Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Tidak ada. Mama hanya teringat dengan masa kecil kamu. Dulu kamu begitu lucu dan menggemaskan, kamu membuat Mama jatuh cinta dan Mama begitu menyayangi kamu dengan tulus. Mama mencintai kamu seperti anak kandung, tidak pernah terpikirkan bahwa kamu adalah anak sambung. Dulu kebahagiaan Mama hanya padamu," ucap Kenanga dengan mata berkaca-kaca.
Pandangannya begitu dalam, mengungkapkan isi hati yang selama ini dia pendam, sementara Davina tertegun. Entah kenapa dia jadi merasa bersalah pada ibu sambungnya itu. Sejak dirinya kecil, Kenanga memang tidak pernah menutupi tentang orang tua kandungnya, bahkan wanita itu yang mengenalkannya pada ibu kandungnya melalui foto.
Saat Davina kecil, Bima sangat marah pada istrinya karena membahas tentang Alicia di depan putrinya. Dia memang tidak suka jika masa lalunya diungkit kembali. Namun, Kenanga mencoba memberi pengertian pada suaminya, bahwa Davina berhak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, daripada nanti mengetahui dari orang lain lebih baik dari kedua orang tuanya sendiri.
Sejak itulah Kenanga mulai memperkenalkan Alicia sebagai ibu kandungnya, sementara dirinya sebagai Ibu sambung. Meskipun begitu Kenanga-lah orang yang membesarkan dan menyayanginya tanpa pamrih. Dia hanya ingin anak itu menyayanginya juga, tapi semua tidak sesuai dengan keinginannya.
Kenanga juga tidak menjelaskan apa yang menjadi alasan kedua orang tuanya berpisah, khawatir Davina menyimpan kebencian. Dia hanya mengatakan jika keduanya sudah berbeda arah dan tujuan hidup. Andai saja anak itu tahu jika Alicia dulu sangat membenci kehamilannya, entah apa yang terjadi pada anak itu.
Bahkan dulu Alicia tidak mau menunggu melahirkan secara normal karena harus segera pergi untuk mengejar karirnya. apakah ini salah Kenanga karena tidak mengatakan kejadian yang sejujurnya? Sepertinya tidak, dia hanya tidak ingin menjadikan seorang anak menjadi durhaka kepada orang tuanya. Davina juga sudah dewasa, pasti yang bisa berpikir mana yang baik dan buruk untuk dirinya sendiri.
"Ma, kenapa tiba-tiba jadi mellow begini? Apa ada masalah?" tanya Davina dengan hati-hati.
"Masalah? Memang masalah apa yang bisa datang? Selama ada kamu dan papa kamu bersama Mama, semua akan baik-baik saja karena kalian 'kan sudah berjanji akan selalu ada untuk Mama."
"I—iya."
Davina jadi tergagap dan merasa bersalah pada Kenanga. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Di satu sisi dirinya sangat menyayangi Kenanga karena bertahun-tahun ini wanita itu selalu ada bersama dengannya. Setiap ada sesuatu yang terjadi padanya, pasti Kenanga yang akan maju duluan, bahkan omanya saja tidak benar-benar peduli padanya. Oma Sophia hanya bertanya tentang bagaimana kabar dan kehidupannya, tanpa ikut campur mengurusnya.
Di sisi lain Davina juga ingin bersama dengan ibu kandungnya, sama seperti yang anak-anak lainnya rasakan. Pasti sangat menyenangkan jika bisa bersama dengan kedua orang tua kandung. Davina yakin nanti ibu kandungnya akan lebih mencintai dirinya daripada Kenanga sekarang. Apa pun yang akan diinginkannya pasti akan dipenuhi Alicia. Davina jadi tidak sabar ingin segera berkumpul dengan orang tua kandung.
Pintu kamar Davina di ketuk, tampak seorang pembantu masuk setelah diizinkan pemilik kamar.
"Bu Kenanga, Non Davina, makan malam sudah siap. Pak Bima sudah menunggu di ruang makan."
"Iya, Bik. Kami akan keluar, terima kasih," ucap Kenanga yang kemudian beralih menatap Davina dan mengajaknya. "Ayo, Sayang! Papa sudah menunggu."
"Iya, Ma."
Keduanya pun keluar dari kamar dan pergi ke ruang makan. Di sana tampak Bima sedang memainkan handphonenya sambil menunggu istri dan anak yang datang. Pria itu terlihat tersenyum bahagia, terlihat wajahnya yang begitu berseri-seri. Entah sedang membaca apa karena terlihat begitu bahagia sekali.
Kenanga berpikir mungkin ini ada hubungannya dengan Alicia. Namun, dia sudah tidak peduli lagi mengenai hal itu. Terserah suaminya mau menghubungi siapa. Lagi pula dirinya juga tidak begitu berarti di hati Bima. Entah bagi Bima, Kenanga itu seperti apa dan bagaimana tempatnya selama ini di hatinya.
"Selamat malam, Pa," sapa Davina.
Bima mendongakkan kepala dan meletakkan ponselnya dengan tengkurap agar layarnya tidak terlihat. Sepertinya Davina tahu jika papanya sedang bertukar pesan dengan Alicia karena itu dia ingin Bima sadar jika Kenanga datang.
"Selamat malam juga. Kalian lagi ngapain di kamar? Kata bibi kalian ada di kamar Davina."
"Nggak lagi ngapa-ngapain, Pa. Tadi Mama tiba-tiba saja cerita tentang Davina waktu kecil."
"Waktu kecil? Memangnya kenapa?"
Davina ingin menjawab pertanyaan papanya. Namun, Kenanga lebih dulu menyelanya. "Bukan sesuatu yang serius, kok! Aku hanya teringat kelucuan Davina dulu saja. Aku tidak menyangka jika pertumbuhannya begitu cepat. Sudah dua puluh tahun berlalu, sudah begitu banyak yang kita lalui bersama. Semoga saja semua itu tidak terlupakan begitu saja karena aku bukan ibu kandungnya."
Kenanga tersenyum sambil menyendokkan nasi ke piring sang suami. Hal yang selama ini selalu dia lakukan sebagai baktinya seorang istri. Meskipun malas melakukannya, tapi tetap harus dilakukan. Anggap saja perjalanan menuju akhir cerita rumah tangganya.
Bima dan Davina sama-sama terdiam. Keduanya saling berpandangan seolah bertanya kenapa tiba-tiba Kenanga berkata demikian. Apakah tadi di kamar Davina sempat mengatakan tentang Alicia? Davina menggelengkan kepala ke arah Bima, saat mengerti jika papanya bertanya karena memang tadi dia pun sama sekali tidak membahas apa pun. Justru Davina merasa heran dengan tingkah Kenanga.
"Kenapa kamu tiba-tiba berkata demikian? Memang Davina bersikap kurang ajar sama kamu?" tanya Bima.
"Tidak, Mas. Davina adalah anak yang aku besarkan dan aku sayangi selama dua puluh tahun, mana mungkin dia bersikap kurang ajar sama aku. Dia bahkan tidak akan tega menyakitiku, apalagi sampai membuatku menangis. Kamu ini ada-ada saja."
Davina jadi semakin tidak tenang setelah mendengar kalimat yang terucap dari bibir Kenanga. Itu seperti sebuah tamparan untuknya. Selama ini wanita itu begitu menyayanginya, tapi kehadiran ibu kandungnya justru membuatnya berpikir untuk menyingkirkan Kenanga dan menggantikannya dengan Alicia.
"Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu? Kata-kata yang kamu ucapkan terlalu ambigu untuk didengar. Jika orang lain yang dengar pasti mengira jika Davina bukan anak yang baik."
"Justru kamu yang terlihat aneh. Memangnya aku mengatakan kalau Davina tidak menyayangiku? Semua orang pun tahu kita berdua saling menyayangi satu sama lain. Iya 'kan, Sayang?" tanya Kenanga sambil tersenyum manis ke arah Davina.
"I—iya, Ma," jawab Davina tergagap.
Kedua tangannya yang berada di bawah meja tidak bisa diam, saling merem*s satu sama lain. Keringat di dahinya pun mulai bercucuran, hingga membuatnya terpaksa mengusapnya dengan telapak tangan saja. agar tidak terlihat.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu