Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 SWMU
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra di ruang perpustakaan, menciptakan garis-garis emas yang jatuh tepat di atas sofa kulit hitam. Bramantya terbangun dengan rasa ringan yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan. Otot-otot bahunya yang biasanya tegang karena beban bisnis dan obsesi gelap, kini terasa rileks.
Ia mengerjap, aroma cendana bercampur dengan sisa-sisa wangi mawar dari kulit Nadia masih tertinggal di indra penciumannya. Bramantya menoleh, mengharapkan sosok mungil itu masih meringkuk dalam dekapannya. Namun, sisi sofa di sampingnya sudah kosong. Hanya ada selimut wol tipis yang menutupi tubuhnya hingga pinggang.
"Nadia?" panggil Bramantya, suaranya serak khas orang bangun tidur.
Hening. Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding kuno yang mengisi ruangan. Bramantya bangkit duduk, mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya melayang pada kejadian semalam. Penyatuan mereka terasa begitu nyata, begitu... berbeda. Nadia tidak lagi menangis. Nadia membalasnya. Nadia memujinya.
Senyum tipis tersungging di bibir pria itu. Akhirnya, dia mulai paham siapa tuannya, pikir Bramantya penuh kemenangan.
Ia meraih kemejanya yang berserakan di lantai, lalu matanya tertuju pada meja kerja digitalnya. Posisinya tampak sedikit bergeser dari ingatannya semalam. Bramantya mengerutkan kening, namun segera menepis kecurigaannya. Mungkin Bi Inah masuk pagi-pagi untuk membersihkan ruangan? Tidak, Bi Inah tidak berani masuk jika dia tidak memanggil.
Pintu perpustakaan terbuka pelan. Nadia masuk dengan nampan berisi kopi hitam dan sepiring kecil roti panggang. Ia sudah rapi, mengenakan gaun rumah sederhana berwarna putih, namun rambutnya dibiarkan tergerai menutupi sebagian lehernya—area yang dipenuhi tanda kepemilikan Bramantya dari semalam.
"Paman sudah bangun?" tanya Nadia dengan nada suara yang begitu lembut, hampir seperti malaikat.
Bramantya menatapnya dalam, mencoba mencari sisa-sisa kebencian di mata itu, namun ia hanya menemukan ketundukan yang manis. "Kau bangun lebih awal."
Nadia meletakkan nampan di atas meja kopi, lalu duduk di lantai di depan lutut Bramantya, sebuah posisi yang menunjukkan kepatuhan total. "Aku tidak bisa tidur lama setelah... semalam. Aku ingin membuatkan sesuatu untuk Paman."
Bramantya menarik dagu Nadia, memaksanya menatap matanya. "Kau sungguh-sungguh dengan semua yang kau katakan semalam, Nadia? Tentang betapa kau membutuhkanku?"
Nadia menurunkan pandangannya dengan malu-malu, jemarinya memainkan ujung kemeja Bramantya yang belum dikancingkan. "Paman adalah duniaku sekarang. Jika aku terus melawan, aku hanya menyakiti diriku sendiri. Bukankah lebih baik jika aku belajar mencintai pria yang memilikiku?"
Hati Bramantya bergetar. Ego lelakinya melambung tinggi. Ia menarik Nadia ke pangkuannya, memeluk pinggang ramping itu erat. "Itu pilihan yang cerdas, Sayang. Kau tahu aku bisa memberikan segalanya untukmu. Apapun."
Nadia menyandarkan kepalanya di dada Bramantya, mendengarkan detak jantung pria itu yang kembali memburu. Di balik punggung Bramantya, mata Nadia menatap tajam ke arah tablet digital di meja kerja.
"Apapun, Paman?" bisik Nadia.
"Apapun."
"Kalau begitu... ajari aku," ucap Nadia tiba-tiba.
Bramantya melepaskan pelukannya sedikit agar bisa menatap wajah Nadia. "Ajari apa?"
"Ajari aku tentang duniamu. Selama ini aku hanya dikurung tanpa tahu apa yang Paman kerjakan. Jika aku benar-benar ingin menjadi pendampingmu, aku tidak ingin menjadi wanita bodoh yang hanya menunggu di tempat tidur. Aku ingin tahu apa yang membuat suamiku begitu hebat dan ditakuti."
Bramantya tertawa kecil, suara tawa yang jarang terdengar. Ia merasa bangga. Ia merasa telah berhasil merubah gadis kecil yang rapuh menjadi wanita yang ingin berdiri di sampingnya. "Kau ingin belajar bisnis, hm? Dunia itu sangat kejam untuk tangan selembut milikmu."
"Tapi Paman akan menjagaku, kan?" Nadia menatapnya dengan mata bulat yang memelas. "Paman bilang semalam kalau aku adalah satu-satunya orang yang bisa Paman percayai. Aku ingin membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah."
Bramantya terdiam sejenak. Kata-kata "percaya" adalah kelemahannya. Sebagai pria yang dikelilingi musuh, ia sangat haus akan kesetiaan. Dan di depannya, ada seorang gadis yang sudah ia renggut segalanya, kini justru meminta untuk menjadi bagian dari rahasianya.
"Baiklah," ucap Bramantya akhirnya. "Nanti siang, ikutlah ke ruang kerjaku. Aku akan menunjukkan beberapa hal padamu. Tapi kau harus janji, Nadia... jangan pernah membocorkan apa yang kau lihat di sana kepada siapapun, bahkan pada Bi Inah sekalipun."
Nadia mengangguk cepat, lalu ia mengecup pipi Bramantya dengan lembut. "Aku janji, Paman. Rahasiamu adalah rahasia kita."
Siang harinya, di ruang kerja utama yang lebih besar dan penuh dengan monitor pengawas, Bramantya duduk di kursi kebesarannya dengan Nadia yang berdiri di sampingnya. Pria itu menunjukkan beberapa grafik saham dan laporan pengiriman logistik di pelabuhan.
"Ini adalah jantung kekuasaan Mahendra, Nadia. Siapa yang menguasai jalur ini, dialah yang menguasai harga pasar di ibu kota," jelas Bramantya dengan nada sombong.
Nadia memperhatikan dengan seksama, namun fokusnya bukan pada angka-angka itu. Ia memperhatikan cara Bramantya memasukkan kata sandi pada dokumen-dokumen yang lebih sensitif. Ia mencatat dalam ingatannya: setiap kata sandi adalah kombinasi dari tanggal kematian ibunya dan angka keberuntungan Bramantya. Begitu dapat ditebak bagi seorang pria yang terobsesi pada masa lalu.
"Kenapa dokumen yang ini berwarna merah, Paman?" tanya Nadia menunjuk sebuah folder bertuliskan Project Phoenix.
Wajah Bramantya sedikit menegang. "Itu bukan urusanmu untuk saat ini. Itu adalah proyek pembangunan resor di lahan yang... katakanlah, masih dalam sengketa."
Sengketa, batin Nadia. Ia tahu itu adalah kode untuk perampasan lahan secara ilegal, cara yang sama yang digunakan Bramantya untuk menghancurkan keluarga Nadia dulu.
"Sepertinya sangat sulit. Paman pasti sangat lelah mengurusnya sendirian," ucap Nadia sambil mulai memijat bahu Bramantya dengan gerakan yang terlatih.
Bramantya mendesah nikmat. "Memang. Banyak orang yang ingin menjatuhkanku. Termasuk pengacara-pengacara sok suci yang berusaha menggugat aset-aset ini."
"Jangan khawatir, Paman. Mereka tidak akan bisa menyentuhmu selama Paman memiliki semua data aslinya, kan?" pancing Nadia.
"Tentu saja. Semua bukti kepemilikan dan 'kesepakatan bawah tangan' ada di brankas di balik lukisan itu," jawab Bramantya tanpa sadar, menunjuk ke arah lukisan besar di sudut ruangan.
Nadia tersenyum dalam hati. Kemenangan besar. Bramantya benar-benar sudah kehilangan kewaspadaannya karena dopamin yang meledak-ledak di otaknya setiap kali Nadia berada di dekatnya.
Tiba-tiba, ponsel Bramantya berdering. Ia melihat layarnya dan ekspresinya berubah menjadi dingin dan berbahaya.
"Aku harus menerima telepon ini di teras. Kau tetaplah di sini dan pelajari laporan keuangan itu. Jangan sentuh apapun yang tidak aku izinkan, mengerti?"
"Baik, Paman," jawab Nadia patuh.
Begitu pintu tertutup dan langkah Bramantya menjauh, transformasi pada wajah Nadia terjadi seketika. Senyum manisnya hilang, digantikan oleh tatapan sedingin es. Ia segera mendekati lukisan besar tersebut.
Ia menggeser bingkainya dan menemukan sebuah brankas baja modern. Ia memasukkan kombinasi angka yang sudah ia simpulkan dari percakapan mereka sejak pagi tadi.
Pip. Pip. Pip. Klik.
Pintu brankas terbuka.
Di dalamnya bukan hanya ada emas atau uang tunai, tapi tumpukan map cokelat yang berisi dosa-dosa keluarga Mahendra. Nadia dengan cepat mengambil ponselnya—yang diam-diam ia sembunyikan di balik lipatan gaunnya—dan memotret setiap lembar dokumen penting, terutama bukti transfer suap kepada pejabat tinggi dan surat kepemilikan lahan milik ayahnya yang telah dipalsukan.
Tangannya bergerak secepat kilat. Detak jantungnya berpacu, bukan karena cinta, tapi karena adrenalin murni dari seorang pemburu yang hampir menangkap mangsanya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki kembali mendekat.
Nadia dengan tenang menutup brankas, menggeser kembali lukisannya, dan kembali duduk di kursi samping meja kerja, pura-pura kebingungan membaca laporan angka di layar monitor.
Pintu terbuka. Bramantya masuk dengan wajah merah padam. "Sialan! Mereka mencoba memblokir pengiriman di utara!"
Nadia berdiri dan menghampirinya, meraih tangan Bramantya yang terkepal. "Ssh... Paman, tenanglah. Jangan biarkan mereka menang dengan merusak harimu."
Bramantya menatap Nadia, napasnya memburu. Melihat wajah tenang Nadia, amarahnya perlahan mereda. "Kau benar. Aku tidak boleh kacau."
"Paman, aku merasa sedikit pening. Mungkin karena terlalu banyak melihat angka," ucap Nadia dengan nada manja. "Bolehkah aku kembali ke kamar untuk istirahat?"
Bramantya mencium keningnya. "Tentu, Sayang. Istirahatlah. Malam ini aku akan menyusulmu lebih awal. Kita punya banyak waktu untuk... merayakan kesepakatan baru kita."
Nadia mengangguk dan berjalan keluar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menyandarkan punggungnya di tembok lorong yang dingin. Ia merogoh ponsel di balik pakaiannya, memastikan foto-foto itu tersimpan dengan aman.
"Permainan akan segera berakhir, Bramantya," bisik Nadia pada kehampaan lorong mansion. "Dan kau sendiri yang menyerahkan kunci penjaramu kepadaku."