NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 Raka dan Adiknya Dimas

Langkahku masih berat ketika aku kembali dari warung. Obat sudah di tangan, tapi tubuhku belum juga terasa ringan.

Jalan tanah basah membuat kakiku sesekali terpeleset, dan embun yang menempel di udara siang ini menambah dingin yang menusuk.

Di tikungan, aku melihat lagi anak kecil tadi. Ia kini sedang mengayuh sepedanya dengan riang, rantai yang tadi kupasang berputar mulus.

Senyumnya masih sama, tapi kali ini ada sosok lain berdiri tak jauh darinya. Seorang pria muda, tubuhnya tegap, mengenakan kaos lusuh dengan noda oli di bagian dada.

Di tangannya, ia memegang helm hitam yang tampak sudah sering dipakai. Aku mengenali wajahnya, tetangga sebelah, pemilik motor tua yang tadi memekakkan telinga dengan suara knalpot.

Anak kecil itu berlari mendekat ke pria itu, berseru, "Kak! Sepedanya udah bisa lagi! Kak Mira yang benerin!"

Pria itu menoleh padaku. Tatapannya tajam, tapi bukan marah. Ada semacam rasa ingin tahu, bercampur canggung.

Ia mengangguk pelan, lalu berkata dengan suara berat, "Jadi kamu yang bantu Dimas?"

Aku tersenyum samar, meski kepala masih berputar. Menyempatkan diri menyapa Dimas, "Halo Dimas," Aku lanjut menatap pria itu, "Iya, cuma bantu sedikit kok."

Ia mendekat, langkahnya mantap di tanah becek. "Makasih ya. Biasanya aku yang benerin, tapi sekarang lagi belum kepegang aja."

Dimas mendekat ke arahku, menarik celana yang kedodoran sambil berkata, "Kak Mira, tau nggak... Kata abang kalo sepeda aku rusak lagi. Mau di jual sama abang!"

Pria itu dengan jengkel menjawab, "Kalo abang benerin sepeda kamu terus, motor abang kapan diservice nya?!" Bentak balik si pria. Dimas tertawa kencang dan berlarian memutariku.

Aku menahan napas sejenak. Suara knalpot yang tadi masih terngiang di telinga, membuat kepalaku berdenyut. "Motor itu, kenceng juga. Suaranya," ucapku tanpa sadar, lebih seperti gumaman.

Pria itu tersenyum tipis, seolah menyadari maksudku. "Hmm, maaf kalau berisik. Maklum, motor tua, jadi harus dipanasin agak lama. Kalo nggak, bisa mati di tengah jalan."

Ada jeda hening. Dimas kini kembali mengayuh sepedanya, meninggalkan kami berdua. Aku merasakan tatapan pria itu, bukan menghakimi, tapi seperti membaca diriku.

"Aku Raka," akhirnya memperkenalkan diri. "Kakaknya Dimas."

Aku mengangguk pelan. "Mira."

Raka masih menatapku, kali ini lebih lama. Matanya menyipit sedikit, seolah mencoba membaca sesuatu di wajahku.

Aku berusaha berdiri tegak, tapi tubuhku terasa goyah. Obat di genggaman hampir terlepas ketika jemariku bergetar.

"Kamu sakit?" ucap Raka pelan, nada suaranya berubah jadi lebih serius. "Mukamu pucat."

Aku tersenyum tipis, mencoba menepis. "Nggak apa-apa. Cuma... agak pusing."

Raka mendekat, jarak kami kini hanya beberapa langkah. Ia menaruh helm di lengannya, lalu menatapku dengan sorot khawatir yang tak bisa disembunyikan. "Mau aku antar pulang?"

Aku sempat ragu, menimbang gengsi dan rasa sungkan. Tapi langkahku memang berat, dan jalan tanah yang licin membuatku takut jatuh.

"Aku bisa jalan sendiri," jawabku lirih, meski suaraku terdengar rapuh.

Raka menggeleng, nada tegas tapi tetap hangat. "Nggak usah maksa. Rumah kita kan deket. Aku antar. Dimas!" panggilnya.

Anak kecil itu berhenti mengayuh sepeda, menoleh dengan wajah penuh keringat. "Apa, Bang?"

"Main sendiri dulu di sini. Abang antar Kak Mira pulang sebentar."

Dimas mengangguk riang, lalu kembali berputar dengan sepedanya. Raka menoleh padaku lagi. "Ayo naik, kalo pusing pegangan aja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!