sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: UTANG MORA
Kota Tulang tidak pernah tidur.
Saat Aldric, Sera, dan Ren memasuki gerbang kota, keramaian masih sama seperti saat ia pergi—makhluk-makhluk aneh berlalu lalang, pedagang berteriak menawarkan barang, lampu-lampu jamur bercahaya menerangi segalanya dengan nuansa biru-hijau yang magis. Hanya saja, sekarang Aldric melihatnya dengan mata yang berbeda.
Setelah tiga jam di sarang Ghoul, setelah membunuh pemimpin mereka dan kabur membawa dua manusia, Kota Tulang terasa hampir seperti rumah.
Sera berjalan di sampingnya dengan langkah gugup. Matanya bergerak ke sana kemari, mengamati setiap makhluk yang lewat dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. Ren—anak laki-laki berusia sekitar lima tahun itu—bersembunyi di balik rok ibunya, hanya sesekali mengintip dengan mata besar penuh rasa ingin tahu.
"A-apa mereka tidak akan menyerang kita?" bisik Sera, matanya tertuju pada sekelompok makhluk bersisik yang sedang asyik berjudi di pinggir jalan.
"Mereka tidak peduli," jawab Aldric datar. "Kau bukan apa-apa bagi mereka. Selama kau tidak mengganggu atau terlihat seperti mangsa mudah."
"Dan kita tidak terlihat seperti mangsa mudah?"
Aldric menatapnya. Tubuh Sera kurus, pakaiannya compang-camping setelah berminggu-minggu di kurungan Ghoul. Ren bahkan lebih kecil, lebih lemah. Mereka adalah definisi mangsa mudah.
Tapi Aldric berdiri di samping mereka. Dan meskipun ia tidak tahu persis seberapa kuat dirinya sekarang, ia tahu satu hal: darahnya—darah setengah iblis—memberinya aura yang berbeda. Makhluk-makhluk di sekitarnya meliriknya sekilas, lalu memalingkan wajab.
"Mereka lihat aku," kata Aldric. "Selama aku di sini, kau aman."
Sera menatapnya dengan campuran takjub dan tidak percaya. "Kau... kau benar-benar berbeda."
Aldric tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju bangunan Mora.
Bangunan Mora tampak sama seperti sebelumnya—batu hitam dengan ukiran mengerikan, tengkorak bertanduk tiga di atas pintu. Aldric berhenti di depan pintu, lalu menoleh ke Sera.
"Tunggu di sini."
"Apa? Tapi—"
"Ini bukan tempat untuk anak kecil." Aldric menatap Ren sekilas. "Aku akan keluar sebentar lagi. Jangan kemana-mana."
Sera ingin protes, tapi dilihatnya ekspresi Aldric—dingin, tanpa ampun—dan ia mengurungkan niatnya. Ia hanya mengangguk, menarik Ren lebih dekat, dan duduk bersandar di dinding luar bangunan.
Aldric masuk.
Di dalam, suasana sama seperti sebelumnya. Beberapa makhluk aneh duduk di meja-meja, meneguk cairan misterius dari cawan logam. Di sudut, iblis-iblis kecil masih berjudi dengan dadu tulang. Dan di belakang meja panjang, Mora duduk dengan sabar, matanya yang putih tanpa pupil langsung tertuju pada Aldric begitu ia melangkah masuk.
"Kau kembali." Suara Mora seperti batu bergesekan. "Aku tidak menyangka."
Dari samping, bayangan besar bergerak. Varyn muncul dari kegelapan, mata merahnya menyala terang saat melihat Aldric. Untuk sesaat, iblis tua itu tampak... lega? Tapi segera ekspresinya kembali datar.
"Kau hidup," katanya. "Bagus. Aku tidak perlu mencari murid baru."
Aldric mengangguk pada Varyn, lalu berjalan mendekati Mora. Ia mengeluarkan kalung dari sakunya—liontin mata kucing hitam yang berkilauan aneh di bawah cahaya jamur—dan meletakkannya di atas meja.
"Ini barangnya."
Mora mengambil kalung itu dengan hati-hati, hampir seperti sedang memegang benda paling berharga di dunia. Matanya yang putih menatap liontin itu lama, jari-jarinya yang panjang dan kurus mengusap permukaannya.
"Ini dia," bisiknya. "Setelah seratus tahun hilang, akhirnya kembali."
Aldric menunggu. Tidak ada rasa ingin tahu dalam dirinya tentang sejarah kalung itu. Yang ia inginkan hanya satu.
"Informasiku."
Mora mendongak. Senyum tipis muncul di wajahnya yang mengerikan. "Kau tidak sabar, manusia setengah iblis. Baik. Aku tepati janjiku."
Ia meletakkan kalung itu di lehernya—liontin mata kucing hitam sekarang menggantung di dadanya, berkilauan seirama dengan detak jantung Mora. Lalu ia menatap Aldric dengan serius.
"Apa yang kau ingin tahu?"
"Semua." Aldric menatap tajam. "Apa yang terjadi di atas setelah aku jatuh. Apa yang dilakukan Darius. Apa yang dilakukan Elara. Apa yang dilakukan Paman Edric. Bagaimana rakyat menerima mereka. Semua."
Mora mengangguk pelan. "Pertanyaan bagus. Jawabannya panjang. Duduklah."
Aldric duduk. Varyn duduk di sampingnya.
Mora menarik napas panjang—seperti angin yang berdesir di lorong batu—lalu mulai berbicara.
"Sepuluh hari yang lalu, saat kau jatuh ke jurang, dunia atas berguncang. Istana Veynheart terbakar selama tiga hari tiga malam. Api biru—api aneh yang tidak bisa dipadamkan dengan air biasa—melahap sayap barat dan timur. Tapi sayap utama, tempat tahta berada, selamat."
Aldric mendengarkan dengan wajah datar. Tapi di dalam, sesuatu berdenyut. Istana yang terbakar. Rumahnya. Kenangan.
"Ketika api padam, Darius Veynheart muncul sebagai pahlawan. Ia mengklaim bahwa ia berhasil menyelamatkan tahta dari pemberontak. Ia bilang Raja Aldous mati diracun oleh pemberontak yang menyusup. Ia bilang Ratu Seraphina dan Putri Liana tewas dalam kebakaran. Ia bilang..." Mora berhenti, menatap Aldric. "Ia bilang Pangeran Aldric tewas saat mencoba melindungi adiknya. Pahlawan muda yang gugur di medan tugas."
Aldric tertawa. Tawa dingin tanpa humor. "Pahlawan. Aku pahlawan."
"Rakyat memujanya. Mereka berkumpul di depan istana, menangis, berdoa untuk arwah keluarga kerajaan yang gugur. Darius memberi pidato yang mengharukan—air mata buatan, tentu saja—dan berjanji akan meneruskan perjuangan ayahnya. Rakyat bersorak. Mereka mendapat pahlawan baru."
"Dan Elara?"
Mora tersenyum—senyum yang tahu segalanya. "Elara Ashford—sekarang Elara Veynheart, janda pangeran—tampil di samping Darius selama pidato itu. Berpakaian serba hitam, wajah tertutup cadar, pundak bergetar seperti menahan tangis. Rakyat iba padanya. 'Ratu yang berduka', mereka menjulukinya."
"Janda." Aldric mengulang kata itu dengan getir. "Aku mati, dan dia jadi janda."
"Tidak lama." Mora mencondongkan tubuh. "Tiga hari setelah pemakaman—pemakaman kosong, karena mayat kalian tidak ditemukan—Darius mengumumkan bahwa ia akan menikahi Elara. Demi 'menjaga stabilitas kerajaan', katanya. Demi 'meneruskan garis keturunan Veynheart'."
Varyn bersiul pelan. "Cepat sekali."
"Rakyat terkejut, tentu saja. Tapi Darius punya jawaban untuk segalanya. Ia bilang ini sudah direncanakan sejak lama—perjodohan yang disetujui Raja Aldous sebelum kematiannya. Ia tunjukkan dokumen palsu, meterai kerajaan, saksi-saksi bayaran. Rakyat percaya. Atau setidaknya, mereka pura-pura percaya."
Aldric diam. Tangannya mengepal di bawah meja, urat hitam berdenyut kencang.
"Pernikahan akan dilangsungkan dalam tiga minggu. Undangan sudah tersebar ke seluruh kerajaan, bahkan ke negeri-negeri tetangga. Ini akan menjadi peristiwa besar—pernikahan kerajaan terbesar dalam satu dekade terakhir."
"Tiga minggu."
"Ya. Tiga minggu lagi, Elora akan resmi menjadi ratu di samping Darius."
Aldric memejamkan mata. Di dalam kepalanya, seribu gambaran berkelebatan—Elora tersenyum, Elora menangis, Elora bersandar di dada Darius. Semuanya bercampur aduk menjadi satu emosi yang tidak bisa ia identifikasi.
Marah? Sedih? Kecewa?
Atau justru lega karena sekarang ia punya alasan lebih kuat untuk membenci?
"Tapi itu belum semuanya." Mora menunggu sampai Aldric membuka mata. "Ada sesuatu yang perlu kau ketahui tentang Elara."
Aldric menegang. "Apa?"
"Dua hari sebelum kudeta, Elara mengirim surat kepada seseorang di luar istana. Surat itu dicegat oleh anak buahku—mereka bekerja sebagai kurir di dunia atas. Isinya..." Mora menjeda dramatis. "...permintaan tolong."
Apa?
"Elara menulis bahwa ia dalam bahaya. Bahwa seseorang memaksanya melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan. Bahwa ia takut—takut pada Darius, takut pada Paman Edric, takut pada apa yang akan terjadi. Ia meminta orang itu untuk membantunya kabur sebelum semuanya terlambat."
Dunia Aldric berhenti berputar.
"Tapi surat itu tidak pernah sampai. Anak buahku keburu ditangkap patroli kerajaan sebelum bisa mengirimkannya. Surat itu sekarang ada di tanganku."
Mora mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya—selembar kertas kuning, kusut, dengan coretan tulisan tangan yang dikenali Aldric. Tulisan Elara.
Ia pernah melihat tulisan itu berkali-kali. Surat cinta yang ditinggalkan di bantalnya. Catatan kecil di meja makannya. "Aku mencintaimu" di secarik kertas.
"Ingin membaca?"
Tangan Aldric terulur, lalu berhenti di udara.
"Atau kau takut?"
Ia mengambil surat itu.
"Kepada Suster Mayra di Biara Cahaya Abadi,
Suster, aku mohon datanglah segera. Aku dalam bahaya besar. Darius—Pangeran Mahkota—telah memaksaku melakukan hal-hal mengerikan. Ia bilang jika aku tidak menurut, ia akan membunuh Aldric. Ia bilang ia punya rencana besar, rencana untuk merebut tahta, dan aku harus membantunya.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku takut. Aku mencintai Aldric, sungguh aku mencintainya. Tapi Darius mengancam akan membunuhnya jika aku bicara. Ia tunjukkan padaku surat-surat rahasia, bukti-bukti konspirasi, nama-nama pembunuh bayaran yang sudah disiapkan.
Suster, tolong aku. Aku tidak kuat. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan. Setiap kali melihat Aldric, aku ingin berteriak, memberitahunya semua. Tapi Darius selalu mengawasi. Selalu.
Datanglah sebelum semuanya terlambat. Aku tahu kau satu-satunya yang bisa kupercaya.
Elara."
Aldric membaca surat itu dua kali. Tiga kali. Empat kali.
Tangannya gemetar—gemetar pertama kalinya sejak ia jatuh ke jurang.
Elara dipaksa. Elara diancam. Elara mencintainya.
Elara bukan pengkhianat.
Dia korban.
"Surat ini..." Suara Aldric serak. "Ini..."
"Asli," kata Mora. "Aku bisa membuktikannya dengan uji kebenaran. Tulisan tangannya, tintanya, bahkan noda air matanya—semuanya asli."
Aldric menatap surat itu lagi. Di sudut kertas, ada noda bulat—noda air mata. Air mata Elara.
"Dia mencintaiku," bisiknya. "Dia tidak pernah berhenti mencintaiku."
Varyn meletakkan tangan di bahunya—tangan besar yang hangat, anehnya. "Nak..."
Tapi Aldric tidak mendengar. Pikirannya melayang ke malam itu. Malam ketika ia melihat Elara dan Darius di koridor. Malam ketika Elara menangis di belakang punggungnya. Malam ketika ia mengira Elara mengkhianatinya, padahal—
"Dia korban," gumam Aldric. "Dia korban, sama seperti keluargaku."
"Tapi dia tetap menikahi Darius." Suara Varyn datar. "Dia tetap memilih bertahan, bukannya mati."
Aldric menatapnya. "Kau tidak mengerti. Darius mengancam akan membunuhku. Elara melakukan semua itu untuk melindungiku."
"Dan hasilnya? Kau tetap mati—atau setidaknya, dianggap mati."
"Tapi aku tidak mati." Aldric bangkit. "Aku di sini. Hidup."
"Untuk apa?" Varyn juga bangkit. "Kau mau kembali? Menyelamatkannya? Menjelaskan semuanya?"
Aldric diam. Ia menatap surat di tangannya. Lalu menatap Mora. Lalu menatap Varyn.
"Ada lagi yang perlu kau ketahui," kata Mora pelan. "Tentang Darius. Tentang rencananya yang sebenarnya."
Aldric menoleh. "Apa?"
"Darius bukan hanya pengkhianat biasa. Ia bekerja untuk seseorang. Organisasi yang lebih besar. Mereka disebut..." Mora berhenti, matanya yang putih berkilat. "...The Shadow Council."
Nama itu. Aldric pernah mendengarnya—dari Varyn, dari bisikan-bisikan di dunia bawah. The Shadow Council adalah organisasi rahasia yang katanya mengendalikan takhta dari balik bayang-bayang selama berabad-abad.
"Merekalah dalang di balik kudeta. Darius hanya wayang. Paman Edric hanya alat. Tujuan mereka adalah menghancurkan garis keturunan Veynheart sepenuhnya—dan kau, Aldric, adalah satu-satunya yang tersisa."
"Aku?"
"Kakakmu—kakak tiri—sudah menjadi milik mereka. Darius adalah boneka yang patuh. Tapi kau... darah Veynheart asli. Darah yang bisa mengancam mereka. Itu sebabnya mereka tidak langsung membunuhmu—mereka ingin kau mati di jurang, dimakan monster, hilang selamanya."
Aldric terdiam. Informasi ini terlalu banyak. Terlalu berat.
"Jadi... ini belum selesai?"
"Jauh dari selesai." Mora tersenyum—senyum tanpa kegembiraan. "Ini baru awal."
Dari luar, tiba-tiba terdengar teriakan.
Aldric berbalik, langsung menuju pintu. Varyn mengikuti.
Di luar, Sera berdiri dengan tangan terentang melindungi Ren. Di hadapannya, tiga makhluk—Ghoul—mengerumuni mereka. Ghoul yang sama dari sarang. Mereka pasti mengikuti jejak Aldric.
"Itu dia!" raung salah satu Ghoul, menunjuk Aldric. "Pembunuh pemimpin kami!"
Keramaian Kota Tulang tiba-tiba berhenti. Semua makhluk menoleh. Dan dalam hitungan detik, situasi berubah tegang.
Aldric melangkah maju, berdiri di antara Sera dan Ghoul.
"Kalian cari aku?"
Ghoul itu menyeringai. "Kau mati, manusia. Kau dan teman-temanmu."
Di belakang Aldric, Varyn muncul dengan tubuh raksasanya. Mata merah menyala. "Ada masalah, Mora? Di depan tempatmu?"
Mora melangkah keluar, kalung mata kucing di lehernya berkilauan. Ia menatap Ghoul-Ghoul itu dengan tatapan dingin.
"Ini wilayahku, Ghoul. Kalian tahu aturannya."
Ghoul itu ragu. Mereka menatap Aldric, lalu Varyn, lalu Mora. Tiga lawan tiga—tapi Varyn dan Mora bukan tandingan mereka.
"Ini belum selesai," desis Ghoul itu akhirnya. "Kau akan kami cari. Sampai ke ujung dunia bawah."
Mereka mundur, menghilang ke dalam keramaian.
Aldric mengepalkan tangan. Masalah baru. Musuh baru.
Tapi ia tidak takut. Yang ia rasakan hanya satu:
Dendam.
Untuk Elara.
Untuk keluarganya.
Untuk dirinya sendiri.
Dan dendam itu akan segera dibayar.