Kehadiran buah hati adalah salah satu hal yang paling dinanti dalam sebuah pernikahan. Begitu pun yang diharapkan oleh Raditya dan Riena. Namun, apa jadinya jika kehamilan itu justru datang disaat kondisi psikologis Reina masih belum pulih benar dari traumanya? Alih-alih merayakan kabar kehamilan tersebut dengan pesta tasyakuran secara besar-besaran, diam-diam Riena malah berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Raditya. Bahkan dia memutuskan untuk pergi menjauh dari suaminya itu.
Apakah yang terjadi sebenarnya? Akankah Raditya masih sanggup berjuang demi mempertahankan mahligai rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part six
Dokter itu tidak jadi meneruskan penjelasannya. Sejenak dia kembali membolak-balik kertas laporan hasil pemeriksaan visum et repertum yang sebenarnya sudah sejam lalu selesai dilakukan. Hanya saja karena ada beberapa pertimbangan, mereka tidak langsung menghubungi Raditya untuk memberi tahu hasilnya.
"Bagaimana, Dok?"
Suara bernada tanya yang sudah tidak sabar itu menyadarkan sang dokter bahwa dirinya memang sudah terlalu lama mengulur waktu. Sebenarnya, dia hanya ingin memastikan bahwa lawan bicaranya cukup memiliki kesabaran dan ketenangan dalam menerima hasil yang ingin disampaikan.
"Baik, sebelumnya saya ingin memastikan satu hal lagi. Apa benar Anda memang baru bertemu dengan istri Anda dini hari tadi?" tanya dokter. Raut wajahnya sangat serius saat menanyakan hal tersebut.
"Benar, Dok. Saya baru sampai menjelang subuh tadi," tegas Raditya.
"Dari pemeriksaan yang sudah kami lakukan dan keterangan yang bapak berikan, dapat kami simpulkan dengan pasti, bahwa istri Anda mengalami kekerasan seksual. Seperti yang sudah kami curigai sebelumnya, reaksi ketakutan dan histeris yang istri Anda tunjukkan, sangat sesuai dengan profil seseorang yang mengalami trauma pemerkosaan. Hal itu semakin nyata dan bisa dibuktikan secara ilmu kedokteran forensik setelah kami melakukan visum."
Bagai tersambar petir di siang hari yang begitu cerah. Seakan langit runtuh menimpa tubuhnya, Raditya sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Bibirnya tertutup rapat dan tatapannya mendadak kosong. Wajah Raditya memucat dengan tangan serta kaki yang tampak gemetaran. Entah bagaimana harus menterjemahkan isi perasaannya kali ini.
"Dari luka lebam di beberapa bagian tubuh luar, luka di vagiina dan juga speerma yang masih bertahan di dalam organ vital istri Anda, kurang lebih kejadian itu terjadi sekitar dua belas sampai enam belas jam yang lalu. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak kita harapkan pasca terjadi pemerkosaan. Sesuai standart kedokteran dan juga hukum yang berlaku di negara kita, korban berhak mendapatkan suntikan untuk menghindari penyakit sekksual dan juga pencegahan kehamilan. Dan kami sudah melakukannya."
Penjelasan dokter yang panjang lebar itu tidak sepenuhnya dicerna oleh Raditya. Pikirannya benar-benar tidak fokus. Sungguh dia ingin segera berlari keluar dan berteriak sekencang mungkin. Menanyakan pada dunia, siapa yang sudah berlaku sekeji itu pada istrinya.
"Sesakit-sakitnya perasaan Anda, di sini posisi yang paling terluka adalah istri Anda. Percobaan bunuh diri yang dilakukan istri Anda, mungkin adalah reaksi akan rasa malu dan merasa dirinya kotor. Kami hanya bisa menyembuhkan luka secara fisik. Tapi untuk hatinya, tentu orang-orang terdekat pasienlah yang bisa melakukannya. Terutama Anda sebagai suaminya. Pendampingan seorang psikiater juga sangat dibutuhkan."
Raditya memejamkan matanya sembari menarik napas dalam. Kali ini dia mencoba pelan-pelan mencerna perkataan dokter baik-baik. Sekuat tenaga dia meredam amarah dan sedih yang berkecamuk di dada. Menyesal karena merasa tidak bisa menjaga Riena dengan baik.
"Melaporkan pada pihak berwajib, bisa Anda pikirkan nanti setelah kondisi istri Anda bisa diajak berdiskusi dengan baik. Seperti yang saya katakan sebelumnya, rata-rata korban kekerasan seksual enggan melakukan pelaporan karena proses yang akan dilalui seringkali malah membuat trauma mereka semakin bertambah. Bukannya saya melarang Anda untuk melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian, tetapi mengingat kondisi trauma yang dialami istri Anda cukup berat, rasanya lebih baik kita fokus dulu pada pemulihan fisik dan mentalnya."
Melihat Raditya masih terdiam. Dokter pun berdiri untuk menghampiri pria tersebut. Dia sudah terbiasa menghadapi pasien dengan kasus serupa. Tidak sedikit dari keluarga korban yang malah melakukan penolakan kepada korban. Kali ini, dia tidak berharap demikian. Masalah pelaporan dan pencarian pelaku pemerkosaan, bisa dilakukan nanti setelah korban benar-benar siap dan memang bersedia melakukannya. Sekali lagi, pelaporan kekerasan seksual, prosesnya tidak semudah pelaporan pencurian kendaraan bermotor. Serentetan pertanyaan yang diberikan penyidik, bisa jadi malah menimbulkan trauma baru jika korban tidak dalam kondisi stabil.
"Kami ada layanan konseling untuk keluarga korban kekerasan seksual. Menurut saya, sebelum Anda mengambil sikap atau langkah untuk istri Anda, tidak ada salahnya Anda melakukan konseling terlebih dahulu. Memang ini bukan hal yang mudah. Tapi percayalah, aib bukan pada Anda atau istri Anda. Sesakit dan seterlukanya Anda saat ini, istri Anda yang lebih dalam merasakan kedua rasa itu." Dokter menepuk pundak Raditya, seakan ingin menguatkan sekaligus menyadarkan pria tersebut dari lamunan penyesalannya.
Raditya memahami sepenuhnya apa yang dikatakan sang dokter memang benar adanya. "Saya tidak perlu bertemu siapa pun sekarang, saya hanya ingin bertemu istri saya," ucapnya dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
"Kondisi istri Anda masih lemah dan masih dalam pengaruh obat penenang. Istri Anda sudah kami pindahkan ke ruang rawat khusus karena masih membutuhkan pengawasan intensif."
"Karena itu saya ingin bertemu dia, Dok. Hanya sebentar saja. Saya mohon, Dok," lirih Raditya, begitu mengiba.
"Baiklah, tapi akan ada yang mendampingi Anda."
Raditya mengangguk pasrah. Pria tersebut beranjak berdiri dalam keadaan kaki dan tangan yang masih gemetaran. Sesaat setelah seorang perempuan mengetuk pintu dari arah luar dan masuk ke ruangan, dokter forensik tadi langsung meminta perempuan yang baru saja datang itu mengantar Raditya ke ruang ICU di mana Riena berada.
Dengan gontai, Raditya berjalan mengikuti langkah tegap perempuan berprofesi sebagai psikiater di rumah sakit tersebut. Berkali-kali Raditya menarik napas dalam sembari beristighfar. Di hari ulang tahun pernikahan mereka, kado pahit malah diterima keduanya.
Memasuki sebuah ruangan khusus, Raditya langsung disambut dengan wajah pucat Riena dengan tubuh yang tampak terkulai lemah tidak berdaya. Kantong darah sekaligus kantong infus menggantung di tiang yang sama dengan aliran selang yang berbeda.
Menggunakan baju pasien warna merah muda yang biasanya menjadi warna favorit Riena, tidak membuat perempuan yang dicintainya itu tampak segar. Tangan Raditya perlahan terulur ingin membelai pipi mulus sang istri. Namun, pria itu membatalkan niatnya. Dia takut tiba-tiba Riena terbangun dan malah berteriak histeris.
"Maafkan aku, Rie... Maaf karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Saat kamu bangun nanti, tolong jangan salahkan dirimu sendiri. Salahkan aku saja. Pukul aku, hajar aku sampai aku remuk. Kamu boleh hujam aku dengan pisau setajam apa pun, biarkan aku yang berdarah-darah, jangan kamu." Tangis Raditya pecah. Dia tidak kuasa melihat tubuh tidak berdaya Riena. Bekas luka pada istrinya itu juga semakin tampak nyata di matanya.
Andai luka atau sakit yang dirasakan Riena bukan karena hal yang dijelaskan oleh dokter, mungkin hati Raditya tidak akan seremuk ini. Tidak kuasa menahan kesedihannya dan takut malah membuat tidur Riena terusik, Raditya berlari keluar ruangan dengan sangat kencang. Hingga psikiater yang tadi bertugas mendampinginya harus benar-benar mengeluarkan tenaga ekstra agar bisa mengejar dan tidak kehilangan langkah Raditya.
Untung saja jam kunjungan pasien sudah berakhir. Sehingga kondisi koridor sepanjang rumah sakit sudah sangat sepi. Menjadikan sang psikiater yang mengejar Raditya terhindar dari perhatian banyak orang. Hanya satpam dan beberapa perawat yang kebetulan bersimpangan jalan yang menatap aneh ke arah mereka.
Raditya menghentikan langkahnya di tengah taman rumah sakit. Jika tidak ingat dia sedang berada di mana, rasanya ingin sekali dia berteriak sekencang mungkin. Mencaci dan mengutuk siapa pun yang sudah begitu tega menyalurkan napsu birahi laknat pada istrinya.
"Jika aku tau siapa pelakunya, bukan hukum yang akan mengadilinya. Dengan tanganku sendiri, aku yang akan membunuhnya," sumpah Raditya sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Membunuh siapa, dit?" tanya seseorang yang muncul tiba-tiba dan mengambil posisi tepat di depan psikiater yang masih setia menunggui Raditya.