Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh Belas
Axel terdiam sepersekian detik, lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Tenang, Mikha,” katanya dengan suara halus yang justru terasa lebih berbahaya. “Aku cuma menyentuh rambutmu. Kalau aku benar-benar berniat menyentuh yang lain, kau bahkan tak akan sempat menepis.”
Mikhasa menatapnya tajam. Dagu terangkat, sikapnya jelas siap melawan.
Axel justru merasa itu menarik. Sikap gadis ini benar-benar bertolak belakang dengan Liora. Mikhasa tidak patuh, tidak jinak, dan mudah sekali emosi.
Tatapan Axel menelusuri wajah Mikhasa, intens dan menusuk. “Tapi aku suka ini,” katanya pelan. “Caramu melawan. Membuatku ingin mematahkan dan melindungimu di saat yang sama.”
Ia bersandar di kursinya sambil tersenyum tipis, seolah situasi sepenuhnya berada dalam genggamannya.
“Jadi silakan marah, Mikha. Tepis aku lagi kalau kau mau,” ucapnya tenang. “Itu hanya membuatmu… lebih menarik.”
“Kau pria yang mengerikan,” ketus Mikhasa. Ia memalingkan wajah, menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan mata.
Satu miliar yang menyebalkaaaan! teriaknya dalam hati. Ia harus segera mencairkan uang itu. Lalu tidur di atas tumpukan uang, supaya tidak gampang emosi setiap kali harus menghadapi pria satu ini.
“Jadi, kamu suka makanan apa, Mikha?” tanya Axel selanjutnya. “Makanan Barat, hidangan Timur Tengah, atau Jepang–Korea?” tanyanya santai. “Ada roast beef, grilled salmon, mashed potatoes, pasta aglio olio, lasagna, sushi omakase, kebab khas Istanbul… sampai rendang Padang.” Senyum tipis muncul di bibirnya. “Kamu mau dimanjakan dengan yang mana, hm?”
Mikhasa terkekeh kecil, merasa aneh sekaligus geli. Ia menoleh menatap Axel dan tatapan itu langsung dibalas.
“Dari semua yang Anda sebut,” ucap Mikhasa pelan, “rendang Padang satu-satunya yang saya kenal.”
Kening Axel berkerut. “Serius?”
Mikhasa mengangguk. “Iya. Soalnya nggak semua orang lahir dengan sendok emas, seperti anda Tuan.”
“Le Château Rouge.” Axel menyebutkan namanya pada sang sopir, meminta mobil menepi di restoran Barat itu.
Mikhasa menarik napas panjang, menahan emosi yang terasa nyaris meledak. Pria satu ini benar-benar tak memberi ruang untuk menolak.
Demi satu miliar dan demi misi mulia, dia akan patuh. Namanya juga momong. Hanya saja… Axel jauh lebih menyebalkan daripada toddler yang suka mengacak-acak rumah.
Sesampainya di restoran, Mikhasa segera turun begitu pintu mobil dibukakan. Lebih baik keluar sendiri daripada ditarik Axel lalu digandeng. Ih, ogah. Satu miliar tidak termasuk paket gandengan tangan.
“Ayo.” Axel mengulurkan tangannya.
Mikhasa menatap tangan itu, ragu. “Saya bisa jalan sendiri, Tuan.”
“Mau gandeng tangan atau peluk pinggang?” tanya Axel santai.
Mikhasa mendelik tajam. Rasanya ingin melempar sepatu ke wajah pria itu.
“Sekali aja nggak usah maksa, bisa nggak sih?” keluhnya.
Axel tersenyum tipis, menyebalkan. “Nggak bisa. Soalnya kamu memang tipe yang harus dipaksa.”
Pada akhirnya, Mikhasa menerima uluran tangan itu. Ia memejamkan mata sesaat ketika jari-jari Axel mengurung tangannya.
Di dalam dadanya, ia mencoba menasihati pikirannya yang kacau. Pengasuh memang harus menggandeng yang diasuh. Bayi perlu dituntun. Orang jompo juga perlu dituntun.
Dan sekarang… momong seorang Tuan Muda menyebalkan pun rupanya sama saja.
Ia menghela napas pelan, pasrah, sambil membiarkan Axel membawanya masuk.
🍀🍀🍀
Sesampainya di kontrakan, Mikhasa langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur selama dua detik, lalu memaksa bangkit. Badannya lengket, kepalanya panas. Tanpa pikir panjang, ia masuk kamar mandi, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya hingga rasa lelahnya sedikit larut.
Setelah selesai, Mikhasa mengenakan kaus longgar dan celana pendek. Rambutnya masih basah ketika ia duduk di meja lesehan kecil, satu-satunya meja yang muat di kontrakannya yang sempit. Ia menyalakan tablet kantor, membuka folder kerja Axel, lalu kembali mempelajari jadwal, laporan, dan tugas-tugas yang harus ia kuasai.
Belum lima menit fokus, ponselnya bergetar. Panggilan dari Moana, anak bibinya.
Mikhasa menahan nafas sejenak sebelum menggeser tombol hijau. “Ya, Mo?”
Di seberang, suara Moana langsung panjang dan merengek. “Kakak, uang sakuku habis. Ini juga udah waktunya bayar kos-kosan. Uang semester jangan lupa ya, Kak. Oh! Aku harus beli buku, Kak, buat referensi. Kakak bisa transfer kapan?”
Mikhasa memejamkan mata. Ia menatap tablet yang masih terbuka. Laporan-laporan kantor Axel menunggu, tagihan-tagihan pribadinya menunggu dan sekarang Moana.
“Iya, besok kakak transfer buat bayar kos-kosan sama bukumu, ya,” ucap Mikhasa akhirnya, mencoba tenang. “Tapi untuk uang jajan… kakak nggak ada lagi, Mo.”
“Kak—”
“Lagian,” potong Mikha, “Bukannya kakak baru transfer minggu lalu? Kenapa udah habis? Tolong jangan boros-boros. Kamu tahu kan, kakak di sini kerja pontang-panting buat biayain kuliah kamu. Jadi kamu juga harus bisa atur uang jajanmu, bukan boros seenaknya.”
Di telepon, Moana terdengar mendengus kesal, suara kecil, tapi jelas.
Mikhasa menatap lantai, suaranya merendah tapi jujur. “Kamu nggak kasihan sama kakak ya, Mo? Selain bayarin kuliahmu, kakak juga yang nanggung hidup keluargamu. Bapakmu yang hobi main slot dan mabuk itu… lama-lama kakak nyerah, Mo. Kakak bisa berhenti kapan aja kalau kalian nggak mau berubah. Kakak masih bertahan sampai sekarang karena masih memandang ibumu."
Keheningan sebentar. Moana tidak menjawab.
Klik. Mikhasa mematikan panggilan, menahan air mata yang mulai menggenang. Hatinya sesak, marah, letih, tapi tetap harus kuat.
Tablet masih menyala. Tugas-tugas Axel masih menunggu. Dan Mikhasa kembali meraih stylusnya, memaksa dirinya bekerja lagi.