NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: DESA OAKHAVEN

Empat hari perjalanan melewati hutan lebat, menyeberangi sungai deras, dan mendaki bukit-bukit terjal akhirnya membawa mereka ke tepi sebuah lembah kecil. Di bawah, tersembunyi di antara pepohonan ek yang rindang, terbentang Desa Oakhaven—sekumpulan rumah kayu dengan atap jerami, ladang gandum menguning, dan asap tipis mengepul dari cerobong-cerobong.

Matahari sore menyinari desa itu dengan hangat, menciptakan pemandangan yang begitu damai, kontras dengan kegelapan yang selama ini mereka lalui.

"Indah sekali," bisik Elara, berdiri pincang di samping Aldric. Lukanya sudah jauh membaik, tapi ia masih belum bisa berjalan normal.

Sera menggendong Ren yang setengah tertidur. Anak itu kelelahan setelah perjalanan panjang. "Kita bisa istirahat di sana?"

Aldric mengamati desa dengan mata waspada. Dari kejauhan, semuanya tampak normal—petani bekerja di ladang, anak-anak bermain di pinggir jalan, wanita-wanita mencuci di sungai kecil. Tapi insting setengah iblisnya berkata lain. Ada sesuatu yang mengganggu.

"Kita harus hati-hati," katanya. "Mira bilang desa ini terpencil, tapi bukan berarti aman. Hadiah untuk kepala kita bisa mengubah orang baik menjadi serigala."

Elara menggenggam tangannya. "Kita tidak punya pilihan. Persediaan habis, aku butuh istirahat sungguhan, dan Ren tidak bisa terus-menerus berjalan."

Aldric menghela napas. Ia tahu Elara benar. Mereka butuh makanan, air bersih, dan tempat berteduh yang layak. Berhari-hari tidur di tanah hutan membuat mereka semua lelah luar biasa.

"Baik. Tapi kita masuk satu per satu. Aku duluan, pastikan aman. Kalian tunggu di sini."

Aldric turun ke desa dengan jubah menutupi sebagian wajahnya. Ia berjalan santai, berusaha tampil seperti petani dari desa lain yang sedang lewat.

Desa itu ternyata lebih besar dari perkiraannya. Mungkin sekitar seratus rumah, dengan pasar kecil di tengah. Beberapa warung menjual sayuran, roti, dan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Orang-orang lalu lalang, sebagian besar tidak memperhatikannya.

Ia menghampiri seorang wanita tua yang menjual roti di pinggir pasar.

"Permisi, Nek. Saya dari desa sebelah, mau berteduh sebentar. Apa ada penginapan di sini?"

Wanita tua itu menatapnya dengan mata rabun. "Penginapan? Ada, di ujung jalan sana. Punya Kepala Desa Marthen. Tapi..." Ia memicing, mencoba melihat lebih jelas. "Wajahmu... seperti pernah kulihat di pengumuman..."

Aldric tersenyum tipis, berusaha tenang. "Saya wajah biasa, Nek. Banyak yang mirip."

Wanita itu bergumam tidak percaya, tapi tidak berkata lebih lanjut. Aldric segera pamit, berjalan menuju penginapan.

Di depan penginapan—sebuah rumah panggung kayu dengan papan nama "Singgah Marthen"—ia berhenti. Di dinding, tertempel selebaran besar.

Wajahnya sendiri menatapnya dari kertas itu.

"BURONAN KERAJAAN: ALDRIC VEYNHEART, PENGHIANAT DAN MONSTER. HADIAH 10.000 KOIN EMAS. HIDUP ATAU MATI."

Di sampingnya, gambar Elara dengan judul serupa. Hadiah 5.000 koin.

Aldric mengepalkan tangan. Darius benar-benar main kotor.

"Kau melihatnya?"

Suara di belakangnya. Aldric berbalik. Seorang pria paruh baya dengan jenggot tebal berdiri di sana, memegang cangkul. Matanya tajam menatap Aldric.

"Muka kau mirip sekali dengan gambar itu," kata pria itu pelan.

Aldric diam, tangannya meraba belati di pinggang.

Tapi pria itu justru tersenyum. "Jangan takut. Aku bukan penjahat yang mau menjual sesamanya demi uang." Ia menunjuk penginapan. "Masuk. Aku Kepala Desa Marthen. Kita bicara di dalam."

Aldric memberi isyarat pada Sera dan Elara untuk turun. Mereka masuk ke penginapan—ruangan sederhana dengan beberapa meja kayu dan perapian menyala. Marthen menutup pintu rapat, lalu menatap mereka satu per satu.

"Jadi kau benar-benar Pangeran Aldric," gumamnya. "Dan kau—" ia menatap Elara, "—Janda Pangeran yang katanya diculik."

"Aku tidak diculik," kata Elara tegas. "Aku pergi sukarela. Darius ingin menikahiku paksa."

Marthen menghela napas panjang. Ia duduk di kursi, meraih pipa rokok, menyalakannya perlahan.

"Aku tahu," katanya akhirnya. "Aku kenal ayahmu, Pangeran. Raja Aldous pernah menyelamatkan desa ini dari banjir bandang tiga puluh tahun lalu. Aku tidak akan melupakan kebaikannya."

Aldric terkejut. "Kau kenal ayahku?"

"Seluruh desa ini berutang nyawa padanya." Marthen menghembuskan asap. "Kabar tentang kudeta sampai ke siri. Kami semua marah, tapi apa daya? Desa kecil seperti kami tidak bisa melawan kerajaan."

"Lalu kau akan membantu kami?" tanya Sera ragu.

Marthen mengangguk. "Aku akan beri kalian tempat berlindung sementara. Tapi tidak lama. Terlalu banyak mata di desa ini. Beberapa warga mungkin tergoda hadiah itu."

"Berapa lama?" tanya Aldric.

"Semalam. Cukup untuk istirahat dan persediaan. Besok pagi kalian harus pergi."

Itu lebih dari cukup. Aldric mengangguk setuju.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, mereka tidur di kasur sungguhan.

Elara merebahkan diri di kamar kecil penginapan, tubuhnya terasa begitu ringan di atas kasur jerami. Aldric duduk di kursi dekat jendela, mengawasi kegelapan di luar—kebiasaan yang tidak bisa ia tinggalkan.

"Kau tidak tidur?" tanya Elara dari tempat tidur.

"Nanti. Kau tidurlah."

Elara diam sejenak. Lalu, "Aku takut ini semua mimpi. Takut besok pagi aku bangun dan kau sudah tidak ada."

Aldric menoleh. Wajah Elara setengah tersembunyi dalam gelap, tapi matanya bersinar—basah.

Aku di sini," katanya lembut. "Aku tidak akan pergi."

"Apa kau masih mencintaiku?" Pertanyaan itu meluncur cepat, seperti sudah lama tertahan.

Aldric terdiam. Pertanyaan yang sama yang dulu ia tanyakan pada diri sendiri.

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Aku sudah berubah. Di dalam sini—" ia menunjuk dada, "—banyak yang mati. Tapi saat aku melihatmu, saat kau tersenyum, ada sesuatu yang hidup kembali. Mungkin itu cinta. Mungkin hanya kenangan. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak akan membiarkan apa pun menyakitimu lagi."

Elara menangis—tangis pelan, tanpa suara. Ia meraih tangan Aldric, menariknya ke tempat tidur.

"Tidurlah di sini. Hanya tidur."

Aldric menurut. Ia berbaring di sampingnya, merasakan hangat tubuh Elara. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia memejamkan mata tanpa rasa takut.

Tengah malam, Aldric terbangun oleh suara gaduh di luar.

Refleksnya langsung siaga. Ia melompat dari tempat tidur, mengintip lewat jendela. Di bawah, di halaman penginapan, kerumunan warga desa berkumpul dengan obor dan senjata seadanya—cangkul, sabit, pentungan.

Di depan mereka, Marthen berdiri dengan tangan terentang, mencoba menenangkan.

"Dengar, dia tamuku! Tidak akan kuserahkan!"

"Marthen, kau gila? Sepuluh ribu koin!" teriak seorang pria gemuk. "Cukup untuk membangun kembali desa ini!"

"Kita berutang nyawa pada ayahnya!" bantah Marthen.

"Itu dulu! Sekarang raja baru, aturan baru!"

Kerumunan semakin riuh, semakin agresif. Beberapa mulai mendorong Marthen, mencoba masuk ke penginapan.

Aldric berbalik. Elara sudah bangun, wajahnya pucat. Sera keluar dari kamar sebelah dengan Ren dalam gendongan.

"Kita harus pergi," kata Aldric. "Cepat."

Mereka bergegas mengambil barang-barang, tapi sebelum sampai ke pintu belakang, suara kaca pecah. Batu-batu mulai berhamburan masuk lewat jendela.

"KELUAR, MONSTER! SERAHKAN DIRI!"

Aldric menatap Elara. "Kau bisa lari?"

"Aku bisa."

"Sera, jaga mereka. Aku akan buka jalan."

"Aldric, jangan—" Elara meraih tangannya.

Tapi Aldric sudah mengambil keputusan. Ia membuka pintu depan, melangkah keluar.

Di halaman, kerumunan terdiam melihatnya muncul.

Di bawah cahaya obor, Aldric tampak mengerikan—mata merah menyala, urat hitam berdenyut di sekujur tubuh, aura kegelapan menyelimuti.

"Aku di sini," katanya dengan suara rendah menggeram. "Kalian mau hadiah? Ambil jika bisa."

Beberapa warga mundur ketakutan. Tapi yang lain, didorong oleh keserakahan, maju dengan senjata terangkat.

"Ayo, dia cuma satu! Kita ramai!"

Mereka menerjang.

Aldric bergerak. Tinjunya menghantam satu per satu—tidak mematikan, hanya membuat pingsan. Ia menahan diri, tidak ingin membunuh warga tak berdosa. Tapi semakin banyak yang maju, semakin sulit menahan kekuatan.

Seorang petani besar mengayunkan cangkul ke kepalanya. Aldric menangkis, cangkul itu patah. Ia membalas dengan pukulan di perut, petani itu roboh.

Dua orang dari samping menusuk dengan garpu. Aldric menghindar, tapi ujung garpu menggores lengannya. Luka cepat menutup, tapi darah sempat menetes.

"Mundur!" teriaknya. "Aku tidak ingin melukai kalian!"

"Bunuh dia!" teriak yang lain.

Kerumunan semakin menjadi-jadi. Di tengah kekacauan, Aldric melihat Marthen berusaha melerai, tapi malah dipukuli oleh warganya sendiri.

Ini tidak bisa terus begini.

Dari dalam penginapan, Elara, Sera, dan Ren keluar lewat pintu belakang, berusaha lari ke hutan. Tapi beberapa warga melihat mereka.

"Mereka lari! Kejar!"

Aldric berbalik, siap mengejar—tapi lima orang menghadangnya.

"Maaf, Pangeran," kata salah satu, "tapi uang lebih penting."

Aldric menggeram. Urat hitamnya bersinar terang. Kekuatan iblis di dalamnya mendidih, siap meledak. Saat itu, ia hampir kehilangan kendali.

Tiba-tiba, dari arah hutan, raungan menggelegar.

Semua orang membeku.

Dari balik pepohonan, mata-mata merah mulai bermunculan—puluhan pasang. Anjing-anjing neraka, lebih banyak dari sebelumnya, muncul dari kegelapan.

Varyn datang lagi.

Anjing-anjing itu tidak menyerang—mereka hanya berdiri di sekeliling, menggeram pelan, cukup untuk membuat warga desa gemetar ketakutan.

"MAKHLUK APA ITU?" teriak seseorang.

"Iblis! Iblis datang!"

Kerumunan bubar dalam sekejap. Warga desa berlari menyelamatkan diri, meninggalkan senjata dan obor mereka.

Aldric berdiri di tengah halaman, dikelilingi anjing neraka. Napasnya tersengal, tapi ia berhasil mengendalikan diri.

Dari balik kerumunan anjing, Varyn muncul—bukan dalam wujud utuh, tapi bayangan transparan, avatar lain.

"Kau hampir lepas kendali, Nak," katanya. "Untung aku datang."

Aldric menghela napas. "Terima kasih, Varyn."

"Jangan berterima kasih. Kau masih punya utang padaku. Tapi sekarang, pergilah. Aku akan menjaga mereka tetap takut."

Aldric mengangguk, lalu berlari ke arah hutan, menyusul Elara dan yang lain.

Di tepi hutan, Elara menunggu dengan cemas. Melihat Aldric datang, ia langsung memeluknya.

"Aku pikir kau—"

"Aku baik-baik saja." Aldric membalas pelukannya. "Tapi kita harus cepat. Varyn tidak bisa lama-lama."

Sera menggendong Ren yang menangis ketakutan. "Ke mana sekarang?"

Aldric mengeluarkan peta kusut. "Ada pegunungan di utara. Daerah terpencil, tidak berpenghuni. Mungkin kita bisa bersembunyi di sana sementara."

"Pegunungan? Musim dingin akan tiba—"

"Lebih baik daripada di sini."

Mereka berjalan masuk ke hutan, meninggalkan Desa Oakhaven yang gempar. Di belakang mereka, lolongan anjing neraka masih terdengar—peringatan bagi siapa pun yang berani mengejar.

Di penginapan, Marthen terbaring dengan wajah babak belur. Namun ia tersenyum tipis. "Pergilah, Pangeran," bisiknya. "Aku sudah bayar utang pada ayahmu."

--- BERSAMBUNG KE BAB 17: PEGUNUNGAN ES ---

Perjalanan ke utara membawa mereka semakin dekat ke pegunungan yang diselimuti salju abadi. Udara semakin dingin, persediaan semakin tipis. Ren mulai batuk-batuk, dan Elara kambuh demamnya.

Di belakang mereka, Darius tidak menyerah. Ia mengirim pasukan elit dengan pelacak profesional—bekas pemburu monster yang tahu cara membaca jejak.

Dan di langit, burung-burung hitam terbang melingkar—mata-mata Shadow Council yang tak pernah lelah.

Mereka terpojok. Di depan, gunung es. Di belakang, ribuan pengejar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!