BY : GULOJOWO NOVEL KE-6 😘
Seruni, seorang gadis yang ceria, ramah dan baik hati harus menanggung hujatan setiap harinya setelah kejadian yang di alaminya saat SMA dulu. Saat itu setelah kelulusan, Seruni dan kelima sahabatnya mengadakan rekreasi ke sebuah air terjun yang di beri nama "SENDANG KAPUTREN" letaknya ada di pinggiran kota. Dari sinilah kehidupan Seruni berubah 180 derajad dan seolah di jungkir balikkan oleh keadaan.
Ada apakah dengan Seruni sebenarnya? Masih adakah kebahagiaan yang tersisa untuknya? Ikuti terus kisahnya yang penuh dengan misteri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GuloJowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ENAM
Saat sudah di depan Rendy, Seruni segera meraih kunci mobilnya. Namun Rendy malah mengangkatnya tinggi ke atas hingga membuat Seruni kesulitan menggapainya.
"Balikin gak!" Bentak Seruni marah, namun Rendy malah tersenyum smirk. "Rendy, balikin kunci mobil ku!" Sekali lagi Seruni membentak Rendy.
Rendy lalu mencondongkan wajahnya ke arah Seruni. Sedangkan tangannya ia sembunyikan ke belakang punggungnya. "Mau gue balikin? Tapi ada syaratnya!"
"Apa!" Seruni menarik sedikit kepalanya ke belakang agar wajahnya tak terlalu dekat dengan wajah Rendy. Namun lagi-lagi Rendy mendekatkan wajahnya ke arah Seruni.
"Gue mau tubuh loe yang nikmat itu sekali lagi." Bisik Rendy tepat di telinga Seruni.
Plaakk!!
"Br3n9$3k kamu Ren!" Tamparan keras mendarat di pipi kiri Rendy. Bukannya kesakitan, Rendy malah semakin tersenyum smirk.
"Bukannya semalam kamu juga menikmatinya sayang?" Rendy bertanya seolah mengejek Seruni. Membuat Seruni seketika meradang.
"B@n9$@t kamu Rendy! Kembalikan kunci mobil ku!" Teriak Seruni marah dan langsung menyerang Rendy. Seruni mencekik leher Rendy yang membuat sang empunya terkejut sekaligus terbatuk-batuk.
Faya yang sejak tadi hanya diam saja menyaksikan perdebatan diantara mereka tak kalah terkejutnya. Faya segera berlari menghampiri mereka berdua untuk melepaskan cengkraman tangan Seruni di leher Rendy.
"Hey Run, sadar Run. Lepasin, bisa mati ini anak orang Run." Faya menarik tangan sahabatnya namun tidak berhasil karena cengkraman tangan Seruni terlalu kuat.
"Am-ampun Run, gu-gue balikin kunci mobil loe." Ucap Rendy terbata. Ia ketakutan setengah mati melihat Seruni yang seperti orang kesurupan. Sorot matanya memancarkan sinar kemerahan yang menyilaukan mata.
"Run, sadar!" Ucap Faya sekali lagi menarik tangan Seruni.
"Aku peringatkan sekali lagi. Kalau kamu berani buat masalah sekali lagi dengan ku, bukan hanya leher mu yang aku patahkan. Tapi kepala mu yang akan aku pisahkan dari tubuh mu. Ahahaha...." Tawa Seruni menggema di lorong kampus tersebut, membuat Rendy dan Faya bergidik ngeri. Rendy pun segera berlari tunggang langgang meninggalkan lorong setelah cengkraman Seruni terlepas dari lehernya.
"Run!" Faya menepuk bahu Seruni pelan.
"Ada apa?" Tanya Seruni kebingungan.
"Kamu baik-baik saja?" Faya nampak khawatir bercampur takut.
"Lah, memangnya aku kenapa Fa?" Seruni malah balik bertanya. "Rendy kemana? Mana kunci mobil ku?" Seruni celingukan mencari keberadaan Rendy.
"I-ini!" Faya menyodorkan kunci mobil Seruni yang tadi terjatuh di lantai karena tangan Rendy gemetaran. "Tadi Rendy nitipin ke aku karena dia buru-buru." Bohong Faya.
"Owh, ayo kita berangkat!" Seruni meraih kunci mobilnya lalu menggandeng tangan sahabatnya. "Kamu gemetaran Fa? Kenapa? Kamu sakit?" Tanya Seruni polos. "Kalau kamu sakit, besok saja kita ke tempat Ki Parto-nya."
"I-iya Run, badan ku tiba-tiba nggak enak rasanya. Besok saja ya? Hari ini aku pengen istirahat dulu di rumah." Kilah Faya mencari alasan.
"Owh ya udah, bisa pulang sendiri apa mau aku anterin?"
"Bi-bisa sendiri kok, santai aja." Faya mengulas senyum terpaksa. Saat ini ia ingin menjauh dulu dari Seruni, karena emosi Seruni nampak belum stabil. Takutnya nanti dia yang jadi sasaran keganasan Seruni. Jadi ia memilih jalur aman saja.
"Oke, kita pisah di parkiran. See you Fa!" Seruni melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam mobil bututnya.
Seruni melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus membelah jalanan sore yang nampak padat merayap. Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul empat lebih. Ia pun terkejut bukan main.
"Lah, kok udah hampir jam setengah lima? Bukannya tadi pas keluar dari kelas baru jam tiga? Apa jam ku yang salah ya?" Dirogohnya ponsel yang ada di dalam tas yang ia letakkan di jok samping kemudi. "Lah, benar kok. Terus tadi ngapain aja memangnya? Bukannya tadi kami cuma nyamperin Rendy sebentar?" Seruni nampak kebingungan. "Ah entahlah, pusing kepala ku." Seruni menambah kecepatan laju kendaraannya agar segera sampai di rumah. Ia ingin segera mandi lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang empuknya.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕🌹🌹
harus nya dia gali lagi dong persoalannya gimn? dan knp ibu ny ga di bawa andil?
secra ini hal yg besar...Jika ada yg salah, kan ksian ibu nya...