NovelToon NovelToon
CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: NONA GINCU MERAH

Pernah denger nggak ada mitos yang bilang kalau dua orang yang wajahnya mirip itu berarti jodoh ? dan itu yang dialami nadin, di hari pertama dia menginjakkan kaki di SMA Garuda dia bertemu dengan pria yang wajahnya mirip dengan nadin namanya Gavin. Sejak saat itu mereka selalu jadi pasangan yang sering mendapatkan "ciye ciye" oleh satu sekolah, Padahal yang sebenarnya Nadin dan Gavin tidak pernah akur sama sekali.

8 Tahun kemudian Nadin mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris di sebuah perusahaan di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Nadin yang sangat mencintai uang memiliki misi untuk memacari salah satu petinggi di perusahaan itu. Tapi imajinasi nya akan boss yang tampan dan kaya luntur seketika saat dia mendapati kalau orang yang menerimanya sebagai sekretatis tidak lain adalah Gavin, musuh abadinya.

Dengan seringai jahat gavin berkata " ingat, gue boss lo ! gue gak terima kata tidak !"

Dan sejak saat itu nadin merasa kalau neraka ada di depan matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NONA GINCU MERAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Nadin Almira Queen

Gue bangun dengan kepala yang betul-betul pusing. Sumpah gue merasa ruangan ini berputar dan mata gue mulai terasa berkabut. Gue mencium bau menyengat dari badan gue sendiri. Dan seketika bayangan kejadian semalam terlintas di otak gue. Kampret memang Nathan, pasti dia mencampur minuman gue dengan yang aneh-aneh.

Gue sebenarnya termasuk cewek yang kuat minum alkohol. Gue sih gak tau itu hal yang harus gue banggakan atau aib yang harus gue tutupi. Tapi sekuat-kuat nya gue minum, badan gue sepertinya punya batasannya sendiri, kalau tidak nggak mungkin gue semalem sampai tepar karena mabuk.

Pandangan gue langsung menyapu ke sekeliling kamar, gue baru sadar ini bukan kamar gue !  Gue mulai panik, sekelebat fikiran buruk terlintas di otak gue. Jangan-jangan semalam nathan jebak gue buat ena ena sama dia?  Oh lord gue udah gak perawan dong ? .

Dan baju gue? Gue memperhatikan baju gue yang sudah berganti menjadi piyama warna merah maroon, semalam gue pakai gaun bukan? Kemana gaun gue!!!

Oke jangan panik dulu Nadin, fikir baik-baik. Kalau seandainya Nathan ngapa-ngapain lo pastinya sekarang lo lagi telanjang tanpa sehelai benangpun dan cuma ditutup selimut.  Tapi ini lo masih pake baju lengkap, piyama panjang yang menutup seluruh badan gue.

Oke gue mulai merasa frustasi.

Tok tok tok

Gue langsung melihat ke arah pintu yang baru saja diketuk. Kalau itu beneran nathan gue malu, tapi kalau itu orang asing gue bahkan lebih malu. Duh lord apa gue kabur aja

Ceklek, pintu terbuka

Seorang cewek masuk sambil membawa nampan berisi sarapan yang terdiri dari susu dan roti. Cewek itu cantik sumpah gue gak pernah liat cewek secantik dia, gue sebagai cewek ngerasa minder.

"Hai.. "

"Maaf ini dimana ya ?"

"Di rumah gue, eh iya perkenalkan gue aurora "wanita itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Gue membalas uluran tangannya, gila tangannya alus banget .

"nadin " jawab gue.

"Sorry ya gue gak tau tempat tinggal lo, jadi gue bawa ke rumah gue deh "

"Semalam gue kenapa? Seingat gue semalem gue di club ?"

"Iya, semalem lo mabok berat dan..  Pria-pria kurang ajar itu hampir aja macem-macem sama lo"

"What!!"gue langsung memekik saat mendengar cerita aurora.

Kampret emang si Nathan, awas aja kalau gue ketemu dia lagi gue patahin itu leher nya dia.

"Makasih ya lo udah nolongin gue "

"Sama-sama, gue gak suka aja liat cewek di gituin "

"Btw sekarang jam berapa ya ra? "

"Jam 8 ?"

"What!!!  Mampus gue harus buru-buru ke kantor "

Gue panik sampai gak sadar kalau dengan kurang ajarnya gue lompat dari atas tempat tidur Aurora menuju kamar mandi. Bisa di gantung Gavin kalau sampai gue telat dateng ke kantor.

"Nad..  Lo bisa pakai baju gue kalau mau "

Mulai saat ini catat aurora itu malaikat penolong gue.

"Thanks ra "gue memeluk aurora sangat erat, perempuan itu malah terkekeh.

"Buruan, gue antarkan lo deh ke kantor..  Nanti lo di pecat lagi kalau telat "

"Bukan cuma di pecat ra, bos gue itu super rese..  Ah udah ya gue mandi dulu "

Gue langsung melesat masuk ke kamar mandi. Gue mendengar aurora masih cekikikan di luar sana.

1 jam setelahnya gue tiba dengan selamat di depan gedung kantor. Seperti janji nya, aurora sendiri yang mengantarkan gue dengan mobil mewahnya. Jujur gue keppo sih sama aurora, secara saat gue keluar rumah nya gue baru sadar kalau rumahnya lebih mirip istana dari pada rumah.

Apalagi mobil yang dia kendarai sekarang, gue tau persis mobil ini seharga 3 M lebih. Dan di Indonesia bisa dihitung pakai jari orang yang punya kendaraan ini, berarti aurora termasuk konglomerat dong.

"Thanks ra sumpah lo Dewi penyelamat gue "

"Sama-sama nad, gue seneng bisa kenal sama lo, next time gimana kalau kita ngopi bareng "

"Tentu aja harus "gue tersenyum lebar.

"Thanks ya buat tumpangan dan baju nya, gue pasti balikin baju lo "gue mengedipkan sebelah mata gue kemudian berlari masuk ke dalam kantor.

Seluruh mata orang yang ada di lobi mungkin memperhatikan gue dengan tatapan bingung. Gue gak perduli deh yang gue fikirin lari secepat mungkin sebelum Gavin tiba, kalau nggak gue pastikan kepala gue bakalan dia jadikan pajangan dinding.

Gavin Christopher

Hari ini gue tiba di kantor lebih cepat dari biasanya. Gue sengaja duduk manis di coffee shop sambil meminum espresso dan croissant yang gue pilih sebagai menu sarapan gue. Gue dan kopi seperti soulmate yang gak akan pernah bisa lepas. Kalian pasti berfikir gue merokok kan? Karena kata orang, orang yang suka kopi hitam itu merokok.

Gue bukan perokok, ya gue pernah sekali ngerokok waktu kerja di club, itu juga karena temen gue yang maksa. Dan waktu itu gue langsung batuk-batuk sampai temen gue juluki gue ndeso. Bodo deh gue kapok ngerokok, nafas gue langsung engap setiap gue coba menaklukkan benda itu.

Gue melirik jam tangan  yang melingkar Indah di lengan gue. Sudah satu jam ternyata gue duduk anteng disini. Sebagai CEO gue emang punya kebebasan untuk masuk jam berapapun dan pulang kapanpun gue mau. Secara perusahaan punya bapak gue, stop jadi jumawah Gavin.

10:00 WIB harusnya sekarang nadin sudah ada di depan ruangan gue. Pasti dia lagi di meja nya sambil pura-pura ngetik di laptop berlogo buah itu. Kayaknya seru nih kalau gue ngerjain dia lagi hari ini. Gue tertawa membayangkan muka nadin yang murka kalau gue kerjain dia.

Gue keluar dari gerai coffee shop dengan wajah yang lagi mesam-mesem. Untung semua karyawan udah pada kerja, kalau nggak bisa dibilang bos gila kali gue karena senyam-senyum sendiri.

"Gavin "

Suara seorang wanita membuat gue menghentikan langkah gue. Suaranya terasa familiar di telinga gue. Buru-buru gue menggeleng, mungkin efek kangen makanya gue berhalusinasi seolah cewek itu ada disini, gak mungkin gav.

"Gavin Gavin "

Oke sekarang gue mulai takut, jangan-jangan gue terkena penyakit mental yang menyebabkan halusinasi gue serasa nyata.

"Hey gavin "gue merasakan seseorang menepuk bahu gue.

Gue berbalik badan dan mendapati dia berdiri di belakang gue, aurora. Dia aurora Cinta pertama gue kan? Rasanya gue mau nyubit lengan gue, tapi gak mungkin lah gue lakuin itu apalagi di depan aurora, bisa-bisa dia mikir gue orang aneh.

Gue mencoba stay cool seolah-olah gak kaget kalau dia ada di Jakarta sekarang, dan di depan gue pula.

"Hai ra..  Kok bisa ada disini? "

"Iya tadi abis anter temen baru aku "aurora tersenyum, ya tuhan bisa diabetes gue.

Oke gavin lo harus tetap tenang jangan terlalu terlihat kalau lo bahagia banget ketemu dia, inget harga diri.

"Sama siapa di indonesia? "

Duh gavin jangan mancing di air keruh deh. Pertanyaan lo jelas aja lo sendiri udah tau jawabannya. Gak berbobot banget sih lo vin.

"Ya sama siapa lagi emang vin, pasti sama dia lah. Mana mungkin dia membiarkan gue kemana-mana sendiri "aurora terkekeh.

"Kirain lo kabur dari dia terus kesini, nyusul gue mungkin? "Kali ini gue yang terkekeh, dasar gavin bodoh itu sih elo yang ngarep.

"Hahaha seharusnya gue ngelakuin itu ya, by the way sabtu ini lo ada kerjaan? "

Gue buru-buru menggeleng, firasat gue Bagus nih. "Kenapa emang? "

"Mau gak temenin gue jalan, gue gak tau tempat yang Bagus di Jakarta. Ya itung-itung jadi tour guide buat gue"

Damn!  Ini aurora loh yang mau guys. Duh aurora dia tau nggak sih kalau dia lagi mancing gue berbuat kejahatan. Ah gue sih yakin gadis polos kayak dia gak mungkin mikir macem-macem.

"Hm..  Oke deh buat lo apa sih yang nggak ra "gue tersenyum lebar.

Jangankan cuma minta temenin keliling Jakarta aurora. Keliling dunia pun gue bersedia.

"Thanks gavin, lo emang sahabat gue paling baik "aurora tersenyum lebar sambil menggenggam tangan gue.

Sambil menatap tangan gue yang di genggam oleh aurora gue bergumam dalam hati Ya Allah hindarkan hambamu ini dari fikiran tercela.

"Gue balik dulu ya, mereka pasti udah nyariin gue "

"Oke hati-hati di jalan ya ra "

"Sip "aurora mengacungkan jempol kemudian masuk ke dalam mobil nya.

Gue memperhatikan mobil aurora yang berjalan semakin menjauh meninggalkan gedung. Gue menghela nafas panjang, kenapa sih mau orang yang mau move on itu selalu banyak cobaannya.

Aurora Sharira

Gue gak nyangka bakalan ketemu Gavin di kantor Nadin hari ini. Gavin itu bisa disebut sebagai sahabat gue banget. Gue kenal dia sejak pertama kali gue menginjakkan kaki di Amerika. Waktu itu gue kabur dari para pengawal yang nyebelin banget itu dan ketemu Gavin di club tempat dia bekerja. Karena sama-sama orang Indonesia gue dan gavin jadi gampang akrab, karena kita gak perlu pakai bahasa inggris kalau lagi ngomong.

Gavin itu baik pake banget, dia pernah nolongin gue buat kabur dari tempat sialan itu. Oke gue lupa cerita gue siapa. Nama gue Aurora Sharirra gue perempuan yang Cinta banget sama petualangan dan hobi gue panjat tebing. Tapi nasib nggak berpihak sama gue, gue terlahir dengan darah biru yang mengharuskan gue belajar tentang totok romo kehidupan di istana.

Menjadi seorang Putri adalah kutukan bagi gue, gak bisa melakukan hobi dan harus hidup sesuai peraturan istana dan ini yang terburuk, terpaksa menikah dengan orang yang memiliki darah biru juga, gue dijodohkan lebih tepatnya. Namanya Hans Anderson dia masih memiliki darah biru walaupun wajahnya perpaduan antara Amerika dan Indonesia. Kalian bingung kan? Sama gue juga dan gue juga males kalau harus menceritakan rumit nya keluarga dia itu.

Gue dan Hans dipaksa untuk bertunangan saat umur gue 21 tahun. Gue tau persis Hans orang yang seperti apa karena gue sudah mengenal dia selama gue hidup, dan kami gak cocok sama sekali. Hans orang yang posesif, sombong, dan yang lebih parah dia itu lebih mementingkan reputasi di atas segalanya. Itulah alasan kenapa gue kabur di hari pertunangan kami.

Hidup gue seperti di novel bukan? Itulah kenyataan hidup gue, menyedihkan dan jauh dari kata bahagia. Jika kalian pernah menginginkan hidup sebagai Putri maka tarik kembali doa kalian, Putri di kehidupan nyata gak pernah merasa bahagia. Kalian hanya dibohongi oleh pendongeng yang suka berkhayal.

"Baru pulang? "

Suara bariton Hans menggema di seluruh ruangan, gue menghela nafas entah kali ini apalagi yang membuat kami ribut.

"Kalo orang ngomong itu di jawab, gak punya mulut ?"

See..  Gue rasanya gak sudi menyebut dia pangeran. Darah biru apanya kelakuan dia lebih mencerminkan darah kotor.

"Iya "

Hans sudah duduk di hadapan gue, sepertinya hari ini dia sangat lelah dengan pekerjaannya. Gue mengamati dia yang sedang melonggarkan dasi.

"Dia lagi ngapain? "

"Tumben kamu tanya dia "

"Dia juga anak aku ra "

"Tidur mungkin "

Brak

Dengan seenak jidat hans menggebrak meja di hadapannya. Gue sih gak heran sama orang super tempramen ini. Lihat sebentar lagi peperangan akan dimulai.

"Bisa gak sih kamu lebih perduli sama anak kita ra, aku tau kamu melakukan ini semua terpaksa, menikah sampai akhirnya kita punya anak semua itu kamu lakukan terpaksa!! "Suara hans mulai meninggi, wajahnya merah dia emosi berat.

"Tapi kamu jangan perlakukan anak kita begitu dong ra, dia nggak salah dan gak patut kamu salahkan "

"Hahahha "gue bertepuk tangan, hans ini jago akting sekali rupanya.

Gue berjalan mendekati Hans menatap tajam kedua mata coklat nya yang tidak pernah menatap gue sewajarnya sejak kami saling mengenal. Dia menatap gue dengan tatapan tajam, lihat saja sebentar lagi apa yang akan dia lakukan pada gue.

"Hans, kamu ngomong begitu seolah-olah aku ibu yang jahat dan kamu papah yang baik?  Wah akting kamu semakin jago ya, kenapa gak jadi aktor aja sekalian! "

Gue  menyilangkan tangan di depan dada, menatap hans dengan tatapan tajam. Gue muak harus selalu menjadi pihak yang terintimidasi.

"Gina, felisya, laura dan natasya..  Apa perlu aku sebut lagi perempuan yang bermalam sama kamu di club. Haha lucu ya kamu menghakimi kelakuan aku di saat kamu aja nggak pantes disebut seorang papah "

Hans membelalakkan mata, gue tau dia gak menyangka kalau gue tau semua busuk nya hidup dia. Pangeran apanya?  Lihatkan istilah semakin tinggi pohon semakin kencang pula angin nya berlaku pada pria di hadapan gue ini.

"Kenapa? Kamu kaget aku berani ngomong ke kamu begitu? Kamu belum kenal siapa aku berarti hans "

"Jangan kurang ajar kamu aurora!!! "

Tangan hans sudah melayang hampir saja menyentuh pipi gue, untung refleks gue cukup baik untuk menahan tangannya sebelum mendarat dengan sempurna di pipi gue.

"Denger ya hans!  Semut aja kalau di injak balas gigit apalagi aku !!. Dan satu hal lagi..  Kita gak ada hubungan apapun selain yang tertera di buku nikah " nada suara gue semakin meninggi, gue tahu ini akan menyulut emosi hans semakin jauh.

"Aurora!! "

Gue menghempaskan tangan hans yang hampir menampar gue. Gue tatap matanya yang sedang menatap gue seolah ingin membunuh gue saat itu juga.

"Sst..  Jangan sebut nama gue hans. Gue muak denger nya "

Gue melangkah pergi meninggalkan hans yang masih diam saja di tempat dia berdiri. Seharusnya ini yang gue lakukan beberapa tahun lalu saat orang tua gue menikahkan gue dengan Hans.

Gue bego emang waktu itu, gue masih nurut apa kata orang tua, karena orang tua gue mengancam akan menyakiti dia. Dan gue rela melakukan apapun supaya orang tua gue gak menyakiti dia, karena kalau dia sampai kenapa-kenapa, demi tuhan gue lebih baik mati.

Bersambung

1
TRI UTAMI
lucuu
Akugabutt
cung yang dari lapak sebelah👆
Sary Leha
Arwah ruben masuk ke tubuh hans paling
Capricorn 🦄
keren
Baihaqi Sabani
duh rumityaaa kehidupan aurora..jd deg2 n jgw2 nnti gavin ma aurora...huft...
Anonymous
lawaklah novel nya, ceritanya receh yg asik2...ada scene minum2 tp ga menonjolkan adegan ++ nya...kissing tipis2 ada siy...
Anonymous
bukit Teletubbies
Laili Maslinani
aq pun merasa sebodoh itu 😭
Tiwi Rahayu
langsung kenak mental tuh pak bos...
Endang Anwar Rahmawati
Lis Manda Cel
katax ahli fashion kok gk tau kidaran harga cincin kwn yg limitited edition🤔🤔🤔
AbhiAgam Al Kautsar
mbuleeet kayak benang kusut cerita mu Thor
AbhiAgam Al Kautsar
mbuleeet
Adil Adil
Pelajaran buat yg jadi org tua, punya anak pinter memang bangga. Tapi biarkan mereka ikut umur nya, baik itu pendidikan mau pun lingkungan sosial nya. Dalam case si Jerry ini, mungkin dia di bully Dan gak bisa menyesuaikan lingkungan baru dgn usia sebenar nya. Dan ortu gak aware akan hal ini. So anak jadi korban.
Dewi Rose
Kereen bgt...sukaaa skli...ceritanya bagus bgt Thor...trm ksh ya Thor...sekses sll dg karya2 terbaikmu....selamat berkarya, Tuhan Memberkati🥰🥰
Intan Suci
hihihi
Intan Suci
lanjut ...
Reni Rahmawati
cerita seru....so sweet...
Zuni Tree
takut jadi pembunuh itu makannya nangis
emak @l ahsan
sebenarnya klo bag pov g usah pake lo gua...pasti lebih asyik....karna tiap masuk dialog itu,aku suka.......😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!