Laura Scarlett adalah seorang gadis yang tidak diinginkan oleh keluarganya, sehingga mereka membuangnya begitu saja sejak kecil, Laura scarlett tumbuh menjadi seorang gadis cantik ceria dan lembut dia di asuh oleh suami istri Johanson yang berasal dari estonia meskipun dia berasal dari British Utara yang kental.
Suatu hari ayahnya di serang sekelompok perompak, ketakutannya semakin nyata dan dia begitu benci dengan perompak, tetapi sayangnya nasib mempertemukannya dengan seorang perompak bernama Sean Nicholas Hoult bermata safir yang terang, seorang perompak yang membuat hatinya dan tubuhnya hanyut dalam gairah dan kesengsaraan.
Kisah perjalanan hidup dan cinta laura Scarlett bersama dengan pria yang membuat hidupnya sengsara tetapi juga mencintainya
Whisper of the Sea 2
Leona Lewstin adalah seorang gadis yang hidup di sebuah pulau hilang atau di sebut pulau berhantu oleh para bajak laut. Suatu ketika dia melihat seorang pria yang tidak sadarkan diri berada di bibir pantai, dia lantas menolong pria bernama Edmund Alexander, yang tidak sadarkan diri setelah ombak menggulungnya, apakah menolongnya adalah pilihan yang tepat bagi Leona?
Bijak dalam membaca, Warning !!! bukan bacaan untuk di bawah umur ya!!!
~Vote Coment and like di tunggu ya tmn2 readers, so author lebih semangat nulisnya☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vol 6
Pesta itu belum usai tetapi Laura telah berlari meninggalkan kapal pesiar itu, dengan terburu-buru mencari dress yang dapat dikenakannya untuk pulang, pakaiannya robek dengan menyedihkan. Laura terisak menutupi tubuhnya dia gemetar ketakutan. Pria itu hampir saja merenggut kehormatannya. Laura berlari tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya.
Akhirnya Laura berada di depan rumahnya, dia menghapus air matanya yang masih melekat di wajahnya mencoba bersikap normal dan membuka pintu rumahnya.
"Mom kau sudah tidur? hari ini aku pulang lebih awal." Teriaknya, tetapi ibunya tidak ada, dia hanya menatap kosong rumahnya, hanya penerangan dari dapur saja yang menyala, rupanya ibunya sedang mengunjungi madam Jessy yang akhir-akhir ini sedang sakit punggung, dia akan berlama-lama menghabiskan waktu menceritakan bagaimana para awak-awak kapal yang tampan dan kekar di pelabuhan.
Laura masuk ke kamarnya, mencoba menenangkan dirinya, baru kali ini seorang pria mencium bibirnya seperti itu, tidak ada kelembutan, tentu saja tidak ! dia hanya seorang perompak yang kasar yang hampir saja merenggut kehormatannya.
dressnya robek mengenaskan, Laura menjatuhkan dress yang dikenakannya di lantai hingga tubuhnya yang pucat dan merona hanya tertutupi pakaian dalam berwarna putih, dia berjalan kesana kemari hanya mengenakan pakaian dalam, Laura ingin melepaskan bra-nya tetapi suara bariton yang dalam membuat Laura terkejut setengah mati.
"Sekali saja kau melepasnya jangan salahkan aku jika aku akan menerkammu." Pria perompak itu baru saja keluar dari pintu lemarinya dengan darah merembes di bahunya.
Laura mundur dengan Ketakutan, tangannya menggapai-gapai apa saja untuk menutupi tubuhnya yang hampir saja telanjang. Pria itu tersenyum miring.
"Rupanya kau tinggal di sini?" dia berjalan mendekati Laura yang mundur dan terperangkap di tembok hanya dengan pakaian dalam yang menutupi tubuhnya.
"JANGAN MENDEKAT ! ATAU AKU AKAN TERIAK!" Suara laura gemetar ketakutan, bibirnya bergetar, Sein tersenyum jahat menatap Laura yang terisak sambil ketakutan seperti seekor kelinci yang siap diterkam oleh mangsanya.
Tanpa memperdulikan lukanya, sein mendekati Laura, "Sekali lagi kau teriak...." Dengan kasar sein menarik tubuh pucatnya kearahnya, lalu mencium Laura dan menjepit tubuhnya yang sudah mengeras ke tubuh Laura. Laura memukul-mukul dan mencakar tubuh sein tetapi hal itu sama sekali tidak mempengaruhinya, "Aku betul-betul akan melemparmu ketempat tidurmu sendiri dan bercinta denganmu tanpa ampun, kau mengerti!"
Dia melepas bibir Laura yang sudah membengkak. Suara ketukan di depan pintu rumahnya membuat Laura Sekali lagi terkejut. Sein melemparkan pakaian Laura dari atas tempat tidur kearahnya, dengan cepat Laura mengenakannya.
Dia membuka pintu rumahnya dan menemukan beberapa penjaga berseragam memegang senjata sedang berdiri di depan rumahnya.
"Ada apa sir, ada yang bisa aku bantu?" tanya Laura sopan mengamati tiga dari penjaga berseragam milik sir Ron.
"Apakah anda tidak melihat seorang pria yang berlari ke arah sini? dia sedang terluka." Kata salah satu prajurit berseragam.
Butuh kekuatan lebih bagi Laura untuk meresponnya, dia memiliki waktu beberapa detik untuk berbohong atau menyelamatkan sang perompak, tapi Laura memutuskan untuk berbohong demi keamanan dirinya dan ibunya, dia takut jika pria itu di tangkap teman-teman perompaknya akan datang dan membalas dendam kepadanya.
"Maaf sir, tidak ada seorangpun pun yang kulihat lewat sini, apalagi seorang pria." Laura memberikan wajah semeyakinkan kepada prajurit penjaga itu.
"Jika kau melihatnya segera hubungi kami". Kata salah satu pria.
"Tentu." Kata Laura lalu menutup pintu rumahnya.
"Cih, kau gadis pembohong, kenapa kau berbohong pada mereka?" tanya sein yang bersedekap tidak memperdulikan lengannya yang hampir sebagian bajunya berwarna merah.
"Kalian sekelompok perompak, teman-temanmu tidak akan membiarkan kami begitu saja, jika polisi itu menangkapmu." kata Laura dengan nada tegas, matanya menatap tajam pria yang berdiri di rumahnya dan dia membencinya.
"Pemikiran yang bagus, tapi..... sepertinya kau lupa satu hal, aku bukan pria yang melepaskan mangsaku begitu saja, kau bisa menyebutnya sebagai rasa terima kasihku." Sein melangkah maju, memerangkap Laura kembali, tiba-tiba sesuatu menghentikannya.
"Ugh", dia terdengar kesakitan, darahnya sudah menetes-netes di lantai. Tanpa memperdulikan ketakutannya Laura mengambil kotak obat dari dalam lemari, laura mendorongnya agar duduk dihadapannya.
Sein menatapnya sedikit melengkungkan bibirnya. Matanya tidak pernah beralih dari wajah gadis dihadapannya. Laura membersihkan darah yang memenuhi dada pria itu, lalu memberikan obat luka, tanpa berbicara sedikitpun. "Siapa namamu"? Tanya sein menatap bibirnya yang masih bergetar.
"Untuk apa kau tahu?" Kata Laura kasar. Sein tersenyum, dia lalu menarik dagu Laura maju ke arahnya.
"Namamu sayang? atau kau ingin aku yang membuka bibir cantikmu ini?" Kata sein penuh ancaman.
"Laura, namaku Laura Scarlett Johansson." Sein tersenyum.
"Nama yang sangat cantik". kata sein sembari menatap lukanya yang kini diperban oleh Laura.
"Ikat rambutku, aku tidak bisa mengikatnya dengan luka seperti ini." Perintahnya.
Dengan ragu-ragu Laura berdiri dari tempat duduknya, dia kemudian mengambil helaian rambutnya yang acak-acakan dengan takut-takut, lalu menyatukannya kemudian mengikatnya. Napas pria ini begitu keras, entah mengapa ketika Laura mulai menyentuh rambutnya suara desisan terdengar dari mulutnya.
"Kau betul-betul ingin membunuhku?" suaranya yang serak mengagetkan Laura.
~
Pesta itu sangat ramai, dentingan musik sangat riuh merayakan pesta pertunangan keluarga Alexander. "Ada apa dengan wajahmu Edmund? kau tidak ingin menyapa tunanganmu itu?" Jon menyenggol bahunya, lalu memberikannya minuman.
Rahangnya mengeras, dia sama sekali tidak tertarik dengan pesta ini, apalagi wanita yang ditunangkan dengannya membuatnya ingin segera pergi dari tempat ini. Seorang pelayan menawarkan minuman kepadanya, matanya tiba-tiba berubah, dia lalu teringat dengan gadis bermata tosca dengan kulit pucat.
Matanya menerawang mencarinya, tetapi wajah gadis itu tidak ada di sana.
"Kau mencari seseorang?" tanya Jon padanya.
"tidak juga." Katanya dengan nada malas. "Tidak juga? sepertinya ada seseorang yang menarik perhatianmu, tapi jelas bukan tunanganmu itu.' Dia menunjuk seorang gadis yang duduk manis bersama orang tuanya dengan sikap bangsawannya yang melekat kental.
Edmund mengedikkan bahunya, "Yah, sepertinya dia tidak ada di sini." Edmund beranjak meninggalkan Jon yang menatap tunangan Edmund dengan senyum miring di wajahnya.
~
"Sudah selesai", Laura mundur beberapa langkah menjauhi sein. Mata safirnya menatap tajam Laura yang beringsut menjauh darinya. "Kau tinggal sendiri?" tanya sein padanya.
"Aku tinggal bersama ibuku, dan ibuku sebentar lagi akan pulang." Laura memberikan sedikit nada ancaman padanya. Sein tersenyum miring. "Benarkah? Dia lalu berdiri mendekat Laura yang menempel di tembok dapur.
"Sebaiknya kau pergi dari sini", desis Laura. Sein hanya memandanginya dengan langkah sedikit melambat mendekati Laura.
Tangannya terjulur kepalan tangannya membentur tembok disamping wajah Laura yang terkejut.
Laura membuang tatapannya ke samping, dia tidak ingin beradu tatap dengan perompak ini. Sein mengambil helaian rambutnya, memainkannya di jarinya.
"Aku pernah melihat mata seperti warna matamu." Bisik sein di telinga Laura membuatnya berjengit.
"Laura....". panggilnya. Sontak Laura berbalik menatap tajam mata safir yang balas menatapnya.
"menjauh dariku, jangan salahkan aku jika aku berbuat sesuatu padamu jika takdir mempertemukan kita lagi, karena aku sudah memperingatkanmu !" Dia tersenyum, melengkungkan bibirnya hangat napasnya dapat dirasakan Laura di wajahnya.
"Tutup matamu Laura". Kata sein, Laura tentu saja tidak segampang itu menuruti keinginannya. "Aku bilang tutup matamu." Perintahnya. Laura dengan takut-takut menutup kedua matanya. Bibir yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya. Seketika itu juga Laura terhanyut dengan ciumannya, ketika Laura membuka matanya pria itu menghilang seperti ditelan angin.
GK suka juga sosok Sean klo kasar dng Laura ..dan gak suka dng kelakuannya yg setiap saat memakan Laura..hanya nafsu yg dikedepankan,apakah Krn dia laki2 pelaut Krn kalau pelaut rata2 wataknya kasar dan libidonya kuat harus ada pelepasan setia waktu
padahal cintanya buat Sean
seharusnya dia meronta jng terlena hampir sja si mut2 melancarkan rudalnya.
alah Laura kurang percaya pada cinta sendiri..sdh ditidurin Sean berkali2 masih sja mau dibuai si mut2..
seharusnya pastikan dulu klo Sean benar2. TDK mencintainya juga baru cari cinta yg lain.