Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Penolakan Darrel
Beberapa jam sebelumnya.
Mami Mia berada di halaman belakang rumah sedang merawat bunga-bunganya, tiba-tiba dikejutkan oleh bunyi nada dering ponselnya. Dengan segera wanita paruh baya itu meletakkan gunting tanaman yang dipegangnya lalu mengambil ponsel.
Ia mengernyit heran menatap layar ponselnya lalu segera mengangkat panggilan tersebut barangkali ada sesuatu yang penting.
"Halo, Mas? Assalamu'alaikum? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Mami Mia.
"Wa'alaikumsalam. Mas cuma ingin mengabarkan, baru saja Mas ketemu cucu-cucu, Mami," kata Danish dari seberang telepon.
Mami Mia terhenyak untuk sesaat. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ada perasaan membuncah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata saking bahagianya.
"Jika Mami ingin ketemu mereka, datanglah ke taman kota di jalan AA. Mereka berjualan di sana. Wassalamu'alaikum," pungkas Danish lalu menutup sambungan teleponnya.
"Wa'alaikumsalam." Mami Mia terdiam di tempatnya. Untuk sesaat, pikirannya terasa kosong, hingga Papi Baim datang mendekat.
"Siapa yang telepon, Mi?" tanya Papi Baim.
Mami Mia menoleh dan menatap suaminya dengan mata berbinar. "Itu...itu Mas Danish yang telepon, Pi," jawab Mami Mia dengan suara bergetar.
"Danish? Ada apa?" tanya Papi Baim penasaran.
"Dia bilang...dia bilang baru saja bertemu dengan cucu-cucu kita," jawab Mami Mia.
Papi Baim terkejut. "Benarkah? Di mana?" tanyanya dengan nada tak percaya.
"Di taman kota di jalan AA. Mereka berjualan di sana," jawab Mami Mia. "Ayo, kita temui mereka, Pi. Mami sudah tidak bisa lagi menahan diri sekarang," ajaknya begitu bersemangat, sambil menarik tangan Papi Baim masuk ke dalam rumah.
"Baiklah, mari kita temui mereka," Papi Baim pun menurut saja tangannya ditarik oleh sang istri menuju kamar mereka untuk segera bersiap.
Setelah berganti pakaian mereka berdua segera bergegas menuju garasi dan masuk ke dalam mobil. Papi Baim melajukan mobilnya menuju lokasi, di mana anak dan cucunya berada.
Sepanjang perjalanan, Mami Mia tidak henti-hentinya berdoa, semoga pertemuannya dengan cucu-cucunya akan berjalan lancar. Ia juga berharap, bisa membawa mereka pulang ke rumah dan tinggal bersama.
Akhirnya, mereka tiba di taman kota di jalan AA. Mami Mia dan Papi Baim segera turun dari mobil dan mencari-cari keberadaan Darrel beserta anak-anaknya.
"Itu...itu Bang Rel, Pi!" seru Mami Mia sambil menunjuk ke arah seorang pria yang sangat mereka kenali, sedang sibuk melayani pembeli. Di sampingnya, dua anak kecil membantunya sambil tertawa riang.
Papi Baim mengikuti arah telunjuk Mami Mia. "Iya, Mami benar. Itu cucu-cucu kita," kata Papi Baim dengan rasa haru.
Mami Mia berjalan ingin mendekati Darrel dan anak-anaknya, tetapi Papi Baim menahan tangannya.
"Ada apa, Pi?" tanya Mami Mia heran mengapa sang suami menahan tangannya.
"Lebih baik kita amati mereka dari kejauhan saja, Mi," kata Papi Baim. "Tidak elok rasanya menemui mereka di tempat umum seperti ini. Nanti bisa menimbulkan spekulasi yang tidak baik. Bang Rel juga pasti tidak menginginkannya," lanjutnya beralasan.
Mami Mia terdiam sejenak dan merenungkan perkataan suaminya. Ia mengerti, Papi Baim benar. Tidak sepantasnya mereka membuat keributan di tempat umum dan menarik perhatian orang banyak.
"Baiklah," kata Mami Mia akhirnya.
Mereka berdua kemudian duduk di sebuah bangku di bawah pohon rindang yang tidak jauh dari tempat Darrel berjualan. Dari sana, mereka bisa melihat Darrel dan anak-anaknya dengan jelas.
Mami Mia terus memperhatikan cucu-cucunya dengan senyum bahagia. Ia merasa sangat lega melihat mereka tumbuh sehat dan ceria. Ia bangga putra sulungnya itu bekerja keras untuk menghidupi kedua anaknya. Namun, ia juga merasa khawatir tidak seharusnya anak sekecil mereka mengikuti ayahnya berjualan.
Papi Baim dan Mami Mia terus mengamati Darrel dan anak-anaknya hingga siang hari. Hingga saat Darrel mulai membereskan dagangannya, keduanya memutuskan untuk pergi.
"Kita ikuti mereka saja, Pi," usul Mami Mia.
Papi Baim setuju, kemudian mengikuti sepeda motor Darrel dari belakang dengan mobilnya.
Namun, ketika sepeda motor Darrel berhenti di sebuah minimarket, Papi Baim tetap melajukan mobilnya membuat Mami Mia bertanya dengan panik, "Loh, Pi! Kita mau ke mana? Mereka berhenti kenapa kita tetap lanjut? Bagaimana kalau kita kehilangan jejak?"
Papi Baim tersenyum. "Mami tenang saja, papi sudah tahu di mana mereka tinggal," kata Papi Baim.
"Papi serius?" Mami Mia terkejut. "Kenapa Papi tidak pernah cerita sama mami?" tanyanya dengan wajah cemberut.
"Papi ingin memberi kejutan pada Mami," jawab Papi Baim tersenyum ke arah istrinya.
"Terima kasih ya, Pi." Mami Mia tersenyum ke arah sang suami dengan tatapan penuh rasa haru.
Papi Baim kemudian masuk ke kawasan perumahan sederhana, lalu masuk ke dalam sebuah gang dan berhenti di pinggir jalan.
"Ayo turun, kita sudah sampai. Itu rumah mereka," ajak Papi Baim sambil menunjuk ke sebuah rumah mungil di depannya tampak sebuah motor matic terparkir.
Papi Baim dan Mami Mia kemudian turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke rumah Darrel. Mereka duduk di kursi yang ada di teras sambil menunggu kedatangan anak dan kedua cucunya. Hingga tak lama kemudian Darrel beserta kedua anaknya sampai di rumah.
.
.
.
.
Kembali ke saat ini
Mami Mia tampak terkejut dengan penolakan Darrel. Ia menatap sang putra dengan pandangan kecewa. Begitu pun dengan Papi Baim. "Tapi, Bang...?"
"Mami dan Papi jangan khawatir," sahut Darrel cepat. "Abang bisa menghidupi diri sendiri dan anak-anak. Lagipula, Abang sudah berjanji untuk tidak lagi bergantung pada siapapun."
"Mami minta maaf, jika sikap mami terlalu keras pada Abang," kata Mami Mia penuh penyesalan. "Tapi apa Abang tidak mau mempertimbangkannya lagi?"
"Keputusan abang sudah bulat, Mi," Darrel tetap kokoh pada pendiriannya.
Papi Baim menghela napas. "Sebaiknya Abang jangan keras kepala," gumamnya pelan.
"Ini bukan soal keras kepala, Pi," jawab Darrel. "Ini soal prinsip."
Mami Mia menyela, "Lalu, bagaimana dengan cucu-cucu Mami? Apa Abang tidak kasihan sama mereka? Mereka pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik."
Darrel menatap Zoey dan Zayn yang sedang bermain dengan permainan yang dibawakan oleh oma-opanya. Hatinya mencelos mendengar ucapan Mami Mia. Dia sadar, bahwa kedua anaknya pantas mendapatkan yang terbaik.
"Abang tahu, Mi. Tapi, Abang yakin, Abang bisa memberikan mereka kehidupan yang layak meskipun tidak mewah," jawab Darrel pelan.
Papi Baim berdiri. "Baiklah, jika itu keputusan Abang, papi tidak bisa memaksa. Kapanpun Abang berubah pikiran, pintu rumah selalu terbuka untuk kalian."
Mami Mia ikut berdiri lalu memeluk Darrel dengan erat. Meski kecewa dengan penolakan sang putra tetapi ia berusaha memahami keputusannya. Mungkin putranya itu punya alasan tersendiri kenapa memilih untuk menjalani kehidupannya yang sederhana dan menolak kembali bersama.