Penyesalan selalu ada di belakang, itulah yang di rasakan pria yang sekarang hidupnya berantakan.
Terlebih setelah dia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, “sudah ku katakan jangan pernah berani meninggikan suaramu padaku!” Bentak Nanang.
“Terus aku harus apa, selalu diam melihatmu menyakitiku, kamu tidak menafkahi ku aku diam, tapi berselingkuh kamu tak tau diri mas!” Jawab Sari marah.
Plak...
Sebuah tamparan di berikan pria itu, sedang sari merasa sudah tak bisa tahan lagi.
“Ceraikan aku mas, aku tak mau hidup dengan pria menyebalkan seperti mu!!” kata satinyang marah.
Apa yang di pilih Sari benar?
Atau keputusan ininakan di sesali keduanya?
Atau pilihan ini baik untuk mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kehidupan rumah tangga
apa yang bisa di harapkan pada gadis yang baru berusia delapan belas tahun, ya menjadi istri yang baik dan juga seorang anak.
hari ini sudah tiga bulan pernikahan dari Nanang dan Sari, tapi mereka juga belum melakukan hubungan suami istri.
bukan karena Nanang tak bisa, tapi pria itu memang harus ikut ayahnya setelah seminggu pernikahan ke Manado untuk mengurus beberapa hal.
dan ternyata sudah tiga bulan ini dia tinggal bersama adik perempuannya untuk menemaninya di rumah miliknya.
"mbak aku berangkat sekolah dulu ya," pamit Tata.
"iya dek, kamu sudah ada uang saku?" tanya Sari
"yang mbak kasih kemarin saja masih ada, sudah aku berangkat dulu ya," pamit gadis itu yang mulai mengendarai sepeda ontel miliknya.
Sari pun mulai membuka toko dan menata gorengan yang dia sengaja tata di depan, pasalnya di tokonya itu para bapak-bapak bisa ngopi atau sekedar menikmati rokok yang baru di beli.
Fendi pun datang ingin membeli rokok dan juga kopi, "neng tolong rokok Sury* dan kopi item dong,"
"iya mas Fendi, kok tumben sendirian, mana yang lain?" tanya Sari yang beberapa Minggu ini teman-teman Nanang memang sering datang.
"siapa Arip masih belum pulang dari jaga malam, terus kalau Ripin paling masih sebentar lagi, oh ya mau beli tanah gak neng, lumayan nih ada tanah di jual murah?" tanya Fendi.
"minta berapa? tapi aku maunya bersih loh ya, dan harus sertifikat hak milik," kata sari tertawa memberikan kopi dan rokok pada Fendi.
"pasti loh neng, kan aku yang jual ya gak berani kalau gak sertifikat hak milik." jawab Fendi
"boleh tapi aku baru ada sekitar delapan puluh, itupun hasil dagang ini semua," kata Sari jujur.
"sukses beneran ya berarti, cukup kok orang tanahnya cuma minta empat puluh juta, itu bisa sekalian di bangun rumah," kata Fendi.
"Tanahnya saja dulu, tapi tolong mas simpen dulu sertifikatnya ya dan sisa uangnya, nanti aku akan bilang kapan bisa bangun rumahnya, karena ini aku tak bicara pada mas Nanang, ini murni uangku sendiri," kata Sari yang memang percaya pada teman suaminya itu
"siap, kita kalau saling percaya Kan enak, kalau gitu uangnya buat modal nanti aku kembalikan beserta bunga ya," kata Fendi yang menikmati kopi rokok dan gorengan.
"boleh kok," jawab Sari.
tak lama toko itu mulai ramai, Ripin juga datang untuk minum kopi dari pada di warung yang cukup jauh.
terlebih ketiganya punya tugas dari Nanang untuk mengawasi istrinya itu, karena dia takut jika Sari mengalami apa-apa.
tapi yang tak di ketahui oleh Nanang adalah, Fendi yang menyimpan rasa pada istrinya itu.
"eh neng, kira-kira kapan suamimu itu pulang,ya kali manten baru udah jadi janda tiga bulan ini, kasihan amat," ledek Ripin.
"aduh mulutnya, mungkin hari ini mas Nanang dan ayah pulang kok," kata Sari yang masih melayani beberapa orang belanja.
ternyata benar, sebuah mobil Avanza keluaran tahun dua ribu tujuh masuk ke halaman rumahnya.
ternyata itu adalah Nanang dan ayah mertuanya yang baru datang dari Manado.
"sebentar ya buk," kata Sari yang menyebut keduanya.
tak terduga Nanang langsung memeluk istrinya itu di depan semua orang, bahkan Pria itu mengecup kening Sari.
"heh... sabar Nang, kok isone... Sari lanjutkan kegiatan mu, ayah dan suamimu masuk dulu, karena ibumu masih ikut arisan di rumah temannya di desa sebelah," kata juragan Wawan melihat putranya itu.
"iya ayah, kebetulan kamar tamu sudah bersih, jadi ayah bisa istirahat di sana," kata Sari.
Nanang pun sempat menyapa kedua temannya, dan kemudian membawa semua barang bawaannya masuk kedalam rumah.
terlihat di depan pintu kamar ada tulisan agar tak salah, bahkan suasana rumah begitu rapi dan wangi.
bahkan begitu nyaman, Nanang pun memutuskan untuk mandi sebelum tidur karena dia terlalu lelah.
Sari pun selesai melayani semua pembeli, Fendi sudah membawa uang dari Sari.
dia pun pergi bersama dengan Ripin, Sari pun membawa semua uang dari toko masuk dan meninggalkan tokonya sebentar.
dia memasak sedikit makanan untuk keduanya kalau-kalau suami dan mertuanya itu bangun dan lapar.
Sari juga sudah menyiapkan kopi di meja makan, sebelum dia kembali ke depan untuk jaga toko.
pukul sebelas siang Nanang bangun dan kaget saat melihat ayahnya sudah selesai makan.
"beh... ayah duluan saja makan siangnya, bagaimana yah masakan istriku enak gak?" tanya Nanang.
"enak dong, lihat pilihan ayah bener kan, makanya nurut sama orang tua, oh ya sambelnya jos le," kata juragan Wawan.
kini Nanang pun makan juga, setelah itu Keduanya duduk di teras, terlihat toko cukup ramai dan sepertinya stok juga masih aman.
"lihatlah istrimu meski sangat muda, dia pintar berjualan, lihat tokonya makin ramai sekarang," kata juragan Wawan.
"iya yah, sekarang ayah juga sudah percaya dengan ku untuk mengelola beberapa sawah dan
peternakan, jadi aku tak akan mengecewakan ayah," kata Nanang.
"pintar, tapi ingat ya le, jangan sampai kamu mengambil uang toko, karena itu ayah sengaja membuatnya untuk istrimu," kata juragan Wawan memperingatkan putranya itu.
"iya ayah, Nanang mengerti," jawab pria itu.
gorengan pun habis, Sari masuk dan menyiapkan semua adonan untuk membuat lumpia dan risol untuk besok.
saat ada orang yang ingin beli, mereka tinggal memencet bel yang ada di toko agar tak berteriak-teriak.
pukul dua belas lebih Tata baru pulang sekolah, "assalamualaikum.. loh juragan dan mas Nanang sudah pulang,"
"iya nduk, terima kasih ya sudah mau menemani mbak mu disini," kata juragan Wawan.
"inggeh juragan, kalau begitu Tata mau pamit pulang dulu, Tata gak enak kalau harus tinggal di sini karena mas Nanang sudah pulang," kata gadis itu.
"iya nak," jawab juragan Wawan.
Tata pun masuk kedalam kamarnya dan mengambil baju dan juga bukunya.
barang bawaannya cukup banyak tapi gadis itu terlihat biasa saja. Sari memberi adiknya itu uang saku seratus ribu.
Tata sudah sangat senang karena baginya uang itu sangat banyak, "sini nduk, ini buat jajan, anggap yang saku selama menemani mbak mu ya," kata juragan Wawan.
"terima kasih juragan, mas Nanang, mbak Sari, Tata pamit ya, assalamualaikum..." kata gadis itu senang.
"waalaikum salam..." jawab semuanya.
"tunggu dek, kamu dari tadi uplek di dapur sedang buat apa sih?" tanya Nanang penasaran.
"owh itu mas, buat kulit lumpia sama risoles buat di jual besok, kalau gorengan buatnya biasanya subuh, ya lumayan buat tambah-tambahan, habis kemarin aku gak ada kerjaan," jawab Sari.
"terus kalau kamu sibuk seperti ini, waktu untuk ku gimana dong?" tanya Nanang.
"ya kalau malem waktunya milik mas dan istirahat, masak masih kurang?" tanya Sari polos.
"ya wes kalau gitu gas cepetan, biar ayah cepet punya cucu," kata juragan Wawan yang memancing tawa keduanya.