Selena datang terlambat pada hari pertama masuk sekolah, Selena bertemu dengan ketos, Selena meminta ketos itu untuk tidak menghukum Selena. Selena bisa bernafas lega, karena terbebas dengan mudah. Tapi semua bayangan selena hancur ketika nama selena dipanggil menggunakan speaker sekolah. Cerita Selena pun dimula
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dreamalfs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Selena menoleh kearah belakang, entah kenapa Selena langsung bisa membenci seorang Dania ini. Dania seperti cari muka semua orang. Cantik sih cantik tapi kalau caper males banget. Selena baru ngeh kalau dibelakang Dania juga masih ada seseorang, dan yups ada Viano. Kenapa kakel kejam itu selalu berada didekat Selena sih.
Dania melangkah dan langsung duduk dikuris kosong yang ada, “Haiii.” ucap Dania sambil melambaikan tangan.
“Juga kak.” jawab Auzi Selena dan baruna, sebenarnya Selena tidak mau menjawab tapi takut ada pawangnya.
Dania menatap semua yang duduk disana. “Boleh duduk disini? tapi ada satu orang lagi yang mau ikut duduk disini.” ungkap Dania meminta persetujuan.
Viano menatap Dania dengan tatapan tidak suka, “kata siapa gue mau duduk disini.” Viano berkata dengan nada ketus.
Selena menatap kearah Auzi, Baru, tapi ternyata teman temannya itu terdiam, mungkin tidak enak. Dan Selena tidak perlu meminta persetujuan Agli bukan? karena bukannya Agli teman Viano pasti akan langsung setuju.
“Boleh kak, langsung duduk saja saya dan teman saya juga mau kembali kekelas.” jawab Selena dengan ucapan sopan.
Auzi menoleh ke Selena, ‘kenapa selena mau balik cepet cepet padahal kan makananya belum habis.’ batin Auzi.
“Tapi makanan lo belum habis Sel.” ucap Auzi.
Selena menatap kearah Auzi, “udah gak apa apa zi.”
Mendengar perkataan dari Selena, Viano jadi tertarik apa Selena berusaha menghindar darinya?. “Hemm lu bukan pergi karena ngehindari gue bukan?” akhirnya Viano bertanya.
Semua orang menatap kearah Viano, yang kenal Viano merasa aneh kenapa viano tiba tiba bicara lumayan panjang padahal biasanya Viano hanya diam, sedangkan Selena merasa kesal dengan kakak kelas yang satu ini, dengan pdnya berkata seperti itu.
‘Idih pede banget kek yang paling ditakuti aja disini.’ batin Selena kesal dengan Viano.
Mending Selena jujur aja deh biar kakak kelas ini tambah kesal dengan Selena. Selena menatap Viano yang masih saja memperhatikan Selena, “Iya nih kak, tiba tiba gue males aja gitu makan karena kedatangan kakak. padahal
makanannya enak. ngelihat kakak disini tiba tiba Selena tidak nafsu makan.” ungkap Selena.
Agli sampai terbengong tidak menyangka Selena bisa menjawab ucapan Viano. Dania memandang kearah Viano, bagaimana perasaan Viano ketika mendengar perkataan itu? tapi sepertinya baik baik saja, wajah Viano tetap datar.
Auzi yang berada disamping Selena sudah ketar ketir, dengan beraninya temannya melawan kakak kelas. ‘Buset nih anak berani banget.’ batin Auzi ketar ketir.
“Yaudah kalau gitu silakan kalian pergi.” Viano tiba tiba mengusir Selena.
Selena menatap tidak suka, ‘what nih kakak kelas emang belagu banget.’ batin Selena kesal.
Selena menarik tangan Auzi, otomatis Auzi langsung bangkit. “kenapa?” tanya Auzi kepada Selena yang tiba tiba menarik tangannya.
“Pergi dari sini dong.” jawab Selena.
Tanpa pikir panjang Selena menarik pergelangan tangan Auzi. Melihat kepergian Selena dengan emosinya membuat Viano tersenyum. Dania yang melihat selena pergi segera menatap Viano, dan Dania mendapati Viano tersenyum sangat tipis.
‘Viano tersenyum?’ batin Dania tidak suka.
Dijalan menuju kelas Selena terus mengengam tangan Auzi. Auzi capek karena menyamai langkah cepat Selena,
Auzi memutuskan berhenti, dan tentu saja membuat Selena juga berhenti. Selena
menoleh kebelakang mendapati Auzi sudah duduk dilantai.
“Kenapa?” tanya Selena kepada Auzi.
Auzi mencebikan bibirnya kesal dengan temannya ini, “lepas dulu tangannya, dikira Lo sama gue belok.” ucap Auzi membuat Selena langsung melepaskan cekalannya.
“Kenapa ?” Selena kembali bertanya karena tadi tidak dijawab.
“Kenapa kenapa, lo gak ngerasa ketar ketir ngelawan kakel?,” kesal Auzi kepada Selena.
“Bisa bisanya lo bawa gue kedalam bahaya.” lanjut Auzi masih kesal dengan Selena.
Selena menggeleng, “tapi emang kakel itu ngeselin banget tau.”
“Yah kalau ngeselin jangan dilawan Selena, lo sama gue masih mpls yah diingat tolong.” pinta Auzi kepada Selena.
Selena tidak setuju dengan ucapan Auzi, “kalau ngeselin yah harus dilawan Zi.” ucap Selena.
“Udah deh terserah lo, gue gak mau ikut ikutan kalau nanti ada kakel kakel yang ngelabrak lo.” ungkap Auzi mewanti wanti Selena.
Selena mengangguk anggukan kepalanya, “biarin aja, memangnya gue harus takut gitu?” pd Selena. Selena tidak akan takut buat apa takut, kalau takut pasti Selena akan terus dibully. Kebanyakan mereka yang dibully karena lemah dan takut melawan, kalau melawan pasti mereka yang membully akan merasa takut setidaknya ada keberanian.
Tanpa aba aba, Anzi meninggalkan Selena. Auzi melangkah terlebih dahulu masuk kedalam kelas. Ouh yah Selena baru mengingat bukannya tadi dikantin bersama Baru.
“Yah gue ninggalin cogan.” gumam Selena dijalan.
“Maafin gue yah Baru.” Selena bergumam kembali.
Waktu mpls dihari pertama sudah selesai saatnya para siswa siswi baru untuk pulang kerumah masing masing. Auzi dan Selena sedang melangkah ditengah lapangan.
“Kembali kerumah masing masing jangan mampir kemana mana.” ucap kordinator ditengah lapangan.
Selena mencebik, “mau mampir kemana? masih baru kelas sepuluh juga.” ucap Selena.
Auzi menatap Selena, “itu cuman himbauan, sekarang kan memang kadang siswa baru juga bandel. mungkin nanti ada yang pulang tapi bukan kerumah.”
“Sok tau loh.”
“Dih dikasih tau malah nyewot.” kesal Auzi.
Selena tidak menghiraukan Auzi dan melangkah mendahului Auzi. Sampai didepan gerbang sekolah ternyata Auzi sudah ditunggu. Auzi menepuk bahu Selena, “gue pulang dulu yah, udah dijemput tuh.” ucap Auzi sambil menunjuk salah satu mobil yang sudah terparkir dijalan depan gerbang sekolah.
Selena mengikuti telunjuk Auzi, setelah melihat mobil Selena mengangguk. “Hati hati Felli.” Selena tiba tiba mengganti nama panggilan Auzi.
Auzi tersenyum menanggapi, bagi Auzi mau dipanggil apa saja terserah karena setiap nama pasti sudah ada doa yang tersimpan didalamnya.
Auzi menepuk bahu Selena, “lo juga hati hati.” Auzi berjalan meningalkan Selena.
Selena yang melihat Auzi sudah menghilang dari pandangannya menghela nafas, capek juga ternyata tidak bisa pulang dengan orang tua. Selena melangkah mendekat ketrotoar, Selena akan menunggu bus lewat.
Selena membuka pintu masuk kedalam rumahnya, Selena senang sekali sudah bisa menginjakan kaki kedalam rumah ini. “Ma, Selena pulang.” teriak Selena.
Tidak mendengar suara mamanya, Selena semakin masuk kedalam rumah dua lantai sederhana tapi tetap kelihatan elegan.
“Mama, mama dimana?” Selena masih teriak teriak.
Selena menoleh kesekelilingnya, salah satu asisten rumah tangga dirumah Selena lari mendekat ke Selena. “Ehh bulek, mama kemana?” tanya Selena kepada asisten rumah tangga itu.
Selena memang memanggil asisten rumah tangga dirumahnya dengan panggilan bulek. Selena tidak suka jika mereka dipanggil bibi, kesannya Selena merendahkan.
“Ouh nyonya tadi baru keluar, katanya mau ketemu teman temannya.” jawab bulek. Selena mengangguk angguk menanggapi.
“Non baru pulang sekolah?” tanya bulek kepada Selena.
Selena kembali mengangguk, “iya bulek.”
“Kalau begitu non harus makan siang, makanan sudah tersedia diatas meja makan non.” ungkap bulek. Lagi lagi Selena hanya bisa mengangguk.
Selena melangkah meninggalkan asisten rumah tangganya, Selena tidak keruang makan, Selena melangkahkan kakinya kedalam kamarnya. Selena rasanya harus istirahat dulu sebelum makan, kalau makan dulu lalu istirahat Selena takut nanti makanan itu tidak bisa diproses oleh organ organ tubuhnya.
~~
Next gak nih?