Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Dekapan Alexander begitu kuat. Begitu nyata. Dan di balik kehangatan itu, ada ketakutan aneh yang menyeruak dari dalam dirinya.
Elena menutup matanya rapat-rapat, mencoba mengatur napasnya agar tak membangunkan pria yang kini begitu dekat dengannya. Tapi setiap detik yang berlalu justru membuat kesadarannya semakin jelas akan sesuatu: jantung Alexander yang berdetak teratur tepat di dadanya.
Degup itu… entah mengapa menenangkan sekaligus menakutkan.
Ia ingin marah karena pria itu semena-mena, lagi-lagi membuat keputusan tanpa bertanya. Ia ingin berteriak, menegurnya karena mengganti pakaiannya, karena masuk begitu saja ke kamarnya. Tapi di sisi lain, ada sisi rapuh dalam dirinya yang enggan melepaskan pelukan itu.
Air matanya jatuh lagi, membasahi bantal. Elena menutup mulutnya agar suara isak tak terdengar. “Aku bodoh… aku terlalu lemah di hadapannya.”
Tiba-tiba, lengan Alexander mengencang seakan ia merasakan kegelisahan Elena dalam tidurnya. Tubuh besar itu menunduk sedikit, wajahnya semakin dekat hingga napasnya menyapu lembut pelipis Elena.
“Elena…” gumamnya lirih.
Mata Elena membesar. Itu bukan sekadar bisikan samar dalam tidur, melainkan panggilan yang jelas, penuh kepemilikan. Hatinya kembali bergetar hebat.
'Dia memimpikan apa? Apakah dia sadar siapa yang sedang dipeluknya?'
Elena menggigit bibir, menahan debaran tak terkendali. Ia menoleh sedikit, matanya menatap wajah pria itu dalam remang kamar. Alexander terlihat damai, jauh berbeda dari sosok dingin dan menakutkan yang selalu ia tunjukkan di siang hari.
Dalam diam, Elena menyadari, bahwa ia sedang melihat sisi Alexander yang tak pernah ditunjukkan pada siapa pun.
Dan itu… justru membuatnya semakin takut.
Takut semakin jatuh.
Takut semakin terluka.
Takut jika suatu hari, pelukan ini akan berakhir dan ia ditinggalkan sendirian lagi.
Elena kembali menutup mata, berusaha mengabaikan segala gejolak di dadanya. Tapi sebelum ia benar-benar tertidur, ia mendengar bisikan rendah dari Alexander.
“Elena… jangan pernah pergi dariku…”
Elena tercekat. Tubuhnya menegang.
'Dia… tidak tidur?'
Tenggorokannya kering, dan tanpa sadar air matanya jatuh lagi. Ia ingin bertanya, ingin menuntut jawaban. Tapi kata-kata itu seakan menahannya di tempat.
Akhirnya, Elena hanya bisa membiarkan dirinya tetap terperangkap dalam dekapan itu, dengan hati yang semakin kacau, antara ingin berlari jauh, atau justru berharap waktu berhenti di pelukan ini.
**
Pagi itu, cahaya matahari menembus perlahan melalui tirai tipis kamar. Udara masih tenang, hanya suara burung di kejauhan yang terdengar.
Elena membuka matanya perlahan. Sejenak ia bingung, sampai kesadarannya kembali pada kenyataan: ia masih berada dalam dekapan Alexander.
Pria itu tertidur pulas, rahangnya tegas, wajahnya terlihat damai tanpa topeng dingin yang biasa ia kenakan. Lengan kokohnya masih mengunci pinggang Elena, seakan jika ia bergerak sedikit saja, Alexander akan langsung terbangun.
Hatinya berdebar. Kenangan bisikan semalam. “Elena… jangan pernah pergi dariku…” terngiang kembali.
Elena menatapnya lama. Ada sisi lembut dari pria itu yang membuatnya nyaris ingin percaya… bahwa Alexander benar-benar membutuhkannya. Tapi logika cepat-cepat berteriak, mengingatkan bahwa Alexander adalah pria yang tak bisa ia pahami, penuh rahasia, termasuk dengan kehadiran Elie.
Aku harus pergi sebelum semuanya semakin rumit.
Perlahan, ia mencoba melepaskan diri. Jemarinya mengangkat lengan Alexander yang melingkar di pinggangnya. Tapi sebelum ia sempat bangkit, genggaman itu tiba-tiba mengencang.
“Jangan.” Suara rendah itu terdengar serak, jelas menandakan Alexander sudah bangun.
Elena membeku, jantungnya melonjak. Ia menoleh cepat, dan benar saja, sepasang mata abu-abu itu menatapnya, tajam tapi juga penuh sesuatu yang tak bisa ia artikan.
“Alex… lepaskan. Aku… aku harus bangun.” Elena berusaha menahan getar suaranya.
Alexander menatapnya lekat, kemudian menunduk sedikit, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Elena. “Kau menangis semalam.”
Elena membeku. “Aku... tidak—”
“Kau pikir aku tidak merasakannya?” suara Alexander terdengar dingin, tapi matanya… justru tampak terluka. “Kau menggigil di pelukanku. Kau menangis sampai tertidur. Kenapa, Elena?”
Elena menunduk cepat, menghindari tatapannya. Ia tak mungkin mengaku kalau hatinya hancur karena Elie.
Alexander mengangkat dagunya perlahan dengan jemarinya, memaksa Elena menatap matanya. “Katakan padaku, Elena. Kenapa kau menangis?”
Elena menggigit bibir. Ia ingin berteriak bahwa dirinya terluka, bahwa ia cemburu, bahwa ia takut hanyalah bayangan di hati pria itu. Tapi kata-kata itu tertahan, berubah menjadi bisikan getir.
“Aku hanya… lelah.”
Alexander menatapnya lama, seakan mencoba membaca isi hatinya. Lalu, tanpa diduga, ia menarik Elena kembali ke dadanya, memeluknya lebih erat.
“Kalau kau lelah… maka istirahatlah di sisiku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun.”
Elena terdiam, tubuhnya tegang. Tapi di balik dekapan itu, ia merasakan kehangatan yang terlalu sulit untuk ditolak.
'Apa sebenarnya yang dia rasakan padaku?'