—”
“Gampang kebaca,” potong Rangga santai. “Wajah kamu nggak jago bohong.”
Milea terdiam.
“Kalau hubungan kita memang gak baik-baik aja,” ucapnya perlahan, “Boleh aku mengenalmu dari awal lagi?”
Milea menatapnya bingung. “Maksudmu?”
“Kenalan, kayak orang normal. Kenalkan, aku Rangga,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Umurku... dua puluh dua tahun.”
Milea tertegun menatap tangan itu, perlahan ia menyambut uluran itu. “Milea, tiga puluh tahun.”
Rangga mengangkat alis. “Lebih tua dariku?”
“Secara pikiranmu yang sekarang, iya... aku lebih tua 8 tahun darimu.“
Rangga tertawa, ia mengedipkan sebelah matanya. “Aku sih nggak masalah jadi berondong mu...”
Kalimat itu membuat Milea tercekat, jantungnya kembali berdebar tak karuan.
Sejak itu, segalanya berubah.
Rangga menjadi… banyak bicara. Ia bertanya tentang hal-hal kecil. makanan favorit Milea, film kesukaan istrinya itu, kebiasaan paginya. Ia memperhatikan setiap detail tentang Milea, seolah benar-benar ingin mengenalnya.
“Kamu suka coklat, ya?”
“Kenapa nggak kopi?”
“Kalau lagi gugup, kamu gigit bibir bawahmu.”
Milea banyak menggelengkan kepala, dia tak lagi mengenal suaminya sendiri. Rangga yang sekarang bicara adalah versi lain, versi yang hidup, hangat, dan tanpa jarak.
Yang paling membuat Milea bingung adalah cara Rangga memperlakukannya. Rangga minta Milea duduk lebih dekat, pria itu akan cemberut seperti anak kecil kalau Milea terlalu lama pergi.
Ia bahkan memegang tangan Milea tanpa ragu.
“Kamu istriku,” katanya santai suatu sore. “Normal, kan?”
Normal.
Kata itu membuat Milea ingin tertawa dan menangis sekaligus.
Suatu malam saat hujan turun pelan di luar jendela, Rangga memanggil Milea.
“Milea.”
“Ya?”
“Kamu takut sama aku?” tanyanya tiba-tiba.
Milea terkejut. “Kenapa tanya begitu?”
“Setiap aku mendekat, kamu kayak menjauh,” jawab Rangga jujur. “Padahal kamu nggak kelihatan benci padaku...”
Milea menarik nafas dalam-dalam. “Aku cuma… nggak mau kamu salah paham.“
“Salah paham apa?”
“Kamu mungkin… bukan Rangga yang aku kenal. Aku sudah bilang, kita bahkan akan bercerai.”
Rangga tersenyum kecil. “Lihat saja aku sebagai Rangga yang sekarang, jangan lihat aku yang lain.”
“Tapi, kalau suatu hari ingatanmu kembali,” ucap Milea dengan suara bergetar, “Kamu mungkin akan berubah lagi.”
Rangga mengernyit. “Berubah gimana?”
Milea tak menjawab, namun Rangga justru tersenyum miring.
“Kalau aku jatuh cinta sama kamu sekarang, masa depannya urusan nanti.”
Milea menahan napas. “Rangga…”
“Aku tipe orang yang kalau mau, ya mau,” lanjut pria itu dengan wajah yakin. “Ugal-ugalan dikit nggak apa-apa, kan?”
Milea terdiam.
Malam itu Milea berdiri di depan jendela rumah sakit, menatap lampu kota dari kejauhan. Di belakangnya, Rangga tertidur dengan wajah tenang.
“Apa aku boleh jatuh cinta lagi?” bisiknya pada diri sendiri.
Karena kali ini, Rangga mencintainya tanpa syarat. Dan Milea tahu, kalau hatinya menyerah sekarang... ia mungkin akan lebih hancur saat ingatan Rangga kembali nanti.
Esok harinya, seluruh keluarga besar Rangga datang menjenguk. Namun sejak awal, mata Rangga justru sibuk menyapu ruangan seolah mencari seseorang.
“Sejak aku sadar, kok aku nggak lihat Radit?” ucapnya tiba-tiba. “Ke mana bocah itu?”
Dalam ingatan Rangga, Radit masih berusia tujuh belas tahun. Adiknya itu masih berseragam SMA, masih sering membuntutinya ke mana-mana. Padahal kenyataannya, Radit telah meninggal dunia di usia dua puluh tahun, saat Rangga berusia dua puluh lima.
Begitu nama Radit disebut, suasana langsung membeku. Semua orang terdiam, tubuh mereka menegang, seakan nafas pun tertahan.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌