Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hari ini Mentari berada di sebuah hotel berbintang. Bukan untuk menginap itu jelas terlalu mewah untuknya.melainkan untuk pekerjaan dadakan yang ia dapatkan dari seorang kenalan: menjadi badut penghibur di pesta ulang tahun seorang anak.
Ia sudah mengenakan kostum badut lengkap: pakaian warna-warni, wig lucu, dan riasan yang menutupi seluruh wajahnya. Sebelum masuk ke aula pesta, ia menarik napas panjang, mencoba meredam kegugupan yang entah kenapa terasa lebih kuat dari biasa.
Begitu pintu dibuka oleh panitia, kemewahan langsung menyergapnya.
Lampu kristal bergantung di langit-langit, meja-meja tertata elegan, hiasan balon mewah memenuhi ruangan, dan para tamu bergaun cantik serta jas rapi memenuhi kursi. Untuk momen sekejap, Mentari merasa kecil… sangat kecil. Tempat ini bukan dunia yang biasanya ia pijak.
Namun musik ceria segera mengalun, menandai dimulainya penampilannya. Ia pun melangkah masuk, berlenggak-lenggok lucu, membuat anak-anak tertawa. Ia melemparkan gestur-gestur jenaka, melambai, memutar tubuh, hingga suara riuh kecil anak-anak memenuhi ruangan.
Hingga akhirnya ia tiba di hadapan pemilik acara.
Seorang anak perempuan manis, mengenakan gaun putih seperti malaikat kecil… duduk di kursi roda. Tangannya yang mungil bertumpu pada pangkuannya, matanya berbinar meski tak bisa di bohongi,wajahnya pucat.
Hati Mentari langsung terhuyung.
Ia berjongkok perlahan, mensejajarkan dirinya dengan sang anak. Gerakannya lembut, penuh hormat, penuh kasih.
Dari kostumnya, ia mengeluarkan bunga warna-warni yang sengaja ia siapkan. Dengan senyum tulus,meskipun tak terlihat karena makeup badut.Lalu ia menyodorkannya.
Anak itu menerimanya dengan mata berbinar.
“Terima kasih…” ucapnya kecil namun penuh semangat.
Mentari ingin berbicara, tapi sebagai badut ia tak boleh mengeluarkan suara. Jadi ia hanya mengangguk pelan, menepuk lembut puncak kepala anak itu.
Dan di balik kostum itu, ada senyum yang retak karena haru… dan mata yang hampir berkaca-kaca.
Hingga tiba saatnya pintu aula terbuka lebar.
Seorang pria tampan dan gagah melangkah masuk, mengenakan setelan hitam yang membuat seluruh aura ruangan seolah berubah. Posturnya tegap, wajahnya tegas, dan tatapan matanya membuat beberapa tamu dewasa spontan saling berbisik, terpukau. Bahkan para ibu-ibu yang hadir tak bisa menyembunyikan kekaguman di mata mereka.
Siapa pun pria itu… dia jelas bukan orang biasa.
Gadis kecil yang sedang berulang tahun itu langsung memancarkan senyum paling cerah malam itu.
“Papa…” panggilnya dengan suara lembut namun penuh kebahagiaan.
Pria itu mengarahkan pandangannya pada putrinya,tatapannya melunak drastis. Semua kesan dingin dan berwibawa seketika runtuh ketika ia melihat anak itu. Tanpa menunggu lama, ia melangkah cepat, lalu berlutut di samping kursi roda putrinya.
“Sayang… happy birthday,” ucapnya sambil mengusap lembut rambut sang anak.
Mentari yang masih berjongkok di dekat anak itu perlahan bangkit, hendak memberi ruang. Namun di saat ia bergerak mundur, tiba-tiba tatapan pria itu bergeser dan berhenti tepat padanya.
Seolah waktu berhenti sepersekian detik.
Mata pria itu menatap ke arah Mentari,ke arah kostum badut yang mencolok, wig besar, dan riasan lucu yang seharusnya membuatnya tak terlihat apa-apa selain penghibur pesta.
Mentari yang terkejut buru-buru menunduk, menutupi wajahnya dengan gesture lucu badut, pura-pura kembali memainkan karakter.
Sementara sang anak memperkenalkan dengan bangga,
“Papa, ini badut yang Papa sewa. Dia lucu banget!”
Pria itu tersenyum tipis pada putrinya… namun matanya tidak lepas dari Mentari.
Ada sesuatu di tatapan itu.
Sesuatu yang membuat Mentari tiba-tiba merasa gugup dan takut.Bagimana tidak pria itu adalah Langit.
Dengan perasaan gugup dan was-was, Mentari tetap menjalankan perannya sebagai badut penghibur. Ia berusaha tampil ceria, membuat semua anak-anak tertawa dan bersorak gembira—termasuk Minara yang sedang berulang tahun.
Gadis kecil itu bahkan tampak paling antusias. Ia meminta ayahnya menggendongnya agar bisa menari bersama Mentari.
Sejenak Mentari tertegun. Betapa berbeda sosok pria yang saat ini menari bersama putrinya itu.
Langit yang sekarang terlihat begitu lembut dan penuh perhatian, terutama pada Minara. Tidak seperti ketika pria itu menatap Mentari dengan amarah dan dendam yang hampir membuatnya luluh lantak.
“Sebenarnya… seperti apa dirimu, Langit?” gumam Mentari dalam hati.
Hingga akhirnya acara mencapai puncaknya.
Semua tamu berkumpul mengelilingi Minara yang bersiap meniup lilin ulang tahunnya. Langit berdiri tepat di belakang putrinya, mendampingi dengan penuh kasih. Sementara Mentari berada di sisi kanan Minara, karena gadis kecil itu menolak melepas badut penghiburnya sedetik pun.
Sejenak Mentari termenung menatap Minara. Gadis kecil itu memiliki ayah yang begitu baik dan menyayanginya sesuatu yang dulu jarang ia rasakan. Namun ada satu hal yang membuat dada Mentari terasa sesak: tidak ada sosok ibu di sisi Minara.
Tiba-tiba air mata Mentari jatuh tanpa bisa ia tahan. Sebuah kesadaran pahit menyergapnya.
Ibu Minara… mungkin adalah wanita yang telah tewas beberapa tahun lalu.
Dan dirinya,dirinya penyebab anak itu menderita.
Pesta semakin meriah seiring bertambahnya tamu yang datang. Meski acara utama telah usai, hingga detik ini jumlah tamu tak juga berkurang. Musik, lampu, dan tawa anak-anak memenuhi ruangan, namun Mentari justru merasa sesak.
Sejak tadi ia ingin sekali pergi dari tempat itu. Ada ketakutan yang terus menghantuinya,ketakutan bahwa wajah di balik topeng badut itu akan diketahui oleh Langit. Hanya membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri. Betapa mengerikannya jika pria itu menyadari bahwa badut yang ia sewa untuk memeriahkan pesta ulang tahun putrinya… adalah dirinya sendiri.
Di tengah keramaian itu, suara kecil Minara menarik Mentari kembali pada dunia nyata.
"Aku kasihan sama Papa… kalau aku meninggal nanti, Papa akan sendirian. Kakek dan Nenek kan tidak begitu menyukai aku," ucap Minara lirih sambil menatap lantai.
Kalimat polos itu menusuk jantung Mentari seperti pisau.
"Kenapa Mina berpikir seperti itu, Nak? Kamu pasti sehat terus, sayang,” ucap Mentari akhirnya, suaranya lembut namun bergetar.
Minara yang sedari tadi hanya fokus pada keluhannya terperanjat ketika mendengar suara itu. Ia tampak memiringkan kepala, menatap wajah bertopeng yang bicara dengannya.
“Lho… jadi badutnya perempuan?” tanyanya polos, matanya membesar heran.
Mentari tak punya pilihan selain mengangguk pelan.
“Oh…” Minara hanya menggumam, seolah menerima penjelasan sederhana itu tanpa curiga. Lalu perlahan, ia kembali menoleh ke arah papanya. Langit tampak sedang tertawa bersama rekan bisnisnya, benar-benar tenggelam dalam pembicaraan formal yang begitu jauh dari keluh kesah putrinya.
Pandangan Mentari tiba-tiba terpaku pada sepasang tamu yang baru saja memasuki ruangan. Dadanya langsung bergetar hebat, napasnya tercekat. Bahkan bola yang sedang ia pegang terlepas begitu saja, jatuh dan menggelinding tanpa arah.
Di depan sana, seorang wanita cantik melangkah dengan anggun, tatapannya percaya diri, senyum kecil menghiasi bibirnya seolah ia tahu semua mata akan tertuju pada dirinya.
Namun bukan wanita itu yang membuat tubuh Mentari seperti membeku.
Melainkan pria yang digandengnya.
Pria yang amat ia kenal.
"Abi?"
Bersambung...
Terapkan hati mu Mario untuk memilih Jessica sebagai pasangan yg akan menemanimu di saat Bahagia dan Susahmu, Tebus kesalahan mu dengan membahagiakan istri dan anakmu kelak.
Sudah cukup Abi / Mario menerima balasan atas perbuatan buruknya dulu.
waktu lahiran Arkana gitu skg lhran k dua tmbh kocaknya 😁
oh berarti Engel sangat jahat dan kejam ya berdua eva dan sekarang kedua nya sudah musnahkan haduh jangan lama lama lama orang seperti itu ada di dunia
sampah masyarakat jadinya