Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Setelah menyelesaikan semua urusan administrasi di rumah sakit, termasuk membayar tagihan atas nama Enzo yang sempat membuat kepalanya pening, akhirnya Evelyn bisa meninggalkan tempat itu. Selama dua hari terakhir dia hampir tidak benar-benar pulang. Waktunya habis di rumah sakit, menjaga pasien, memeriksa kondisi Enzo, dan menghadapi berbagai kejadian yang cukup melelahkan.
Begitu duduk di balik kemudi mobilnya, Evelyn menghela napas panjang. Rasa lelah yang sejak tadi ia tahan akhirnya terasa semakin nyata. Bahunya terasa kaku, kepalanya sedikit berat, dan matanya pun terasa perih karena kurang tidur. Namun satu hal yang membuatnya sedikit lega adalah kenyataan bahwa ia akhirnya bisa pulang ke rumah.
Mobil Evelyn melaju membelah jalanan Jakarta yang malam itu terlihat cukup lenggang. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang sedikit basah setelah hujan sore tadi. Dari dalam mobil, terdengar alunan musik lembut yang mengalir dari radio. Lagu itu menemani perjalanan Evelyn, membuat suasana di dalam mobil terasa lebih tenang.
Tangannya memegang kemudi dengan mantap, sementara matanya fokus menatap jalanan di depan. Sesekali dia menguap kecil, tanda betapa tubuhnya benar-benar kelelahan. Meski begitu, perasaan rindu pada rumah membuatnya tetap bersemangat untuk segera sampai.
Di kepalanya masih terlintas berbagai kejadian yang terjadi selama dua hari terakhir. Sosok Enzo yang misterius, sikap pria itu yang kadang menyebalkan, dan berbagai masalah yang muncul tiba-tiba membuat Evelyn merasa hari-harinya terasa jauh lebih rumit dari biasanya.
“Benar-benar pasien yang menyusahkan,” gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala.
Namun entah kenapa, meskipun sering membuatnya kesal, pria itu tetap membuat Evelyn sedikit penasaran.
Perjalanan hampir satu jam akhirnya membawa Evelyn memasuki kawasan perumahan tempat tinggalnya. Lingkungan itu jauh lebih tenang dibandingkan hiruk pikuk pusat kota. Lampu rumah penduduk terlihat redup, beberapa rumah bahkan sudah mematikan lampu teras mereka karena larut malam.
Mobil Evelyn perlahan memasuki halaman rumahnya. Dia mematikan mesin mobil, dan untuk beberapa detik hanya duduk diam di kursinya. Ia menarik napas panjang, menikmati rasa tenang yang akhirnya ia rasakan setelah dua hari yang melelahkan.
“Akhirnya pulang juga,” gumamnya pelan.
Evelyn membuka pintu mobil, lalu keluar dengan langkah sedikit gontai. Tas kerjanya masih menggantung di bahunya. Langkahnya terasa berat ketika ia berjalan menuju pintu rumah.
Begitu pintu terbuka, cahaya hangat dari dalam rumah langsung menyambutnya. Aroma masakan yang masih tersisa di udara membuat suasana rumah terasa nyaman.
Belum sempat Evelyn melangkah lebih jauh, sosok ibunya sudah muncul dari ruang tengah.
“Kamu pulang,” ucap Vega dengan nada lega.
Wanita paruh baya itu menatap putrinya dengan penuh perhatian. Meskipun usia Vega tidak lagi muda, wajahnya masih terlihat anggun. Dulu ia juga seorang dokter yang cukup disegani, namun karena suatu keadaan yang cukup berat di masa lalu, ia memutuskan untuk pensiun lebih awal dan memilih menghabiskan waktunya bersama keluarga.
“Iya, Ma,” jawab Evelyn sambil menjatuhkan tasnya ke sofa. “Aku capek sekali.”
Nada suaranya terdengar lelah, bahkan sedikit mengeluh. Dua hari tanpa istirahat yang cukup benar-benar menguras tenaganya.
Vega tersenyum lembut. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah mendekat lalu memeluk putrinya dengan hangat. Pelukan itu sederhana, namun cukup untuk membuat Evelyn merasa jauh lebih tenang.
Sebagai seseorang yang pernah menjalani profesi yang sama, Vega sangat memahami bagaimana beratnya pekerjaan seorang dokter. Jam kerja yang tidak menentu, tekanan yang tinggi, serta tanggung jawab terhadap nyawa seseorang bukanlah hal yang mudah.
Karena itulah, setiap kali melihat putrinya pulang dengan wajah lelah seperti ini, hatinya selalu terasa iba sekaligus bangga.
“Istirahatlah,” ucap Vega lembut sambil menepuk punggung Evelyn. “Mama siapkan air hangat dulu untuk kamu berendam.”
Mendengar itu, Evelyn tersenyum tipis. Perhatian ibunya selalu menjadi hal yang paling ia rindukan ketika pulang ke rumah.
“Terima kasih, Ma,” balasnya dengan suara yang lebih pelan.
Untuk sesaat Evelyn berdiri di ruang tamu, merasakan kembali kehangatan rumahnya. Tempat ini selalu menjadi satu-satunya tempat di mana ia bisa benar-benar melepas semua beban yang ia pikul di luar sana.
Dan malam ini, yang ia inginkan hanya satu—beristirahat dengan tenang, setidaknya sebelum besok kembali menghadapi dunia yang penuh kekacauan itu lagi.
*
*
Malam itu langit tampak gelap tanpa bintang, seolah menjadi pertanda buruk bagi siapa pun yang berada di medan pertempuran. Di sebuah kawasan terpencil yang menjadi markas besar klan mafia milik Enzo, suasana yang biasanya sunyi kini berubah menjadi mencekam. Angin malam berhembus membawa bau mesiu yang samar, bercampur dengan ketegangan yang menggantung di udara.
Sementara itu di tempat lain, sebuah konvoi kendaraan hitam melaju kencang menembus jalanan gelap. Di dalam mobil paling depan duduk Jendra, pemimpin klan mafia yang selama ini menjadi musuh bebuyutan Enzo. Wajahnya terlihat dingin, matanya tajam menatap lurus ke depan.
Ia baru saja menerima kabar dari mata-matanya bahwa Enzo mengalami luka parah. Informasi itu membuatnya melihat kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Selama ini markas besar Enzo terkenal sulit ditembus. Namun jika pemimpinnya sedang tidak dalam kondisi terbaik, maka itu adalah saat yang tepat untuk menyerang.
“Malam ini kita habisi mereka,” ucap Jendra dingin kepada anak buahnya.
Puluhan mobil yang membawa ratusan pria bersenjata akhirnya tiba di sekitar markas Enzo. Mereka segera turun dengan senjata lengkap di tangan. Beberapa di antaranya membawa senapan otomatis, sementara yang lain membawa pistol dan granat.
Markas itu tampak sunyi dari luar, terlalu sunyi bahkan. Lampu-lampu di beberapa bangunan terlihat redup, seolah tempat itu benar-benar tidak siap menghadapi serangan.
Jendra menyeringai tipis.
“Sepertinya kabar itu benar. Mereka tidak siap,” katanya penuh keyakinan.
Tanpa menunggu lama, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk maju. Puluhan orang mulai bergerak perlahan memasuki area markas. Langkah mereka hati-hati, namun tetap penuh percaya diri karena merasa lawan mereka sedang dalam kondisi lemah.
Namun baru beberapa langkah mereka memasuki halaman markas, sebuah suara kecil terdengar dari bawah kaki salah satu anak buah Jendra.
Klik.
Pria itu mengerutkan kening, belum sempat memahami apa yang terjadi.
BOOOM!!!
Ledakan besar tiba-tiba mengguncang tanah. Api dan asap langsung membumbung tinggi ke udara. Tubuh pria itu terpental beberapa meter, sementara yang lain terjatuh akibat gelombang ledakan.
Belum sempat mereka bangkit, ledakan kedua kembali terjadi.
BOOOM!!!
Tanah di bawah kaki mereka seolah berubah menjadi neraka. Setiap langkah yang mereka ambil memicu ledakan baru. Ranjau-ranjau yang tersembunyi di dalam tanah meledak satu per satu.
Jeritan kesakitan dan kepanikan langsung memenuhi udara malam.
“Ada ranjau! Mundur!” teriak salah satu anak buah Jendra.
Namun semuanya sudah terlambat.
Ledakan terus terjadi dari berbagai arah, membuat pasukan Jendra kacau balau. Beberapa mobil mereka bahkan ikut terbakar akibat pecahan ledakan.
Di sisi lain markas, dari atas sebuah bangunan tinggi, beberapa pria berdiri dengan tenang sambil mengawasi kekacauan itu.
Di antara mereka, berdiri sosok Enzo.
Pria itu mengenakan mantel hitam panjang, wajahnya terlihat tenang meskipun kabar yang beredar mengatakan ia sedang terluka parah. Di sampingnya berdiri orang-orang kepercayaannya yang sejak awal sudah bersiap menghadapi serangan ini.
Enzo menatap medan pertempuran dengan tatapan dingin.
“Jadi dia benar-benar datang,” ucapnya pelan.
Salah satu anak buah kepercayaannya tersenyum tipis.
“Mereka menelan umpan kita, bos.”
Enzo tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah pasukan Jendra yang kini terjebak di ladang ranjau yang telah mereka siapkan sebelumnya.
Kabar tentang dirinya yang terluka parah memang sengaja disebarkan. Itu adalah jebakan yang dirancang dengan sangat rapi agar Jendra terpancing menyerang markas mereka.
Dan seperti yang ia perkirakan, Jendra benar-benar datang membawa seluruh pasukannya.
Enzo kemudian mengangkat tangannya sedikit.
“Itu baru sambutan,” katanya dingin.
“Sekarang… mulai permainan yang sebenarnya.”
Seolah menunggu perintah itu, suara tembakan tiba-tiba meletus dari berbagai arah.
Dor! Dor! Dor!
Anak buah Enzo yang telah bersembunyi di berbagai sudut markas mulai menyerang. Peluru beterbangan di udara, menghantam pasukan Jendra yang masih berusaha menyelamatkan diri dari ledakan ranjau.
Malam itu berubah menjadi medan perang yang brutal.
Api, asap, dan suara tembakan bercampur menjadi satu, menandai dimulainya peperangan besar antara dua klan mafia yang selama ini saling menunggu kesempatan untuk saling menghancurkan.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐