NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUNCAK TULUS PUTRA

Lampu meja belajar berpijar kekuningan, menciptakan lingkaran cahaya yang hanya fokus pada tumpukan buku dan layar laptop di depan Putra. Di sudut meja yang lain, Salma duduk dengan tenang. Sesekali ia meraih gelas minumnya, menyesap isinya perlahan sambil membiarkan matanya mencuri pandang ke arah pemuda di sampingnya itu.

​Salma hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di sekolah, Putra adalah definisi dari "troublemaker"—anak laki-laki yang bangkunya selalu paling belakang, yang hobinya melempar kertas, dan jarang sekali terlihat memegang pulpen dengan benar. Namun hari ini, sosok itu seolah luruh. Putra tampak begitu terpaku, dahinya berkerut dalam, dan jemarinya menari lincah di atas keyboard.

​Senyum kecil tersungging di bibir Salma tanpa bisa ia cegah. Ada kehangatan yang merayap di dadanya melihat keseriusan Putra yang langka ini.

​Aku gak akan biarin orang yang aku cinta menyakiti kamu.

​Kalimat itu tiba-tiba melintas lagi di benak Salma, membuat dadanya berdesir hebat. Rasa haru itu kembali datang, menyesakkan namun manis, membuatnya harus mengalihkan pandangan agar tidak ketahuan sedang mengagumi laki-laki itu terlanjur dalam.

​"Yaaa! Baterainya habis!"

​Suara Putra yang tiba-tiba meninggi mengejutkan Salma dari lamunannya. Putra mendengus kesal, memandangi layar laptop yang menggelap. "Harus pindah ke kamar ini," Lanjutnya santai.

​Salma tersentak, matanya membulat. "Ka-kamar?"

​"Iya," Angguk Putra tanpa dosa.

​"Ka-kamar kamu?" Tanya Salma lagi, memastikan pendengarannya tidak salah.

​Putra menoleh, menatap Salma dengan ekspresi heran yang dibuat-buat. "Iya. Masa kamar Ibu aku?"

​Belum sempat Salma melayangkan protes atau sekadar mencerna situasi, Putra sudah lebih dulu bangkit. Dengan gerakan cepat, ia meraih laptopnya. Tanpa menunggu persetujuan atau jawaban dari Salma, ia melangkah menuju pintu depan, menutup dan mengunci pintu rumah dengan bunyi klik yang tegas, lalu berbalik menuju lorong arah kamarnya.

​Salma terpaku sejenak, namun kakinya seolah punya kendali sendiri. Ia segera menyambar beberapa map penting di atas meja, mendekapnya erat di dada, dan berjalan membuntuti Putra dari belakang. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya, mengikuti langkah kaki Putra yang membawanya masuk lebih jauh ke dalam ruang privasi lelaki itu.

Begitu tiba di kamar, Putra sibuk mencolokkan pengisi daya laptopnya ke terminal listrik, lalu menghempaskan tubuh di tepi kasur. Sementara itu, Salma yang baru saja melangkah masuk, mematung sejenak di ambang pintu. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang menjadi privasi laki-laki itu.

​Kamar itu memang tidak luas, bahkan cenderung mungil. Namun, ada kehangatan yang menyelinap dari kesederhanaannya. Tak ada tumpukan baju kotor atau kertas yang berserakan, semuanya tertata pada tempatnya. Meja kayu kecil di sudut ruangan tersusun rapi dengan beberapa buku yang berjejer tegak, ditemani lampu meja berwarna kuning redup yang memberikan kesan tenang.

Udara di sana pun terasa sejuk, membawa aroma samar detergen dan kayu manis yang membuat siapa pun akan betah berlama-lama. Meski sempit, kamar itu terasa seperti sebuah pelukan yang nyaman.

​"Duduklah," Suara Putra memecah keheningan, cukup untuk mengejutkan Salma dari lamunannya. ​Sambil tetap menatap laptop, sebelah lengan Putra terulur, menepuk-nepuk sisi ranjang di sebelahnya—sebuah perintah bisu agar Salma segera mendekat dan duduk di sana.

Salma tidak lagi melayangkan protes. Ia hanya mengangguk patuh, lalu perlahan menjatuhkan diri untuk duduk di samping Putra. Tidak ada pilihan lain. Sudut kamar itu terasa sempit dan penuh sesak. Hanya ada selembar karpet kecil di pojok ruangan yang sudah tertumpuk keranjang-keranjang barang, sisanya hanyalah lantai semen yang dingin dan kaku.

​Keheningan mulai merayap, menyusup di antara mereka. Namun, di balik diamnya ruangan itu, ada geletar aneh yang menjalar di dada Salma begitu bahunya nyaris bersentuhan dengan Putra.

"Aku gak akan biarin orang yang aku cinta menyakiti kamu."

​Kalimat itu kembali menggema, memantul-mantul di dinding kepalanya. Meski matanya tertuju pada layar laptop yang menampilkan deretan baris kode dan tugas yang sedang dikerjakan Putra dengan tekun, pikiran Salma justru berkelana jauh.

​Bayangan menyakitkan itu mendadak muncul tanpa diundang—ingatan tentang Erwin yang tega mengkhianatinya, tidur dengan wanita lain, dan bagaimana hancurnya ia saat itu. Di titik nadir itulah, Putra datang. Lelaki di sampingnya inilah yang menariknya keluar dari lubang penderitaan, menyelamatkannya dari kehancuran yang ditinggalkan Erwin.

​Salma mencuri pandang, melirik wajah Putra dari samping. Dalam pendar cahaya laptop, wajah itu tampak begitu serius. Garis rahangnya tegas, menyiratkan kedewasaan yang baru disadari Salma hari ini. Putra bukan lagi sekadar peserta didiknya, dia adalah pelindung yang mengubah rasa sakitnya menjadi sesuatu yang tenang, meski kini jantung Salma justru berdegup tidak karuan karena kedekatan mereka.

"Begini, Bu?" Ucap Putra mengejutkan, matanya yang terfokus pada laptop, kini mulai kembali menatap Salma yang kosong. "Sa-Salma?"

"Uh?" Salma tersentak. "Bi-biar aku periksa."

Putra mengangguk perlahan, jemarinya bergerak hati-hati memutar badan laptop, memastikan sudut pandangnya pas agar Salma bisa membaca dengan nyaman. Sambil menyandarkan punggung, Putra memperhatikan raut wajah Salma yang mulai berubah serius. Ada kepuasan tersendiri bagi Putra saat melihat wanita itu tenggelam dalam barisan kalimat yang ia susun. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya, tertahan namun tulus.

​Salma menyipitkan mata, menelaah setiap kata seolah sedang mencari kepingan puzzle yang hilang. "Iya, betul," Gumam Salma akhirnya, memecah keheningan. "Tapi sepertinya ada yang kurang sedikit di narasinya. Kurang... dapet definisi yang kamu jelasin."

​Mendengar masukan itu, Putra tidak membantah. Ia justru mengangguk setuju, seolah sudah menduga bagian itu akan menjadi ganjalan. Tanpa banyak kata, ia menarik kembali laptopnya, memutar layar itu ke arahnya sendiri. Seketika, atmosfer di antara mereka berubah. Putra kembali masuk ke dalam dunianya, jemarinya mulai menari lincah di atas keyboard dengan fokus yang tajam.

​Di sisi lain, Salma kembali terdiam. Ia hanya memerhatikan profil samping wajah Putra yang diterangi cahaya redup dari monitor, membiarkan keheningan kembali menyelimuti mereka di bawah naungan lampu ruangan yang hangat... lebih hangat, bahkan semakin hangat. "Kok, gerah, ya..." Gumamnya tanpa sadar.

Suaranya yang lirih, membuat jemari Putra berhenti bergerak lalu sigap menoleh ke arah Salma lama. Terlalu lama, bahkan membiarkan laptopnya meredup hingga layarnya padam sepenuhnya, mengabaikan segala pekerjaan yang tadi menyita perhatian.

Ya. Fokusnya kini tersita total oleh sosok di hadapannya. Ia mengikis jarak, membawa wajahnya begitu dekat hingga Salma bisa merasakan deru napas hangat yang menyapu kulitnya.

​Di bawah temaram lampu kamar, Putra tanpa sadar, sedikit menundukkan kepala, menyetarakan pandangannya dengan Salma yang mulai berkaca-kaca karena luapan emosi.

Jemari Putra bergerak perlahan, meraih dagu Salma dengan sentuhan yang begitu lembut, hingga mengunci perhatian wanita itu sepenuhnya.

​"Apa aku... boleh buka jaket aku?" Bisik Salma lirih, nyaris tak terdengar, namun sanggup menggetarkan pertahanan Putra.

​Putra tertegun sejenak. Gerakannya terkunci oleh permintaan itu. Setelah keheningan yang menyesakkan dada, ia mengangguk pelan. "Tentu," Jawabnya parau. "Mau aku bantu?"

​Anggukan kecil dari Salma menjadi izin yang paling dinanti. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut akan memecahkan sesuatu yang berharga, Putra menurunkan ritsleting jaket itu perlahan. Begitu kain itu tersingkap, bahu Salma yang putih bersih terpapar langsung oleh udara dingin di dalam kamar.

​"Cantik..." Gumam Putra tanpa sadar. Kalimat itu bukan sekadar pujian, melainkan sebuah pengakuan tulus yang lolos begitu saja. ​Salma hanya mampu membalas dengan senyum tipis yang sarat akan rasa pasrah.

Lalu, Putra kembali meraih dagunya, kali ini dengan sedikit penekanan yang menuntut. Hingga, jarak yang tersisa pun musnah. Bibir mereka bertemu dalam sebuah kecupan yang awalnya ragu, namun dengan cepat berubah menjadi pagutan yang dalam juga hangat.

​Salma terpejam, menyerahkan seluruh kesadarannya pada sensasi lembut yang menjalar ke seluruh sarafnya. Suara lembut dari penyatuan itu mengisi sunyinya kamar, menciptakan simfoni intim yang hanya milik mereka berdua.

Tangan Putra pun berpindah merengkuh tengkuk Salma, memberi kehangatan yang mendesak, hingga tanpa sadar ia membawa tubuh gadis itu merebah perlahan ke atas ranjang tidurnya.

​Ciuman Putra turun menyusuri garis rahang hingga berhenti di ceruk leher Salma, memberikan kecupan-kecupan basah yang memabukkan.

​"Putra... ah..." Lenguh Salma pelan. Suaranya serak, mencerminkan kerapuhan dan kerinduan yang mendalam. Ia teringat pada mimpi itu—mimpi yang dulu terasa semu, namun kini menjelma menjadi realitas yang menyesakkan dada.

​Namun, lenguhan itu justru menjadi alarm bagi Putra. Bagai tersengat kesadaran, ia mendadak terhenti. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang melawan logika yang tiba-tiba kembali.

​"Ya ampun," Bisik Putra tertahan. Ia segera menjauhkan tubuhnya, beranjak dari posisi yang nyaris membuatnya kehilangan kendali.

​Salma tertegun, menatap langit-langit kamar dengan napas yang masih belum beraturan. Ada rasa kosong dan sedikit kekecewaan yang menggelayut saat kehangatan itu mendadak hilang. Ia bangkit perlahan, merapikan pakaiannya dengan tangan yang masih gemetar.

​Sementara, Putra membelakanginya, berusaha menenangkan badai dalam dadanya. "Pakailah jaketmu, lagi!"

​Suara itu menghantam sunyi, bukan sebagai saran, melainkan perintah yang mutlak.

Salma tersentak. Laki-laki di hadapannya kini menatap dengan sepasang mata yang telah kehilangan binar hangat beberapa menit lalu, digantikan oleh dinding es yang begitu kokoh.

​"Tidak seharusnya kita... melakukan ini," Lanjut Putra. Suaranya rendah, bergetar oleh beban penyesalan yang teramat dalam, seolah apa yang baru saja terjadi adalah sebuah kesalahan fatal yang memalukan.

​Salma merasakan tenggorokannya menyempit. Ia menelan saliva dengan susah payah, berusaha mengusir rasa pahit yang tiba-tiba merayapi lidahnya. ​"A-aku... aku minta maaf, Putra. Su-sungguh aku minta maaf," Gumamnya. Suaranya nyaris hilang, terkubur oleh deru napasnya sendiri yang tidak beraturan. Hingga, ​satu tetes air mata jatuh, menyusul tetesan berikutnya hingga membasahi pipi.

Salma tidak lagi tahu perasaan apa yang sedang mendominasi dadanya sekarang. Ada rasa kecewa yang menyengat karena kehangatan itu ditarik paksa sebelum ia sempat meresapinya, ada ketakutan akan penolakan, rasa gamang akan hari esok, dan penyesalan yang menghimpit sesak.

​Bagi Salma, kehangatan adalah barang mewah yang tak pernah ia miliki. Sepanjang hidupnya, ketulusan hanyalah dongeng yang ia baca di buku-buku usang atau hanya khayalan ia sebelum tidur.

Ia mengira pernikahannya dengan Erwin adalah pelabuhan terakhir, sebuah akhir dari pencarian panjang akan rasa aman.

​Namun, kenyataan justru lebih kejam dari kesepian.

​Erwin, suaminya, telah menghancurkan definisi "rumah" sebelum Salma sempat membangunnya. Pengkhianatan Erwin—tidur dengan wanita lain tanpa sedikit pun rasa bersalah—meninggalkan lubang hitam di dalam jiwa Salma. Ia merasa seperti wadah kosong. Ada, namun tak berisi, bernapas namun tak hidup.

​Kini, di hadapan Putra, Salma kembali diingatkan pada kutukan lamanya, bahwa dirinya mungkin memang tidak ditakdirkan untuk dicintai dengan sungguh-sungguh. Kehangatan singkat tadi hanyalah fatamorgana di tengah padang pasir hidupnya yang gersang.

Perlahan, Putra tertegun. Ia merasakan apa yang wanita itu rasakan saat ini. Lalu dengan lembut dan hati-hati, jemarinya mengusap pipi Salma yang basah sekaligus terasa begitu rapuh, seolah ia sedang menyentuh sesuatu yang retak yang takut hancur berkeping-keping. "Maafin aku." Lirihnya. "Aku tidak bermaksud menyakiti kamu... dan aku tidak ingin menyakiti kamu."

Saat Putra membisikkan kata maaf tersebut, Salma sempat ingin berpaling. Ia sudah menyiapkan benteng pertahanan yang tinggi, bersiap untuk tidak memercayai apa pun lagi.

​Namun, ketika Putra lanjut bergerak, yang kini menyampirkan jaketnya lagi ke bahunya, melingkupinya dengan kehangatan yang saksama—benteng itu mulai goyah.

Salma mendongak, mencoba mencari celah kebohongan di mata Putra, namun yang ia temukan justru sesuatu yang membuatnya sesak, kejujuran yang telanjang... ketulusan yang sulit di bantah.

Di saat yang masih sama, Putra lalu mendekap tubuh Salma ke dalam pelukannya, bahkan kini mempererat dekapannya, menyandarkan dagunya di puncak kepala Salma, menghirup aroma sampo wanita itu yang lembut. "Kamu... terlalu berharga buat aku."

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!