NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Skandal

"Arghh, sialan!"

Pyar.

Dengan amarah yang menggebu-gebu, Pram melempar gelas wine membentur lantai, hingga benda yang terbuat dari kaca itu pecah berkeping-keping.

Kondisinya berantakan dengan rambut yang acak-acakan dan bajunya yang kusut, sekusut wajahnya saat ini.

Berita itu sudah tersebar. Berita yang mempertaruhkan harga dirinya yang sialannya adalah sebuah kebenaran. Pram mengacak rambutnya frutasi, lantas laki-laki itu merampas botol alkohol dari meja depannya dan meminum isinya bak orang kesetanan.

Nafasnya memburu. Bagaimana foto-foto itu bisa tersebar. Siapa yang sudah berani menyenggolnya. Padahal, Pram sudah berusaha main serapi mungkin. Tetapi kenapa tetap saja terbongkar?!

Dulu, Pram memang nekat menerima tawaran menjadi 'simpanan' dari wanita tua yang kesepian dengan iming-iming akan mempermudahkan kariernya. Pram yang kehilangan gairah hidup semenjak ditinggal Kanaya mengikuti pikiran impulsifnya. Berpikir, dia bisa melampiaskan emosinya melalui permainan ini.

Hingga laki-laki itu terlena dan enggan untuk menyudahi. Lagipula, menurutnya hubungan ini tidak ada ruginya, dia bisa melampiaskan nafsunya tanpa harus menyewa wanita. Tanpa memikirkan risiko, jika skandal ini bisa menjadi boomerang untuknya di masa yang akan datang.

Brak.

Pintu kamar dibuka dengan kasar. Seorang wanita tua menghampiri Pram dengan kemarahan yang sangat ketara.

"Hancur! Semuanya hancur!!" amuknya melemparkan ponselnya ke arah Pram. Sampai benda itu mengenai pelipis sang lelaki, menyebabkan memar dan mungkin akan menimbulkan benjolan.

"Kau--- bagaimana bisa kau asik-asikan minum sedangkan berita tentang kita sudah tersebar?!" wanita itu menunjuk wajah 'simpanannya' kesal.

"Setidaknya kau pikirkan bagaimana caranya berita-berita itu bisa ditake down Pramudya!!"

"Diamlah!" sentak Pram kasar.

"Kau pikir aku juga tidak kalut?! Bukan hanya kau-- hidupku juga dipertaruhkan di sini!"

Nyonya Bristi, dia mengerang frustasi. Bahkan, karena berita yang menyeret namanya itu, dia tidak sempat mengenakan pakaiannya dengan benar. Masih sama saat terakhir kali Pram membuatnya sobek pada bagian dada.

"Aku tidak mau tahu, Pram. Kau harus menyelesaikan masalah ini secepatnya! Selama ini aku selalu memanjakanmu dengan uang-uangku. Sekarang, saatnya kau yang menunjukkan konstribusimu dalam hubungan ini."

Pram terkekeh sinis. Ia letakkan botol alkohol ke meja dengan kasar, menimbulkan suara detingan yang memekakkan telinga.

"Kau yang memulai semuanya. Bukankah seharusnya kau yang bertanggung jawab?" laki-laki itu mendengus.

"Dan kau bicara tentang kontribusi? Dasar wanita tua tak tahu diuntung, selama ini siapa yang memuaskan kebutuhan biologismu, hah?!" sembur Pram tak terima.

"Jika aku mau, aku bisa mencari partner yang lebih darimu. Tapi apa? Aku bertahan dan tetap bersamamu--- wanita yang selalu bercerita jika suaminya sudah tidak lagi menggairahkan karena sudah tua."

"Seharusnya kau sadar diri! Kau juga sudah tua, dasar nenek peot!"

"Kurang ajar!!"

Plak.

Wajah Pram tertoleh ke samping. Meninggalkan rasa panas bercampur kebas kala telapak tangan Nyonya Bristi mendarat di pipinya lumayan kencang.

"Berani kau menamparku!" desis Pram murka.

"Memangnya kenapa? Bahkan aku bisa menamparmu lagi dan lagi menggunakan uangku. Hingga kau--" Nyonya Bristi menunjuk Pram menggunakan telunjuknya. "Akan kembali sadar di mana posisimu!"

"Bicara apa kau barusan?" desis Pram murka. Ia ulurkan tangannya untuk menjambak rambut Nyonya Bristi yang terurai.

"Jika memang uangmu sebanyak itu, kenapa tidak kau gunakan untuk membersihkan skandal ini!"

"Akhhh, sakit! Lepaskan jambakanmu!" erang Nyonya Bristi yang merasakan rambutnya yang seakan tercabut.

Pram mendengus. Kemudian, laki-laki itu menghempaskan kepala Nyonya Bristi begitu saja hingga hampir membentur lengan sofa.

"Jika saja aku bisa menggunakan uang untuk membungkam media. Sayangnya mereka tidak mau uangku! Mereka menolak bahkan mengatakan uang yang kutawarkan terlalu kecil!" jelas Nyonya Bristi meluapkan uneg-unegnya.

Pram mendengus. "Memangnya berapa yang kau tawarkan? Mungkin saja uang itu memang terlalu kecil---

"Satu miliar! Dan mereka tetap tidak mau menutup berita itu!"

Kali ini Pram terdiam. Satu miliar bukanlah uang yang kecil. Cukup besar untuk sekedar membungkam media. Otaknya kembali mengingat waktu terakhir kali sampai dia berada di apartemen ini. Tempat yang biasa ia gunakan bersama Nyonya Bristi untuk saling memuaskan.

Ada seseorang yang membuatnya tak sadar. Hingga akhirnya ia terbangun di samping Nyonya Bristi yang sudah terpengaruh oleh afrodisiak. Ia pikir, Nyonya Bristi-lah yang memerintahkan orang itu menculiknya untuk mencari sensasi baru.

Sampai saat dia sadar dan Nyonya Bristi menggodanya dengan sentuhan-sentuhan nakal, tanpa pikir panjang, Pram meladeni nafsu Nyonya Bristi yang sudah memuncak.

Seharusnya Pram tidak mengabaikan ini begitu saja. Jika memang Nyonya Bristi pelakunya, wanita itu tidak mungkin mengonsumsi obat afrodisiak secara sadar.

Sialan. Kenapa baru kepikiran sekarang?!

"Nyonya, apa kau yang menyuruh orang untuk menculikku dan membawaku ke sini?" tanya Pram saat pikirannya sedikit tenang.

Nyonya Bristi mendengus sinis. "Percaya diri sekali kau! Bukankah kau yang sudah terbaring di kasur tanpa atasan seakan ingin aku sentuh, hah?!"

Kini, keyakinan Pram semakin yakin. Apa yang dialaminya adalah sebuah konspirasi. Tetapi, siapa? Siapa yang mengetahui hubungannya dengan Nyonya Bristi dan berani menyebarkannya ke media.

Siapa yang nekat menyenggol orang berpengaruh seperti Nyonya Bristi?

Bukankah selama ini semuanya berjalan baik-baik saja. Sampai kemalangan menimpanya sejak--- dia bertemu kembali dengan Kanaya.

Kemudian, secara naluriah otaknya memikirkan satu nama, membuat mata Pram berkilat marah. Kedua telapak tangannya mengepal kuat.

"Kalendra...." geram laki-laki itu di dalam hati.

Lihat saja. Pram akan membalas semua ini. Menggunakan wanita di sampingnya ini sebagai pionnya.

"Nyonya--- sepertinya ada orang yang sengaja menjatuhkan kita. Dan aku tahu siapa orangnya."

.

.

Satpam di kediaman Kalendra segera membuka gerbang saat mobil tuannya itu datang. Mempersilahkan kendaraan roda empat itu memasuki pekarangan rumah hingga berhenti tepat di depan garasi.

Ami keluar terlebih dahulu. Membawa barang-barang tuan dan nyonya-nya memasuki kediaman Wijaya.

Disusul Kalendra yang kemudian membukakan pintu untuk Kanaya. Istrinya itu tersenyum manis sebagai respon. Saat kakinya ingin menyentuh tanah, Kanaya dibuat memekik saat tiba-tiba Kalendra mengangkat tubuhnya, menggendongnya ala bridal style.

"Kalendra...aku bisa jalan sendiri." bisik perempuan itu dengan suara tertahan.

Bukan apa. Bagaimana jika Ami melihat ini? Mau ditaruh di mana muka Kanaya?

Kalendra abaikan penolakan istrinya. Kakinya melangkah memasuki rumah. Membawa Kanaya ke kamar mereka. Mendudukkannya pada ranjang dengan perlahan.

"Kau masih harus banyak istirahat untuk pemulihan energi." ujar Kalendra mengusap rambut sang istri penuh perhatian.

"Aku sudah baik-baik saja, jangan khawatir." balas Kanaya menatap suaminya hangat.

Perempuan itu meraih tangan Kalendra. Menggenggamnya menyalurkan kehangatan.

"Kalendra, terimakasih. Setelah semua yang terjadi di masa lalu, kau masih mau mencintaiku. Aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia ini karena dicintai oleh seseorang dengan sebegitu besarnya."

Mungkin kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa menciptakan masa depan sesuai dengan keinginan kita, bukan?

Maka, Kanaya ingin menciptakan kenangan-kenangan indah bersama Kalendra. Menebus kesalahannya di masa lalu. Menerima dan memberikan cinta kepada Kalendra.

Satu tangan Kalendra balik menggenggam tangan Kanaya. Sedangkan tangan yang lainnya ia gunakan untuk mengusap pipi Kanaya yang sedikit bersemu.

"Kau tahu? Dengan kau mau menjadi istriku sepenuhnya tanpa tekanan dari orang lain saja, sudah membuatku sangat bahagia."

Ahh ya, di kehidupan dulu Kanaya selalu mendapatkan tekanan dari ibunya agar mendekati Kalendra agar laki-laki itu semakin tergila-gila padanya.

"Maaf, dulu aku----

"Shhhh." jari telunjuk Kalendra menempel pada bibir mungil Kanaya. Memerintahkan sang istri untuk diam.

"Bukankah aku sudah pernah bilang ini? Aku tidak peduli dengan masa lalu. Aku hanya membutuhkan kau untuk tetap menjadi milikku."

Mata Kanaya berkaca-kaca. Tepat saat itu pula, Kalendra mendekatkan wajahnya. Meraih bibir Kanaya menggunakan bibirnya. Memangutnya dalam. Menyecap setiap inci yang selalu membuatnya kecanduan.

Karena bagi Kalendra--- bibir Kanaya adalah nikotin. Semakin disesap, semakin dia merasa kecanduan.

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!