Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rame 20
"BASI ISTA, BASI!!"
Wajah Gery benar-benar sangat marah sekarang ini dengan wanita itu. Dan suara Gery yang begitu keras cukup membuat Ista malu karena para pengunjung warkop itu langsung melancarkan pandangannya kepada mereka.
"Diam Ger, jangan berteriak kayak gitu. Malu tahu dilihatin,"sahut Ista sambil menengok kesana kemari.
"Apa lo bilang, malu? Lo seharusnya malu pas selingkuh ma cowok lain. Lo seharusnya malu pas ninggalin anak dan suami lo buat cowok lain!" pekik Gery. Dia sungguh tidak peduli dengan tatapan orang-orang terhadapnya saat ini.
Saking malunya, Ista akhirnya keluar dari warkop tersebut tanpa mendapat informasi apapun tentang Rohan dan anak-anaknya. Dia juga menutupi wajahnya dan berlari saat menuju ke mobil.
Hosh hosh hosh
"Sialan Si Gerry. Bisa-bisanya dia teriak-teriak kayak begitu. Datang ke sini beneran percuma, brengsek,"ucap Ista geram. Dia segera menyalakan mobilnya untuk pergi dari warkop tersebut. Semakin lama berada di sana, maka hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Apalagi tatapan para pengunjung sangat tajam padanya.
"Aku jadi nggak tahu tentang keberadaan anak-anak. Dan kayaknya Gery nggak bakalan ngasih tahu juga dimana Rohan,"gumamnya pelan.
Ista membuang nafasnya kasar. Dia sekarang bingung hendak kemana. Pulang ke rumah tidak ada yang bisa dia lakukan. Tapi dirinya sama sekali tidak memiliki tujuan lain.
"Dani, apa aku ke tempat dia aja ya. Dia nggak mungkin ngusir aku kan? Aku yakin nggak sih. Kemarin dia kayak gitu karena lagi emosi aja. Sekarang aku yakin dia udah nggak marah lagi."
Seketika Ista teringat dengan pria itu. Dirinya yakin betul bahwa sekarang Dani masih mau bersamanya dan sudah memaafkannya juga.
Ista juga menganggap bahwa mereka sama. Jadi Dani tidak akan mempermasalahkan apa yang terjadi kemarin.
Bruuumm
Ista melajukan mobilnya lebih cepat menuju ke perusahaan Dani. Dia sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan pria tersebut.
Sesampainya di depan kantor, Ista langsung turun dan berjalan cepat menuju ke ruangan Dani. Tapi ketika sampai disana, Ista terkejut karena kata sang sekertaris Dani tidak ada di tempat.
"Terus, ada di mana dia sekarang?"tanya Ista sambil membuka ruangan Dani karena dia tidak percaya bahwa Dani tidak ada di ruangannya. Tapi ternyata ruangan itu kosong, benar-benar tidak ada orang.
"Saya kurang tahu Bu dimana Pak Dani. Beliau hanya bilang kalau hari ini tidak akan masuk kantor,"jawab sang sekertaris.
Tanpa mengucapkan apapun, Ista membalikkan tubuhnya dan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Tapi dia tidak menyerah begitu saja, tujuannya kali ini adalah rumah Dani.
Di jalan, Ista sangat berharap bahwa Dani ada di rumah. Dan harapannya itu memanglah terwujud, Dani ada di sana bahkan ada di depan rumah.
"Kamu nungguin aku ya, Dan? Aku yakin kamu nggak akan marah sama aku, kemarin pasti kamu cuman emosi sesaat kan?" ucap Ista riang. Dia nampak tergesa-gesa ketika turun dari mobil. Langkahnya juga begitu cepat karena segera ingin menghampiri Dani.
Namun ada yang salah dengan Dani. Ista menyadari hal tersebut. Wajah Dani berkerut, matanya memicing, semua ekspresi itu menunjukkan rasa tidak suka.
"Dan, kamu kenapa?" tanya Ista, tanganya mengulur hendak menyentuh wajah pria tersebut.
"Nggak kenapa-napa. Kamu ngapain ke sini?" sahut Dani, dia menepis tangan Ista yang ingin menyentuh wajahnya. Dani benar-benar menunjukkan tatapan tidak suka dan Ista sadar akan hal itu.
"Kamu masih marah sama aku? Aku ke sini karena kangen sama kamu, Dan. Udah beberapa hari ini kamu nggak nelpon ataupun ngechat aku,"ucap Ista dengan nada manja.
Jika dulu Dani akan luluh dengan setiap apa yang Ista ucapkan dan lakukan, maka sekarang tidak lagi. Dia sudah paham bahwa Ista ini benar-benar wanita yang sangat buruk.
"Cukup, aku nggak sudi dikangenin sama kamu. Kan aku udah bilang bahwa kamu kita stop. Tahu kan apa arti kata stop,itu berhenti. Bahasa anak-anak jaman sekarang lo gue end. Jadi nggak usah nyari aku lagi. Kamu sendiri yang nggak pernah nganggep hubungan kita, dan Ista kamu beneran menjijikkan. Kamu nggak lebih kayak jablay. Karuan mah jablay nyari duit, lha kamu cuman nyari kesenengan. Aku nggak habis pikir, kenapa Rohan yang sebaik itu bisa dapet wanita seburuk kamu. Minggir, aku mau pergi. Ah iya, ingat ya jangan pernah nyari aku lagi!"
Ucapan panjang lebar dari Dani yang berisi hinaan dan peringatan itu seketika membuat Ista tercengang. Dia tentu tidak menyangka bahwa Dani akan bicara demikian.
Ista pikir Dani yang mengumpatnya jalangg kemarin hanyalah karena emosi sesaat saja. Tapi ternyata itu sungguh-sungguh dari dalam hatinya.
Tentu saja Ista tidak terima. Dia merasa bahwa dirinya dan Dani sama. Mereka sama-sama buruk, lalu mengapa dirinya saja yang dikatai seperti itu.
"Tunggu, lo bener-bener brengsek ya. Apa bedanya gue sama lo, hah!" pekik Ista. Dia menahan pintu mobil Dani yang hendak di tutup.
"Gue sama lo, jelas beda. Gue akuin gue emang salah karena udah jadi orang ketiga di rumah tangga lo. Tapi gue nggak pernah celap celup. Gue nggak pernah tidur sama wanita manapun kecuali lo, Ista. Semua itu karena gue pengen menikah sama lo. Dan asal lo tahu, lo adalah wanita pertama gue. Sedangkan lo, lo beneran kayak pelacuur yang ngobral milik lo. Yang gue lihat baru satu cowok aja, nggak tahu yang nggak kelihatan. Dan itu lah bedanya gue sama lo. Minggir, empet banget gue lihat wajah lo. Satu lagi, gue pikir yang salah itu Rohan, tapi kayaknya lo yang sakit,"sahut Dani sengit. Dia menyingkirkan tangan Ista lalu menutup pintu mobilnya dengan kencang. Setelah itu, Dani juga segera menyalakan mobilnya dan pergi secepatnya.
Ia sama sekali tidak peduli dengan Ista yang sekarang ini masih terus mengumpat marah dan tentu saja memakinya. Lepas dari wanita itu adalah pilihan yang sangat tepat.
"Brengsek lo, Dan!! Brengsek sialan!!!" pekik Ista. Suaranya benar-benar sangat keras. Ya saat ini dia sedang meluapkan amarahnya. Setiap ucapan Dani sungguh membuat wanita kesal bukan main.
"Berani-beraninya dia ngomong kayak gitu ke aku. Arghhhh!!! kenapa, kenapa semua nggak ada yang sesuai dengan keinginanku!!" pekiknya lagi. Ista sangat kesal sekarang ini. Niat hati ingin mengibur diri karena sudah dibuat kesal oleh Gery, akan tetapi yang didapat malah semakin kesal saja.
"Sialan kalian semua. Brengsek, hari ku jadi nggak baik!" umpatnya lagi.
TBC