Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang perisai
Ruang guru sekolah pada siang menjelang sore hari. Pukul 15.10 . Ruangan sudah sepi hanya tersisa guru BK, penjaga perpustakaan dan beberapa mahasiswa magang yang sedang membereskan berkas di sudut terjauh. Faisal dan Aruna duduk saling berhadapan di meja panjang. Namun berbeda aktivitas. Faisal dihukum karena tidak mengerjakan tugas pak Agung ( wali kelasnya ) sedangkan Aruna sedang membantu wali kelasnya membereskan berkas absensi. Faisal tak henti menatap Aruna yang sedang fokus menyusun berkas. Faisal menggeserkan bangku dan menyandarkan punggungnya, tetapi Aruna tetap fokus pada berkas, menghiraukan Faisal.
" Santai aja kali, Na. Lagian ngapain sih kamu repot repot bantuin guru segala? Ini kan udah jadi tugasnya dia, sebagai guru. Mana semangat banget lagi bantuinnya."
Aruna menghela nafas.
" Semangat atau ngga nya itu ga penting, lagian daripada dihukum kaya Kaka lebih baik bantuin guru kan? Jauh lebih positif, waktu yang kebuang juga ga sia sia." Ucapnya sambil tersenyum.
Faisal membalas senyumannya.
" Ohhh. Maksudnya kamu mau bilang kalo kamu mau nemenin aku kan? Jujur aja, Na."
Aruna menghela nafas pelan tanpa menghentikan gerakannya.
" Pliss ya kak, aku mau cepet pulang! Jangan gangguin aku." Aruna kembali fokus menyusun berkas absensi, tatapannya dingin.
Faisal menoleh.
" yaudah iya, maaf. Janji deh ga akan gangguin lagi. Terlalu banyak perbedaan diantara kita, pantesan waktu itu kamu nolak aku. Hidup kamu terlalu fokus sama satu hal, terutama disekolah. Ya, aku paham alesannya apa. Pasti untuk masa depan. Tapi kamu juga seharusnya sadar sama setiap keajaiban yang ada disekitar kamu." Ucap Faisal dengan nada sedikit mengeluh.
Aruna hanya tersenyum. Lalu menghentikan gerakannya, menatap Faisal dengan ekspresi datar.
" Apa ka? "
" Kamu terlalu fokus sama buku dan pelajaran, itu emang bagus. Tapi jangan sampai kamu abai sama apa yang ada di depan kamu sekarang."
Aruna mengerutkan keningnya.
" Maksudnya kak? Berkas ini?".
Faisal mendorong tumpukan berkas absensi ke samping. Lalu meraih sebuah kertas yang sudah ia siapkan di saku celananya. Ia meletakannya tepat di depan Aruna.
Aruna melihat kertas itu, Ada tulisan tangan Faisal yang berantakan, tapi isi nya... Agak membuat Aruna terkejut.
Isi tulisan dalam kertas Faisal.
- Aku tau reputasiku disekolah memang buruk, bahkan hampir tak ada sisi baiknya. Dulu, aku cuman main main, aku tak peduli pada pelajaran. Tapi semenjak ketemu kamu, permainan itu selesai. Kamu boleh mengacuhkanku seribu kali, tapi aku akan tetap datang seribu satu kali. Aku akan tetap berdiri dibelakangmu, menjadi pelindungmu hingga berdarah darah sekalipun. Sampai tiba saatnya kamu membuka mata dan melihat, bahwa akulah satu satunya pria yang tetap konsisten menjagamu.
Aruna mengambil kertas itu, meremasnya sedikit. Lalu meletakan kembali ke meja.
" Gimana ya ka, jujur. Aruna ga suka sama Kaka, makasih sebelumnya. Aruna juga ga minta Kaka buat jagain Aruna, Aruna juga belum kepikiran buat pacaran, apalagi sama Kaka, Aruna anggap Kaka hanya sebatas Kaka kelas, ga lebih."
Faisal mencondongkan tubuhnya kedepan, tatapannya tulus, untuk pertama kalinya.
" Kamu tau, Na? Aku rela ngabisin semua waktu aku selama berjam jam cuman buat cari tau info tentang kamu. Aku bertanya tanpa rasa malu ke semua siswa siswi disekolah ini, tentang siapa namamu, dan lelaki seperti apa yang kamu sukai. Aku suka sama kamu tulus, dari pertama kita ketemu di depan gerbang sekolah, aku udah suka, Na. "
Aruna menatap Faisal, wajahnya sedikit memerah bukan karena marah tapi karena terkejut dengan pengakuan Faisal.
Faisal menundukan pandangannya.
" Aku tau, Na. Aku bukan orang baik, aku tau aku sering buat masalah. Tapi kamu ga bisa nilai aku cuman dari gosip orang orang yang ga sengaja kamu denger, kamu bilang aku buang buang waktu, terserah. Itu hak kamu, tapi yang ku lakukan sekarang disini, sama sekali ga percuma, aku rela ngabisin semua waktu aku disini, sama kamu, Na. Aku mau jadi alesan kamu tersenyum, waktu lagi cape. Aku rela ngabisin semua waktu aku, buat sekedar lindungi kamu. Buat aku, itu adalah hal yang paling ga membuang waktu, Na."
Aruna menatap matanya, ada sedikit getaran yang ia rasakan. Aruna kembali mengambil secarik kertas itu, tapi kali ini ia tak meremasnya. Ia hanya membaliknya, lalu menulis sesuatu dibagian belakang dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
Faisal menunggu dengan nafas tertahan.
Aruna mendorong kertas itu ke arah Faisal. Lalu Aruna kembali mengambil tumpukan berkas yang tadi ia sisihkan. " aku duluan, kak."
Faisal mengambil kertas itu. Dibaliknya, tertulis beberapa kata sederhana.
" Kalo gitu, coba perjuangin lagi. Tapi dengan syarat. Kamu harus ngerubah semua kebiasaan buruk kamu."
Faisal tersenyum lebar, senyum pertamanya yang benar benar lepas dan tulus. Sebuah senyum kemenangan yang jauh lebih berarti daripada sekedar memenangkan pertarungan.
Faisal telah mendapatkan respon. Baiklah, bulanku. Mulai besok akan ku perjuangkan kamu dengan cara yang lebih serius lagi, aku akan berubah untukmu.
Keesokan paginya, disudut koridor sekolah dibawah pohon beringin besar. Area yang sering digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler atau tempat siswa pintar berkumpul sebelum masuk kelas.
Aruna dan seorang pria duduk dibangku yang berada didekat pohon beringin, depan perpustakaan. Didepan mereka, terhampar beberapa buku cetak tebal dan coretan coretan rumus. Pria itu menjelaskan dengan gestur tangan dan mimik muka yang serius, sementara Aruna mendengarkan dengan fokus penuh.
Pria itu bernama Gibran, siswa cerdas diangkatannya, teman satu ekskul Aruna, sekaligus pengagum rahasia yang tak Aruna sadari.
Dari kejauhan terlihat, Aruna mengangguk lalu mencatat apa yang disampaikan oleh Gibran. Lalu berterima kasih.
" Makasih ya, kamu ngejelasinnya lebih detail daripada buku yang sering aku baca. "
Saat itu, terdengar suara obrolan dan langkah kaki yang semakin mendekat. Faisal datang bersama pasukannya yang gaduh, lalu berhenti persis didepan Aruna dan Gibran yang sedang duduk.
Faisal menatap Aruna, menyunggingkan senyum sombong.
" Lagi pada ngapain nih adik kelas tercinta, dibawah pohon beringin. Oh lagi pacaran ya? Pacaran ko dibawah pohon, ga romantis banget."
Gibran kesal, wajahnya memerah karena tak menyangka Kaka kelas pembuat masalah akan menyapa nya. Gibran menutup buku buku nya, lalu berdiri.
" Apa apaan ini? Kalian ganggu kita, kita lagi ngerjain tugas, serius. Kalian mau kita laporin ke guru BK?. "
Faisal terkekeh. Memegang pundak Gibran sedikit mencengkram.
" Santai bro, gue disini bukan buat gangguin lu, gue cuman mau nyapa Aruna. Kalian lagi ngerjain tugas, ya? Emang harus ya berduaan gini? Yang lain kemana, apa udah pada pinter? Jadi ga ikut belajar sama kalian?. Sorry kalo gue ganggu, kirain gue kalian lagi pada ngitung tanggal pernikahan dan ngerencanain ngebangun rumah diplanet mars, serius banget keliatannya."
Aruna menatap Faisal dengan raut kesal.
" kamu mau apa sih kak? Aku sibuk! jangan gangguin aku. "
Faisal merapihkan rambutnya yang berantakan terkena angin pagi.
" Aku mau ngapain? Ga salah kamu nanya gini?, aku cuman mau buktiin ucapan aku kemarin di ruang guru."
" Ucapan apa?" tanya Aruna, nadanya sedikit meninggi.
" Aku kan udah bilang, bakal selalu ada buat lindungi kamu." Faisal menyodorkan sebuah cokelat batang lengkap dengan minumannya.
" Jangan sampai kamu kelaparan karena terlalu fokus sama rumus rumus sialan itu."
Gibran mendekat ke arahnya, lalu mencengkram kerah baju Faisal.
" JAGA UCAPAN LU KAK, ARUNA MENGHARGAI ILMU PENGETAHUAN! GA KAYA KALIAN, KAKAK KELAS BERANDALAN YANG GA PERNAH MAU BELAJAR, DAN URUSAN ARUNA KELAPARAN ATAU NGGA, ITU BUKAN URUSAN LU KA!. "
" woy, santai aja dong lu, lu ga diajarin sopan santun sama buku buku yang lu baca?" Tanya Yadi kesal.
Faisal menenangkan sahabatnya. Lalu melepas cengkraman tangan Gibran. Faisal menatap Gibran, tajam.
" Tentu aja jadi urusan gue, kalo dia pingsan karena dehidrasi, siapa yang bakal mengurusnya? Lu? Apa buku buku yang lu baca itu? Orang kaya lu, kalo kejadian kaya yang gue ucapin, paling sibuk menebak nebak berapa laju percepatan waktu Aruna jatuh."
diikuti suara tertawa pasukannya dibelakang.
Gibran mengepalkan tangan, kesal.
" Lu bener bener udah keterlaluan ka! "
Faisal mengarahkan pandangannya pada Aruna, mengabaikan Gibran.
" Kamu udah liat kan sekeliling kamu? Jangan terlalu tegang, kamu perlu udara segar, udah terlalu banyak buku yang kamu baca pagi ini, sekarang itung aja berapa kalori yang kamu dapet dari makanan ini. Ini transfer energi yang lebih menyenangkan daripada buku buku itu. "
Aruna melihat makanan dan minuman itu, ia merasa dilema. Ia tahu Faisal datang hanya untuk mengganggu, tapi disisi lain ia juga terenyuh karena perhatiannya.