NovelToon NovelToon
Saat Mereka Memilihnya Aku Hampir Mati

Saat Mereka Memilihnya Aku Hampir Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Dilarang keras menyalin, menjiplak, atau mempublikasikan ulang karya ini dalam bentuk apa pun tanpa izin penulis. Cerita ini merupakan karya orisinal dan dilindungi oleh hak cipta. Elara Nayendra Aksani tumbuh bersama lima sahabat laki-laki yang berjanji akan selalu menjaganya. Mereka adalah dunianya, rumahnya, dan alasan ia bertahan. Namun semuanya berubah ketika seorang gadis rapuh datang membawa luka dan kepalsuan. Perhatian yang dulu milik Elara perlahan berpindah. Kepercayaan berubah menjadi tuduhan. Kasih sayang menjadi pengabaian. Di saat Elara paling membutuhkan mereka, justru ia ditinggalkan. Sendiri. Kosong. Hampir kehilangan segalanya—termasuk hidupnya. Ketika penyesalan akhirnya datang, semuanya sudah terlambat. Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata maaf. Ini bukan kisah tentang cinta yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

si bermuka dua

Keesokan paginya, Arsen dan Elara tiba di sekolah dengan tepat waktu. Udara pagi masih terasa sejuk, namun suasana di sekitar parkiran justru terasa berbeda. Biasanya, Kairo, leo dan Ezra sudah berdiri di sana, menyambut mereka dengan senyum hangat dan candaan ringan. Namun pagi ini, hanya Kaizen dan Nayomi yang terlihat—tanpa kehadiran sahabat-sahabat lain yang biasanya selalu ramai.

Kaizen berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada mobil, sementara Nayomi tersenyum tipis ke arah Elara.

“Ell,” sapa Nayomi dengan senyum manis yang dipaksakan.

“Hai, Nay,” balas Elara pelan, berusaha tersenyum walau perasaannya terasa tidak nyaman.

“Ke kelas yuk,” ucap Kaizen singkat sambil menggenggam tangan Nayomi, lalu berjalan lebih dulu.

Langkah Elara terhenti sesaat. Biasanya, mereka akan saling tersenyum atau menyapa dengan ramah. Namun kini, yang ia dapatkan hanyalah tatapan sinis dari beberapa siswa di sekitar parkiran. Bisik-bisik mulai terdengar jelas, seolah sengaja ingin didengar.

“Kok si Arsen mau sih pacaran sama Elara?”

“Kalau gue sih mending putusin. Awalnya ngebully satu orang, tapi gimana kalau nanti ngebully orang-orang yang deketin Arsen?”

“Gue sih nggak mau punya cewek posesif parah kayak gitu.”

“Kayaknya Elara jual diri deh ke si Arsen.”

Setiap kata itu terasa seperti pisau yang menusuk. Elara mengepalkan tangannya, amarahnya mendidih. Dadanya naik turun menahan emosi yang nyaris meledak. Namun sebelum ia sempat bereaksi, Arsen dengan tenang menggenggam tangannya, seolah berkata tanpa kata bahwa ia tidak sendirian.

“Udah, El. Nggak perlu peduliin mereka,” ucap Nayomi, berusaha menenangkan.

Elara mengangguk pelan, meski matanya masih memancarkan kemarahan yang tertahan.

Namun tiba-tiba, langkah kaki seseorang mendekat. Vira berdiri di hadapan mereka dengan senyum manis yang terlihat dibuat-buat.

“Hai,” sapa Vira ceria.

Tak ada yang langsung menjawab. Keheningan terasa canggung. Vira lalu melirik ke arah Elara, sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan.

“El, aku udah maafin kamu kok,” ucapnya lembut. “Jadi kamu jangan ngerasa bersalah gitu.”

Alis Nayomi langsung berkerut. “Ngapain El minta maaf sama lo? Lagian dia juga nggak ngebully lo.”

“Kamu nggak tau, Nay,” jawab Vira sambil menunduk, berpura-pura sedih. “Elara bully aku di toilet kemarin.”

“Itu mah bohong. Bukannya lo yang nampar diri lo sendiri—”

“Nay,” potong Elara cepat sambil menahan tangan Nayomi. Suaranya pelan, tapi tegas. “Jangan.”

Nayomi menatap Elara heran. Elara mendekat dan berbisik, “Gue masih mau liat permainannya.”

Arsen yang sejak tadi diam akhirnya melangkah maju. “Udah, jangan peduliin mereka. Kita ke kelas sekarang.”

Namun Vira belum menyerah. Ia menoleh ke arah Arsen, wajahnya menunjukkan ekspresi terluka. “Arsen, kok kamu bisa percaya sih sama El? Di sini aku korbannya.”

Arsen menatapnya dingin.

“Jangan karena dia pacar kamu, kamu jadi tutup mata gini,” lanjut Vira, suaranya bergetar seolah menahan tangis.

Kesabaran Arsen habis. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam. “Gue bilang diem, anj*ng,” ucapnya rendah namun penuh ancaman. “Sekali lagi lo nuduh pacar gue yang enggak-enggak, habis lo.”

Tanpa menunggu jawaban, Arsen menarik tangan Elara dan membawanya pergi, meninggalkan Vira yang terdiam dengan wajah memucat.

Tangan Vira mengepal kuat. Kukunya menancap di telapak tangan sendiri. Amarah dan rasa malu bercampur menjadi satu. Namun sebelum ia sempat meluapkan emosinya, Ezra tiba-tiba berdiri di hadapannya.

“Lagi ngapain?” tanya Ezra datar.

Vira segera mengubah ekspresinya. “Aku tadi bilang ke Arsen jangan tutup mata sama kejadian kemarin. Tapi dia malah belain El dan marahin aku,” ucapnya dramatis.

Ezra hanya mendengus kecil. “Biarin aja. Dia emang udah cinta buta sama si El.”

“Ayo ke kelas,” lanjut Ezra tanpa emosi.

“Iya,” jawab Vira sambil tersenyum tipis.

Saat mereka berjalan menjauh, Vira menunduk sedikit, bibirnya melengkung membentuk senyum miring.

Mereka bertiga udah mulai percaya sama gue, El, batinnya puas. Tinggal Arsen, Kaizen, dan Nayomi.

Dan permainan itu baru saja dimulai.

★★★

Nayomi dan Elara masih duduk berhadapan di salah satu meja kantin. Dua mangkuk mie ayam di depan mereka hampir tandas. Elara memutar sumpitnya pelan, sementara Nayomi sibuk menyeruput kuah dengan ekspresi puas.

“Enak banget sumpah, mie ayam sini gak pernah gagal,” ucap Nayomi.

Elara mengangguk kecil. “Iya… lumayan buat nenangin pikiran.”

Belum sempat Nayomi menimpali, suara speaker kantin tiba-tiba menyala, memecah riuh rendah obrolan para siswa.

“Perhatian. Kepada Elara Nayendra Aksani, dimohon segera menuju ruang BK. Sekali lagi, Elara Nayendra Aksani, menuju ruang BK.”

Gerakan Elara terhenti. Sumpitnya menggantung di udara. Beberapa siswa di sekitar mereka langsung menoleh, ada yang berbisik, ada pula yang terang-terangan memandang dengan tatapan penuh arti.

Nayomi menurunkan mangkuknya dengan kasar. “Pasti gara-gara itu lagi.”

Elara menghela napas pelan. “Kayaknya iya.”

“Gue ikut,” ujar Nayomi cepat.

Elara menggeleng. “Gak usah, Nay. Nanti malah makin ribet. Gue bisa sendiri.”

Nayomi menatapnya ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Kalo ada apa-apa, langsung kabarin gue.”

Elara berdiri, membereskan nampannya, lalu melangkah pergi dari kantin dengan punggung tegak, meski dadanya terasa sesak. Di sepanjang jalan menuju ruang BK, bisikan-bisikan terus terdengar.

Elara menggenggam tangannya kuat-kuat, memaksa dirinya tetap berjalan tanpa menunduk.

Sesampainya di depan ruang BK, Elara mengetuk pintu pelan.

“Masuk.”

Di dalam ruangan itu, Elara langsung melihat sosok yang paling tak ingin ia temui. Vira duduk di salah satu kursi, bahunya sedikit membungkuk, wajahnya pucat, dan matanya sembab seolah baru saja menangis. Di sampingnya duduk seorang guru BK dan satu wali kelas.

“Duduk, Elara,” ucap guru BK dengan nada datar.

Elara menuruti, duduk di kursi seberang Vira. Pandangan mereka bertemu sesaat. Vira langsung menunduk, seolah ketakutan.

“Kami memanggil kamu terkait laporan dugaan perundungan yang terjadi di toilet perempuan kemarin,” ujar guru BK membuka pembicaraan.

Elara menarik napas dalam. “Saya tidak melakukan perundungan, Bu.”

Vira langsung terisak. “Aku… aku gak bohong, Bu. Waktu itu aku beneran dibully, Elara nampar aku, terus ngomong buat jauhin arsen ke aku.”

Elara menoleh tajam. “gue gak pernah nyentuh lo, Vira. gue juga gak maksa lo ngapa-ngapain.”

“Tapi kamu mengintimidasi aku,” balas Vira lirih, suaranya bergetar. “Aku sampai gemetar dan gak bisa mikir jernih.”

Guru BK mengangkat tangan, menghentikan mereka. “Elara, ada saksi yang melihat kondisi Vira setelah kejadian. Seragamnya berantakan, wajahnya memerah.”

“Itu bukan aku yang lakuin,” tegas Elara. “Dia sendiri—”

“Cukup,” potong wali kelas. “Kami butuh ketenangan di sini.”

Elara terdiam, dadanya naik turun. Ia ingin berteriak, ingin membela diri lebih keras, tapi suasana ruangan seolah menekannya.

“Kami sudah mempertimbangkan laporan dan kondisi psikologis Vira,” lanjut guru BK. “Untuk sementara, pihak sekolah memutuskan memberikan sanksi skorsing kepada kamu.”

Elara membeku. “Skors… Bu?”

“Selama tiga hari. Terhitung mulai besok,” ucap wali kelas tanpa ekspresi.

“Tapi saya tidak bersalah,” suara Elara bergetar, kali ini tak bisa ia sembunyikan. “Saya bahkan punya—”

“Kami mengerti perasaanmu,” potong guru BK lagi. “Namun keputusan ini sudah melalui pertimbangan pihak sekolah. Kamu bisa gunakan waktu skorsing ini untuk menenangkan diri.”

Air mata Elara akhirnya jatuh. “Ini gak adil.”

Vira menunduk lebih dalam, tapi di balik rambut yang menutupi wajahnya, senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

Elara berdiri dengan tangan gemetar. “Kalau memang itu keputusannya, saya terima. Tapi saya tidak akan mengaku melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan.”

Tanpa menunggu jawaban, Elara melangkah keluar dari ruang BK. Begitu pintu tertutup, langkahnya melemah. Ia bersandar di dinding koridor, menghapus air matanya dengan kasar.

Di sisi lain sekolah, Arsen baru saja selesai latihan vokal bersama Kaizen dan anggota ekskul musik. Ponselnya bergetar di saku. Satu pesan masuk dari Nayomi.

El di-skor 3 hari. Gara-gara Vira.

Ekspresi Arsen berubah seketika. Rahangnya mengeras, matanya meredup.

“Ada apa?” tanya Kaizen.

Arsen menatap layar ponselnya lama sebelum menjawab, suaranya dingin.

“Kayaknya… masalahnya lebih besar dari yang gue kira.”

Dan di sudut sekolah lain, Vira melangkah keluar ruang BK dengan wajah lemah—namun hatinya dipenuhi kepuasan.

1
Mutt Oktadila
💓💓💓
Remince Silalahi
ko tiba2 habis g ada sambungan
tiaahyeon: besok update lagi kok, sehari itu bisa upload 2/3 bab ditunggu ya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!