NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XII—KEKERASAN

Keadaan sekolah semakin sunyi, semakin tak ada suara yang terdengar, hanya suara Baskara yang terdengar dengan cerita masa lalunya mengenai Chandra, dengan Arka yang masih setia mendengarkan cerita tersebut. Tak merasa bosan ataupun muak justru Arka sunggguh-sungguh ingin mengetahuinya terutama terkait Chandra.

“Tolong ceritakan bagaimana kak?”

“Dulu saat kami masih Sd, kami selalu bersama namun kami tak pernah sekelas karena jarak umur diantara kami. Aku tak tahu dengan kondisinya jika dia tak di sampingku, apa yang di lakukannya atau apa yang di lakukan anak lain kepadanya.”

“Saat itu Chandra sudah menerima cemooh dari anak-anak lain jika tak bersamaku, mereka mencemooh dan menjauhi Chandra puncaknya mereka memukul Chandra secara bersamaan.” Lanjutnya.

“Aku mengetahuinya saat sepulang sekolah, Chandra mengalami memar di muka imutnya kala itu, bukan hanya muka, akan tetapi leher, tangan hingga dada. Aku hanya bisa kaget dan marah melihat adik kesayanganku di perlakukan seperti itu.”

“Ibu Mandira hanya bisa menangis dengan menyalahkan dirinya sendiri saat melihat luka-luka yang di terima Chandra, sedangkan Ayah dan Bundaku memarahiku habis-habisan tanpa celah untuk aku berbicara.”

“Ayahku berkata seperti ini” Ujar Baskara lalu memeragakan perkataaan ayahnya kala itu.

“Buat apa kamu jadi seorang kakak jika tak bisa melindungi satu orang adik, apa matahari kecil ini tak bisa memberikan dampak baik untuk si bulan? Jadi buat apa ayah memberikan nama Baskara padamu? Kalau memang ga bisa, biar ayah ubah besok namamu menjadi kakak yang bodoh.”

“Aku hanya bisa diam tak membantah, meskipun mataku tak gentar melihat sorot mata emosi dari ayahku saat itu” Ungkapnya dengan raut wajah melas

Arka melirik ke arah langit-langit dan bergumam “Matahari kecil? Si Bulan? Apa maksudnya?”

“Heh…. Lanjutnya bagaimana kak apa yang kamun lakukan setelahnya” Tanya Arka kembali menggebu gebu mengabaikan pertanyaan yang telah ia gumamkan.

Baskara melanjutkan ceritanya dengan suara yang berat “Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah sendiri tanpa Chandra yang hari itu absen sekolah karena badanya yang penuh memar, aku berangkat sangat pagi bahkan kondisi sekolah masih sepi tak ada satu anak sekalipun kecuali tukang kebun di sekolah. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya satu dua anak berdatangan ke sekolah, aku menuju ke ruangan kelas Chandra ternyata ada satu anak perempuan yang sedang duduk di bangkunya lalu aku menghampirinya untuk menanyakan tentang anak-anak yang mengeroyok Chandra.” Lanjutnya yang sekarang raut wajahnya tenggelam oleh penyesalan.

“Anak itu memberitahumu?”

“Tentu anak perempuan itu memberi tahuku bahwa ada empat anak yang mengeroyok Chandra, dengan penuh perasaan kesal aku menanyakannya lagi siapa nama anak itu dan ia menyebutkan namanya ternyata ada tiga anak laki-laki yang mengeroyoknya dan satu anak perempuan bernama Arumi”.

“Arumi?…Loh cewe dong, kaya nama anak di kelasku dan Chandra sekarang” Sela Arka menyelinap dalam cerita Baskara

“Ya…memang itu dia” Ujar Baskara memberi tahu.

“HAH...Tapi dia anak yang pendiam di kelas kak bahkan bicara saja jarang, ga mungkin kalau itu dia” Sangkal Arka lagi karena tak percaya.

“Kenyataan yang berbicara” Kata singkat dari Baskara membuat mulut Arka tak menyangkal lagi.

Arka mengangguk tanpa membantah lagi dan Baskara melihatnya dan bercerita kembali.

“Aku telah mengetahui nama anak-anak tersebut, aku tetap menunggu teman sekelas Chandra datang semua, bell berbunyi namun aku tak mau mendengarkan suara bell tersebut kemudian sebelum guru datang aku memanggil nama-nama anak tersebut termasuk Arumi.”

“Mereka berempat bertingkah menyepelekan saat berada hadapanku, dengan perasaan marah yang sudah tak terbendung aku memukul salah satu anak anak laki-laki di hadapanku sampai tersungkur hingga kepalnya menatap ujung meja dan berdarah, akan tetapi hal itu tak membuat hatiku gentar, aku raih kerah anak lainnya dan memukulnya berkali-kali dengan tangan yang tak mau melepaskan kerah anak tersebut hingga membuat seisi kelas ramai namun tak ikut campur dengan keadaan.”

Lanjut Baskara “Anak yang telah kupukuli sudah tak berdaya tersisa dua anak lagi satu cowok dan satu cewek. Aku menendang anak cowo yang tersisa dengan keras bagian ulu hatinya, ia tersungkur dengan rasa sakit dalam jeritannya, aku tak peduli. Aku menaiki anak tersebut lalu memukul area wajahnya berkali-kali hingga dia tak berdaya lagi, lalu….”

“Tunggu kak….Tunggu jangan bilang kamu memukul Arumi juga?” Potong Arka khawatir jika kekhawatirannya benar.

Baskara menggeleng “Misal kalau kamu yang kupukul mau?.”

Arka menjawab “Ya gak lah siapa juga yang mau di pukul olehmu. Satu sekolah juga tahu kalau mereka gamau menerima pukulanmu itu.”

“Makanya jangan potong cerita orang seenak jidat” bentak Baskara dengan tangan yang ingin menyikut lempeng Arka.

“Eh….iya…iya kak maaf. Emosian banget, lanjut-lanjut”

“Aku menghampiri Arumi yang sedang ketakutan, kakinya gemetar melihat mataku yang hampir copot karena emosi yang sudah tak terbendung.”

”Maafin aku kak, aku ga ngapa-ngapain, aku ga salah apa-apa jangan pukul aku juga, aku takut jangan kak ya. Arumi berkata demikian, namun aku masih tak peduli tetapi aku tak memukulnya. Aku meraih kerahnya, mungkin hal tersebut kurang lazim tapi sekali lagi aku tak peduli”.

“Apa kamu juga ikut memukul adikku. Tanyaku kala itu.”

“Arumi hanya diam tak menjawab, aku semakin meninggikan suaraku padanya lalu ia mau mengaku bahwa dia ikut memukul bahkan menendang Chandra. Emosiku tak terbendung karena tak menyangka, bahkan anak perempuan sampai memukul adikku, apa sehina itu adikku di mata manusia lain hingga membuat seorang anak perempuan juga ikut memukulinya.”

“Aku semakin mengencangkan cengkramanku pada kerah Arumi dan ia semakin ketakutan”

“Apa Chandra pernah membuat gara-gara ke kamu? Apa Chandra pernah mengganggumu? Apa Chandra pernah membuatmu susah? Kataku padanya.”

“Arumi menggelengkan kepala dan dia menjawab bahwa Chandra tak pernah melakukan yang telah aku sebutkan tadi.”

“Lalu apa yang membuatmu sampai memukul dan menendangnya? Tanyaku lagi yang terakhir pada Arumi.”

“Arumi menunduk dengan gemetar dan tak menjawab pertanyaanku, ia menangis tersedu-sedu entah karena sesal atau karena takut. Aku tak tahu yang pasti yang mana tetapi aku masih melanjutkan perkataanku”

“Aku ga peduli dengan tangismu...kalau kamu seperti itu lagi dengan adikku lain kali kamu juga ikut kena pukulanku ini, kau mengerti? Ujarku mengancamnya.”

“Arumi mengangguk dengan tangisannya yang keras dan aku melepaskan genggaman tanganku di kerahnya dan ingin beranjak ke kelasku sendiri namun sialnya waktu aku keluar dari ruangan tersebut seorang guru sudah berada di depan pintu. Guru tersebut melihat keadaaan di kelas yang chaos.”

“Hahahaha…pasti kamu di habisin sama guru itu kan kak?” Tanya Arka dengan tawa

“Gak sih cuma ayahku dan bundaku di panggil kesekolah karena tindakanku” Balas Baskara

“Lalu kamu di habisin Ayahmu?” Tebak Arka

“Gak juga”

“Pasti Bundamu?”

Baskara menggeleng “Tak ada yang menghabisiku kecuali ibu Mandira”

“Loh aneh….kog malah Ibunya Chandra yang menghabisimu bukan Ayahmu atau Bundamu”

“Ga menghabisi aku juga kali...tapi menasehatiku dengan pelan. Ayah dan Bundaku malah mendukungku karena itu tidakan yang telah aku pilih sendiri untuk melindungi adikku jadi ya begitu” Ungkapnya merasa bangga kali ini tapi tak lepas oleh penyesalan.

“Jadi bagaimana sehabis di marahi oleh Ibu Chandra kamu tak berani memukul anak lain yang semena-mena pada Chandra lagi?”

“Ya masih lah”

“Sudah kuduga itu” Ungkap Arka dengan tarikan nafas panjang.

“Tapi kenapa Kak Baskara ga memukuli Fino beserta gengnya? bukannya Chandra waktu lalu kelas 10 ia di pukul bahkan di buat kepalanya terluka olehnya”

“Oh itu…Chandra tak memperbolehkanku, aku besoknnya sudah berencana ke kelasmu untuk memukuli para bajingan-bajingan kecil itu tapi Chandra mencegahku, sejak SMP kelas 2 dia melarangku untuk memukul orang-orang yang menganggunya”

“Kenapa apa Chandra merasa risi? Atau bagaimana?”

“Aku sendiri kurang paham yang jelas dia berkata seperti ini”

“Apa mas ga merasa bersalah setelah memukuli seseorang? Apa mas merasa kekerasan bisa menyelesaikan segalanya? Apa mas sehebat itu sampai-sampai selalu mengedepankan kekerasan hanya untukku? Kalau memang mas sehebat itu, sini ayo sama aku kita tentukan apa mas beneran hebat atau memang mas sebenarnya cuma sok hebat”

“Gilaaa, malah di tantang dong” Ujar Arka

“Aku geleng-geleng mendengarnya bicara seperti itu, aku tak berani menjawab dan menghentikan kekerasanku setiap ada masalah pada Chandra.”

“Loh gajadi pukul-pukulanya sama Chandra?” Tanya Arka penuh sesal.

“Ya nggak lah bodoh”

“Kak Kara ga tega karena Chandra itu adikmu kan?”

Baskara menggeleng lagi “Karena Chandra itu kuat, ibarat Chandra angka 11 dan aku itu angka 12, kita hampir seimbang walaupun masih kuatan aku sih, tapi aku menghentikan kekekerasanku bukan karena ga berani padanya tapi itu dari permintaan adikku” Jawab baskara dengan sedikit masih menyombongkan diri.

“Eleh….tapi apa Chandra memang sekuat itu?” Tanyanya memastikan.

“Ga percaya? Coba saja sendiri kalau mau badanmu hancur hahaha…” Suruh Baskara dengan gelak yang nyaring.

“Tapi jika memang Chandra sekuat itu kenapa dia tak pernah melawan anak-anak yang sering menganggu bahkan memukulinya?” Tanya Arka yang tak percaya

“Kamu akan kebingungan mengapa dia tak pernah melawan mereka, tapi memang seperti itulah Chandra.”

Arka mengangguk pelan dan paham memang seperti itulah Chandra. Ia berpikir bahwa Chandra tak mau melawan karena ia takut atau lemah tapi memang Chandra sebaik itu untuk tega memukul seseorang.

Mereka berdua tetap disana, hari semakin sore namun mereka tetap berdua seakan cerita tentang Chandra tak kunjung usai.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!