Mia Hazel dan Benjamin menikah karena terpaksa. Saat itu Benjamin memiliki tunangan yang dicintainya. Dan Mia hanya ingin menyelamatkan usaha ibunya.
Walaupun sudah menikah, Mia memilih menjalankan pekerjaannya tanpa mempedulikan suaminya. Benjamin juga tetap bertemu kekasihnya tanpa mempedulikan istrinya.
Mereka berpura-pura tidak saling mengenal ketika diluar rumah dan kembali ke rumah seperti orang asing.
Ibu Benjamin telah merancang berbagai situasi dan kondisi agar mereka bisa menyatukan perasaan tapi semuanya percuma.
Semua itu berubah ketika Benjamin mulai menaruh curiga pada istrinya yang sering tidak pulang karena pekerjaan. Benjamin menjadi sangat marah saat menemukan Mia bersama laki-laki lain.
Akankah mereka menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Atau haruskah mereka berpisah demi kebaikan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kathy merawat sahabatnya yang sama-sama berusia lebih dari 50 tahun sekarang. Keduanya menjadi semakin saling membutuhkan satu sama lain dan Laura merasa senang ada seseorang yang mau mengorbankan waktunya untuknya.
Sudah lama sekali hubungan mereka memburuk sejak Benjamin membatalkan pertunangan dan memaksa keluarga Hazel menandatangani surat perjanjian bodoh itu. Belum lagi, Benjamin sengaja datang ke rumah Kathy untuk memberikan uang yang tidak mereka inginkan. Tapi, Laura sangat membutuhkan bantuan sahabatnya lagi, terutama Mia. Keraguan menguasainya sampai hari kedua dirinya dirawat di rumah sakit.
"Apa Mia belum pulang?" tanyanya pada Kathy yang sedang mengambilkan sweater un tuknya.
"Nanti sore. Mia sudah menyelesaikan pekerjaannya dan berjanji datang untuk mengunjungimu" jawab Kathy tanpa prasangka.
Mia adalah anak perempuan yang sangat baik di mata Laura. Mia selalu mendapatkan nilai baik di sekolah dan lulus dengan predikat memuaskan. Tapi, Mia tidak egois dalam menjalani hidupnya dan memutuskan bekerja untuk menghidupi ibunya.
"Lalu, apa bantuan yang kau minta dariku dan Mia?" Kathy telah berpikir selama semalam dan tetap tidak bisa menebak tentang bantuan yang akan diminta sahabatnya.
"Apa Mia memiliki pacar?" tanya Laura entah apa alsannya.
"Belum, Mia belum memikirkan tentang kekasih atau pria. Dia sangat berkonsentrasi pada akademi dan pekerjaannya. Lagipula, Mia masih berusia 20 tahun"
Laura menjadi ragu setelah mendengar jawaban Kathy, Apakah dia bisa meminta bantuan pada Kathy tanpa mengakibatkan rusaknya persahabatan mereka.
"Apa? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan kekasih Mia?"
"Seandainya ... aku meminta bantuan Mia menyadarkan Benjamin, apakah kau akan memberikan ijin?"
Menyadarkan Benjamin?? Apa maksud Laura sebenarnya?
"Penyebab aku mengalami serangan jantung adalah aku melihat Benjamin sedang melakukan itu dengan kekasihnya di ruangannya"
Kathy sangat terkejut mendengarnya, matanya terbuka lebar seakan ingin memastikan kebenarannya.
"Kali ini, aku ingin Benjamin segera menikah, tapi tidak dengan Olivia" lanjut Laura.
Semua orang tahu tentang hubungan Benjamin dan Olivia dari media sosial. Semakin membaca berita mereka, Kathy semakin yakin kalau kekasih Benjamin itu hanya memanfaatkan hubunganya untuk mendapatkan uang. Keluarga Quinn yang tidak memiliki usaha apapun, tiba-tiba mendirikan beberapa rumah mewah atas nama mereka di daerah pusat kota. Belum lagi mobil, perhiasan serta gaun-gaun mahal mereka yang selalu menghiasi media sosial. Bisa-bisanya Benjamin menyukai perempuan seperti itu, pikir Kathy.
"Dan dari keluarga mana calon menantumu yang baru?" tanya Kathy penasaran.
Laura melihat sahabatnya dengan pancaran mata penuh harap dan Kathy perlahan mengerti maksudnya.
"Bisakah, Mia menjadi menantuku?"
Kathy benar-benar tidak habis pikir dengan permintaan Laura, sahabatnya yang telah menyetujui pembatalan pertunangan ini sejak dulu. Dia dan Mia sudah bahagia walaupun hidup sederhana.
"Tidak ... tidak ... tidak. Apa kau bercanda? Apa kau mau menghancurkan kehidupan putriku?"
Laura telah menduga reaksi ini dari Kathy. Laura yakin, Kathy tidak akan dengan mudah menyetujui permintaannya. Tapi, ini adalah jalan terakhir untuk menyadarkan putra tunggalnya.
"Tapi, Kathy. Aku juga sangat menyayangi Mia seperti putriku sendiri. Aku hanya ingin Benjamin dekat dengan seseorang yang memiliki sifat bertolak belakang dari Olivia"
"Dan kau ingin mengorbankan anakku di tengah keduanya??" teriak Kathy marah.
"Tidak, aku tidak akan membuat Mia tersakiti, aku janji. Aku hanya ingin mereka menikah dan ..."
"Dan apa?? Kau ingin Mia menjadi penghalang bagi Olivia. Itu sama saja dengan menghancurkan Mia"
Kathy tidak tahan berada di kamar perawatan mewah ini lagi. Dia segera mengambil jaketnya lalu bergegas pergi.
Sepeninggal Kathy, Laura menjadi sangat sedih dan kembali mengalami serangan jantung ringan. Untungnya, dia sempat memanggil perawat dan tidak ada hal serius yang terjadi.
Baru saja datang dari luar kota, Mia merapikan peralatan foto di kamar. Kemarin ibu memberi tahu kalau Tante Laura mengalami serangan jantung yang cukup mengkhawatirkan. Alangkah baiknya dia segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk. Ibu tidak mengangkat telepon walau beberapa kali Mia mencoba menghubunginya. Kemana ibu. Apa ada sesuatu yang terjadi pada Tante Laura.
Merasa khawatir, Mia meninggalkan semua peralatannya di rumah dan bergegas pergi dengan bis kota. Sampai di rumah sakit, terlihat dua orang laki-laki yang dikenal Mia berlari ke arah lift. Tentu saja aku mengikuti mereka karena tidak tahu letak kamar perawatan Tante Laura.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Jonathan Hamilton pada istrinya yang terlihat lemah.
"Tidak apa"
"Apa Ben boleh masuk? Dia sangat mengkhawatirkanmu"
"Aku tidak ingin melihatnya"
Jonathan sangat mengerti kenapa istrinya tidak ingin melihat anaknya sendiri. Kelakuan Benjamin dan Olivia sangat tidak dapat dimaafkan karena mereka melakukan semua itu di perusahaan miliknya. Dua hari ini, Jonathan sibuk menata kembali urusan perusahaan karena Benjamin dinon-aktifkan sebagai Dirut.
"Aku tidak senang melihatmu seperti ini" kata Jonathan pada istrinya lalu mencium keningnya drngan sayang. Laura merasa sangat beruntung memiliki suami yang menyayanginya sampai sekarang.
"Kak Ben!!" teriakku memanggil laki-laki tinggi yang berdiri di depan kamar perawatan dengan nama Tante Laura di depannya.
Benjamin menoleh karena merasa mengenal suara yang memanggilnya dan terpesona sebentar. Rambut sebahu yang halus membingkai wajah kecil dan cantik Mia. Dengan hanya mengenakan kaos, celana dan jaket denim, Mia tampak sangat muda dan energik. Tentu saja, usianya berbeda sepuluh tahun dari Benjamin.
"Kapan kau datang?" tanya Benjamin ragu
"Baru saja. Aku menghubungi ibu yang katanya menjaga Tante Laura, tapi ... dari tadi tidak diangkat" Mia menenggelamkan ponselnya di saku celana sebelum mendekati ke Benjamin.
"Apa Tante Laura baik-baik daja?" tanya Mia lagi
"Iya, tadi siang mengalami serangan jantung karena terlalu banyak pikiran" jelas Benjamin yang tetap berada di ruang tunggu.
"Kenapa kak Ben ada disini?"
Benjamin terlihat gugup karena pertanyaan yang tiba-tiba diutarakan bibir sempit dan berwarna merah muda itu.
"Aku ... menunggu ibu siuman""
Pasti Mia berpikir kalau kelakuannya sekarang aneh. Tapi Benjamin tidak bisa masuk karena ibunya masih marah. Hanya ayahnya dan ibu Mia yang boleh bertemu ibunya. Tapi, perempuan di depannya seperti tidak peduli dengannya dan masuk ke dalam kamar ibunya.
"Mia"
"Tante Laura, Om Jonathan" sapaku lalu mendekat ke arah Tante Laura yang memiliki wajah pucat sekali. Sepertinya, serangan jantung yang dialaminya cukup berat. Intunglah tidak membuatnya kesakitan terlalu lama.
"Mia tidak bisa menghubungi ibu. Apakah ibu dari sini?" tanya Mia penasaran. Ibu tidak ada di rumah, reatoran atau di kamar rawat sahabatnya. Dia takut terjadi sesuatu padanya.
"Tenang saja. Mia. Tidak ada yang akan terjadi dengannya" kata Tante Laura.
Mia mendekati Tante Laura setelah Om Jonathan keluar dari kamar.
"Mia anak baik, bisakah bibi meminta bantuan yang agak besar darimu?"
Tentu saja permintaan bibi terasa tidak benar untuk Mia. Baru saja dia datang kemari, tapi Tante Laura sepertinya mengharapkannya datang sore ini. Apa yang akan diminta Tante Laura pada Mia?
tp kl ga gini ga ada cerita yeeee... hehehehee...
tp yg bodoh disini gq cm ben tp ortunya jg.. duit dihambur2in kok diem aja
plissla