Apa yang akan terjadi dan akan kamu lakukan jika, pria yang menikahimu selama beberapa bulan ini sama sekali tidak berniat untuk menyentuh dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang tidak ingin memberikan nafkah batin untuk istrinya itu.
"Abang Fahri Hamzah Noel apa kurangnya aku di matamu,apa aku tidak cantik tidak menarik lagi atau Abang sudah bosan denganku atau kah ada wanita lain di luar sana yang Abang cintai?" tanyanya Aida Izzatih Jasmine Aziz.
"Maaf aku tidak bisa,"
Hanya kata itu yang selalu meluncur dari mulutnya Fahri hingga setahun pernikahan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
Fahri tidak berbicara lagi,ia hanya terdiam dan duduk manis di atas kursi rodanya itu," aku pasti akan selalu mengucapakan makasih sepanjang usiaku karena, kamu dengan keikhlasan dan kesabaranmu menjagaku yang hampir sebulan dirawat di rumah sakit," Fatih membatin.
Aida dan kedua adiknya itu membantu Fahri masuk ke dalam mobil yang masih kesusahan untuk bergerak leluasa.
"Mbak saya saja yang nyetir, Mbak temani Abang Fahri di belakang, saya dengan Aisyah yang di depan, kamu enggak naik mobil ke sini kan?"
"Iya aku naik ojol soalnya mobil dipakai sama Mbak Alisha bersama suaminya ke Bandung makanya mama sama kak Alisha enggak bisa datang," tuturnya Aisyah.
Mobil pun melaju meninggalkan tempat parkiran rumah sakit swasta terbaik dan termahal di Ibu kota Jakarta. Suasana siang hari itu cukup terik, biasanya di jam seperti itu,hujan akan mengguyur ibu kota tapi hari cukup panas.
Mobil mereka melesat membelah kota protokol Jakarta, Fahri seolah menjaga jarak dari Aida, ia tidak ingin bersentuhan secara langsung dan berusaha meminimalisir kontak fisik dengan istri orang lain. Sedangkan Aida sama sekali tidak memikirkan hal itu, karena baginya itu hal yang wajar mengingat beberapa luka ditubuhnya Fahri masih banyak yang belum sembuh total.
Perjalanan yang ditempuh mereka cukup lama dan panjang, karena mereka terjebak kemacetan yang cukup panjang padat merayap seperti seekor ular raksasa saja.
"Alhamdulillah akhirnya nyampe rumah juga, Fariz sepertinya belum pulang," ucap Atiyah yang celingak-celinguk mencari keberadaan kakak kembarnya itu.
Aida mendorong kursi roda milik Fahri ke dalam kamarnya itu. Fahri dengan seksama memperhatikan kondisi dari luar dan dalam rumahnya Aida.
"Apakah saya akan hidup di dalam rumah seperti ini, mana tidak ada lagi pendingin ruangannya hanya ada kipas, semoga saja antar malam aku bisa tidur," tapi untungnya kamar mandinya berada di dalam kamar jika tidak bagaimana caranya aku mandi dalam keadaan seperti ini," gumamnya Fatih yang gelisah melihat kondisi kamar yang akan dipakainya itu.
Aida yang diam-diam memperhatikan perubahan raut wajah suaminya itu seolah ia mengerti dengan permasalahan dan keruwetan yang dialami oleh Fahri Hamzah Noel.
"Maaf Abang saya belum sempat beli AC soalnya karena, akhir-akhir ini hujan mulu terus cuacanya jugy sangat dingin," jelasnya Aida seraya menarik tirai gorden kamarnya itu hingga jendelanya terbuka lebar dan memperlihatkan keindahan taman mini hasil kreasinya Aida sendiri.
"Kenapa ia bisa tahu yah, apa dia itu cenayang yang bisa nebak isi pikiranku," cicitnya Fatih.
"Maaf aku terbiasa hidup dengan menggunakan pendingin ruangan, jadi biasanya aku akan kesusahan untuk tidur jika, ac-nya enggak menyala," ucapnya Fahri Hamzah Noel yang harus terbiasa menggunakan identitas nama itu.
Aida menolehkan kepalanya ke arah Fahri," insya Allah… saya akan segera hubungi Fariz Siddiq adikku agar segera membeli ac pendingin ruangan untuk Abang, tapi ngomong-ngomong kalo menurut Abang merk ac pendingin ruangan yang paling bagus dan tidak rewel perawatannya apa?" Tanyanya Aida.
"Kamu pesan ac gree saja," jawabnya singkat Fahri.
"Ooh gitu, tunggu aku akan telpon Fariz semoga saja belum pulang," imbuhnya Aida yang segera meraih hpnya yang tergeletak di atas meja nakasnya itu.
Fatih Shafiq Akmal Himawan terdiam di atas kursi rodanya itu sambil menerawang jauh ke sebelum ia mengalami kecelakaan fatal tersebut.
Raut wajahnya langsung berubah drastis, "Paman Herdiansyah, ingat semua ini belum berakhir jika,saya mengetahui keterlibatan paman di dalam kecelakaan maut yang aku alami, aku akan datang untuk menuntut balas," gumamnya Fatih dengan menggenggam erat kepalan tangannya itu.
Aida yang sedang sibuk menelpon nomor hpnya adik keduanya itu sambil menceritakan maksud dan tujuannya untuk menelpon.
"Mbak tunggu yah, usahakan sebelum jam lima sore acnya sudah terpasang," ucap Aidah.
Berselang beberapa menit kemudian, tukang ac sudah datang. Mereka segera memasang acnya sesuai dengan petunjuk dari Fahri sendiri yang segalanya mengatur tata letak ac itu. Aida memesan hari itu sekitar empat ac, ia pasang di ruang tengah, kamarnya Atiyah Afsana Rosemalia adik bungsunya dan juga kamarnya Fariz.
"Apa uang belanja kamu masih ada,kalau sudah menipis ambil ini saya yakin pasti sudah berkurang karena,kau beli beberapa unit ac, maaf sudah merepotkan," ujarnya Fahri seraya menyodorkan sebuah kartu atm biasa saja karena, tidak ingin Aidah curiga jika memberikan kartu kredit yang tanpa limited tersebut.
Fahri sudah mentransfer sejumlah uang tambahan ke dalam ATM berwarna gold itu sehingga akan memenuhi kebutuhan sehari-harinya Aida dan adiknya. Apa lagi selama ini, Fahri lah yang membantu membiayai sekolah hingga kuliah kedua adiknya itu.
Aida kembali tercengang mendengar perkataan dari mulut suaminya itu yang tidak seperti biasanya itu, " apa karena abang mengalami amnesia yah sehingga cara bertutur katanya pun berbeda,"
"Saya berikan sejumlah uang itu untuk kamu karena, kamu adalah tanggung jawab aku sekarang, jadi aku mohon jangan menolaknya," pintanya Fahri Hamzah Noel yang berharap Aida bisa percaya dengan semua perkataannya itu.
"Tapi, Abang apa tabungan Abang masih cukup karena,biaya rumah sakit dari Banjarmasin ke Jakarta itu cukup banyak, takutnya malah sudah defisit," tukasnya Aida yang segan untuk menerima uang dari Fahri suaminya sendiri.
Fahri memperlihatkan senyumannya itu kehadapan Aida hingga ada getaran aneh yang muncul dari dalam hatinya Aida yang tidak seperti biasanya jika, mereka bersama selama ini.
"Abang senyumanmu itu mampu melelehkan hatiku," cicitnya Aida yang terpesona pada senyuman suaminya sendiri.
"Kamu tidak perlu merisaukan dan memikirkan masalah itu, karena semua biaya sudah ditanggung oleh perusahaan tempat Abang bekerja, dan lagian insya Allah… kalau Abang sembuh juga sudah bisa mulai bekerja kok," pungkasnya Fahri Hamzah Noel yang banyak bicara selama berada di sampingnya Aida padahal karakter aslinya Fatih itu kebanyakan bekerja dari pada bicara.
Aida pun meraih kartu ATM tersebut dari dalam genggaman tangannya Fahri. Pria yang dia anggap suaminya padahal orang lain yang menyamar dan memanfaatkan kesempatan tersebut.
"Saya akan melakukan apapun demi membalas budi untuk kebaikanmu, karena kau perempuan yang baik pantes untuk mendapatkan kebaikan dari orang lain juga dan semoga kedepannya aku tidak jatuh cinta padamu yang jelas-jelas istri dari pria lain," Fatih membatin.
Aida pun pamit kepada suaminya untuk memasak makanan untuk menu makan malam mereka. Fatih yang ingin membersihkan seluruh tubuhnya yang sudah terasa lengket itu karena,keringat kebingungan ketika melihat suasana dalam kamar mandinya.
Hanya ada gayung dengan ember,closednya pun yang jongkok bukan yang duduk. Fahri hanya geleng-geleng kepala melihat kondisi itu. Aida yang baru saja menyelesaikan beberapa menu masakannya, tanpa sengaja melihat suaminya berada di ambang pintu kamar mandi.
"Abang apa pengen mandi?" Tanyanya Aida yang menghampiri suaminya itu.
"Iya,"
"Sini aku yang bantuin Abang mandi, tapi katanya dokter ada beberapa luka abang belum bisa terkena air langsung jadi sebaiknya kita tutupi dengan plastik dan beberapa lembar kain," tuturnya Aida yang langsung bergerak mengambil benda yang dimaksudkan itu.
Dengan telaten, Aida membersihkan seluruh tubuhnya Fahri hingga bagian tersensitifnya, tapi segera dicegah oleh Fahri.
"Stop bagian itu biarkan saya saja yang mengurusnya,kau bagian tubuh aku yang lain saja, jadi mulai besok lakukan seperti ini hingga aku mampu sendiri untuk melakukannya," pintanya Fahri.
"Kenapa bisa gitu Abang, saya kan istrinya Abang wajarlah aku perlakukan seperti itu, enggak ada yang salah kok," tampiknya Aida.
"Kalau aku bilang gitu yah begitu, tidak usah banyak protes ikuti saja semua apa-apa yang aku sampaikan," tegasnya Fahri yang sedikit membentak Istrinya itu.
Aida tersentak terkejut mendengar perkataan dari Fahri yang cukup volume suaranya yang tinggi itu. Aida langsung menuruti perkataan dari suaminya itu tanpa banyak protes lagi. Ia pun berjalan meninggalkan kamar mandi.
"Abang kalau selesai, panggil aku saja," imbuh Aida yang sebenarnya merasa cukup heran karena untuk pertama kalinya ia dibentak seperti itu selama mereka saling kenal.
Adzan magrib pun tiba, Aida seperti biasanya melaksanakan shalat magrib berjamaah dengan adik-adiknya. Pernikahan yang sudah jalan hampir sembilan bulan itu, hubungannya masih seperti biasanya dan sebelumnya. Hubungan yang lebih intim belum pernah keduanya lakukan.
Satu bulan kemudian….
Fahri sudah mampu berjalan sendiri, tanpa menggunakan bantuan dari orang lain ataupun benda penyanggah kakinya. Mereka duduk di depan televisi sore itu sambil menikmati minuman hangat dan cemilan ringan yang baru saja selesai dibuat oleh Aida.
"Kamu lulusan S1 atau SMA saja?" Tanyanya Fahri sekedar basa-basi saja.
"Saya lulusan S1 menejemen komputer sebenarnya sih, tapi mungkin Abang lupa kalau Abang sendiri yang ngelarang aku untuk melanjutkan pekerjaanku setelah kita menikah," jawabnya Aida.
"Mungkin, kalau saya minta kamu kembali bekerja apa yang akan kamu lakukan?' tanyanya balik Fahri.
Aida sedikit kaget dengan penuturan suaminya itu," apa abang tidak masalah jika aku bekerja?"
lanjoot