NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

aroma kopi yang kuat dan alunan musik jazz pelan mengisi sudut sebuah kafe estetik di pusat kota. Raisa duduk berhadapan dengan Tasya yang tampak jauh lebih segar. Ada binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan dari wajah sahabatnya itu, sesuatu yang membuat Raisa ikut merasa lega.

"Rai, kamu tahu tidak?" Tasya memulai pembicaraan dengan suara yang bersemangat, jemarinya menggenggam cangkir teh hangat. "Kemarin aku ikut pengajian di rumah keluarga Dokter Fatih. Dan... aku bertemu dengan orang tuanya."

Raisa meletakkan cangkir kopinya, memberikan perhatian penuh. "Oh ya? Bagaimana mereka?"

Tasya tersenyum lebar, pipinya sedikit merona. "Ibu Indah, mamanya Dokter Fatih, baik sekali. Beliau memujiku di depan banyak orang. Beliau bilang wajahku teduh, dan yang paling membuatku kaget... Rima bilang padaku secara rahasia kalau Ibu Indah sangat tertarik untuk menjodohkanku dengan Fatih."

Mendengar nama Fatih disebut dalam konteks perjodohan, ada denyut halus yang sempat melintas di dada Raisa. Namun, ia segera menepisnya.

"Itu kabar luar biasa, Sya," ucap Raisa dengan ceria. Ia meraih tangan Tasya dan menggenggamnya erat. "Kamu pantas mendapatkan pria yang tulus seperti dia. Dokter Fatih mungkin kaku, tapi kita tahu dia sangat bertanggung jawab."

"Iya, kan? Kemarin saja, saat aku kesulitan membawa nampan, dia langsung sigap membantuku. Rima sampai menggodanya habis-habisan karena katanya Dokter Fatih jarang sekali mau membantu perempuan kalau bukan urusan medis," lanjut Tasya dengan nada bahagia.

Tasya sengaja tidak menceritakan bagian di mana Gavin memuji seorang guru hebat di depan keluarga besar Ar-Rais. Baginya, itu hanyalah cerita selingan yang tidak terlalu penting dibandingkan restu yang ia rasakan dari Ibu Indah.

Raisa tersenyum tipis. Tidak ada rasa cemburu, hanya ada rasa syukur. Baginya, kebahagiaan Tasya adalah prioritas. Jika pria yang selama ini bersikap dingin padanya ternyata adalah pelabuhan terakhir bagi sahabatnya, maka Raisa akan menjadi orang pertama yang mendukung mereka.

"Aku senang melihatmu sebahagia ini, Sya," bisik Raisa. "Setelah semua pengobatan dan rasa sakit yang kamu lalui, melihatmu tersenyum karena jatuh cinta adalah obat terbaik."

Tasya mengangguk, matanya berkaca-kaca karena haru. "Terima kasih, Rai. Kamu selalu ada untukku. Nanti, kalau hubungan ini berlanjut, kamu harus tetap jadi orang pertama tampat aku curhat, ya?"

Raisa tertawa kecil, meski di sudut hatinya ada sedikit ruang hampa yang tak ia pahami.

"Tentu saja. Aku akan selalu mendengarkan ceritamu"

......................

Sore itu, koridor Rumah Sakit Medika tampak lebih tenang. Raisa berjalan berdampingan dengan Tia menuju ruang rawat Vina. Sesuai janji mereka, hari ini adalah hari di mana Vina diperbolehkan pulang, sebuah momen yang sudah lama dinantikan untuk memulai babak baru pemulihan mental gadis itu.

Namun, saat mereka melewati area lobi utama, langkah Raisa sempat tertahan sejenak. Dari arah berlawanan, ia melihat sosok tinggi tegap dengan jas putih yang terpasang rapi.

Itu Fatih.

Pria itu tampak sedang mendiskusikan sesuatu dengan seorang perawat senior.

Sejenak, bayangan percakapannya dengan Tasya di kafe kemarin mendadak terputar kembali di benak Raisa. Kalimat Tasya tentang perjodohan, tentang restu Ibu Indah, dan tentang betapa bahagianya sahabatnya itu, menghujam pikiran Raisa.

Raisa berjalan seolah tidak ada orang di sana, pandangan nya pun hanya lurus kedepan.

Fatih, yang sebenarnya sudah menyadari kehadiran Raisa sejak gadis itu menginjakkan kaki di lobi, menghentikan pembicaraannya dengan perawat. Ia berdiri mematung, menatap punggung Raisa yang menjauh.

Matanya yang biasanya dingin dan analitis kini memancarkan sesuatu yang lain, seperti sebuah ketertarikan yang dalam, seolah setiap langkah yang diambil Raisa adalah detak yang ia hitung di dalam kepalanya.

Baginya, Raisa bukan sekadar guru keponakannya, ada magnet yang selalu menarik perhatiannya ke mana pun gadis itu pergi.

Raisa tidak menyadari tatapan itu, tapi Tia menyadarinya.

Sebagai seorang guru BK yang terlatih membaca gerak-gerik dan emosi manusia, Tia menangkap momen singkat namun intens tersebut. Ia melirik Raisa yang tampak gelisah, lalu menoleh ke belakang, melihat Dokter Fatih yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri, tetap menatap Raisa hingga gadis itu menghilang di balik lift.

Suasana hening sejenak sebelum Tia akhirnya membuka suara dengan nada menggoda namun lembut.

"Rai, kamu sadar tidak kalau Dokter Fatih tadi menatapmu seperti... enggan melepas pandangan?"

Raisa tersentak, ia mencoba tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya. "Ah, masa? Kamu salah lihat mungkin, Tia. Dia kan memang terkenal dingin, mungkin dia cuma sedang melamun soal kasus medisnya."

Tia menggeleng pelan, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Aku guru BK, Rai. Aku tahu bedanya orang yang sedang melamun dengan orang yang sedang mengagumi sesuatu dari jauh. Pandangan dokter itu tadi... tidak seperti pandangan seorang dokter kepada orang asing."

Raisa terdiam. Ia meremas tali tasnya. "Tia, jangan bahas itu. Aku tidak mau ada salah paham."

Tia mengerutkan kening seperti ada yang di sembunyikan oleh rekan nya ini.

" Tapi mata pria itu tadi berkata lain, Rai. hati seseorang biasanya punya jalannya sendiri."

Raisa hanya menghela napas panjang saat pintu lift terbuka. "Sudahlah, yang paling penting sekarang adalah Vina. Ayo."

Meskipun ia berusaha fokus pada Vina, bayangan tatapan Fatih yang diceritakan Tia tadi diam-diam meninggalkan jejak yang membingungkan di sudut hati Raisa yang paling dalam.

......................

Suasana di dalam mobil SUV milik Tia terasa cukup padat namun hangat. Vina duduk di kursi tengah, diapit oleh kedua orang tuanya yang sejak tadi tidak berhenti menggenggam tangannya. Di kursi depan, Tia fokus menyetir sementara Raisa duduk di sampingnya, sesekali melirik melalui spion tengah untuk memastikan kondisi muridnya itu.

Sejak mesin mobil menyala dan mereka meninggalkan lobi Rumah Sakit Medika, Vina tampak lebih banyak diam. Jari-jarinya yang mungil terus memainkan ujung kain bajunya, sebuah tanda kecemasan yang sangat dipahami oleh Raisa dan Tia.

Pergulatan Batin di Perjalanan Pulang

Vina menatap keluar jendela. Deretan gedung dan keramaian kota yang selama beberapa minggu ini hanya bisa ia lihat dari balik kaca jendela kamar rawat, kini terasa begitu dekat dan mengancam. Baginya, dunia luar bukan lagi tempat bermain yang aman, melainkan labirin penuh risiko.

"Vina? Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Ibu Vina dengan suara sangat lembut, menyadari napas putrinya yang mulai pendek.

Vina tersentak kecil, lalu mengangguk ragu. "Hanya... sedikit pusing, Bu. Ramai sekali di luar."

Mendengar itu, Raisa memutar tubuhnya ke belakang. Ia memberikan senyum paling menenangkan yang ia miliki.

"Vina, dengarkan Ibu ya," ucap Raisa dengan nada rendah yang stabil. "Wajar sekali kalau kamu merasa gugup. Ini langkah besar pertama kamu. Tapi lihat ke kanan dan kiri kamu. Ada Ayah, Ibu, dan Bu Tia di sini. Kita semua adalah benteng kamu. Kamu tidak sendirian di tengah keramaian itu."

Ayah Vina mengusap kepala putrinya. "Betul kata Bu Raisa, Nak. Ayah tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Kita pulang ke rumah, ke kamar kamu yang nyaman. Semuanya akan baik-baik saja."

Tia, yang sedang mengemudi, mencoba mencairkan suasana dengan cara yang lebih taktis sebagai seorang guru BK. Ia menyalakan pemutar musik dengan volume rendah, memainkan instrumen alam yang menenangkan.

"Vina, coba tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan perlahan," instruksi Tia sambil tetap fokus ke jalanan. "Bayangkan setiap kali kamu mengembuskan napas, rasa gugup itu ikut keluar dan terbang jauh lewat jendela. Kita tidak akan langsung ke sekolah besok, jadi jangan pikirkan beban itu dulu. Tugas kamu sekarang cuma satu menikmati udara di rumah."

Vina mencoba mengikuti instruksi Tia. Perlahan, kepalan tangannya yang kaku mulai melonggar.

"Terima kasih, Bu Raisa, Bu Tia... sudah mau mengantar Vina sampai pulang," bisik Vina lirih, mulai berani menatap spion tengah dan bertemu mata dengan Raisa.

Meski Raisa sedang berusaha sekuat tenaga menguatkan Vina, pikirannya sendiri tidak sepenuhnya tenang. Kata-kata Tia di lift tadi tentang pandangan Dokter Fatih terus berdenging di telinganya seperti kaset rusak.

Hati seseorang biasanya punya jalannya sendiri.

Raisa membuang pandangannya ke arah jendela samping, melihat kendaraan yang berlalu-lalang. Entah kenapa ia merasa bersalah.

"Rai, kita lewat jalan tikus saja ya biar nggak terjebak macet di depan mal. Kasihan Vina kalau terlalu lama di jalan," ucap Tia membuyarkan lamunan Raisa.

"Ah, iya, Tia. Ikuti saja jalan yang menurutmu paling nyaman," jawab Raisa sedikit gelagapan.

Tia melirik Raisa sekilas, menyadari bahwa rekannya itu sedang pergi ke tempat lain dalam pikirannya. Tia tahu, perjalanan pulang ini bukan hanya tentang memulihkan trauma Vina, tapi juga tentang Raisa yang sedang mencoba lari dari sebuah kenyataan perasaan yang rumit.

......................

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!