"Aku mencintainya, tapi akulah alasan kehancurannya. Bisakah ia tetap mencintaiku setelah tahu akulah penghancurnya?"
Hania, pewaris tunggal keluarga kaya, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Meskipun seluruh sumber daya dan koneksi dikerahkan untuk mencarinya, Hania tetap tak ditemukan. Tidak ada yang tahu, ia menyamar sebagai perawat sederhana untuk merawat Ziyo, seorang pria buta dan lumpuh yang terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya.
Di tengah kebersamaan, cinta diam-diam tumbuh di hati mereka. Namun, Hania menyimpan rahasia besar yang tak termaafkan, ia adalah alasan Ziyo kehilangan penglihatannya dan kemampuannya untuk berjalan. Saat kebenaran terungkap, apakah cinta mampu mengalahkan rasa benci? Ataukah Ziyo akan membalas dendam pada wanita yang telah menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Merasa Sudah Tepat
Diva masih duduk di kursi samping ranjang Ziyo, matanya memandangi wajah pria muda yang masih terbaring dengan mata terpejam. Wajahnya tampak tenang, meski ada sedikit kelelahan di garis wajahnya.
“Ziyo...” bisiknya pelan, tangannya mengusap lembut punggung tangan pria itu. “Kamu harus cepat sembuh, ya. Aku dan Zian selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”
Ziyo, yang sudah sadar sejak tadi, hanya bisa diam. Ia mendengar setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu, namun hatinya tetap sulit menerima Diva sebagai seorang ibu. Ada sesuatu yang selalu menghalanginya, seperti dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka.
Namun, berbeda dengan Zian. Meskipun mereka lahir dari rahim yang berbeda, Ziyo tidak pernah ragu menganggap Zian sebagai saudara kandungnya. Bahkan, ia kerap merasa bahwa Zian adalah satu-satunya keluarga yang bisa ia percayai sepenuh hati.
Diva menggenggam tangan Ziyo lebih erat, dan suaranya terdengar lebih lembut. “Aku tahu, mungkin kamu masih belum sepenuhnya bisa menerimaku. Tapi aku selalu berusaha menjadi ibu yang baik untukmu. Setidaknya, aku ingin kamu tahu itu.”
Hati Ziyo mencelos mendengar kata-kata itu. Ia tidak tahu harus merasa bersalah atau tidak. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu ada sesuatu yang berbeda dari Diva. Wanita itu selalu tampak perhatian, tapi entah kenapa ia tak pernah merasa sepenuhnya nyaman di dekatnya.
Ketika Diva berdiri untuk merapikan selimut Ziyo, Ziyo tetap diam, membiarkan napasnya teratur agar tidak membongkar sandiwaranya. Diva melangkah ke sisi lain ranjang, menatapnya dengan penuh perhatian sebelum berkata, “Zian ingin sekali melihatmu, tapi aku bilang padanya untuk menunggu sampai kamu benar-benar pulih.”
Ada ketulusan di nada suara Diva, tapi Ziyo hanya bisa mendengarkan dalam diam, hatinya dipenuhi oleh perasaan yang bercampur aduk. Di satu sisi, ia menghargai perhatian yang diberikan oleh wanita itu. Namun di sisi lain, ia merasa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Diva mengusap punggung tangan Ziyo dengan lembut. “Cepatlah sembuh, Nak. Aku akan selalu ada di sini untukmu.”
Ketika Diva meninggalkan ruangan, Ziyo menghela napas pelan. Pikirannya menerawang, hatinya penuh pertanyaan.
“Kenapa aku tidak bisa merasa nyaman dengannya?” pikirnya. Namun, pikirannya segera beralih ke Zian. Hanya adik kecilnya itu yang selalu membuatnya merasa hangat, merasa seperti benar-benar memiliki keluarga.
Ia kembali menghela napas panjang. "Aku sudah tahu bagaimana perasaan Clara. Sepertinya aku sudah cukup bersandiwara. Aku tak ingin terjebak dalam hubungan ini lagi."
***
Di sisi lain, Clara bertemu dengan Bryan di sebuah kafe mewah di pusat kota. Wajahnya cerah, seolah baru saja melepaskan beban berat. Bryan menyambutnya dengan senyum penuh percaya diri, lalu berdiri untuk menarik kursinya.
Kafe itu terasa hangat, suasana tenang dengan lampu redup yang memantulkan bayangan elegan pada cangkir-cangkir kopi di meja.
Clara duduk dengan postur kaku, menggenggam cangkir cappuccinonya yang sudah dingin. Di hadapannya, Bryan duduk santai, mengenakan jas mahal yang membuatnya terlihat seperti pria sukses yang penuh percaya diri.
“Clara, kau tampak berbeda hari ini,” katanya, memandangnya dengan tatapan penuh arti.
“Bryan, aku sudah membuat keputusan. Clara akhirnya membuka suara, matanya menatap tajam ke arah Bryan.
Bryan meletakkan cangkirnya perlahan. "Keputusan apa, Clara?" tanyanya, meski jelas ia sudah menduga apa yang akan dikatakan wanita itu setelah mendengar kabar tentang kondisi Ziyo saat ini.
Clara menghela napas, mencoba menenangkan gejolak di dadanya. "Aku akan memutuskan pertunangan dengan Ziyo."
Bryan mengangkat alis, pura-pura terkejut, tapi ada kilatan di matanya yang sulit ditebak. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, jemarinya saling terkait di atas meja. "Kau yakin? Maksudku... ini keputusan besar, Clara. Ziyo mungkin akan terpuruk lebih dari yang kau bayangkan."
Nada Bryan terdengar simpatik, tapi senyumnya yang samar membuat Clara merasakan sesuatu yang jauh dari simpati. Ia tahu Bryan tidak pernah benar-benar peduli pada Ziyo, dan itu sejujurnya membuatnya merasa lega.
Clara mengangguk tegas. "Aku tidak peduli lagi," jawab Clara dengan tegas. "Dia mungkin mencintaiku, tapi aku tidak bisa memaksakan diri untuk bertahan dengannya. Aku sudah muak dengan semuanya. Dia posesif, mengekangku, dan sekarang keadaannya...” Clara berhenti sejenak, menahan diri agar tidak terdengar terlalu kasar. “Aku tidak mau menghabiskan hidupku mengurus seseorang yang bergantung padaku. Apa yang kita punya, itu lebih nyata bagiku, Bryan."
Bryan terdiam, namun sesaat kemudian tersenyum tipis dan mencondongkan tubuhnya ke arah Clara, lalu menatap langsung ke matanya. "Kalau begitu, aku akan selalu mendukung keputusanmu, Clara. Tapi..." Ia berhenti, membuat Clara mengernyit.
"Tapi apa?" desaknya.
Bryan menghela napas pelan, memberikan senyuman yang penuh perhitungan. "Pastikan kau melakukannya dengan cara yang benar. Jangan sampai ini menjadi bumerang yang akan menghancurkanmu. Aku akan ada di sisimu, tapi kita harus berhati-hati. Terutama dengan Ziyo... dan keluarganya."
Clara mengangguk perlahan, meski ada sedikit keraguan di wajahnya. Kata-kata Bryan terasa seperti peringatan yang samar, tetapi ia terlalu lelah untuk memikirkannya lebih jauh.
Bryan mengambil tangannya di atas meja, menggenggamnya erat. "Kita akan melewati ini bersama, Clara. Kau sudah cukup menderita. Sekarang saatnya kau bahagia."
Clara menatap tangan mereka yang saling menggenggam, lalu mendongak, membalas tatapan Bryan dengan senyum tipis. "Aku harap kau benar," gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Bryan tersenyum lebih lebar, tapi di balik senyum itu ada sesuatu yang tidak Clara lihat, ada kilatan licik di matanya, ambisi yang terlalu kuat untuk sekadar menjadi pelindungnya. "Ziyo sudah keluar dari permainan. Sekarang giliran Clara yang akan kubawa ke dalam rencanaku."
Clara tersenyum tipis, tetapi jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang terasa salah. Ia mengabaikan rasa itu, memilih untuk meyakinkan dirinya bahwa ia telah membuat keputusan yang benar.
Bryan pergi setelah menerima telepon. Clara menatap gelas kopinya yang hampir habis, jemarinya yang ramping mengusap permukaan cangkir seolah sedang berpikir keras. Setelah percakapannya dengan Bryan, ia semakin yakin bahwa memutuskan pertunangannya dengan Ziyo adalah langkah yang tepat.
Sejak ayahnya meninggal setengah tahun lalu, ia mulai merasa nyaman dengan Bryan. Sebagai CEO, pria itu begitu cekatan dalam menjalankan perusahaan, sementara Clara, sebagai wakil presiden eksekutif, lebih sering berinteraksi dengannya daripada dengan Ziyo. Kedekatan itu tumbuh perlahan hingga ia menyadari bahwa ia telah jatuh hati pada Bryan.
Namun, memutuskan pertunangannya dengan Ziyo tidak pernah semudah itu. Pria itu telah banyak membantu bisnis keluarganya, terutama setelah kepergian ayahnya. Jika ia bertindak gegabah, bukan tidak mungkin ada dampak besar terhadap perusahaan.
Tapi sekarang, semuanya berubah.
Ziyo yang dulu kuat dan berpengaruh kini hanya pria yang terbaring lemah, kehilangan segalanya. Dalam kondisi seperti ini, Ziyo tidak akan punya kesempatan untuk menentangnya. Ia pasti akan menerima keputusan ini tanpa perlawanan.
Clara menarik napas panjang, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Ini waktu yang tepat," gumamnya.
Clara menghela napas pelan. "Dengan kemampuanku dalam berbisnis, aku tak mungkin bisa memegang, apalagi mengembangkan perusahaan ini sendirian. Bahkan untuk sekadar mempertahankannya pun akan sulit. Tapi jika aku menjalin hubungan yang lebih serius dengan Bryan, aku bisa tetap mengendalikan perusahaan ini dengan bantuannya. Lagipula, kami memang saling menyukai."
Clara menyesap kopinya pelan, matanya menerawang ke luar jendela kafe.
"Sedangkan Ziyo..." Ia menghela napas, suaranya merendah. "Bahkan jika dia masih sehat seperti dulu, dia tak akan terjun langsung mengelola perusahaan keluargaku. Dia punya perusahaannya sendiri, ambisinya sendiri. Apalagi dengan kondisinya sekarang..."
Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, bukan karena bahagia, melainkan karena keyakinannya semakin bulat.
"Keputusan ini memang sudah tepat," gumamnya.
...🔸"Kebaikan yang terpancar belum tentu ketulusan, dan ketegasan yang terasa mengekang belum tentu kebencian. Belajarlah melihat lebih dalam."🔸...
...🍁💦🍁...
.
To be continued
Hania pergi ziyo ada yg hilang walaupun tidak bs melihat wajah hania ziyo bs merasakan ketulusan hania walaupun ada yg disembunyikan hania....
Dalang utama adalah diva ingin mencelakai ziyo dan pura2 baik didepan ziyo bermuka dua diva ingin menguasai perusahaan.....
Dasar ibu diva hanya mementingkan diri dan tidak mementingkan kebahagiaan Zian..
Diva tidak akan tinggal diam pasti akan mencelakai ziyo lagi....