"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Dia Janda
Berselang sepuluh menit dari Dira yang melewati rumah Juragan Karsa. Erlangga datang dengan berjalan kaki, disambut tiga pasang mata yang menatapnya dengan tatapan seorang predator.
"Darimana saja kamu? kenapa pergi meninggalkan Mirna di tengah sawah?" Suara Bu Ningsih menggelegar, tidak peduli jika hari sudah malam. Bahkan suaranya mengagetkan para dedemit.
"Maaf Bu, sekarang sudah malam. Aku masuk ke kamar dulu." Ucap Erlangga mengabaikan pertanyaan dari Ibu angkatnya dengan wajah datar.
Erlangga berjalan memasuki rumah, tapi saat mencapai pintu Juragan Karsa mengucapkan kalimat yang sangat menyakitkan.
"Ingat Angga! Tanpa kami, kamu hanya anak kecil gelandangan yang mungkin akan mati karena kedingingan. Jadi, sebagai baktimu selama 30 tahun kamu harus bersikap baik terhadap Mirna sebagai calon Istrimu." Erlangga mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan dari Ayah angkatnya, Juragan Karsa.
Dulu Angga ditemukan Juragan Karsa saat usia 3 tahun. Juragan Karsa dan Bu Ningsih yang tidak dikarunia anak dalam pernikahannya menjadi tertarik ingin mengadopsinya.
Waktu itu Angga sedang terbaring lemah di pinggir sebuah jembatan. Kondisinya sangat memprihatinkan karena kehujanan. Yang sebenarnya Angga belum makan dua hari dan baru saja dipukuli preman karena tidak menghasilkan uang saat mengemis di jalanan. Angga tidak tahu siapa keluarganya, karena sepertinya Angga adalah korban penculikan yang telah kehilangan ingatan.
Hanya gelang perak yang bertulis nama Erlangga Aditya sebagai identitasnya. Dan nama itu tidak diganti, karena sepertinya Juragan Karsa memang tidak setulus itu menjadikan anak. Buktinya sejak kecil Erlangga harus membantunya bekerja di kebun teh. Memetik teh setiap pulang sekolah baru boleh makan di rumah. Kadang kalau ada kegiatan sekolah, Erlangga tidak bisa membantu bekerja. Maka dia juga tidak diberi makan malam untuk hari itu. Rahasia kelam Erlangga yang hanya diketahui oleh Mbah Wingit, pemilik asli rumah yang dibeli Dira. Karena diam-diam Mbah Wingit yang selalu memberi makan Erlangga. Keterikatan antara Erlangga dan Juragan Karsa memang sulit untuk dilepaskan.
Tanpa merespon pernyataan Juragan Karsa, Erlangga langsung masuk ke kamarnya. Setelah mengunci pintu, dihempaskannya tubuh lelahnya ke kasur tua miliknya.
Sejatinya bukan tubuhnya yang lelah, tapi pikirannya yang sudah capek. Andai waktu bisa diputar ulang, seharusnya sejak kecil dia kabur. Sejak tak diberi makan layak, Erlangga sudah keluar dari rumah.
Tapi apalah daya, dia hanya anak kecil yang sangat rapuh. Tubuhnya sakit-sakitan dan ingatannya hilang karena kepalanya dipukul Preman.
Erlangga baru tahu jika dia hanya anak angkat Juragan Karsa ketika menginjak kelas satu SMA. Pantas saja dia diperlakukan buruk, tapi sialnya dia tidak bisa lari jauh dari Juragan Karsa.
Keesokan harinya, seperti biasa Erlangga akan berangkat bekerja di Kantor Desa. Sebenarnya pekerjaan ini bukan kemauannya, karena dulu Erlangga lulusan Fakultas Teknik tapi Juragan Karsa yang menginginkan dia bekerja di Kantor Desa sebagai Sekretaris Desa.
Dan lagi-lagi semua karena hutang budi yang harus dibayar dengan kesetiaan dan pengabdian panjang.
"Mas Angga, kita berangkat bareng ya. Antar aku dulu ke Puskesmas baru Mas balik lagi ke Kantor Desa." Ucap Mirna.
Bukan permintaan tolong, tapi perintah mutlak yang tidak boleh dibantah. Padahal arah Puskesmas lebih jauh daripada Kantor Desa, artinya Erlangga harus bolak balik melewati tenpat kerjanya dulu untuk mengantar Mirna.
"Cepat naik! Aku sudah kena teguran karena setiap hari terlambat. Dan semua itu karena keegoisanmu." Ucap Erlangga menyalakan sepeda motornya.
"Loh kok naik sepeda motor? Aku tidak mau, nanti berdebu. Cepat ganti mobil." Ucap Mirna.
"Mau ikut atau tidak? Terserah!" Ucap Erlangga mulai menjalankan motornya, tidak peduli Mirna yang marah.
"Kamu memang brengsek, Mas Angga." Umpat Mirna, tapi justru duduk di jog belakang Erlangga sambil melingkarkan tangan di pinggang Erlangga.
Erlangga berusaha melepas tangan Mirna, tapi Mirna semakin memeluknya erat. Hingga akhirnya hanya bisa pasrah. Entah sampai kapan dia menjadi boneka dari orang-orang yang selalu menuntutnya untuk membalas budi.
Sementara itu, sebuah truk masuk ke jalan menuju rumah Dira. Barang-barang yang semalam dibelinya, hari ini siap untuk ditata. Dan tentu saja, Dira butuh bantuan lagi seperti kemarin siang.
Sambil menunggu orang menurunkan barangnya, Dira berjalan cepat menuju rumah Bu Wati untuk mengumpulkan sukarelawan tapi tetap akan Dira bayar.
"Bu Wati... Bisa tolong cari teman untuk bantu saya lagi? Semalam saya beli banyak barang. Harus ada yang bantu nata, kalau sendirian saya pasti klenger." Ucap Dira memperagakan orang mabuk.
"Ah... Mbak Dira ada-ada saja, ya sudah tunggu sebentar. Mbak pulanglah, saya tak keliling cari pasukan." Ucap Bu Wati.
"Saya ikut Bu, sekalian biar tahu rumah Ibu Ibu yang lain yang kemarin membantu saya." Ucap Dira berjalan mengikuti Bu Wati ke rumah yang masuk ke dalam sebuah gang kecil.
Inilah yang disukai oleh Dira, meskipun rumah di sini rata-rata masih bisa dikatakan jelek. Tapi rumahnya rapi dan bersih.
Setelah terkumpul sepuluh orang perempuan, Dira langsung mengajak mereka pulang. Tugas yang sedikit berat karena harus mengangkat dan mendorong perabot. Kecuali lemari yang sudah dirapikan oleh pengantar barang dari toko.
Kegiatan beberes perabot selesai saat waktu Dzuhur, tidak ada makan. Jadi Dira memberikan uang masing-masing tiga ratus ribu rupiah.
Sementara itu di Kantor Desa, Erlangga merapikan data penduduk baru. Lantas dia menemukan identitas Dira.
"Pak Erlangga, data diri warga baru yang bernama Candira Anandini masih ditanggugkan pengerjaannya." Ucap Ramdan.
"Kenapa? Kan surat pindah dari Jakarta sudah ada dan lengkap. Di sini juga sudah ada alamat barunya. Tunggu apa lagi?"
"Status pernikahannya Pak." Jawab Ramdan.
Deg
"Jadi Dira sudah menikah?" Tangan Erlangga tiba-tiba tremor. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
Ada rasa terkejut yang diselimuti kecewa mendengar Dira sudah menikah.
"Berarti aku sudah sangat terlambat. Pertemuan ini, setelah bertahun-tahun. Nyatanya hanya membuatku makin sakit. Apa untuk bahagia sulit bagiku?"
"Pak... Pak Erlangga? Anda kenapa? Apa Anda sakit?" Tanya Ramdan.
"Eh... Tidak... Tidak. Ya sudah urus saja kalau berkasnya lengkap. Tapi tunggu... Tunggu... Ini KTP lamanya sudah tertulis menikah, lantas apa lagi yang kamu tunggu?" Heran Erlangga membolak balik berkas.
"Menunggu akta cerai dari pengadilan, katanya seminggu lagi baru selesai."
"CERAI? DIRA JANDA?" Erlangga berucap lantang sampai berdiri dari duduknya.
"Iya, Mbak Dira ini baru bercerai dari suaminya." Jawab Ramdan.
"Katanya sih, suaminya main serong. Padahal orangnya cantik dan sexy, tapi ternyata tidak cukup untuk suaminya setia. Kasihan!" Ucap Ramdan.
"Justru itu keberuntunganku, aku akan mengejarnya mulai sekarang." Gumam Erlangga.
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂