"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pertemuan.
Saat Nabila sedang duduk di ruangan Alka dengan tangan yang di remas-remas, pasalnya ia tidak tahu harus berbuat apa lagi yang ada dalam otaknya hanya hukuman yang sedang menanti dirinya dengan indah, eh salah.
"Kamu mau hukuman seperti apa, hm?" tanya Alka dengan tatapan sinis ke arah Nabila.
"Maaf Pak, saya benar lupa kalau ada tugas dari Pak Farel karena saya fokus sama tugas dari Bapak," jawab Nabila mencari pembelaan.
"Alasan!"
"Kamu sudah mau semester akhir masih saja menggunakan alasan tidak bermutu, seharusnya kamu lebih bertanggung jawab semua yang sudah menjadi tugasnya. Sekarang saya mintak kamu kerjakan tugas Pak Farel dalam waktu sepuluh menit, tidak ada bantahan!"
Nabila tidak menyaut walau sebenarnya ia mengumpat, dalam pikirannya Nabila jadi teringat sama sebuah perjodohan yang di lakukan oleh bundanya. Sepertinya Nabila siap menerima perjodohan tersebut mengingat hidupnya selalu sial selama kuliah punya dosen seperti Alka.
Tak ada bantahan Nabila langsung mengerkan tugas tersebut dengan mengambil buku dan penan di dalam tas.
Satu menit, dua menit seterusnya Nabila mengerjakan tugas tersebut dengan fokus sebab ia di beri waktu sedikit, di tambah hari ini Nabila harus pulang cepat.
"Maaf Pak, ini tugas sudah selesai sekarang saya boleh pergi?" ucap Nabila.
Alka melirik, lalu mengambil tugas yang di kerjakan oleh Nabila.
"Hebat juga ini cewek, bisa mengerjakan tugas secepat ini." Batin Alka.
Alka mengangguk, karena ia sendiri juga harus pergi dan sudah tidak ada jadwal lagi.
Nabila langsung memesan taksi online lalu menuju di mana tempat yang di kirim oleh sang Bunda.
Sementara Alka juga keluar dari gedung menuju mobilnya pertama ia harus ke kantor baru setelah itu menepatkan janji pada orang tuanya.
"Bunda," panggil Nabila ramah ketika melihat Dewi sedang ngobrol dengan dua orang.
"Sayang, kamu sudah datang, sini nak." kata Dewi dengan ramah.
"Masyaallah ini Nabila ya, cantik ya Bi," puji perempuan paruh baya bernama ummi Hanin.
"Iya ummi, lagian siapa orang tuanya, Akbar dulu juga sangat tampan, bukan!" kelakar ke dua orang tersebut, Nabila hanya tersenyum.
"Duduk nak, kita tunggu putra ummi dulu." Nabila mencium tangan Ibrahim dan Hanin secara bergantian, lalu duduk bersama mereka sambil bercerita.
"Nah itu, Alka!" seru Hanin.
Deg!....
"Alka!" Nabila menoleh dan betapa terkejutnya ia saat yang di dapati di ujung sana adalah pria benar di luar Nurul.
"Abi, ummi, maaf terlambat tadi Alka masih ada urusan," ucap Alka datar, tapi ke dua tangannya mencium takzim milik orang tuanya.
"Kamu itu sibuk terus, untung nak Nabila baru datang juga, ayo duduk."
Dari sini perasaan Nabila sudah tidak enak, apa maksud omongan perempuan yang tadi mengenalkan diri agar di panggil ummi.
Tadinya Alka belum melihat apapun tapi saya bola matanya tak sengaja melirik, ia langsung kaget bukan main tapi berusaha menetralkan keadaan bagaimanapun Alka adalah laki-laki dingin yang susah di tebak.
"Mi---,"
"Ayo duduk dulu kamu, biar ummi yang bicara." potong Hanin ucapan putranya.
Alka mengangguk, menuruti permintaan ummi, sedari tadi tatapan matanya tak lepas memandang Nabila yang menunduk.
"Alka, nak kenalkan ini Nabila Putri dari sahabat Abi beliau sudah meninggal," ucap Hanin.
"Bentar, bukannya Nak Nabila tadi katanya kuliah di kampus XX itu artinya kalian satu kampus, kan!" sela Ibrahim.
"Jadi maksud Abi, kampus nak Nabila tempat Alka ngajar?" perjelas Hanin.
"Iya ummi, tadi kan Nabila sudah kasih tahu."
"Ya ampun, jadi kalian sudah kenal selama ini, begitu Alka?" tanya Hanin.
"Iya ummi, dia mahasiswi Alka tapi anaknya sedikit bandel, jarang ngerjain tugas," tukas Alka datar.
"Tidak benar, saya hanya lupa satu kali, itupun pelajaran Pak Farel bukan pak Alka," saangah Nabila, bagaimanapun ia tidak mau dirinya terlihat buruk di depan orang lain.
"Itu sama saja!" balas Alka judes.
Ibrahim dan Hanin tersenyum melihat tingkah putranya yang judes tapi baru kali ini ia menanggapi seorang perempuan pasti ia sudah tidak salah menyatukan mereka berdua sesuai cita-cita dan sahabatnya dulu.
"Hm, nak Nabila ini semester terakhir kan ya, berarti tinggal skripsi selesai kan!" ujar Ibrahim.
"Iya Om, insyaallah selesai KKN langsung daftar mengajukan judul dan langsung mengerjakan skripsi." Jawab Nabila sopan.
"Tidak usah panggil Om, sebentar lagi kamu jadi menantu panggil Abi saja biar sama seperti Alka."
Huk!
Huk!.
Nabila yang baru saja mengunyah makanan langsung tersedak. Bak tersambar petir di siang bolong, ia sangat terkejut mendengar berita bakal jadi menantu dari orang tua dosen killernya itu.
"Oh dewa! tidak mungkin aku menikah dengan Pak Alka! yang ada hidupku bakal menderita seumur hidup, oh bunda inikah yang di namakan pria baik kata Bunda," batin Nabila menjerit.
Sementara Alka berusaha bersikap tenang walau sebenarnya ia sendiri juga kaget, tidak di sangka gadis yang di ceritakan oleh Abinya itu adalah mahasiswinya sendiri yang bikin Alka jengkel karena Nabila di kenal berani membantah pada dirinya.
"Begini nak Nabila, Abi dan almarhum Ayah kamu pernah membuat janji setelah kalian berdua sama-sama dewasa kalian akan di nikahkan, jadi sekarang waktunya yang tepat, kalian mau kan?" tanya Abi ibrahim, baik dari Nabila dan Alka tidak ada yang menyaut ke duanya sama-sama Shok hanya saja raut wajah mereka berhasil di sembunyikan karena rasa hormat pada orang tua.
"Hm, Abi senang melihat kekompakan kalian berdua, karena kalian diam itu artinya Abi anggap kalian setuju!" ujar Ibrahim tersenyum lega, begitu dengan Hanin dan Dewi.
"Alhamdulillah, Ibu senang melihat ini semua pasti almarhum Mas Akbar senang sekali," ujar Dewi terharu.
Hani memegang tangan calon besanya.
"Insyaallah mereka bahagia, Bu." kata Hanin.
"Astangfirullah, mana mungkin aku bahagia, yang ada aku sensara," batin Nabila menunjukkan kekesalannya.
Alka tersenyum tipis, ia sendiri sebenarnya belum siap tapi karena menjunjung tinggi etika pada ke dua orang tuanya ia memilih diam.
"Kalau begitu kita tinggal rencanakan tanggalnya, Abi sendiri sudah menyiapkan tanggal khusus untuk kalian, tanggal --- ***."
Saat Ibrahim menyebut tanggal Alka dan Nabila sama-sama terkejut, pasalnya itu tanggal bukan lagi perencanaan melainkan sudah di atur.
"Ummi setuju, lebih cepat lebih baik bukan, itu hal baik dan kamu Alka, setelah menikah harus ada waktu pulang ke Bandung." ucap Hanin.
"Maaf Tante, apa ini tidak terlalu cepat?" ujar Nabila sambil menggigit bibir bawahnya.
Sementara Alka mendengus kesal karena merasa Nabila telah menolak pernikahan ini.
"Tidak nak, karena semuanya sudah siap, betul kan Alka?" ucap Ibrahim tersenyum.
"Kurang cincin Bi," sahut Alka datar.
"Gampang, besok kalian bisa beli berdua." kata Ibrahim tersenyum.
Nabila menghela napas panjang tanpa ada orang tahu tenggorokannya begitu tercekat, saat ini ia tak bisa berkata apa-apa sekilas ia melirik ke arah pria dingin tersebut.
"Ya Allah, ini mimpikan? Mana mungkin engkau tega memberikan hamba calon suami seperti dia, yang ada Aku mati muda, lalu siapa yang mau menjaga ibukku." batin Nabila.