Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Evelyn kembali ke kamar rawat dengan langkah tenang, membawa dua benda yang sejak tadi berada di meja perawat, sebuah dompet kulit hitam dan sebuah ponsel dengan layar yang retak di sudutnya. Benda-benda itu ditemukan di saku celana pria misterius yang kini menjadi pasiennya.
Pria itu sudah terbangun sejak beberapa menit lalu. Tubuhnya masih terbaring di atas ranjang rumah sakit, dengan perban tebal melilit bagian perutnya. Infus masih terpasang di tangannya, menyalurkan cairan yang menetes perlahan. Meski kondisinya belum sepenuhnya pulih, tatapannya terlihat tajam dan sadar sepenuhnya.
Evelyn berhenti di samping tempat tidur.
"Ini dompetmu dan ponselmu," ucapnya sambil mengulurkan kedua benda itu. Nada suaranya profesional, namun tidak kaku. "Maaf, kami membuka dompetmu tanpa izin, karena pihak rumah sakit membutuhkan data diri tentangmu."
Pria itu mengangkat tangannya perlahan, menerima barang-barang miliknya. Gerakannya tidak tergesa, seolah setiap gerakan diperhitungkan. Dompet itu ia genggam sebentar sebelum meletakkannya di atas selimut.
Namun sejak Evelyn masuk ke ruangan itu, matanya tidak pernah lepas dari wajah dokter cantik tersebut.
Tatapan itu tajam… namun bukan tajam karena marah. Lebih seperti sedang mengamati sesuatu yang menarik.
Evelyn yang sejak tadi berdiri di samping ranjang akhirnya menyadari tatapan itu. Ia menghela napas pelan, lalu menoleh dan menatap pria tersebut balik dengan satu alis terangkat.
"Jangan terus menatapku! Nanti kau bisa jatuh hati padaku, kau repot sendiri."ucap Evelyn santai, bahkan sedikit sombong.
Ucapan itu terdengar seperti lelucon, namun cara Evelyn mengatakannya penuh percaya diri, seolah ia sudah sangat terbiasa menerima tatapan seperti itu dari para pasien atau orang lain.
Sudut bibir pria itu perlahan tertarik ke atas. Senyum tipis muncul di wajahnya, namun Evelyn tidak bisa melihatnya.
Senyum yang tenang… namun menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
Evelyn memperhatikannya sekilas sebelum akhirnya memalingkan wajah, mengambil tablet medis yang tergantung di ujung tempat tidur.
Ia memeriksa catatan kondisi pasien itu sebentar.
Tekanan darah stabil.
Detak jantung normal.
Kehilangan darah cukup banyak, namun transfusi semalam berhasil menstabilkan kondisinya. Beruntung pria itu memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Evelyn menutup tablet itu.
"Aku harus ke ruanganku," ucapnya sambil menyelipkan pulpen ke saku jas dokternya.
Ia kemudian menatap pria itu dengan tatapan memperingatkan. "Kamu jangan berani-berani kabur dari sini."
Nada suaranya setengah serius, setengah bercanda. Namun tetap ada tekanan di dalamnya sebagai dokter yang tidak ingin pasiennya bertindak bodoh.
Pria itu hanya menatapnya tanpa menjawab. Seolah sedang menikmati cara Evelyn berbicara.
Evelyn menghela napas pendek, lalu berbalik.
Langkahnya ringan saat berjalan menuju pintu kamar rawat. Tanpa menoleh lagi, ia membuka pintu dan keluar begitu saja dari ruangan itu.
Pintu tertutup kembali dengan suara pelan.
Kini kamar rawat itu kembali sunyi.
Hanya terdengar suara mesin monitor yang berdetak stabil di samping ranjang.
Enzo masih menatap ke arah pintu yang baru saja ditinggalkan Evelyn.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia mengangkat tangan dan menyentuh pelan perban di perutnya, merasakan sedikit nyeri yang masih tersisa. Namun ekspresinya tidak berubah.
Sebaliknya, ia justru menggelengkan kepalanya pelan. Senyum kecil kembali muncul di wajahnya, kali ini sedikit lebih jelas.
Seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik.
"Mine" gumamnya lirih.
Tatapan matanya beralih ke arah langit-langit ruangan.
Namun bayangan wajah Evelyn masih jelas di pikirannya, cara wanita itu berbicara tanpa takut, kepercayaan diri yang berlebihan, dan keberanian yang jarang ia temui pada orang lain yang baru pertama kali bertemu dengannya.
Biasanya orang-orang akan gugup, takut, Atau setidaknya berhati-hati. Namun perempuan itu berbeda.
Enzo menutup matanya sejenak, masih dengan senyum samar di bibirnya.
Tanpa ia sadari, rasa penasaran mulai tumbuh. Dan bagi seseorang seperti Enzo… rasa penasaran sering kali menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
*****
Enzo masih berbaring dengan satu tangan diletakkan di atas perutnya yang terbalut perban. Tatapannya kosong mengarah ke langit-langit, namun pikirannya jelas tidak sedang kosong.
Ia sedang memikirkan banyak hal. Tentang serangan semalam. Tentang orang yang berani menghadangnya di tengah jalan.
Dan… entah kenapa, bayangan wajah dokter wanita itu juga ikut muncul di kepalanya.
Baru saja ia hendak menutup mata untuk beristirahat, pintu kamar rawat terbuka perlahan.
Seorang pria masuk dengan langkah cepat namun tetap berhati-hati. Ia mengenakan pakaian hitam sederhana, wajahnya tegas, dan sorot matanya langsung tertuju pada sosok yang terbaring di ranjang.
Begitu melihat Enzo dalam keadaan sadar, ekspresi pria itu langsung berubah lega.
"Tuan, Anda selamat," ucapnya.
Pria itu adalah Joe, asisten sekaligus tangan kanan Enzo yang paling setia.
Enzo menoleh sedikit ke arahnya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, bahkan nyaris terlihat santai meskipun tubuhnya masih dipenuhi luka.
"Ya, ada dokter cantik yang menyelamatkan ku" jawab Enzo.
Joe sempat berkedip bingung mendengar kalimat itu. Ia jarang sekali mendengar bosnya memuji seseorang, apalagi seorang wanita. Namun ia tidak terlalu memikirkannya. Ia melangkah mendekat ke ranjang dan berdiri di sampingnya.
"Bagaimana dengan penyelidikan kalian? Siapa yang menghadangku tadi malam" tanya Enzo lagi dengan nada lebih serius. Tatapannya kini berubah tajam.
Joe langsung menjawab tanpa ragu.
"Mereka anak buah Jendra." Ucapan itu membuat ruangan terasa sedikit lebih dingin.
Enzo menghela napas pendek, seolah jawaban itu sudah ia duga sejak awal.
"Aku sudah menduganya," gumamnya pelan.
Nama Jendra bukanlah nama asing di dunia mereka.
Pria itu adalah pemimpin kelompok mafia lain yang sejak lama mencoba merebut wilayah kekuasaan Enzo. Perseteruan mereka sudah berlangsung lama, namun beberapa bulan terakhir Jendra mulai bertindak semakin berani.
Menyerang langsung mobil Enzo di jalan adalah langkah yang sangat nekat.
Joe menatap bosnya dengan ekspresi serius.
"Sepertinya mereka ingin menguji kekuatan kita, Tuan."
Enzo menyeringai tipis. "Menguji kekuatan?" ulangnya pelan. Sorot matanya berubah gelap.
"Kalau begitu kita harus memberi mereka jawaban."
Percakapan mereka pun mulai berubah menjadi pembahasan yang lebih serius. Joe melaporkan beberapa informasi yang berhasil dikumpulkan anak buah mereka sejak pagi tadi, tentang lokasi persembunyian kelompok Jendra, pergerakan orang-orangnya, dan rencana yang mungkin sedang mereka siapkan.
Enzo mendengarkan semuanya dengan tenang.
Sesekali ia memberi komentar singkat atau mengajukan pertanyaan tajam.
Setelah beberapa menit berdiskusi, Joe akhirnya bertanya, "Anda akan memimpin penyerangan?"
Enzo hampir selalu memimpin sendiri setiap serangan besar. Namun kali ini Enzo justru menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, aku masih harus dirawat. Luka ku belum sepenuhnya sembuh." jawabnya.
Joe langsung mengerutkan keningnya. Ekspresi bingung jelas terlihat di wajahnya.
Sejak kapan bosnya ini manja, memilih berdiam diri hanya karena luka?
Luka tusukan, luka tembak, bahkan kecelakaan berdarah sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka.
Enzo bahkan pernah memimpin pertempuran dengan kondisi yang jauh lebih parah dari ini.
Karena itu Joe tidak bisa menahan rasa herannya. "Memangnya lukanya seserius itu, Tuan?" tanyanya.
Enzo menatap Joe beberapa detik. Lalu ia menghela napas panjang, seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Iya, sangat serius" ucap Enzo dengan wajah serius.
Ia memperlihatkan perban di perutnya.
"Hampir saja mengenai organ vital." Nada suaranya terdengar dramatis… bahkan sedikit berlebihan.
Joe terdiam beberapa detik. Matanya menatap perban di perut Enzo, lalu kembali menatap wajah bosnya. Dalam hati ia merasa ada sesuatu yang aneh. Karena dari pengalaman Joe, luka seperti itu seharusnya tidak cukup untuk membuat seseorang seperti Enzo memilih berbaring diam di rumah sakit.
Namun Joe tidak berani mempertanyakan lebih jauh.
Sementara itu, Enzo justru menyandarkan kepalanya kembali ke bantal dengan santai.
Di sudut bibirnya muncul senyum tipis yang hampir tidak terlihat.
Entah kenapa…
Rumah sakit ini tiba-tiba terasa seperti tempat yang cukup menarik untuk ditinggali beberapa hari lagi.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐