NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benteng Es di Andes

​Jet tempur tak berawak yang dikendalikan Aegis membelah awan tipis di atas puncak-puncak bersalju Cordillera Blanca, Peru. Di bawah mereka, jurang-jurang terjal menganga seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang melakukan kesalahan navigasi sekecil apa pun.

​"Suhu di luar mencapai minus empat puluh derajat," suara Aegis bergema tenang di kokpit. "Sistem pemanas setelan taktis kalian telah dioptimalkan. Namun, oksigen di ketinggian 5.500 meter ini akan menjadi tantangan fisik yang nyata bagi kalian, bahkan dengan pelatihan Unit Phoenix."

​Elara memeriksa masker oksigennya, memastikan segelnya kedap udara. Di sampingnya, Zian sedang memindai peta topografi yang diproyeksikan Aegis ke kaca kokpit.

​"Di mana pintu masuknya?" tanya Zian. "Aku hanya melihat dinding es vertikal."

​"Itulah kehebatan 'The Council of Eternity'," jawab Aegis. "Pintu masuk pangkalan mereka menggunakan teknologi kamuflase struktur. Secara visual, itu adalah dinding es. Namun, secara molekuler, itu adalah baja yang diperkuat."

​Hologram di depan mereka berkedip merah. "Peringatan. Sistem pertahanan otomatis pangkalan mendeteksi kita. Sinyal radar pengunci terdeteksi."

​"Aegis, manuver mengelak!" teriak Elara.

​Jet itu miring tajam ke kiri, menghindari rudal permukaan-ke-udara yang melesat dari balik salju. Ledakan terjadi di belakang mereka, memicu longsoran salju masif yang menutupi lereng gunung.

​"Aku tidak bisa mendaratkan jet ini tanpa hancur," kata Aegis. "Kalian harus melakukan peluncuran kursi pelontar di titik koordinat ini. Aku akan mengalihkan perhatian sistem pertahanan dengan menabrakkan jet ini ke menara sensor mereka."

​"Lakukan!" Zian menarik tuas pelontar.

​BOOM!

​Elara dan Zian terlontar ke udara dingin yang membekukan. Parasut hitam mereka terbuka di tengah badai salju, membuat mereka tampak seperti dua bintik kecil di tengah putihnya dunia. Di bawah mereka, jet yang tadi mereka tumpangi meledak menghantam puncak menara sensor, menciptakan kembang api raksasa di tengah siang hari yang kelabu.

​Mereka mendarat dengan keras di teras berbatu yang sempit. Elara segera mencabut ice-axe taktisnya, menancapkannya ke dinding es agar tidak merosot ke jurang sedalam seribu meter.

​"Zian! Kau aman?"

​Zian, yang mendarat beberapa meter di atasnya, mengacungkan jempol. "Hampir menjadi es lilin, tapi aku baik-baik saja."

​Aegis kembali terdengar melalui perangkat di telinga mereka. "Bagus. Kalian berada tepat di atas pintu masuk ventilasi pembuangan panas. Itu adalah satu-satunya titik lemah dalam struktur benteng ini. Aku akan meretas sistem pengunci pintu dari dalam jaringan mereka sekarang."

​Tiba-tiba, sebuah lempengan es besar bergeser, memperlihatkan lubang melingkar yang mengeluarkan uap panas. Elara dan Zian segera meluncur masuk sebelum pintu itu menutup kembali.

​Mereka mendarat di koridor yang sangat kontras dengan lingkungan luar. Dindingnya terbuat dari logam putih yang bersih dengan pencahayaan neon biru yang futuristik. Di sini, gravitasi terasa sedikit lebih kuat, dan udara berbau steril seperti laboratorium medis.

​"Selamat datang di 'The Hive'," kata Aegis. "Ini adalah pusat penelitian utama Council untuk Proyek Keabadian. Di sinilah mereka menyimpan data asli dari peradaban kuno yang ditemukan ayahmu."

​"Kael, kau sudah masuk?" tanya Elara.

​"Aku di sini, Elara," suara Kael terdengar lebih stabil sekarang. "Aegis memberiku jalur akses khusus. Aku sedang mengunduh manifest pangkalan ini. Teman-teman... kalian tidak akan percaya ini. Mereka bukan hanya menyimpan DNA peradaban kuno. Mereka sedang mencoba membangkitkan salah satu dari mereka."

​"Maksudmu... menghidupkan kembali manusia purba?" Zian bertanya sambil memeriksa sudut koridor.

​"Bukan manusia purba biasa," sela Aegis. "Berdasarkan data genetik, subjek yang mereka sebut 'The First' memiliki struktur sel yang mampu meregenerasi diri tanpa batas. Jika mereka berhasil mengintegrasikan DNA itu dengan milikmu, Elara, mereka akan menciptakan entitas yang tidak bisa mati."

​Langkah mereka terhenti di depan sebuah aula besar yang dikelilingi oleh tabung-tabung kaca raksasa. Di dalam tabung-tabung itu, terdapat makhluk-makhluk yang tampak seperti manusia namun dengan kulit yang bersisik halus dan anggota tubuh yang lebih panjang.

​"Eksperimen yang gagal," gumam Elara dengan rasa mual.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur terdengar. Pasukan elit Council, yang dikenal sebagai 'The Immortals', muncul dari setiap penjuru aula. Mereka mengenakan zirah emas yang ramping dan memegang tombak energi yang berderik dengan listrik biru.

​"Mayor Vanya. Kolonel Arkana. Anda datang tepat waktu untuk upacara penyambutan," sebuah suara feminin yang dingin bergema.

​Dari balkon atas, Madame X muncul. Kali ini, separuh wajahnya tertutup oleh topeng logam yang menyatu dengan kulitnya—bekas luka dari ledakan di Amazon.

​"Madame X," desis Elara. "Kau benar-benar sulit mati."

​"Berkat teknologi yang kau coba hancurkan, Elara," Madame X menyentuh topeng logamnya. "Dewata telah memilihku untuk menjadi perantara mereka. Dan kau adalah kuncinya."

​Madame X memberi isyarat. Pasukan Immortals menerjang dengan kecepatan yang melampaui Chimera mana pun yang pernah mereka hadapi. Tombak energi mereka membelah udara, meninggalkan jejak listrik yang membakar karpet aula.

​Zian melepaskan tembakan, namun zirah emas para Immortals mampu membiaskan energi peluru. "Elara! Senjata konvensional tidak mempan!"

​"Aegis! Ada saran?" teriak Elara sambil menghindari tikaman tombak yang nyaris membelah kepalanya.

​"Gunakan frekuensi resonansi!" jawab Aegis. "Zirah mereka menggunakan ikatan molekuler yang sensitif terhadap suara frekuensi tinggi. Aku akan memancarkan sinyal sonik melalui perangkat komunikator kalian. Aktifkan mode Burst pada senjata kalian!"

​Elara dan Zian menekan tombol pada senjata mereka. Suara dengung yang menyakitkan telinga keluar dari speaker kecil di laras senjata. Saat mereka menembak kali ini, peluru mereka membawa gelombang sonik yang membuat zirah emas lawan bergetar hebat hingga retak.

​CRACK!

​Zirah salah satu musuh pecah, memperlihatkan tubuh manusia di dalamnya yang segera tumbang terkena peluru berikutnya.

​Pertarungan itu berlangsung sengit. Elara bergerak seperti badai, menggunakan tombak salah satu musuh yang sudah jatuh untuk melawan musuh lainnya. Zian memberikan dukungan tembakan yang menghancurkan barisan depan musuh.

​"Kita harus mencapai lift utama ke lantai bawah!" teriak Zian.

​Mereka berlari menembus kepungan musuh, sementara Madame X hanya menonton dengan senyum sinis dari atas. Dia tahu bahwa di bawah sana, sesuatu yang jauh lebih berbahaya sedang menanti mereka.

​"Biarkan mereka turun," gumam Madame X kepada ajudannya. "The First membutuhkan inang yang segar. Dan darah Elara adalah yang terbaik."

​Elara dan Zian berhasil masuk ke lift. Saat pintu lift tertutup, mereka merasakan gerakan turun yang sangat cepat.

​"Aegis, apa yang ada di lantai bawah?" tanya Elara dengan napas terengah-engah.

​Hening sejenak. "Sesuatu yang belum pernah kulihat dalam database ayahmu, Elara. Sebuah ruang inkubasi yang memancarkan energi biologis yang sangat masif. Hati-hati... detak jantung subjek di bawah sana... dia sudah bangun."

​Pintu lift terbuka. Bau tanah basah dan udara purba menyeruak masuk. Di depan mereka, di tengah ruangan yang gelap, sebuah sarkofagus batu yang dikelilingi oleh kabel-kabel futuristik mulai terbuka.

​Cahaya keunguan memancar dari dalamnya, dan sebuah tangan panjang dengan kuku tajam mencengkeram tepi sarkofagus.

​"Selamat datang di akhir dunia lama," suara Madame X terdengar melalui speaker lift. "Dan awal dari keabadian yang berdarah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!