Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pedang naga bumi
Fajar belum lagi menyingsing ketika ketiga sosok itu mulai mendaki jalan setapak yang terjal menuju Gunung Penanggungan, gunung suci yang puncaknya dikelilingi oleh kabut abadi. Lin Feng berjalan dengan langkah yang masih agak goyah, namun tekad di matanya tak luntur sedikit pun.
Di tengah perjalanan, mereka berhenti di sebuah dataran tinggi yang menghadap langsung ke arah matahari terbit. Udara di sana sangat dingin, namun terasa begitu murni, seolah-olah setiap hirupan napas membawa energi kehidupan dari bumi.
Ki Ageng Bang Wetan berhenti dan berbalik menatap Lin Feng. "Anak Muda, di negerimu kau melatih Qì dengan mengandalkan sirkulasi internal yang tajam. Itu bagus untuk kecepatan, tapi tidak akan mampu menyembuhkan luka akibat Brajamusti. Kau butuh kekuatan yang lebih besar dari dirimu sendiri."
Lin Feng mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Ki Ageng? Adakah energi yang lebih besar dari energi batin kita sendiri?"
"Ada," jawab Ki Ageng sambil menunjuk ke arah hutan, gunung, dan langit. "Energi alam. Di sini kami menyebutnya Manunggaling Rasa—penyatuan rasa antara manusia dan semesta. Kau harus berhenti bertarung melawan hawa panas Brajamusti di tubuhmu. Sebaliknya, kau harus membiarkan alam mendinginkannya."
Ki Ageng membawa Lin Feng ke sebuah pancuran air terjun kecil yang airnya berasal langsung dari mata air purba. "Duduklah di bawah kucuran air itu. Jangan gunakan teknik peringan tubuh. Biarkan berat air menghantam pundakmu. Bernapaslah mengikuti irama jatuhnya air, bukan irama jantungmu."
Lin Feng masuk ke bawah air terjun. Dinginnya air terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulitnya. Saat ia mencoba menahan rasa dingin itu dengan energi Qì-nya, dadanya justru terasa semakin panas terbakar.
"Jangan dilawan!" teriak Ki Ageng dari pinggir sungai. "Joko, tunjukkan padanya!"
Joko, yang biasanya hanya tahu makan, tiba-tiba duduk bersila di atas batu yang basah. Ia menarik napas dalam-dalam melalui hidung, membiarkan perut buncitnya mengembang, lalu membuangnya perlahan melalui mulut dengan suara desisan yang halus. Tubuh Joko tampak rileks, seolah-olah ia adalah bagian dari batu yang didudukinya.
Lin Feng mengikuti gerakan itu. Ia mulai melepaskan ego pendekarnya. Ia berhenti memaksakan Qì-nya untuk bergerak cepat. Perlahan, ia merasakan sensasi baru:
Penyatuan Energi: Hawa panas Brajamusti yang semula liar dan merusak, mulai ditarik keluar oleh dinginnya air pegunungan.
Pernapasan Inti Jati: Lin Feng mulai merasakan getaran bumi di bawah kakinya. Energi alam yang stabil dan tenang mulai mengisi meridiannya yang rusak, membalut luka dalamnya dengan kelembutan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Setelah beberapa jam, Lin Feng keluar dari air terjun. Tubuhnya tidak lagi menggigil. Sebaliknya, ada cahaya tenang yang memancar dari wajahnya.
"Luar biasa," bisik Lin Feng sambil melihat telapak tangannya. "Teknik pedangku biasanya fokus pada titik serang, tapi sekarang... aku merasa setiap hela napasku tersambung dengan angin yang berhembus di pohon-pohon ini."
Ki Ageng tersenyum puas. "Itulah awal dari kekuatan baru. Kau tidak lagi hanya seorang pendekar dari utara. Kau mulai menyerap jiwa tanah ini. Jika kau berhasil memadukan Qì yang tajam dengan ketenangan Manunggaling Rasa, maka tidak akan ada tikus istana maupun pembunuh bayaran yang bisa menyentuhmu."
Fajar di lereng Gunung Penanggungan membawa hawa yang sangat berbeda pagi itu. Ki Ageng Bang Wetan, yang tengah membimbing Lin Feng dalam meditasi Manunggaling Rasa, tiba-tiba menghentikan napasnya. Ia merasakan getaran dari dalam perut bumi, sebuah dengungan purba yang hanya muncul saat seorang pendekar sejati melintasi tanah suci ini.
Mata Ki Ageng beralih pada Lin Feng. Pemuda itu sedang berdiri, namun di sekitar tubuhnya, energi Qì yang tajam mulai melunak, menyatu dengan hawa bumi yang kokoh. Ki Ageng tersentak dalam batinnya. “Mustahil... Getaran gunung ini bersahut-sahutan dengan napas pemuda ini. Seolah-olah sang penjaga yang tertidur telah mencium aroma tuannya yang telah lama pergi.”
Tanpa membuang waktu, Ki Ageng memberi isyarat kepada Lin Feng. “Ikutlah denganku, Anak Muda. Ada sesuatu yang telah menunggumu jauh sebelum kau lahir ke dunia ini.”
Di tengah gua tersebut, tertancap sebilah senjata raksasa di atas altar batu alami. Bentuknya menakjubkan; bentuknya indah layaknya keris namun panjang dan gagah seperti pedang, dengan bilah hitam legam yang mengeluarkan pendaran cahaya keunguan.
Lin Feng terpaku, hatinya bergetar hebat. "Pedang apa itu, Ki Ageng? Aku bisa merasakan detak jantungnya seolah ia adalah makhluk hidup yang sedang menungguku."
Ki Ageng Bang Wetan melangkah maju dengan takzim, matanya menerawang jauh ke masa lalu.
"Itu adalah Pedang Naga Bumi, Lin Feng. Dahulu, pusaka ini ditempa oleh empu legendaris dari sari pati besi meteor dan tanah kawah gunung berapi. Sejarah mencatat bahwa pedang ini diciptakan bukan untuk menaklukkan wilayah, melainkan untuk menjaga keseimbangan alam dari kehancuran."
Ki Ageng menarik napas panjang. "Konon, naga yang bersemayam di dalamnya hanya akan bangun jika disentuh oleh seseorang yang memiliki dua dunia dalam jiwanya: mereka yang tajam pikirannya namun rendah hati pijakannya. Selama ratusan tahun, ia tertancap di sini, menolak ratusan ksatria sombong yang mencoba mencabutnya. Tapi lihatlah..." Ki Ageng menunjuk ke arah bilah pedang yang kini bergetar lembut menyambut kehadiran Lin Feng.
"Pedang ini telah menemukan tuannya. Ia tidak lagi menunggu ksatria Jawa, ia menunggu seorang pejuang kebenaran. Dan orang itu adalah kau, Lin Feng."
Lin Feng tertunduk, wajahnya yang tampan tampak ragu. "Aku hanyalah orang asing, Ki Ageng. Seorang pelarian yang membawa beban fitnah dari negeri jauh. Apakah aku pantas memiliki pusaka yang menjadi jantung dari tanah ini? Apakah aku layak memegang sejarah sebesar ini?"
Ki Ageng tersenyum bijak, tangannya menepuk bahu Lin Feng.
"Anak Muda, pedang ini tidak melihat asal-usulmu atau bahasamu. Tanah Jawa tidak pernah menolak mereka yang datang dengan niat suci. Jika kau merasa sebagai orang asing, ketahuilah bahwa keadilan pun sering kali dianggap 'asing' di tengah para pejabat korup itu. Kau telah menyatu dengan napas gunung ini. Jika kau menolaknya, maka kau menolak takdirmu untuk membersihkan nama baikmu dan membungkam tikus-tikus istana yang haus darah."
Mendengar penjelasan itu, Lin Feng memantapkan hatinya. Ia melangkah maju, tangannya mencengkeram gagang pedang yang berbentuk naga tersebut.
Srrreeettt... BOOM!
Seketika, altar batu itu hancur berkeping-keping seolah tak sanggup lagi menahan kekuatan yang meledak. Lin Feng mengangkat Pedang Naga Bumi tinggi-tinggi. Cahaya keemasan melilit tubuhnya, dan raungan gaib naga terdengar mengguncang gua. Lin Feng kini bukan lagi sekadar pendekar tanpa arah; ia adalah pemegang mandat keadilan dari bumi Majapahit.
"Jika pedang ini memilihku," ucap Lin Feng dengan suara menggelegar, "maka biarlah ia menjadi saksi atas setiap kebenaran yang akan kuungkap!"